
Tidak butuh waktu lama untuk Bayu memberi kabar bahwa para atasan menyetujui Aksa untuk membuat pacuan kuda asalkan memenuhi protokol demi keselamatan orang-orang.
Tapi mereka juga menekankan untuk jangan terlalu mengambil banyak keuntungan dan harus menetapkan harga yang terjangkau untuk masyarakat umum.
Jika Aksa tidak melakukan hal tersebut, maka mereka tidak akan menyetujui pembangunan pacuan kuda. Namun bagaimana bisa Aksa mengabaikan hal tersebut? Jelas Aksa tidak akan menetapkan harga yang tidak terjangkau.
Aksa tersenyum karena semua hal yang diperlukan sudah siap, hanya tinggal membangun kandang kuda dan area pacu yang dibangun setelah ada dana. Setelah itu Aksa kembali melakukan pekerjaannya.
...----------------...
Sarah sedang duduk di kantornya sambil mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai. Dia sedang memeriksa pemasukan dan pengeluaran Sajaya Farm kemarin dan mencatatnya.
Apa yang sedang dia lakukan saat ini adalah pekerjaan seorang akuntan yang memonitor dan mencatat aliran keuangan yang ada dalam sebuah bisnis atau perusahaan.
"Ah, bukti transaksinya belum aku ambil dari Aksa." Jadi Sarah pergi kantor Aksa untuk mengambil bukti transaksi dan kembali lagi ke kantornya.
Sarah membuat sebuah jurnal dari bukti-bukti transaksi itu seperti bon, faktor, struk, dan yang lainnya. Kemudian di buat sebuah AJP atau ayat jurnal penyesuaian supaya mendekati nilai paling nyata di akhir periode.
Setelah itu dia memposting AJP yang sudah dibuat untuk dijadikan buku besar setelah itu dibuatlah neraca saldo supaya tahu apakah pemasukan dan pengeluarannya seimbang atau tidak.
Jika tidak seimbang, maka Sarah harus memeriksa catatan sebelumnya apakah ada yang terlewatkan atau kesalahan karena untuk membuat neraca saldo yang benar haruslah seimbang.
Baru setelah itu Sarah membuat laporan keuangannya. Laporan keuangan terdiri dari lima hal yaitu neraca, laba rugi, perubahan modal, arus kas, catatan atas laporan keuangan.
Setelah terlihat laporan keuangannya, Sarah membuat jurnal penutup dan bukti transaksi lagi supaya bisa terlihat kalau dia membuat laporan keuangan atas dasar bukti transaksi.
"Akhirnya selesai juga, tidak mudah membuat laporan keuangan." Sarah merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku akibat duduk terlalu lama.
Setelah itu dia mengirimkan laporan keuangan tersebut ke email Aksa untuk diperiksa sebelum dicetak dan ditaruh di tempat dokumen-dokumen.
...----------------...
Malam harinya, saat Aksa sedang bermain dengan komputernya di rumah, Dito mengirimkan pesan kalau dia telah selesai mensurvey dan menghitung medan.
Aksa yang melihat itu langsung menelepon Dito. "Halo Pak Dito. Apakah semuanya sudah beres?"
__ADS_1
Dito di sisi lain menjawab, "Halo Pak Aksa. Ya, semuanya sudah beres. Kami tinggal perlu perintah Anda selanjutnya untuk melakukan pembangunan."
"Bagus, aku akan mengirimkan dananya sekarang juga. Bapak dan rekan-rekan bisa langsung membeli bahan dan bekerja esok harinya," kata Aksa.
"Siap!" Dito menjawab sebelum mengakhiri panggilan.
Aksa segera mentransfer sejumlah uang ke rekening perusahaan Dito untuk membeli material pembangunan. Setelah itu dia mengirim pesan kepada Sarah kalau dia menggunakan uang untuk apa saja.
Dan tentu saja Aksa mengirim bukti transaksi kalau dirinya mengambil uang dari kas Sajaya Farm untuk diberikan kepada perusahaan Dito untuk membeli material pembagunan.
Sarah adalah orang yang mengurus keuangan Sajaya Farm, tentu saja Aksa harus memberitahunya meskipun dia adalah pemilik Sajaya Farm itu sendiri.
Jika dia menggunakan uang secara semena-mena tanpa memberitahu Sarah, maka keuangan Sajaya Farm akan hancur dan otomatis Sajaya Farm tidak akan bisa beroperasi secara normal.
Kemungkinan terburuknya adalah Sajaya Farm akan mengalami kebangkrutan karena ulah Aksa yang menyalahgunakan kekuasaannya sebagai pemilik Sajaya Farm.
