
Di rumah Aksa.
Aji sedang menonton televisi bersama yang lain, saat dia akan mengganti acara televisi karena sedang iklan, ponselnya berdering dan yang menelepon adalah nomor tidak dikenal.
Dia mengerutkan keningnya karena ada nomor tidak dikenal menelepon dirinya saat malam hari. Meskipun tidak ingin menjawabnya, namun entah mengapa ada sesuatu di dalam dirinya yang menyuruhnya untuk menjawab telepon itu.
Jadi, dia mengambil ponselnya dan menekan tombol jawab. "Halo? Apakah ada yang bisa saya bantu?"
"Halo? Apakah bener ini dengan Pak Aji Wijaya?" Terdengar suara seorang pria dari balik telepon.
"Ya, saya Aji, dengan siapa ini?" tanya Aji dengan bingung karena dia juga tidak mengenal suara pihak lain.
"Halo Pak Aji, saya petugas kepolisian. Putra Bapak, Aksa Wijaya sedang di rawat di rumah sakit karena kecelakaan mobil. Bapak dan keluarga dimohon untuk segera ke sini," kata petugas polisi.
Ponsel di tangan Aji terjatuh saat mendengar perkataan petugas polisi itu. Tubuhnya menegang, wajahnya juga pucat karena mendengar kabar buruk soal Aksa.
"Ada apa?" Ani bertanya dengan curiga, Elvira dan Elvina juga menatap ayah mereka dengan tatapan bingung.
"Aksa... Aksa kecelakaan..." Aji menjawab dengan suara gemetar, dia bahkan perlu banyak menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
"Apa!?" Ani, Elvira, dan Elvina sama terkejutnya dengan Aji saat mendengar kabar buruk.
Aji mengangguk dengan serius, dia mengambil kunci mobil di atas meja dan segera pergi ke luar untuk menyalakan mesin mobil diikuti oleh Ani. Elvira dan Elvina mengambil jaket di kamar mereka sebelum masuk ke dalam mobil.
Mereka berempat segera pergi ke sunah sakit kabupaten sesuai dengan pesan yang petugas polisi kirimkan tadi. Mobil melaju dengan kencang karena Aji benar-benar panik saat ini.
...----------------...
Di Sajaya Farm.
Sarah yang akan tidur di asrama menerima telepon dari ayahnya. Wajahnya menjadi pucat pasi saat mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya mengenai apa yang terjadi dengan Aksa.
"Di mana dia sekarang!?" Sarah bertanya dengan cemas sambil mengenakan mantelnya dengan terburu-buru.
"Rumah sakit kabupaten, Ayah akan menunggumu di ruang UGD." Andre menjawab dalam hitungan detik sebelum mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Alasan Andre tahu apa yang terjadi dengan Aksa adalah karena perusahannya dekat dengan rumah sakit kabupaten. Dia sedang dalam perjalanan pulang saat melihat ada mobil ambulans yang berhenti di depan rumah sakit.
Kemudian dia melihat seseorang yang dia kenal berbaring di atas tandu. Andre segera mengikuti para petugas medis dan dialah yang memberitahu identitas Aksa kepada dokter dan polisi yang ikut.
Polisi mendapatkan telepon dari salah seorang pria yang mendengar ada suara keras di dekat rumahnya. Area kecelakaan Aksa juga sangat ramai setelah polisi datang karena hanya ada Aksa di sana.
Mereka sudah tahu kalau itu adalah tabrak lari di mana pihak yang menabrak Aksa pasti langsung kabur tanpa melihat atau melakukan sesuatu untuk Aksa yang sedang terkapar lemah.
...----------------...
Di ruang UGD
Dokter dan asistennya sedang mencoba untuk menghentikan pendarahan di tubuh Aksa yang habis terguling-guling di atas jalan beraspal yang kasar sehingga membuat kulitnya terkikis.
Namun pada saat ini, Aksa membuka matanya yang membuat dokter dan asistennya terkejut setengah mati. Tangan mereka yang akan menyembuhkan Aksa berhenti di udara.
"Nak Aksa, bagaimana bisa kamu bangun?" tanya dokter yang terkejut setengah mati.
Aksa mengedipkan matanya beberapa kali karena pandangannya kabur. Kemudian dia ingat kalau motor roda tiganya ditabrak oleh mobil off-road dan dia terpental jauh sampai menabrak pohon.
"Tolong sembuhkan aku." Aksa berkata dengan suara lirih kemudian dia memejamkan matanya karena tidak memiliki banyak tenaga di tubuhnya.
