
Di sisi lain, di sebuah rumah mewah di area pusat kabupaten.
Eddy dan keluarganya sedang makan malam bersama. Mereka sangat menikmati makan malam mereka karena istri Eddy menggunakan telur ayam kualitas C yang diberikan oleh Aksa sebelumnya.
Eddy lupa memberitahu istrinya mengenai telur ini dan ia hanya menyimpannya di dapur. Baru setelah tadi setelah pulang bekerja, ia mengingat kalau Aksa pernah memberikannya telur ayam.
Sang istri langsung memasaknya dan sekarang mereka benar-benar kecanduan dengan telur ayam pemberian Aska bahkan cucu mereka yang biasanya pemilih, meminta tambah lagi.
"Suamiku, dari mana kamu mendapatkan telur ini? Rasanya sangat lezat." Istri Eddy, Dewi bertanya kepada suaminya.
"Ah, kamu tahu Sajaya Farm yang akhir-akhir ini terkenal kan? Bosnya memberikanku ini dan susu sapi yang kita minum beberapa hari sebelumnya," jawab Eddy.
"Ayah mengenal bos Sajaya Farm?" tanya Doni, putra Eddy.
Eddy mengangguk dan menjelaskan, "Sarah bekerja di sana dan saat itu bos Sajaya Farm menyambut Ayah saat sedang memilih menu di restoran."
"Sarah bekerja di sana!?" Doni terkejut.
Doni tentu saja mengenal Sarah karena kedua keluarga mereka adalah sahabat. Sarah adalah orang yang acuh tak acuh terhadap dunia dan ia tidak menyangka kalau Sarah akan bekerja di bawah seseorang.
Doni tidak tahu karena keduanya sudah jarang berkontak. Semenjak menikah beberapa tahun lalu, Doni tidak berkontak dengan teman wanita lain kecuali untuk beberapa urusan tertentu.
Eddy tertawa dan berkata, "Mengejutkan bukan? Ayah juga terkejut saat melihatnya. Apalagi Sarah dekat dengan bos Sajaya Farm."
Dewi menjadi tertarik dengan itu. "Sarah dekat dengan bos Sajaya Farm, memangnya bagaimana penampilannya? Yang pasti bukan seorang pria paruh baya bukan?"
"Tentu saja bukan, bagaimana bisa Sarah dekat dengan seorang pria paruh baya. Bos Sajaya Farm masih sangat muda, usia di mana orang-orang seumurannya masih kuliah," jelas Eddy.
Mendengar hal itu, seisi keluarga terkejut mengetahui bagaimana penampilan dan identitas Aksa. Eddy juga kagum dengan Aksa yang bisa sukses di usia yang masih sangat muda.
Teman-temannya mungkin belum lulus kuliah tapi dirinya sudah menjadi bos wisata peternakan dan itu menghasilkan banyak sekali keuntungan.
Lalu karena membicarakan Sajaya Farm, Doni menjadi tertarik dan ingin pergi ke sana. Lalu mereka semua memutuskan untuk pergi ke Sajaya Farm saat akhir tahun.
...----------------...
Pada saat yang sama, di dekat rumah Eddy.
"Sarah, bagaimana pekerjaan barumu?" tanya seorang wanita yang mirip dengan Sarah.
"Hm? Baik-baik saja. Memangnya ada apa, Bu?" tanya Sarah yang duduk di sebelah wanita tersebut.
Wanita tersebut adalah ibu Sarah yang bernama Delia. Ia adalah seorang ibu rumah tangga namun terkadang ia membantu pekerjaan suaminya, Andre.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, hanya penasaran. Mengapa kamu ingin bekerja di sana? Bukankah kamu dulu mengatakan kalau ingin membangun bisnis sendiri karena tidak suka berada di bawah seseorang?" tanya Delia.
Sarah berpikir sebentar sebelum menjawab. "Yah, bagaimana mengatakannya. Sajaya Farm benar-benar menarik perhatianku dan yang lebih penting, bosnya memiliki pandangan seperti veteran meskipun usianya masih muda."
"Bosnya masih muda?" Delia memandang Sarah dengan tatapan mata curiga.
Sarah tidak menyadari sesuatu dan hanya mengangguk. "Ya, ada apa?"
Delia menyipitkan matanya dan bertanya, "Sarah, kamu tidak bekerja di sana karena menyukai bosnya kan?"
"A-apa yang Ibu katakan! Aku tidak menyukai Aksa!" teriak Sarah dengan wajah memerah.
"Oh, namanya Aksa? Jadi dia adalah calon menantu Ibu ya." Delia tertawa kecil karena melihat reaksi Sarah.
"Ibu!" Sarah berteriak lagi.
...----------------...
"Ugh, siapa yang membicarakanku?" Aksa mengusap-usap hidungnya yang gatal.
Ia saat ini sedang berada di dalam kamarnya dan di sampingnya ada Elvira dan Elvina yang sedang berbaring di tempat tidur mencari rumah baru menggunakan laptop baru mereka.
Aksa membelikan laptop dan ponsel baru untuk kedua adiknya karena tahu kalau di SMA sekarang membutuhkan gadget dan internet untuk belajar.
Tentu saja Aksa juga membelikan ponsel baru untuk kedua orang tuanya. Meskipun mereka hanya menggunakan ponsel untuk menelepon dan memberi pesan, tapi bagaimana bisa Aksa tega melihat kedua orang tuanya menggunakan ponsel usang.
