
Keesokan harinya, Aksa bisa menghela napas lega karena masalah sedang diselesaikan oleh Didit dan dokter hewan lainnya.
Selain itu, dia juga bisa melihat usaha orang-orang yang mendukung Sajaya Farm dengan menyebarluaskan nama Sajaya Farm ke seluruh Indonesia.
Hal ini berdampak positif karena akun sosial media Sajaya Farm mendapat banyak komentar dari orang-orang dan mereka juga mendukung dan menyemangati Sajaya Farm.
"Hari yang cerah. Meskipun kondisi Sajaya Farm belum pulih, tapi setidaknya mulai membaik semenjak Pak Didit dan dokter hewan lainnya mulai memberi obat," batin Aksa.
Dia sedang melakukan perencanaan agar Sajaya Farm bisa berjalan dengan normal lagi setelah tutup selama empat hari atau bahkan bisa lebih.
Karena sapi-sapi yang terkena penyakit antraks tidak bisa sembuh hanya dalam waktu satu hari saja. Jadi paling-paling Sajaya Farm akan tutup selama satu minggu atau lebih.
"Bos Aksa!" Pada saat ini pintu kantor Aksa dibuka dan masuklah seorang karyawan pria dengan napas yang terengah-engah dan raut wajah yang cemas.
"Katakan." Aksa tahu kalau ada sesuatu yang terjadi lagi melihat raut wajah karyawan pria itu yang sangat cemas.
"Sapinya... Beberapa sapi mati!" kata karyawan pria itu.
Tubuh Aksa memegang, dia segera pergi ke area sapi dengan cepat. Dan setelah sampai di sana, dia melihat kalau Didit dan dokter hewan lainnya sedang berkumpul di depan kandang.
"Pak Didit, apa yang terjadi!?" Aksa segera bertanya kepada Didit tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Pak Aksa, ada tiga sapi yang mati setengah jam yang lalu." Didit menjawab dengan nada menyesal karena dia merasa kalau penyebab sapi mati adalah karena dirinya yang kurang becus.
Aksa yang melihat raut wajah Didit juga tahu apa yang dipikirkan olehnya. Dia menepuk pundak Didit dan berkata, "Jangan salahkan diri sendiri Pak. Apakah Bapak tahu apa penyebabnya?'
Didit menarik napas dalam-dalam dan kembali ke ekspresi seriusnya. Dia menjawab, "Tiga sapi yang mati, penyebabnya adalah mereka tidak bisa menahan suhu panas tubuh mereka."
__ADS_1
Aksa sedikit menghela napas lega, bukan karena dia tidak merasa sedih atas kematian tiga sapi itu. Tapi karena penyebab kematiannya bukanlah karena penyakit antraks yang bertambah parah.
Jika penyakit antraks bertambah parah di tubuh para sapi, maka Sajaya Farm harus bersiap-siap lagi. Hal inilah yang Aksa tidak inginkan.
"Terima kasih, Pak Didit " Aksa mengangguk. Dia memakai pakaian keamanan dan segera masuk ke dalam kandang sapi.
Tiga sapi yang mati masih ada di dalam kandang, tubuh mereka ditempatkan di tempat yang sama. Aksa berjongkok di depan tubuh sapi dan menyentuh tubuh mereka yang sudah dingin.
"Kalian sudah menahannya sekuat tenaga, beristirahatlah dengan tenang di sana." Aksa merasa emosional karena ini adalah pertama kalinya ada hewan ternak yang mati karena penyakit.
Sapi-sapi di sekitar bisa dengan jelas mendengar perkataan Aksa. Meskipun mereka tidak paham, tapi tahu kalau pemilik mereka sedang mengatakan kata-kata yang baik.
"Moo!" Para sapi bersuara, Aksa mendengarnya sebagai kata 'bertahan!'. Dia tersenyum dan menyemangati para sapi yang sedang bertahan dari penyakit antraks.
Aksa berbicara dengan para sapi sebentar, meskipun sedikit aneh, tapi itu sangat ampuh untuk menjaga mental para sapi tetap sehat dan tetap bisa melihat cahaya harapan.