Sang dokter dan asistennya saling memandang satu sama lain. Meskipun wajah mereka tertutup masker, tapi mereka bisa melihat kebingungan yang tercermin di mata masing-masing.
"Apa yang kalian tunggu? Tenang saja, aku tidak merasa rasa sakit apapun." Aksa berkata tanpa membuka matanya.
Dokter menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. Aksa tidak bisa merasakan rasa sakit karena asisten dokter memang sudah memberikannya bius total.
Bius total adalah menyuntikkan obat bius kepada pasien agar tidak bisa merasakan rasa sakit. Biasanya digunakan untuk operasi besar yang di mana penyakit atau luka yang besar perlu dirawat.
Bius total membuat pasien tidak sadarkan diri karena memang itu tujuannya. Aksa bisa sadar karena fisiknya yang berbeda, meskipun begitu hanya area kepalanya saja yang bisa bergerak.
Penyembuhan dilakukan selama hampir satu jam. Pintu ruang UGD terbuka, kebetulan keluarga Aksa dan Sarah baru saja tiba, mereka segera bertanya kepada dokter yang keluar dari ruangan.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan anakku? Apakah dia baik-baik saja? Atau ada sesuatu yang cukup parah?" Sebagai seorang ibu, Ani adalah orang yang paling mengkhawatirkan kondisi Aksa.
__ADS_1
"Dokter, Aksa baik-baik saja bukan?" Meskipun hanya sebuah pertanyaan singkat dan biasa, Sarah tidak bisa menyembunyikan suaranya yang bergetar.
Aji hanya menatap ke arah dokter, meskipun tidak bertanya, matanya sudah menyampaikan kalau dia juga ingin tahu bagaimana kondisi Aksa. Sedangkan Elvira dan Elvina saling memeluk, sama seperti Aji, mereka menatap dokter dengan mata khawatir.
"Bagaiman mengatakannya, Aksa ini sangat kuat. Padahal asisten saya sudah membiusnya tapi dia masih sadar. Bahkan beberapa saat dia mengajukan beberapa pertanyaan kepada kami," kata dokter sambil melepas maskernya.
"Itu artinya, apakah Aksa baik-baik saja?' tanya Ani.
"Ya. Aksa sudah baik-baik saja, diperkirakan akan sembuh total dalam waktu satu minggu karena fisiknya sangat luar biasa," bawah dokter dengan pasti.
Semua orang menghela napas lega mendengar kalau Aksa sudah baik-baik saja. Namun mereka belum bisa menemui Aksa karena penyembuhannya baru saja selesai dan jika ada orang yang masuk, takut terjadi sesuatu.
Tapi pada saat ini, ponsel Aji berdering dan yang menelepon adalah Aksa itu sendiri. Aji terkejut bagaimana bisa Aksa menelepon dirinya, dia hendak bertanya namun dokter sudah menjawabnya.
"Ah, jangan heran. Yang menelepon memang Aksa, dia meminta tolong perawat kami untuk menelepon Bapak sehingga kalian bisa berbicara," kaya dokter.
Aji tersebut dan menghela napas lega karena itu memang sifat putranya yang selalu mengkhawatirkan keluarga dibandingkan dengan dirinya sendiri.
Aji menekan tombol jawab dan terdengar suara Aksa. "Ayah, Ibu, aku baik-baik saja. Vira dan Vina, kalian juga jangan menangis, aku ini orang yang kuat, hahaha!"
"Pak Aksa, tolong jangan tertawa secara berlebihan." Perawat di samping menegur Aksa karena tertawa berlebihan yang membuat kondisinya memburuk.
"Maaf, maaf." Aksa hanya bisa tersenyum canggung.
"Nak, dengarkan kata perawat, jangan berbicara berlebih. Hanya dengan mendengar suaramu, kami bisa menghela napas lega," kata Ani dengan nada lembut.
"Kakak! Cepat sembuh!" kata Elvira dan Elvina yang kembali ceria setelah mendengar suara Aksa yang menyebalkan seperti biasanya.
"Baik, baik. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, apakah ada Sarah di sana?" tanya Aksa.
"Aku di sini," kata Sarah setelah mendengar namanya disebut oleh Aksa.
"Sarah, sebenarnya aku ingin menyembunyikan kondisiku, tapi sepertinya itu mustahil. Jadi buatlah pengumuman kalau aku tertabrak, kita mungkin bisa menarik simpati masyarakat, kekeke." Aksa tersenyum seperti orang jahat di dalam ruang UGD.
"Aksa, baiklah." Sarah ingin mengatakan sesuatu namun tersangkut di tenggorokannya, pada akhirnya dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tak berdaya.
__ADS_1