
Setelah beberapa jam, di ruang rapat. Aksa dan karyawan penting ada di dalam sana karena Aksa akan membicarakan sesuatu.
Aksa mengangguk dan berkata, "Terima kasih karena sudah hadir. Tadi aku melihat ada pengunjung yang sedang bosan, jadi topik rapat kali ini adalah diskusi tentang sesuatu yang baru."
Aksa memberi mereka dua pilihan yaitu event atau fasilitas dan membiarkan mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dia juga duduk sambil memikirkan keuntungan dari kedua hal tersebut.
"Aksa, aku lebih memilih event. Meskipun event terakhir adalah setengah bulan yang lalu, tapi semua orang tidak bisa mengikutinya. Jadi jika ingin membuat event, kita harus membiarkan semua orang berpartisipasi," kata Sarah dengan serius.
"Aku juga. Apalagi fasilitas baru perlu waktu yang cukup lama, orang-orang sudah mati kebosanan sebelum fasilitas baru selesai dibangun," angguk Indra atas perkataan Sarah.
Yang lain juga lebih memilih untuk membuat event baru setelah memikirkannya. Asalkan semua orang bisa berpartisipasi dalam event ini agar kesannya lebih menarik lagi.
Aksa mengangguk karena mereka sepemikiran dengannya. "Bagus, aku juga berpikir untuk membuat event baru dan sudah memiliki ide. Silakan dibaca terlebih dahulu."
Aksa menyalakan proyektor yang menampilkan rencana kasar mengenai idenya. Dia membiarkan para karyawannya untuk membaca dan memahaminya terlebih dahulu sebelum dijelaskan.
Setelah beberapa saat, Aksa berkata lagi, "Semua sudah membacanya bukan? Kalau begitu biar aku jelaskan lebih detail lagi."
"Tema yang akan diambil kali ini adalah sebuah perburuan harta karun. Dengan ini, semua orang bisa berpartisipasi untuk berburu harta."
Jadi, ide Aksa itu cukup sederhana. Dia akan menyebarkan beberapa token kayu di seluruh Sajaya Farm yang nantinya akan ditemukan oleh para pengunjung yang berpartisipasi di event kali ini.
Pengunjung akan membentuk tim dengan anggota sekitar tiga sampai lima orang. Setelah itu, mereka akan diberikan peta Sajaya Farm dan beberapa petunjuk sederhana yang perlu mereka pikir.
Event ini akan diadakan selama dua hari karena tidak mungkin para pengunjung akan bisa menemukan semua token yang disebar oleh Aksa ke seluruh penjuru Sajaya Farm.
Namun Aksa juga hanya menyebarkannya di area yang terbuka karena masih ada banyak area yang berupa lahan kosong dan itu tidak akan Aksa gunakan untuk event kali ini.
Jika tidak, maka akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengeksplorasi semua area di sana dan para pengunjung yang berpartisipasi akan lelah dan berhenti.
"Itu ide yang sangat bagus!" Sarah adalah yang pertama berkata diikuti dengan anggukan kepala oleh karyawan lainnya.
"Apakah kalian setuju dengan ini? Namun jika dalam dua hari para pengunjung masih belum selesai, kita akan beri tambahan satu hari, jika belum selesai juga, kita akan menghentikannya," kata Aksa.
Sarah dan karyawan lain menganggukkan kepala dan menyatakan persetujuan mereka. Tidak ada yang salah dari ide Aksa karena ini akan melibatkan banyak sekali orang.
Sarah mengangkat tangannya dan bertanya, "Karena diadakan selama dua hari, bagaimana dengan tiket masuk? Apakah tetap seperti biasa atau gratis?"
"Pertanyaan yang bagus, aku sudah memikirkannya. Para peserta yang sudah mendaftar akan diberikan sebuah gelang, jadi keesokan harinya mereka tidak perlu membayar tiket untuk masuk ke dalam," jawab Aksa.
__ADS_1
Jika tidak seperti itu, maka para pengunjung yang sudah mendaftar akan protes karena mereka harus membayar biaya tiket masuk yang percuma dan buang-buang uang mereka.
"Bagus." Sarah mengangguk paham dan puas karena Aksa sudah memikirkan semua hal yang perlu dipertimbangkan.
"Ya. Lalu Pak Rofiq dan timnya akan menunda pengerjaan patung dan membuat sebuah ukiran kayu seukuran telapak tangan yang akan digunakan sebagai 'token' nanti," kata Aksa kepada Rofiq dan timnya.
"Ya!" Rofiq dan timnya mengangguk menerima tugas dari Aksa.
Aksa mengangguk puas. Mereka kemudian membahas hal-hal kecil untuk melengkapi event perburuan yang rencananya akan diadakan pada tanggal 20 sekitar satu minggu lagi.
Itu karena Aksa harus pergi ke kediaman Keluarga Wilaga untuk memasok daging dan bahan lain karena di sana akan ada perjamuan ulang tahun Rumah Sakit Swasta Wilaga pada tanggal 17 nanti.
"Bagus, rapat selesai!" Aksa keluar dari ruang rapat setelah mengatakan hal itu.
Hari sudah sore, dia pergi ke kantornya untuk mengambil tas dan mantel, kemudian dia pergi ke area parkir. Namun sebelum itu dia berpapasan dengan Sarah yang sedang menuju kantornya.
