
"Bagaimana progresnya?" tanya Aksa kepada Dito.
Aksa memang memanggil Dito dan rekan-rekannya yang lain untuk membuat jalan yang nantinya akan digunakan sebagai jalur khusus kuda berdasar pada ide dari Sarah tentang Perjalanan Kuda.
Jalan yang dibuat bukankah jalan beraspal, melainkan jalan dengan batu datar dan tanah biasa ditambah semen sebagai perekat agar batu-batu di sana tidak berpindah tempat.
Hal ini agar tidak merusak alam sekitar dengan menggunakan aspal atau full semen. Semen yang akan digunakan oleh Aksa dan Dito juga sangat sedikit, hanya sebagai perekat saja, bukan sebagai jalan.
"Masih dibersihkan, Pak Aksa. Banyak daun dan batu kecil yang bisa melukai kuda atau manusia," kata Dito kepada Aksa sambil mengamati para pekerja.
"Ohh, bagus. Tapi Pak, aku mau bertanya. Menurut Bapak, di sekitar jalan diberi hiasan apa agar lebih indah?" tanya Aksa sambil menyentuh dagunya dan berpikir.
"Pohon mungkin? Atau bunga. Tapi kalau mau indah mungkin bisa perpaduan antara tumbuhan dan benda buatan manusia," kata Dito setelah berpikir sejenak.
"Aku sudah meminta Pak Rofiq untuk membuatkan penanda jalan yang unik. Sekarang aku bingung harus membuat hal apa lagi." Aksa berpikir dengan keras tapi tidak mendapat ide.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Dito bergabung dengan rekan-rekannya untuk membantu membersihkan jalan. Sementara itu Aksa duduk di atas batu dan berkomunikasi dengan Sistem.
Dia dan Sistem berdiskusi tentang hiasan apa yang harus ditambahkan di sekitar jalan kuda agar lebih indah dan tidak monoton jika hanya ada pohon.
"Oi Sistem, apakah kamu ada ide selain pohon dan hiasan buatan tangan?" tanya Aksa kepada Sistem di dalam hatinya.
[Ada. Host bisa membuat air mancur dengan patung yang bagus, susunan yang terbuat dari batu hias, dan pencahayaan yang menarik.]
"Itu ide yang bagus, tapi aku merasa agak kosong hanya dengan itu." Aksa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena bingung harus bagaimana.
Aksa menyalakan ponselnya untuk mencari beberapa informasi tentang hiasan jalan atau sesuatu yang bisa membuat pemandangan jalan semakin menarik.
__ADS_1
Saran-saran yang tertera di artikel yang dibaca oleh Aksa hampir sama semuanya seperti pohon, lampu, air mancur, dan lain sebagainya yang membuat Aksa menghembuskan napas panjang.
Aksa memutuskan untuk berpatroli menggunakan sepeda listrik agar bisa mendapat ide daripada berdiam diri yang membuat kepalanya berasap karena terlalu banyak berpikir.
Aksa melihat ada banyak orang yang memiliki senyum di wajah mereka masing-masing. Dia juga mengamati aktivitas mereka yang bersenang-senang dengan teman, pacar, atau keluarga.
"Tunggu sebentar, bermain, makan, berbincang." Aksa menghentikan sepeda listriknya di tepi jalan karena dia mendapat ide yang bagus tapi masih samar-samar.
Aksa mencoba untuk mengamati sekitarnya lagi agar ide di kepalanya menjadi lebih jelas. Setelah beberapa saat, Aksa tersenyum lebar karena idenya sudah menjadi jelas.
"Piknik!" kata Aksa dengan suara gembira. Ide yang Aksa dapatkan adalah piknik saat dia menggabungkan aktivitas bermain, makan, dan berbincang-bincang bersama orang terdekat dengan bahagia.
Ide Aksa sangat sederhana, dia akan meletakan meja dan bangku piknik di sekitar jalan kuda. Agar orang-orang bisa melihat kuda yang sedang berjalan atau berlari.
Hal ini juga bisa mendapat banyak keuntungan. Perjalanan kuda adalah hal yang hanya ada di area kuda khusus, jadi pengunjung biasa tidak bisa melakukan hal ini.
