Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Mulai Membuat Terarium Raksasa di Lobi


__ADS_3

Keesokan harinya, di Sajaya Farm, tepatnya di lobi gedung utama. Ada banyak orang di sini, tapi bukan pengunjung, melainkan pekerja dari toko tanaman milih Hasan dan karyawan Sajaya Farm.


Ada tanda peringatan di sekitar yang menghimbau kepada para pengunjung untuk tidak mendekat karena ada pekerjaan yang cukup besar.


Pekerjaan itu adalah membuat terarium raksasa di lobi. Terarium raksasa ini akan ditempatkan di tengah-tengah lobi agar terlihat mencolok.


Area lobi gedung utama sangatlah lebar dan tinggi. Untuk membuat terarium raksasa, bahkan masih ada sisa ruang yang cukup lebar yang nantinya akan ditempatkan patung di sana.


"Pak Hasan, apakah semua material dasarannya sudah siap?" tanya Aksa kepada Hasan. Mereka berdua sedang memakai helm keselamatan saat ini agar aman saat terkena material.


"Semua sudah siap, kecuali pohon dan batu saja." Hasan memeriksa buku catatan kecil seukuran telapak tangan dan berkata kepada Aksa.


Aksa mengangguk dan berkata, "Bagus, dua material itu sedang dicari oleh karyawanku, jadi Bapak bisa langsung memulainya."


"Ya!" balas Hasan.


Hasan mengeluarkan ponselnya dan menelepon karyawannya yang ada di gerbang belakang dengan truk untuk membawa wadah kaca raksasa untuk terarium raksasanya.


Karyawan itu segera membalas dan meminta yang lain untuk segera membawa wadah kaca raksasa ke gedung utama di area pusat Sajaya Farm.


Aksa menggunakan sepeda listrik untuk pergi ke area kerja Rofiq dan timnya. Setelah sampai, dia segera bertanya kepada Rofiq mengenai progres pencarian kayu dan batu.


"Masih dalam proses, Bos. Untuk batu cukup mudah, tapi masalahnya adalah kayunya. Kita harus mencari kayu yang berkualitas, entah itu menemukannya di tempat liar atau membelinya," jelas Rofiq dengan serius.


"Kayu ya, sepertinya tidak ada kayu di toko game," pikir Aksa.


Aksa menyentuh dagunya dan berpikir apakah dia ada kenalan yang terkait dengan kayu-kayuan. Namun setelah beberapa saat mencari di otaknya, dia hanya bisa menghela napas kecewa.


"Bos, jika ingin lebih mudah, kita harus membelinya dari daerah lain." Rofiq membuka mulutnya dan memberikan saran kepada Aksa.

__ADS_1


"Kalau begitu beli saja dari sana. Daripada kita mencarinya tanpa kepastian, lebih baik bertindak langsung," kata Aksa dengan serius meskipun sebenarnya Aksa malas menunggu lagi.


"Baiklah kalau begitu," angguk Rofiq.


Aksa mengangguk, setelah berbicara dengan Rofiq sebentar, dia kembali ke lobi gedung utama Sajaya Farm untuk melihat pekerjaan Hasan dan karyawannya.


Mereka sudah memasang wadah kaca yang sangat besar. Selain itu, kaca yang digunakan juga cukup tebal sehingga tidak akan mudah pecah mau itu dari luar atau dari dalam.


Hasan dan yang lain sedang menaruh batu kerikil dan arang. Fungsi kedua hal itu adalah untuk drainase dan saringan air agar tangan tidak akan tergenang air dan tidak perlu khawatir akan air kotor.


Karena ini adalah terarium raksasa, tidak mudah bagi Hasan dan lainnya meskipun pekerjaan mereka hanyalah menaruh batu dan arang saja.


Aksa tidak membantu karena dia adalah bosnya, meskipun dia sedikit malas. Tapi memang ada alasan lain, dan alasan itu adalah persiapan untuk perayaan ulang tahun Sarah yang akan diadakan tiga hari lagi.


Aksa sedang memikirkan hiasan apa yang harus dipakai. Tapi karena dia bukanlah orang yang terlalu memperhatikan estetika hiasan, dia jadi tidak bisa memikirkannya.


