Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Pindah Area Lain dan Situasi Tidak Terduga


__ADS_3

Elvina dan Dika masih belum berbaikan, sementara Elvira hanya bisa melihat mereka berdua dengan tatapan tidak berdaya karena dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Saat ini mereka sedang melanjutkan perburuan setelah beristirahat selama setengah jam untuk memulihkan tenaga. Di pelukan Elvina juga ada kelinci putih yang sudah dia rawat sebelumnya.


Situasi yang terjadi membuat suasana di antara mereka bertiga sangat canggung. Tidak ada satupun dari mereka bertiga yang memulai pembicaraan.


Tidak, lebih tepatnya adalah Elvira yang mencoba untuk mencairkan suasana tapi tidak ditanggapi oleh Elvina dan Dika yang hanya memalingkan wajah mereka ke samping.


"Elvina, bagaimana kondisi kelinci putihnya?" tanya Elvira sambil tersenyum mencoba untuk mencairkan suasana yang canggung.


"...Dia baik. Tapi lukanya perlu diobati lebih lanjut agar dia sembuh." Setelah beberapa saat diam, Elvina menjawab pertanyaan Elvira sambil mengelus-elus bulu kelinci putih di pelukannya.


Elvira menganggukkan kepalanya dan berkata, "Baguslah kalau begitu, nanti kita serahkan saja kepada tim pengawas agar mereka bisa merawat kelinci ini sampai sembuh."


Elvina mengangguk, lalu dia berkata, "Um, nanti aku akan menyerahkannya kepada tim pengawas yang kita temui."


Obrolan pun berakhir di situ saja karena dari tadi Elvira yang bertanya sementara Elvina menjawab apa adanya. Elvira menghembuskan napas panjang dan menoleh ke arah Dika yang ada di samping kirinya.


"Paman Dika, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Elvira kepada Dika dengan penasaran. Tujuan utamanya juga agar suasana canggung ini segera teratasi.


"Menurut peta yang sudah dibagikan, tempat di depan saja adalah area padang rumput terbuka dengan rerumputan yang pendek." Dika berkata sambil menunjuk ke arah depan dengan jari telunjuknya.


"Pasang rumput? Jadi kita bisa melihat musuh dengan leluasa!" kata Elvira dengan gembira.


Dika menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dia berkata, "Jangan senang dulu. Memang benar kita bisa melihat musuh dengan leluasa, tapi musuh juga akan tahu kalau padang rumput yang pendek tidak menguntungkan mereka."


Apa yang ingin dikatakan oleh Dika adalah musuh, yang merupakan hewan-hewan ternak Sajaya Farm akan memilih untuk menghindari padang rumput dengan rerumputan yang pendek.

__ADS_1


Alasannya adalah agar lokasi mereka tidak mudah ditemukan oleh predator yang merupakan para peserta yang sedang melakukan perburuan.


Jadi meskipun padang rumput yang pendek memang menguntungkan para pemburu, tapi itu jika ada hewan yang masuk ke sana. Jika tidak ada hewan, maka pemburu harus mencari tempat lain.


Elvira dan Elvina mendengarkan penjelasan Dika dengan seksama. Ada banyak pengetahuan dan informasi yang belum pernah mereka sentuh masuk ke dalam otak mereka.


"Jadi begitu ya, maaf Paman, aku terlalu bersemangat." Elvira menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena merasa ceroboh.


Dika tersenyum, lalu berkata, "Tidak apa-apa, itu memang wajar. Tapi meskipun begitu, kita harus tetap berhati-hati dan waspada."


"Ya!" Elvira menganggukkan kepalanya dengan serius, dan begitu juga dengan Elvina.


Meskipun Elvina belum berbaikan dengan Dika, tapi dia harus mengakui kalau penjelasan yang dilontarkan oleh Dika sangatlah berguna apalagi bagi pemula seperti dirinya.