"Sarah, mau pulang bersama?" tanya Aksa.
Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, aku harus mengurus data-data keuangan terlebih dahulu. Kamu pulang duluan saja, kurasa akan sedikit lama."
Aksa tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, hati-hati saat pulang nanti."
Indera Aksa sudah menjadi tajam, dia melihat ada banyak orang dengan pakaian serba hitam mengikutinya. Jadi Aksa mengambil jalan memutar yang di sana cukup sepi dan jarang ada orang yang lewat sana.
"Siapa? Apakah Kevin lagi?" batik Aksa.
Sambil mengendarai motor roda tiga, Aksa menyalakan ponselnya untuk merekam apa yang sedang terjadi agar dia bisa menunjukkannya kepada petugas polisi sebagai bukti.
Aksa tidak memanggil polisi karena masalah ini tidak akan selesai dengan itu saja. Dia juga tidak bisa mengetahui siapa dalang dibalik ini, para preman itu tidak akan mengaku jika diinterogasi oleh polisi.
Karena preman-preman itu menggunakan motor yang cukup keren dan membawa tongkat besi, mereka pasti bukan preman pasar seperti anak geng yang pernah mengacau di Sajaya Farm.
"Hah~ Aku tidak akan bisa pulang dengan tenang karena mereka." Aksa menghembuskan napas panjang karena malas menanggapi mereka.
Aksa menghentikan motor roda tiganya di tepi jalan, kemudian dia mengarahkan kamera ponselnya agar bisa merekam semua kejadian yang akan terjadi selanjutnya.
"Yo! Kamu anak yang berani," kata seorang pria dengan rambut kuning.
"Banyak omong." Aksa membalas dengan nada malas.
__ADS_1
"...Bos, sepertinya dia harus diberi beberapa rasa sakit." Pria berambut kuning itu turun dari motor sambil memegangi tongkat besi yang ujungnya cukup tajam.
"Ya, beri dia pelajaran." Anto mengangguk dengan santai dan membiarkan bawahannya mengatasi Aksa.
Dari penilaian Anto, dia berpikir kalau Aksa adalah ayam lemah karena penampilannya yang tidak terlihat kuat. Kemudian karena dia berpikir kalau Aksa adalah pemilik Sajaya Farm sehingga tidak mengetahui apapun mengenai pertarungan.
"Dilihat dari matamu, sepertinya aku sedang direndahkan?" kata Aksa sambil tersenyum tipis.
"Dasar tidak sopan!" Pria berambut kuning mengayunkan tongkat besinya ke arah Aksa dari sisi kanan dan mengincar bahunya.
"Hm? Seorang preman berbicara tentang sopan santun? Apakah dunia sedang terjadi sesuatu?" Aksa menghindari ayunan tongkat besi itu dengan sangat mudah.
Sebelum pria berambut kuning mengayunkannya lagi, Aksa memegang tongkat besi itu dan menariknya. Kemudian dia mengangkat lutut kanannya untuk menghantam dagu pria berambut kuning.
"Ugh!" Pria berambut kuning merasa sangat sakit karena lidahnya juga tergigit.
Kepala pria berambut kuning terangkat ke atas karena dagunya dihantam oleh lutut Aksa. Jadi, Aksa menggunakan dua jarinya untuk menyerang leher pria berambut kuning dengan keras.
"Akh!!" Pria berambut kuning memegangi lehernya dan dia juga hampir tidak bisa bernapas.
"Lemah, selanjutnya!" teriak Aksa.
"..." Anto terdiam sejenak, di menatap Aksa dengan tatapan yang berbeda, kemudian dia menyuruh semua bawahannya untuk mengeroyok Aksa.
Aksa tentu saja tidak bisa mengalahkan semua orang hanya dengan tangan kosong, jadi dia mengambil tongkat besi milik pria berambut kuning dan menggunakannya sebagai tombak.
"Kurasa teknik tombak yang aku baca di novel bisa berguna? Yah, ayo kita coba. Teknik pertama, tusukan naga!" Aksa menusukkan tongkat besi yang cukup tajam ke arah depan.
Dia tidak mengincar siapapun, hanya menyerang ke depan. Jika tidak, bisa dipastikan kalau preman yang kena ujung tongkat besi itu akan mati atau setidaknya akan terluka parah.
Tongkat besi Aksa tusukkan ke depan, kemudian dia mengayunkannya ke arah kanan dengan cepat dan kencang hingga mengenai pinggang salah satu preman.
Setelah itu, dia menggunakan ujung tongkat besi yang lain yang tidak tajam untuk menyodok perut preman lain. Lalu menggunakan kaki kanannya untuk menendang preman di sebelahnya.
Hanya dalam waktu lima menit, semua preman sudah dikalahkan oleh Aksa. Sekarang hanya tinggal Anto yang membatu karena semua bawahannya dikalahkan oleh Aksa dengan mudah.
"Bagaimana?" Aksa menatap Anto dengan tatapan tenang namun di mata Anto, dia menganggap itu tatapan mengejek.
Namun pada saat ini, terdengar suara sirine polisi dari jauh. Anto yang mendengar itu langsung naik ke motornya dan kabur meninggalkan semua bawaannya tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Lah?" Aksa menatap kepergian Anto dengan tatapan bingung namun yang membuatnya lebih bingung adalah suara sirine polisi melemah dan menghilang setelah beberapa saat.