
Setelah menjelaskan kepada ayah dan ibunya mengenai mobil baru yang ia beli, Aksa menggunakan sepeda lamanya untuk pergi ke Sajaya Farm.
"Sudah lama aku tidak menggunakannya. Sepeda ini sudah menemaniku dari aku SMP, jadi sudah sekitar 10 tahun, waktu yang cukup lama," batin Aksa sambil tersenyum.
Saat diperjalanan menuju Sajaya Farm, ia menggunakan mata peluang untuk melihat keinginan orang-orang yang ia lihat. Meskipun ada beberapa yang berkaitan dengan wisata, mereka adalah individu.
Sedikit sia-sia jika melakukan penawaran Sajaya Farm kepada individu satu per satu. Selain dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra, pendapatan yang diperoleh juga cukup sedikit.
Itulah mengapa Aksa menghela napas panjang karena tidak menemukan keinginan pariwisata yang besar di antara orang-orang yang ia lihat di jalan.
Namun sepertinya tuhan memiliki rencana, saat di persimpangan lampu merah, Aksa melihat ada seorang wanita paruh baya yang menggunakan seragam seperti seorang guru.
Mata Aksa menjadi cerah karena keinginan wanita itu adalah untuk menemukan tempat wisata untuk anak-anak di sekolahnya.
"Bingo, saat saja aku ingin mengeluh malah datang keuntungan. Sepertinya aku harus menahan diri untuk mengeluh," pikir Aksa.
Dia menghampiri wanita paruh baya tersebut, namun dia tidak langsung bertanya karena akan dicurigai. Aksa memarkirkan sepeda dan duduk di dekat wanita tersebut.
"Permisi, Bu. Tahu toko kue terdekat tidak ya?" tanya Aksa kepada wanita tersebut dengan nada sopan.
"Ah, toko kue ya. Dari sini kamu lurus saja, lalu jika ada pertigaan kamu bisa belok kiri. Tidak sampai 50 meter, kamu bisa menemukan toko kue itu," jawab wanita tersebut.
"Ternyata dekat juga ya, terima kasih, Bu. Tapi maaf jika lancang, aku lihat wajah Ibu tidak baik-baik saja, apakah terjadi sesuatu?" Aksa mulai menggiring topik ke apa yang diinginkan.
Wanita itu menghela napas panjang dan berkata, "Apakah sejelas itu? Nama saya Sari, saya seorang guru SD. Anak-anak kelas 3 SD akan mengadakan piknik, namun saya belum menemukan tempat yang bagus."
"Oh? Kebetulan sekali kalau aku adalah pemilik tempat wisata, apakah ini berkenan jika mengadakan piknik di tempat wisata milik saya?" kata Aksa dengan ekspresi yang pura-pura terkejut.
"Ah? Kebetulan sekali. Kalau boleh tahu, tempat wisata apa yang kamu jalani? Bukan bermaksud apa-apa, tapi SD tempat saja mengajar cukup kaya sehingga harus piknik di tempat yang berkualitas," tanya Sari.
"Ini kartu namaku. Tempat wisataku bernama Sajaya Farm, mungkin Ibu pernah mendengar nama ini di suatu tempat? Atau di postingan di media sosial." Aksa berkata sambil memberikan kartu namanya.
__ADS_1
Sari menerima dengan kedua tangan dan melihat kartu nama milik Aksa, ia cukup terkejut karena ternyata Aksa yang sepertinya tidak terlalu tua merupakan pemilik tempat wisata.
"Saya perlu membicarakan hal ini kepada guru yang lain, tapi kamu tenang saja, jika Sajaya Farm ini menarik, kami akan piknik di sana," kata Sari setelah menyimpan kartu nama Aksa.
Aksa tersenyum dan mengangguk, ia pun membalas, "Baik, terima kasih."
Setelah itu Aksa berbincang-bincang sebentar dengan Sari. Aksa sekarang tahu kalau Sari mengajar di salah satu sekolah dasar swasta yang terkenal di Kabupaten Banyumas.
Sekolah dasar ini cukup terkenal karena menyediakan berbagai fasilitas dan pendidikan dengan kualitas terbaik. Tentu saja biaya sekolahnya pasti mahal, tapi itu sesuai dengan apa yang didapatkan.
Banyak orang kaya yang menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah dasar itu. Mereka yang punya uang pasti akan ke sana karena anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik.
