Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Pergi ke Kantor Polisi Kabupaten Banyumas


__ADS_3

Aksa bangun pagi-pagi sekali, dia mandi dan berpakaian, kemudian turun ke dapur untuk membuat susu coklat dari bubuk coklat yang tadi malam dia dapatkan dari kolam keberuntungan.


"Hm, buat coklat panas biasa saja ditambah dengan susu sapi," kata Aksa yang sedang menunggu air mendidih.


Sekarang adalah Hari Sabtu sehingga Aksa bisa berangkat agak siang. Dia sudah mengangkut produk-produk peternakan lebih banyak kemarin agar besoknya bisa bersantai.


"Um, Kakak?" Elvira dan Elvina turun dan memanggil Aksa yang sedang ada di dapur.


"Hah? Jarang sekali kalian bangun pagi saat libur." Aksa berkata dengan suara sedikit terkejut karena kedua adiknya bangun sangat pagi.


"Entahlah, mungkin karena Kakak berisik," kata Elvina sambil bercanda.


"Daripada menggangguku, lebih baik kalian mengambil gelas untuk susu coklat yang sedang aku buat," kata Aksa setelah menghembuskan napas panjang.


"Susu coklat?" Elvira dan Elvina gembira karena Aksa sedang membuat susu coklat, mereka segera membantu Aksa mengambilkan gelas.


Tidak butuh waktu lama sebelum air yang Aksa rebus mendidih, dia meminta kedua adiknya untuk memasukkan bubuk coklat ke dalam gelas kemudian dia menuangkan air panas ke dalamnya.


"Coba rasakan, aku membeli bubuk coklat mahal. Tentu saja rasa dan efeknya akan luar biasa karena kualitasnya yang terbaik," kata Aksa setelah mengaduk-aduk susu coklat.


Elvira dan Elvina segera menyendok susu coklat karena masih panas, setelah ditiup agar menjadi hangat, mereka meminumnya secara perlahan karena Aksa mengatakan kalau rasanya sangat enak.


Pupil mata mereka membesar karena tidak bisa menahan keterkejutan setelah merasakan susu coklat itu. Mereka tidak berbicara dan mencoba untuk merasakannya lagi.


Aksa juga terkejut dengan efek dari bubuk coklat kualitas A dicampur dengan susu sapi kualitas C membuat rasa menjadi +4 ditambah dengan beberapa atribut lainnya.


"Kakak, susu coklatnya enak sekali!" Elvina berkata dengan nada kagum karena belum pernah merasakan susu coklat yang begitu enak.


"Seperti yang diharapkan dari Kak Aksa." Elvira menganggukkan kepalanya dan memuji Aksa.


"Hahaha." Aksa hanya tertawa menanggapi perkataan mereka.


Satu jam kemudian, Aji dan Ani bangun. Mereka berdua segera menyiapkan sarapan sederhana berupa nasi goreng dan teh hangat. Satu keluarga sarapan dengan harmonis sambil berbincang-bincang.


Setelah sarapan, Aksa hendak pergi ke Sajaya Farm. Saat dia akan keluar dari rumah, ponselnya berdering. Yang menelponnya adalah Budi si petugas polisi jujur.


Aksa langsung tahu mengapa Budi menelepon, dia pun segera menjawabnya, "Halo, Pak Budi. Apakah aku harus ke kantor polisi sekarang?"


Di sisi lain, Budi tertegun sejenak karena Aksa sudah tahu tujuannya menelepon. Ia pun segera menjawab, "Aksa, sepertinya kamu memang sengaja ya. Tapi benar, tolong segera ke kantor polisi sekarang, ya."

__ADS_1


"Baiklah, kebetulan aku belum berangkat. Aku akan segera ke sana," balas Aksa sebelum menutup telepon.


Aksa membuka pintu rumah, dia menaiki motor roda tiganya dan segera pergi ke kantor polisi kabupaten. Sebelum menyalakan mesin, Aksa mengirimkan pesan kepada Sarah mengenai apa yang sedang terjadi.


Sarah pun membalas dalam hitungan detik, "Baiklah, hati-hati. Jangan sampai Kevin melakukan sesuatu yang buruk padamu di sana."


"Santai." Aksa hanya membalas dengan singkat, kemudian dia sebesar pergi ke kantor polisi kabupaten.


...----------------...


Di kantor polisi Kabupaten Banyumas, tepatnya di kantor pribadi milik Herman.


"Pak Budi, bagaimana? Apakah Aksa akan datang ke sini?" tanya Herman kepada Budi yang sudah selesai menelepon Aksa.


"Aksa sedang dalam perjalanan, Pak. Jangan khawatir, dia pasti akan bertanggung jawab juga," jawab Budi dengan serius.


Herman menghela napas lega dan berkata, "Syukurlah, aku takut kalau Aksa tidak ingin datang ke sini karena masalah yang menimpanya. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini."


Budi hanya menganggukkan kepalanya dan tidak mengatakan apapun. Herman mengatakan untuk menunggu sampai siang, namun ternyata situasinya menjadi lebih parah.


Di internet, orang-orang sudah membuat petisi untuk menghukum Kevin dan Albar. Namun karena saat ini Albar tidak mempunyai catatan kriminal, hanya petisi tentang Kevin yang mereka isi.