"Kakak, bagaimana dengan ini?" Elvira menunjukkan rumah pilihannya kepada Aksa.
Rumah yang ditunjukkan oleh Elvira adalah rumah yang terletak di pinggir kabupaten namun di sana adalah area kelas atas.
Rumah tersebut memiliki halaman yang luas dan desainnya adalah desain lama menggunakan kayu sebagai fondasi seperti rumah zaman dahulu.
"Aku juga menemukannya." Elvina juga menemukan rumah pilihannya.
Berbeda dengan kakaknya, Elvina menunjukkan rumah yang terletak di daerah pusat dan rumah tersebut memiliki desain modern meskipun sama sama memiliki halaman yang luas.
"Bagaimana ya, rumah yang kalian berdua tunjukkan sama bagusnya. Sekarang kita harus memilih antara kedua rumah ini." Aksa kesulitan untuk memilih salah satu.
Rumah pilihan Elvira memiliki tempat yang cocok untuk orang tua yang sudah pensiun karena di sana sangat tenang dan udaranya juga bersih dengan banyak tumbuhan hijau.
Rumah pilihan Elvina kurang cocok untuk orang tua yang sudah pensiun namun letaknya dekat dengan sekolah mereka dan ada banyak tempat penting di dekatnya sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk pergi berbelanja atau yang lain.
"Maaf Vira, untuk saat ini kita akan memilih rumah pilihan Vina karena kita membeli rumah untuk keluarga. Namun, tentu saja jika aku memiliki uang tambahan, aku akan membeli rumah pilihanmu." Aksa mengelus-elus kepala Elvira.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kakak. Tapi, jika Kakak membeli kedua rumah ini, orang tua akan tinggal di rumah pilihanku sedangkan kita akan tinggal di rumah pilihan Vina?" tanya Elvira.
Aksa tersenyum dan mengangguk, "Ya. Ayah dan Ibu pasti sudah sangat lelah bukan? Biarkan mereka menikmati waktu bersama, kita anak muda tidak perlu ikut campur."
"Yah, pendapatan dari Sajaya Farm saat ini sudah melebihi 25 juta per hari setelah area sungai dibuka. Dibutuhkan waktu dua bulan untuk melunasi satu rumah, dan tidak mungkin membayar lunas rumah pada akhir tahun," pikir Aksa.
Meskipun Aksa ingin membayar lunas karena ia tidak ingin kepikiran untuk membayar cicilan, tapi mau bagaimana lagi, pendapatan Sajaya Farm tidak cukup untuk melunasi rumah saat ini.
[Host bisa membeli kartu di toko game.]
"!!?" Aksa tercengang dengan perkataan Sistem yang tiba-tiba.
Aksa menahan diri untuk bertanya, ia menunggu sampai kedua adiknya keluar dari kamar. Setelah itu ia mengunci pintu dan bertanya kepada Sistem.
"Apa maksudmu, Sistem?" tanya Aksa.
[Seperti yang Sistem hebat ini katakan. Host bisa membeli kartu di toko game.]
Aksa masuk ke dalam peternakan game dan memeriksa toko. Ia menjadi sangat penasaran setelah mendengar perkataan Sistem. Lalu Aksa melihat kalau ada kartu pembelian yang berfungsi untuk membeli sesuatu yang ingin Aksa beli.
"Sistem, bukankah dengan ini aku bisa membeli apapun yang aku mau dengan membeli kartu pembelian sebanyak mungkin?" tanya Aksa dengan heran.
[Apakah Host buta? Ada tulisan 'waktu terbatas' di sana.]
"Oh, kamu benar." Aksa melihat tanda itu di sebelah nama produk.
Kartu pembelian sekarang memiliki harga 10.000 poin dan Aksa memiliki poin yang sangat banyak saat ini. Namun ini adalah waktu terbatas yang memberikan diskon, Aksa segera memeriksa harga asli kartu pembelian.
"Sial, 10 juta poin. Itu artinya aku harus memperoleh pendapatan 10 milyar untuk mendapatkannya." Aksa tercengang dengan harga asli kartu pembelian.
"Sistem, mengapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Aksa.
[Jangan salahkan Sistem, salah sendiri Host yang tidak memeriksa toko game karena terlalu sibuk dengan dunia nyata. Tidak, atau bisa dikatakan terlalu sibuk berbicara dengan Sarah.]
Sekarang Aksa memiliki keinginan untuk memukul Sistem karena apa yang Sistem katakan memang benar namun perkataannya membuat Aksa kesal.
Barang yang tersedia di waktu terbatas di toko game hanya berjumlah satu dan akan di refresh setiap satu bulan sekali. Itu artinya sekarang adalah barang pertama dan akan hilang setelah Bulan Desember berakhir.
Tanpa ragu-ragu, Aksa langsung membeli kartu pembelian yang sedang diskon besar-besaran. Ia kehilangan 10.000 poin tapi ia tidak menyesal karena harga kartu pembelian sangat tidak masuk akal.
Dengan ini Aksa bisa menghemat uang kira-kira sebesar satu milyar karena ia akan menggunakan kartu pembelian untuk membeli rumah pilihan Elvina.
"Seperti biasanya, Sistem ini adalah jelmaan dari dewa." Aksa menghela napas lega dan memuji-muji Sistem.
__ADS_1
[Sistem bukankah jelmaan dewa, tapi terima kasih karena telah memuji Sistem.]