Setelah itu Aksa keluar dari kandang sapi dan menelepon Lisa. "Halo, Lisa. Buat video tentang situasi Sajaya Farm saat ini, ditambah dengan musik agar suasananya lebih terasa."
Karena akan menggunakan musik agar suasana Sajaya Farm lebih terasa, tidak mungkin akan membuat video berdurasi sangat panjang.
"Buat dua atau tiga video, unggah dengan waktu yang berbeda. Untuk durasinya, mungkin sekitar tiga sampai lima menit saja, menyesuaikan musik." Aksa berkata setelah berpikir sejenak.
"Baik, Bos!" Lisa menerima tugas dari Aksa dan segera menghubungi timnya untuk membuat video musik.
Tidak butuh waktu lama sebelum Lisa dan timnya menyelesaikan video pertama. Mereka merekam dan mengeditnya hanya dalam waktu satu jam saja, meskipun singkat tapi hasilnya sangat memuaskan.
Lisa segera mengunggah video tersebut ke akun sosial media Sajaya Farm. Kemudian orang-orang yang mengikuti Sajaya Farm segera melihat video tentang situasi keseluruhan.
__ADS_1
Video pertama Lisa buat dengan mengambil konsep keputusasaan. Jadi, area Sajaya Farm yang kosong ditambah musik yang sedih membuat videonya terlihat mencekam.
"Apakah itu adalah situasi Sajaya Farm yang sekarang!? Aku tidak menyangka tempatnya akan berubah drastis saat aku mengunjungi Sajaya Farm."
"Bukan tempatnya yang berubah, melainkan suasananya. Sajaya Farm sekali identik dengan keceriaan dan kebahagiaan, tapi Sajaya Farm sangat menyedihkan dan mencekam."
"Semoga cepat pulih, Sajaya Farm! Kami akan selalu menunggu gerbang Sajaya Farm dibuka kembali!"
Banyak orang yang merasa sedih dengan situasi Sajaya Farm yang sekarang. Meskipun sebenarnya tidak semenyedihkan itu karena musiknya yang membuat Sajaya Farm terlihat mencekam.
Tapi dengan video musik berdurasi pendek ini, orang-orang bisa tahu tentang situasi keseluruhan yang sedang terjadi di Sajaya Farm.
Sementara itu, Aksa dan dokter hewan lainnya sedang melakukan vaksinasi kepada kambing. Karena hanya area kambing saja yang belum menerima vaksin.
Alasannya adalah karena kambing-kambing itu sangat takut dengan kemunculan orang-orang yang mengenakan pakaian aneh yang menutupi seluruh tubuh mereka.
Itulah sebabnya Aksa akan ikut dalam pemberian vaksin di area kambing. Tugas Aksa adalah untuk menenangkan para kambing agar mereka tidak menolak atau memberontak.
"Tenanglah, kamu sedang diberi obat kekebalan. Dengan ini, kamu tidak akan tersesat penyakit." Aksa berkata dengan. suara lembut sambil mengelus-elus bulu kambing dengan pelan.
"Mbee..." Kambing itu menundukkan kepalanya dan membiarkan dokter hewan menyuntikkan vaksin ke dalam tubuhnya.
"Bagus. Siapapun yang mau divaksin akan mendapatkan wortel yang banyak!" Aksa menggunakan makanan kesukaan para kambing yaitu wortel untuk menyemangati mereka.
"Mbee!!" Para kambing bersuara dengan sangat keras, dapat dilihat kalau mereka menjadi bersemangat karena mereka akan diberikan wortel yang banyak jika mau divaksin.
Jadi sesuatu yang membuat rahang para dokter hewan terjatuh terjadi. Para kambing berbaris dengan rapi bahkan lebih rapi dari antrean manusia yang biasanya ada yang menyerobot.
__ADS_1
"Bagus, bagus..." Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya karena gembira dengan tindakan para kambing yang kooperatif.
Karena hal ini, para dokter hewan bisa dengan mudah menyuntikkan vaksin kepada para kambing karena tidak ada satupun kambing yang mencoba untuk memberontak.