
"Selamat datang di Sajaya Farm, anak-anak dari Sekolah Dasar Sunshine!"
Di depan pintu masuk Sajaya Farm, ada sebuah banner yang bertuliskan hal tersebut. Orang-orang yang melihatnya bingung, namun setelah bertanya kepada karyawan, ternyata mereka akan berpiknik di sini.
Semua orang kelas mengetahui Sekolah Dasar Sunshine yang merupakan sekolah anak-anak orang kaya. Tidak sedikit juga pengunjung yang pernah bersekolah di sana.
Pada saat ini, ada bus berukuran sedang berhenti di area parkir. Galih mengarahkan bus tersebut agar parkir di tempat yang tepat dan tidak mengganggu kendaraan lainnya.
Bus itu merupakan kendaraan yang digunakan oleh Sekolah Dasar Sunshine untuk membawa pada murid. Tampilan busnya cukup keren karena ada gambar matahari yang melambangkan nama Sunshine.
"Seperti yang diharapkan dari sekolah kaya, busnya saja sangat bagus. Aku rasa saat sekolah dasar dulu, sekolahku tidak memiliki bus?" pikir Aksa sambil mendecakkan lidahnya.
Pintu bus terbuka, seorang wanita paruh baya turun dari bus. Aksa melangkah maju dan berkata, "Bu Sari, selamat datang di Sajaya Farm. Kami menyambut kedatangan kalian, Sekolah Dasar Sunshine."
Sari berjabat tangan dengan Aksa dan berkata, "Terima kasih atas usahanya. Sambutan kalian cukup meriah yang membuat saya sedikit terkejut, hahaha."
Saat mereka berdua berbicara, ada guru lain yang turun dari bus. Guru itu meminta agar anak-anak turun dengan hati-hati. Aksa yang melihat hal itu juga berinisiatif untuk membantu.
"Terima kasih, Paman!" teriak seorang anak laki-laki dengan mata besar.
Aksa sedikit terdiam saat anak itu memanggilnya paman, tapi dilihat dari rentang usia mereka berdua, anak itu memang harus memanggilnya paman, bukan kakak.
"Yah, sama-sama." Aksa menepuk-nepuk kepada anak itu dan berkata sambil tersenyum.
Sari segera mengabsen anak-anak, setelah dikonfirmasi semua anak dan guru sudah lengkap, Aksa segera memandu mereka memasuki Sajaya Farm.
"Anak-anak, ini adalah taman bunga matahari. Karena sekarang masih pagi, awan-awan belum berkumpul. Jika ingin melihat pemandangan yang indah, kita akan ke sini saat siang hari," kata Aksa dengan nada ramah.
"Oh!!" Anak-anak melihat bunga-bunga matahari yang lebih tinggi dari mereka dengan tatapan penasaran karena belum pernah melihat ada banyak bunga matahari.
__ADS_1
"Paman! Ada tupai!" teriak salah satu anak perempuan yang terkejut karena ada tupai di taman bunga ini yang sedang melihat kesana-kemari.
Aksa mengangguk dan berkata, "Ah, benar. Di sini, ada tupai dan kelinci yang bisa berinteraksi dengan kita. Kalian bisa membeli makanan di sana dan memberinya kepada tupai atau kelinci yang kalian inginkan."
Setelah mendengar hal tersebut, anak-anak segera menatap Sari dengan mata penuh harap. Sari juga memahami maksudnya, dia segera meminta guru lain untuk membeli pakan tupai dan kelinci.
"Hore!" Anak-anak bersorak saat dibagikan pakan tupai dan kelinci. Mereka segera mencari tupai dan kelinci untuk diberi makan.
Para guru juga meminta agar mereka jangan berpencar atau bergerak sendiri. Jadi, terbentuklah beberapa kelompok yang terdiri dari lima anak atau lebih dengan satu guru untuk mengawasi mereka.
"Saya sudah melihat taman bunga ini yang sudah difoto oleh para pengunjung. Namun saat melihatnya secara langsung, ternyata lebih indah," kata Sari dengan nada kagum.
Aksa tersenyum cerah dan berkata, "Terima kasih atas pujiannya."
Setelah anak-anak selesai memberi makan tupai dan kelinci, mereka segera kembali berkumpul. Kemudian Aksa memandu mereka untuk pergi ke area hewan ternak yang ada di sisi kanan.
"Anak-anak! Kita akan mengunjungi hewan ternak ayam petelur! Apakah ada di antara kalian yang pernah mengambil telur ayam dari kandangnya langsung?" tanya Aksa dengan nada ramah.