"Ah, aku tanya Vira dan Vina saja." Aksa menyerah berpikir dan memutuskan untuk bertanya kepada kedua adiknya nanti.


...----------------...


Sore harinya, Aksa sudah pulang ke rumahnya. Dia sedang menonton televisi sendirian di ruang keluarga karena kedua orang tuanya ada di halaman belakang sedang menyirami tanaman.


"Kami pulang!" Pintu rumah terbuka, Elvira dan Elvina pulang dari sekolah dengan raut wajah yang sangat lelah karena hari ini mereka ada mata pelajaran olahraga.


"Vira, Vina, makan puding yang ada di kulkas. Aku ingin membahas sesuatu dengan kalian," kata Aksa yang melihat kalau kedua adiknya sangat lelah.


"Puding!" Mata Elvira dan Elvina berbinar-binar saat mendengar kata salah satu makanan favorit mereka. Kelelahan di wajah mereka langsung tersapu saat memakan puding.


Lalu, mereka berdua duduk di sofa ruang keluarga sambil memakan puding dan menunggu Aksa yang katanya ingin membahas sesuatu dengan mereka.

__ADS_1


"Tiga hari lagi Sarah ulang tahun, aku berniat untuk merayakannya." Aksa menjelaskan semua rencananya yang akan merayakan ulang tahun Sarah.


"Oh, jadi Kakak bingung mau pakai hiasan apa, ya." Elvira mengangguk paham dengan masalah yang sedang dihadapi oleh kakaknya itu.


"Seperti itulah." Aksa mengangguk dan menghela napas tidak berdaya karena dia benar-benar tidak ahli dalam memilih hiasan atau semacamnya.


"Karena perayaannya sederhana, buat saja dekorasi dengan hiasan dinding. Kemudian saat kue ulang tahunnya ditiup, gunakan konfeti," kata Elvira setelah berpikir sejenak.


"Vira benar, untuk lilinnya juga harus yang menarik agar terkesan lebih indah. Ah, ini hanya sekedar pendapat personal, tapi mungkin topi ulang tahun dibutuhkan juga," kata Elvina yang melanjutkan perkataan Elvira.


Aksa menyentuh dagunya dan berkata dengan nada sedikit terkejut. "Jadi begitu, cukup sederhana juga ya."


Aksa kira hiasannya cukup ribet karena dia sama sekali tidak bisa memikirkannya. Tapi ternyata sangat sederhana menurut saran dari Elvira dan Elvina.


Hanya membutuhkan hiasan dinding, konfeti, dan topi ulang tahun jika diperlukan. Selain itu adalah kue ulang tahun dan beberapa hidangan yang cocok untuk menemani perayaan itu.


"Ya, sangat sederhana. Tapi diusahakan makanannya yang banyak agar suasana lebih meriah," Tamba Elvira.


Elvira berpikir kalau perayaan yang sederhana hanya dengan kue ulang tahun tidaklah cukup. Dengan makanan dan minuman yang banyak bisa memeriahkan suasana perayaan.


"Mengapa tidak camilannya saja yang lebih banyak? Maksudku, kita akan memakan kuenya dan pasi akan sangat kenyang jika makan makanan pokok lagi," kata Elvina yang memiliki pendapat berbeda.


"Itu ide yang bagus, dan camilannya harus cocok dengan perayaan ulang tahun. Jangan malah menghidangkan camilan pedas atau yang terlalu berasa kuat," angguk Elvira yang setuju dengan pendapat Elvina.


Mereka berdua bisa langsung memikirkan persiapan yang sempurna untuk perayaan ulang tahun Sarah tiga hari lagi. Berbeda dengan Aksa yang hanya bisa memikirkan hidangannya saja.


Aksa tersenyum dan mengangguk, dia senang melihat kedua adiknya yang bisa berdiskusi dengan baik. Dia juga bisa mendapatkan ide-ide yang terbesit di dalam benaknya.


"Kerja bagus, besok aku akan menambah uang jajan kalian." Aksa berdiri dan berjalan ke lantai dua menuju ke kamar tidurnya.

__ADS_1


"Ah!?" Elvira dan Elvina tidak bereaksi dengan perkataan Aksa. Satu menit kemudian, mereka melompat dan berteriak dengan semangat.


__ADS_2