"Kalau begitu, sampai jumpa." Aksa menaiki sepedanya dan pergi ke toko kue yang tadi diberitahu oleh Sari.
Aksa sebenarnya tidak ingin ke toko kue, tadi ia hanya untuk basa-basi. Tapi setelah dipikir-pikir, dia cukup ingin untuk memakan camilan, jadi dia memutuskan untuk membeli kue kering.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko kue saat Aksa masuk ke dalam toko.
"Baik! Mohon ditunggu!" Pelayan toko berjaga dengan nada gembira dan dia segera mengepak kue-kue kering yang merupakan rekomendasi toko mereka.
Setelah dikemas dengan kemasan yang cantik, pelayan toko memberikannya kepada Aksa. Aksa mengeluarkan dompetnya dan memberi uang bayaran kepada kasir yang ada di sebelah.
Setelah itu dia keluar dari toko kue dan menaruh kemasan kue di keranjang sepeda yang ada di depan stang. Kemudian dia naik ke atas sepeda dan mengayuh sepedanya ke Sajaya Farm.
...----------------...
Sarah sedang berada di kantornya, dia melihat dan memeriksa keuangan Sajaya Farm dengan sangat serius. Dia sudah bekerja dari pagi dan hanya keluar dari kantor untuk pergi ke toilet saja.
Jadi saat pekerjaannya selesai, punggungnya tiba-tiba sangat sakit karena terlalu lama duduk. Matanya juga terlihat lelah karena terlalu lama menatap layar komputer.
"Sudah berapa lama aku tidak bekerja sampai seperti ini? Untung saja ada teh hangat yang sudah aku persiapkan," batin Sarah yang meminum teh di termos kecilnya.
__ADS_1
Setiap hari Sarah selalu membawa termos kecilnya, bahkan dia mengganti termos setelah satu atau dua hari. Kemudian saat sampai di Sajaya Farm, dia membuat teh hangat dan ditaruh di atas meja kerjanya.
Di dalam kantornya tidak ada pemanas atau sesuatu untuk memanaskan air. Jika ingin minum sesuatu yang hangat, Sarah harus pergi ke dapur karyawan yang letaknya ada di lantai satu.
Itulah mengapa dia memutuskan untuk membawa termos saja agar saat dia ingin minum sesuatu yang hangat, dia hanya perlu menggapai termos di atas meja kerja dan meminumnya.
"Sarah!" Aksa membuka pintu kantor Sarah yang mengejutkannya.
"Kamu mengagetkanku saja!" Sarah mengelus-elus dadanya karena terkejut lalu memelototi Aksa karena membuat dirinya terkejut.
"Hehehe." Aksa hanya tersenyum dan tidak membalas. Dia berjalan ke sofa dan menaruh kemasan kue kering yang tadi dibeli di atas meja.
"Apa itu?" tanya Sarah dengan penasaran karena kemasan kuenya yang sangat cantik.
Aksa duduk di sofa dan berkata, "Kue kering, aku membelinya saat perjalanan ke sini. Ayo makan."
"Kue kering?" Sarah menjadi tertarik, dia berjalan dan duduk di sofa seberang Aksa.
Mereka berdua kemudian memakan kue kering dengan nikmat karena rasanya yang enak. Sambil makan kue, Aksa juga menceritakan tentang Sari yang sedang mencari tempat wisata untuk piknik.
Sarah menganggukkan kepalanya, dia juga tahu mengenai sekolah dasar swasta yang terkenal itu. Dia cukup berharap agar Sari akan melakukan kegiatan piknik di Sajaya Farm.
Sekolah dasar mereka pasti akan menghabiskan banyak uang di sini karena anak-anak berasal dari keluarga kaya. Orang tua mereka juga pasti memberi mereka uang saku yang lebih.
Dan jika anak-anak menyukai Sajaya Farm, mereka akan menceritakannya kepada ayah dan ibu mereka. Dengan ini orang tua pun menjadi tertarik dan akan mengunjungi Sajaya Farm lagi.
"Semoga saja mereka akan berpiknik di sini," kata Sarah yang telah menghabiskan kue kering di dalam kemasan kue.
"Semoga saja begitu," angguk Aksa yang sedikit tercengang karena ternyata Sarah menyukai kue kering yang ia beli saat perjalanan menuju Sajaya Farm tadi.
"Mungkin aku akan membuat kue kering atau sesuatu yang mirip dan memberikannya kepada Sarah. Tampaknya dia sangat menyukai kue kering," pikir Aksa.
__ADS_1