"Bagus! Ayo kita pergi untuk mengambil telur dari ayam petelur!" Aksa membuka pintu kandang dan memandu anak-anak masuk ke dalamnya.
Aksa menjelaskan bagaimana cara mengambil telur ayam yang baik dan benar. Cara ini diperlukan agar ayam tidak merasa terancam yang nanti malah akan mematuk tangan orang yang akan mengambil telur ayam.
Aksa juga membantu mereka saat akan mengambil telur karena anak-anak tidak bisa menjangkaunya dengan tangan dan kaki mereka yang pendek.
Setelah itu, mereka pergi ke area hewan ternak sapi dan kambing di mana di sana mereka memerah susu bersama. Anak-anak tertawa dengan gembira karena kadang-kadang susunya terciprat ke wajah mereka.
Hewan-hewan ternak juga menjadi paruh dan akrab karena ada Aksa di sana yang dikenali oleh para hewan. Anak-anak juga menatap Aksa dengan tatapan kagum karena dia bisa memerintahkan hewan dengan mudahnya.
"Paman! Aku ingin belajar dari Paman! Kucingku di rumah kadang-kadang bersikap tidak patuh sehingga pembantu rumahku yang harus menanganinya!"
__ADS_1
"Aku juga! Anjing di rumah ku selalu berlarian kesana-kemari. Dia hanya takut dengan ibuku, selain itu dia tidak takut pada siapapun!"
"Ehh, aku tidak mempunyai hewan peliharaan tapi sepertinya itu cukup keren, bisa memerintah hewan melakukan sesuatu yang kita inginkan!"
Anak-anak mengerubungi Aksa untuk memintanya mengajari mereka bagaimana caranya agar hewan-hewan paruh. Aksa yang dikerubungi oleh makhluk-makhluk kecil itu hanya bisa pasrah.
Energi yang dimiliki oleh anak-anak memang tidak terbatas, mereka tidak kenal lelah meskipun sudah banyak melakukan aktivitas dari tadi pagi.
"Baiklah. Sebenarnya kalian hanya perlu memperlakukan hewan kalian dengan sangat baik. Sama seperti saat kita berteman, jika kita jahat kepada teman kita, maka hubungan pertemanan akan putus bukan?"
"Sama halnya dengan hewan. Jika hewan diperlakukan baik oleh kita, maka mereka juga akan membalasnya dengan kebaikan pula. Ada banyak hewan yang tahu cara membalas kebaikan orang."
"Jadi, cobalah bermain dengan mereka, memberi makan, berjalan-jalan di taman, atau membelikan mereka mainan." Aksa menjelaskan kepada anak-anak tersebut dengan sabar.
Anak-anak mendengarkan penjelasan Aksa dengan patuh, sesekali mereka juga mengangguk-anggukkan kepala tanda bahwa mereka paham dengan apa yang dijelaskan oleh Aksa.
Para guru yang melihatnya terkejut karena bisa menenangkan anak-anak yang selalu berisik. Bahkan mereka sendiri terkadang kesulitan untuk menenangkan anak-anak yang mereka ajar.
"Bagus, selanjutnya ada area sapi potong dan ayam potong. Tapi sebentar lagi sudah masuk waktu makan siang, jadi ayo makan terlebih dahulu agar tenaga kita terisi!" kata Aksa dengan senyum cerah.
"Baik!" Anak-anak setuju dengan mudahnya yang membuat para guru saling memandang dengan terkejut lagi.
Mungkin karena Aksa masih muda sehingga cepat akrab dengan anak-anak. Dia juga bisa mencari topik yang disukai oleh anak-anak seperti kartun, animasi, mainan, boneka, dan lain sebagainya.
Aksa menghindari topik yang berhubungan dengan gadget agar mereka bisa berbicara dengan ria tanpa dipengaruhi oleh gadget seperti ponsel atau yang lainnya.
Juga karena Aksa memiliki senyum yang cerah seperti cahaya matahari yang membuat anak-anak tanpa sadar patuh dan menuruti perkataan Aksa dengan mudahnya.
"Bagus, ayo pergi!" Aksa berjalan terlebih dahulu menuju restoran.
__ADS_1
Di belakangnya ada anak-anak yang saling bergandengan tangan sambil menyenandungkan lagu anak-anak yang ceria. Para pengunjung lain tersenyum tanpa sadar saat melihat mereka.
Pemandangan langit biru, awan putih, cuaca cerah, dan anak-anak yang sedang bernyanyi membuat hati orang-orang yang melihatnya meleleh tanpa sadar.