"Ya." Sarah membalas pesan Aksa dalam hitungan detik.
Setelah melihat balasan dari Sarah, Aksa segera melanjutkan bermain komputer karena dia cukup lelah. Namun bukannya beristirahat dia malah bermain game di komputernya.
...----------------...
Pagi harinya, Aksa bangun pagi dan memberitahu ibunya kalau hari ini dia yang akan menyiapkan sarapan. Ani tersenyum dan mengangguk, dia senang karena Aksa peduli dengan keluarganya.
Aksa menyiapkan sarapan yang cukup banyak hari ini. Mulai dari nasi yang lezat, ayam goreng, telur rebus, sayur kangkung, buah-buahan, dan juga susu coklat untuk kedua adiknya dan teh herbal untuk kedua orang tuanya.
Semua itu dia siapkan hanya dalam waktu satu jam saja. Dengan keahlian memasaknya, Aksa bisa melakukan hal itu dengan sangat mudah seolah-olah dia sudah berlatih memasak selama beberapa dekade.
Bahkan Ani yang biasanya memasak terkejut melihat keahlian Aksa. Dia bahkan berpikir kapan Aksa belajar memasak sampai-sampai keahliannya luar biasa.
"Ibu, sarapan sudah siap, tolong bangunkan Vira dan Vina," kata Aksa yang menaruh hidangan terakhir di atas meja makan.
"Ya." Ani tersenyum dan mengangguk, dia segera naik ke lantai dua untuk membangunkan Elvira dan Elvina.
Saat Elvira dan Elvina bangun dan turun ke lantai satu, mata mereka yang mengantuk menjadi cerah karena melihat ada banyak sekali hidangan di atas meja makan.
__ADS_1
"Kakak, apa semua ini Kakak yang membuat!?" tanya Elvira dan Elvina dengan suara yang bersemangat.
"Ya. Selama ujian berlangsung, aku akan menyiapkan sarapan seperti ini untuk kalian. Tubuh Ibu belum pulih sepenuhnya, jadi belum bisa menyiapkan sarapan sebanyak ini dalam waktu singkat," kata Aksa sambil membersihkan tangannya.
"Wah, terima kasih Kakak!" Elvira dan Elvina sangat senang mendengar perkataan Aksa. Mereka berdua adalah foodie, wajar saja mereka senang melihat ada banyak makanan yang bisa dimakan.
"Sudahlah, ayo makan," kata Aksa.
Satu keluarga segera sarapan bersama dengan harmonis. Elvira dan Elvina sedang bersemangat karena bisa makan banyak makanan, meskipun pada akhirnya tidak bisa makan semuanya karena ini masih pagi.
Jika mereka memakan semuanya, perut mereka akan kekenyangan yang membuat mata mengantuk sehingga nanti tidak bisa mengerjakan ujiannya dengan baik.
Pada saat ini, Aji berkata, "Vira, Vina, apa kalian tidak mau motor baru? Supaya bisa pergi sekolah dengan nyaman."
Elvira dan Elvina saling memandang, mereka berkata, "Ayah, sebenarnya kami ingin juga. Tapi kami tidak mau merepotkan Ayah dan Ibu."
Pada awalnya mereka tidak ingin membeli motor sebelum mendapatkan SIM, tapi melihat teman-teman mereka menggunakan motor dan saat bermain ke rumah teman juga menggunakan motor.
Elvira dan Elvina yang tidak ingin merepotkan teman harus menggunakan ojek online atau diantar oleh Aji menggunakan mobil.
Tapi mobil mereka adalah mobil yang mahal, sehingga mereka takut kalau teman-temannya menganggap kalau mereka sombong, itulah mengapa mereka sedikit bimbang.
"Merepotkan? Jangan berkata seperti itu. Jika kalian mau, Ayah akan membelikan motor untuk kalian berdua masing-masing," kata Aji dengan serius.
"Eh, Ayah. Satu saja, jangan dua." Elvira dan Elvina menggeleng-gelengkan kepalanya karena akan memberatkan membeli dua motor.
"Jika kalian mendapatkan nilai yang bagus, aku akan membelikan motor yang kalian inginkan," kata Aksa disela-sela pembicaraan.
Aji tersenyum dan berkata, "Nah, dengarkan kata Kakakmu."
Elvira dan Elvina memiliki wajah yang berseri-seri mendengar perkataan Aksa. Karena sekarang semua uang didapatkan oleh Aksa, mereka senang saat mendengar perkataannya.
"Tapi, premisnya adalah kalian mendapatkan nilai yang bagus," kata Aksa dengan serius.
"Baik, Bos!" Elvira dan Elvina berteriak sambil melakukan hormat militer kepada Aksa.
__ADS_1