[Host, sepertinya pikiran Host menjadi lebih unik lagi.] Sistem berkata kepada Aksa dengan nada datarnya dan Aksa hanya tertawa menanggapi perkataan Sistem.
Aksa kembali ke lokasi Dito dan memberitahu rencananya kepada Dito. Dito mengangkat alisnya karena itu sangat bagus untuk diterapkan, jadi mereka berdua segera berdiskusi untuk mengubah rencana awal.
"Pak Aksa, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Rencana yang selalu dibawa oleh Pak Aksa sangat memukau," kata Dito dengan nada kagum karena dia memang kagum dengan ide-ide dari Aksa.
"Hahaha, terima kasih. Aku masih perlu banyak belajar lagi," kata Aksa sambil tertawa.
Lalu pada saat ini, Aksa mendapat telepon dari Galih yang memberitahunya kalau area lebah siap menerima pengunjung jadi Galih bertanya kepada Aksa apakah Aksa mau hadir dalam pembukaan area lebah.
"Aku ikut, tunggu sebentar." Aksa berkata kepada Galih, lalu dia menutup telepon. Setelah dia mengucapkan sampai jumpa kepada Dito, dia menaiki sepeda listriknya dan pergi ke area lebah.
__ADS_1
...----------------...
Angin sepoi-sepoi bertiup di pagi yang cerah saat Aksa sampai di area lebah madu yang sudah ada beberapa orang yang merupakan pengunjung yang akan masuk ke dalam area lebah.
Para pengunjung sudah mengenakan pakaian pelindung agar mereka tidak diserang oleh lebah. Meskipun Aksa yakin kalau lebah-lebahnya tidak berbahaya, tapi para pengunjung pasti akan ragu-ragu.
"Halo, semuanya! Kita bertemu lagi. Apakah kalian semua sudah siap untuk masuk dan menjadi orang yang pertama masuk ke dalam area lebah?" kata Aksa dengan senyum cerah.
"Siap!!" Para pengunjung juga memiliki senyum di wajah mereka dari balik pakaian pelindung yang sedang mereka kenakan.
"Bagus. Tolong tetap tenang dan jangan mengganggu lebah kecuali sudah aku izinkan. Jangan ragu untuk bertanya. Dan yang paling penting, jangan panik jika terjadi sesuatu!" kata Aksa dengan serius.
Para pengunjung juga mengangguk dengan serius karena mereka tahu bisa saja terjadi kecelakaan dan mereka akan diserang oleh para lebah jika mengganggu aktivitas para lebah.
Aksa tersenyum, dia masuk ke dalam area lebah diikuti oleh para pengunjung. Di belakang para pengunjung juga ada dua karyawan yang akan membantu jika ada masalah.
Meskipun para pengunjung sempat bertanya-tanya mengapa Aksa tidak mengenakan pakaian pelindung apapun dan berjalan masuk ke dalam area lebah dengan sangat santai.
Matahari pagi bersinar dengan hangat, menyinari bunga-bunga liar yang bermekaran di sepanjang jalan setapak di sana. Dengan hati yang penuh semangat, mereka perlahan mendekati deretan kandang lebah yang berdiri rapi di bawah sinar matahari.
Aksa mendekati salah satu kandang lebah dan membuka tutup kandangnya. Suara gemuruh lebah yang bekerja keras menyambutnya dan lebah-lebah itu terlihat begitu sibuk mengumpulkan nektar dari bunga-bunga di sekitarnya.
Para pengunjung di belakang Aksa terlihat ketakutan, tapi mereka membuang rasa takut mereka saat melihat kalau lebah-lebah itu sangat bersahabat dengan Aksa.
Lagi-lagi, mereka dibuat kagum dengan hubungan Aksa yang dekat dengan hewan-hewan yang ada di Sajaya Farm. Ini menandakan kalau Aksa sangat mencintai pekerjaannya di sini.
"Semuanya, ayo mendekat. Jangan khawatir, selama kalian tidak berbuat sesuatu yang asal-asalan, mereka tidak akan mengganggu," kata Aksa dengan senyum ramah.
__ADS_1