--- {Dika memang benar. Dulu aku juga pernah digigit ular saat berbaring di padang rumput yang pendek. Sekarang aku trauma saat melihat padang rumput.}


Para penonton juga memberi komentar mereka tentang penjelasan yang dilontarkan oleh Dika. Bahkan ada penonton yang menceritakan kisah masa lalunya yang pernah digigit ular saat berbaring di padang rumput.


Mereka bertiga sampai di padang rumput pendek, di sana mereka merasakan hembusan angin yang sangat sejuk, berbeda dengan area pepohonan yang menghalangi angin berhembus.


"Wah! Di sini udaranya sangat segar!" Elvira merentangkan kedua tangannya dan menarik napas dengan rakus karena udaranya memang sangat sejuk.


Suasana hati Elvina juga menjadi lebih baik, dia sudah tidak kesal dengan Dika tapi dia masih belum mau berbaikan. Mungkin karena dia adalah perempuan sehingga tidak mau meminta maaf duluan.


"Karena ini berumput pendek, maka kalian juga bisa memberi target dengan mudah," kata Dika sambil melihat ke sekelilingnya dengan matanya yang tajam bak mata elang.


"Siap!" Elvira memberi hormat sementara Elvina hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka berdua juga segera memberi target yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Elvina mencari tanpa melepaskan kelinci putih yang sedang terluka dari pelukannya yang membuat Elvira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Selama beberapa menit, mereka bertiga belum menemukan satupun hewan di sana. Jadi Dia memutuskan untuk pindah ke tempat lain saja daripada tidak ada harapan di padang rumput itu.


Elvira dan Elvina mengangguk setuju karena mereka juga sudah lelah memberi ke segala arah di bawah teriknya panas matahari yang sampai menusuk tulang.


"Hm, kalau begitu kita pergi ke arah sana. Ada kolam kecil di sana, jadi mungkin saja ada banyak hewan yang sedang beristirahat atau minum," kata Dika setelah mempertimbangkan arah yang akan di tuju.


"Itu ide bagus, Paman!" Elvira memiliki mata yang cerah, dan seperti sebelumnya Elvina hanya menganggukkan kepalanya dan tidak berkata apapun.


Mereka bertiga segera pergi ke arah yang ditunjuk oleh Dika, kira-kira membutuhkan waktu lima menit untuk sampai ke area yang akan dituju.


Lalu pada saat ini, ada dua orang pria yang sedang menunggang kuda berjalan di dekat mereka bertiga. Kedua pria tersebut bukanlah peserta karena mengenakan seragam Sajaya Farm.


"Ah, itu adalah tim pengawas!" kata Elvina dengan nada gembira karena dia bisa menyerahkan kelinci putih yang sedang terluka kepada mereka.


Elvira menoleh ke arah Dika dan dibalas dengan anggukan kepala olehnya. Elvira juga mengangguk dan segera pergi ke tim pengawas bersama dengan Elvina yang sedang memeluk kelinci putih yang sedang terluka.


Tapi, sesuatu terjadi. Saat Elvina akan menyerahkan kelinci putih di pelukannya kepada tim pengawas, tiba-tiba saja ada kambing bertubuh kecil yang sedang berlari dengan sangat cepat ke arah mereka.


Elvina yang terkejut hampir jatuh dari kudanya, dua pria dari tim pengawas juga segera mengambil tongkat besi panjang yang ada di pinggang mereka dan bersiap untuk menghentikan kambing yang sedang berlari.


"Mbee!!" Kambing itu bersuara dengan keras dan tidak mempedulikan kalau ada dua orang yang sedang memegang tongkat besi.


Kambing itu tetap berlari menuju Elvina yang masih terpaku karena belum bisa mencerna situasi yang sedang terjadi. Kemudian saat kambing itu sudah dekat dengannya, Elvina berteriak ketakutan.


"Ahh!!?" Elvina berteriak dengan suara keras karena dia benar-benar ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2