Itulah mengapa setelah bangun dari tidurnya, Herman langsung berangkat ke kantor polisi sambil menelepon semua personil agar berkumpul di kantor polisi secepatnya.


Di lantai pertama, di salah satu ruangan yang biasanya digunakan untuk berbicara dengan tamu. Kevin ada di dalam sana setelah mendapat telepon dari Herman untuk segera pergi ke kantor polisi.


"Sialan, bagaimana bisa geng banteng putih ketahuan? Tidak, lebih tepatnya bagaimana bisa mereka kalah!?" pikir Kevin dengan marah karena tidak menyangka geng banteng putih kalah dari Aksa.


Kevin sangat terkejut saat mendengar telepon dari Anto. Geng banteng putih yang ia sewa langsung kalah dan gagal dalam tugas yang diberikan sehari setelahnya yang membuat Kevin tidak bisa menahan amarahnya.


"Kurasa aku hanya bisa menyerahkan sisinya kepada Ayah," batin Kevin sambil menghela napas panjang.


Pada saat ini, pintu ruangan terbuka. Herman masuk bersama dengan beberapa orang. Lalu ada satu wajah yang Kevin benci ikut masuk ke dalam, orang itu tentu saja Aksa yang baru saja sampai.


"Yo!" Aksa menyapa Kevin dengan senyum lebar namun bagi Kevin, itu adalah senyuman mengejek yang membuatnya menjadi semakin marah.


"Sialan!" Kevin berdiri dan hendak memukul Aksa namun dihentikan oleh petugas polisi di belakangnya.


"Kevin, tenanglah," kata Herman dengan serius.

__ADS_1


Kevin ingin mengatakan sesuatu namun kata-kata itu terhenti di tenggorokannya saat melihat ada seorang pria yang sedang membawa kamera besar di pundaknya berdiri di belakang Herman.


"Siaran langsung!?" kata Kevin dengan nada tinggi.


Herman mengangguk bahwa situasi saat ini memang sedang disiarkan langsung oleh mereka. Karena masalah ini cukup serius sehingga masyarakat perlu melihat penyelesaian masalah ini.


Masyarakat perlu mengetahui kalau kepolisian Kabupaten Banyumas menyelesaikan masalah ini secara transparan agar masyarakat tidak memberi komentar buruk lagi kepada mereka.


Aksa yang sedang duduk tersenyum melihat hal itu. Sebenarnya dia juga berpikir untuk menyiarkan langsung masalah ini namun tidak menyangka kalau kepolisian berpikir hal yang sama dan sudah bertindak.


--- {Sial, akhirnya mulai juga! Aku tidak sabar hukuman apa yang akan diberikan kepada Kevin yang telah melakukan banyak hal buruk.}


--- {Hahaha, aku merasa puas saat melihat wajah terkejut Kevin. Dia pasti tidak menyangka kalau akan disiarkan langsung kepada masyarakat.}


--- {Petugas polisi, ayo mulai saja penyelesaian masalah ini!! Kalian tunggu apa lagi!!}


Herman tidak bisa melihat rentetan komentar orang-orang, namun dia juga tahu kalau dia harus segera memulainya. Jadi, setelah berdehem sejenak, dia langsung memulainya.


"Ini hanyalah penyelesaian masalah dengan cara damai. Jika tidak bisa, maka masalah ini akan dilanjut di pengadilan," kata Herman dengan wajah yang sangat serius.


"Lebih baik ke pengadilan," gumam Aksa dengan lirih.


Herman melirik Aksa dan melanjutkan perkataannya, "Kevin, kamu sudah melakukan banyak hal yang merugikan Sajaya Farm dan juga Aksa. Mulai dari perusakan properti Sajaya Farm sampai ke menyewa orang untuk mencelakai Aksa."


"Semua perbuatan itu membuat Sajaya Farm dan Aksa mengalami kerugian yang tidak sedikit. Aku ingin bertanya, apakah kamu ingin menyelesaikan masalah ini dengan damai atau tidak?"


Kevin mengerutkan keningnya dan langsung membalas, "Secara damai, tentu saja! Bukankah aku hanya perlu membayar biaya kerugian yang dialami oleh Sajaya Farm dan Aksa?"


Kevin senang karena Herman menawarinya untuk menyelesaikan masalah dengan damai atau tidak. Namun wajahnya menjadi muram saat mendengar perkataan Herman selanjutnya.


"Baiklah, lalu Aksa. Apakah kamu ingin menyelesaikan masalah ini dengan damai?" tanya Herman kepada Aksa dengan serius.


"Hanya orang bodoh yang akan memilih itu. Aku menolak, lebih baik aku mengeluarkan banyak uang untuk memenjarakan Kevin daripada masalah ini selesai dengan damai," kata Aksa dengan nada yang mendominasi.


"Apa kamu bilang!?" Kevin berdiri dan berteriak dengan suara yang sangat keras.


"Diam!" Herman juga berteriak menyuruh Kevin diam.


Aksa tersenyum di dalam hatinya karena berpikir kalau masalah ini akan selesai. Seperti yang dikatakannya barusan, dia tidak masalah mengeluarkan banyak uang asalkan Kevin dipenjara.

__ADS_1


__ADS_2