
"Kalian semua sudah siap!? Karena pembentukan kelompok sudah dilakukan, maka setelah pistol ditembakkan, event perburuan kategori kelompok akan segera dimulai!" Lisa berteriak dengan penuh semangat saat ini.
Sebelumnya, semua peserta diharuskan untuk membentuk kelompok yang terdiri dari tiga sampai lima orang. Setelah setengah jam, semua peserta sudah membentuk kelompoknya masing-masing.
Mungkin terdengar aneh apabila sekarang adalah perburuan kelompok tapi sebelumnya ada juga yang berkelompok meskipun itu adalah perburuan kategori individu.
Aksa sudah menjelaskannya kalau ada tim pengamat yang menganalisis dari rekaman drone. Peserta akan mendapat poin kalau mereka memburu target seorang diri.
Jadi meskipun ada beberapa peserta yang berkelompok, selama peserta tersebut melakukan perburuan dengan usaha sendiri, maka poin yang didapatkan akan valid.
Tapi jika peserta berburu dengan bantuan dari peserta lain, maka poin yang didapatkan tidak akan valid. Jadi tidak apa-apa jika berkelompok asalkan melakukan perburuannya dengan usaha sendiri.
Kembali ke waktu sekarang, Lisa menganggukkan kepalanya kepada seorang karyawan yang memegang pistol udara. Lalu dia berteriak, "Semuanya, persiapkan diri kalian! Event perburuan kategori kelompok akan segera dimulai! Tiga... Dua... Satu...!"
Karyawan yang memegang pistol udara segera menarik pelatuk dengan jari telunjuknya. Kemudian semua peserta segera menyuruh kuda mereka untuk berlari.
"Paman, kita harus ke mana!?" Elvina berteriak kepada seorang pria yang sudah cukup terkenal di hari kemarin.
"Hm, ikuti aku. Untuk sekarang, kita harus menjauh dari kelompok lain," jawab Dika setelah berpikir sejenak.
Benar, itu Dika. Elvira dan Elvina membentuk kelompok dengan Dika, orang yang jadi terkenal karena kejadian sebelumnya. Alasannya adalah karena Dika tidak mengenal siapapun di sini, kebetulan sekali Elvira dan Elvina mengenal Dika.
Jadi ini bukan karena Aksa yang campur tangan tapi memang murni kebetulan. Bahkan Aksa tidak tahu kalau kedua adiknya bekerja sama dengan Dika karena dia tidak memperhatikan pembentukan kelompok.
"Baiklah!" Elvina menganggukkan kepalanya. Dia dan Elvira mengendalikan kuda mereka dengan hati-hati.
Mereka berdua memang masih pemula, tapi Aksa membantu mereka dengan pakaian kuda khusus yang dia beli dari toko game agar Elvira dan Elvina bisa menunggang kuda dengan baik.
Meskipun memang ini sedikit curang, tapi bagaimana bisa Aksa membiarkan kedua adiknya yang masih pemula ikut dalam event perburan.
__ADS_1
"Tapi Paman, aku melihat siaran langsung kemarin. Apakah tidak sakit kena banyak peluru?" Elvira bertanya dengan penasaran karena Dika terlihat biasa saja dengan ratusan peluru paintball.
"Jelas itu sakit, aku juga masih manusia biasa. Tapi aku masih bisa menahannya karena aku sering berolahraga untuk membentuk tubuh," jawab Dika setelah tertawa sebentar.
"Ohh! Jadi Paman suka berolahraga ya!" Elvira dan Elvina kagum dengan Dika karena bisa menahan ratusan peluru paintball yang mengenai tubuhnya.
"Hahaha, bukan suka, tapi harus. Kita harus berolahraga agar tubuh menjadi sehat!" Dika tertawa menanggapi perkataan Elvira dan Elvina.
"Wah, Kakak juga mengatakan hal yang sama dulu," kata Elvira yang mengingat perkataan Aksa dulu.
"Oh? Siapa kakakmu?" Dika penasaran karena berpikir kalau kakak mereka berdua adalah orang yang menyukai olahraga juga seperti dirinya.
"Kak Aksa! Paman mengenalnya kan?" kata Elvira dengan santai karena Aksa memang sudah terkenal.
"Aksa!?" Dika sangat terkejut dengan kakak Elvira dan Elvina, karena dia tidak tahu kalau mereka itu keluarga.
Dika jarang memperhatikan berita selain yang di televisi sehingga dia tidak tahu apa-apa tentang Sajaya Farm, apalagi Aksa dan keluarganya.
"Angkat senjata kalian, kemungkinan besar di sana adalah kelinci, jadi harus jeli untuk melihatnya," kata Dika sambil mengangkat senjata paintball nya begitu juga dengan Elvira dan Elvina.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian ada makhluk kecil yang melompat-lompat keluar dari rerumputan di depan. Tapi ternyata bukan hanya satu, melainkan tiga.
Dika ingin memberi aba-aba agar Elvira dan Elvina segera menembak, tapi mereka berdua sudah menarik pelatuk senjata paintball mereka tanpa aba-aba yang membuat Dika tersenyum puas.
Dia juga segera menembakkan peluru paintball ke arah tiga kelinci yang sedang panik. Meskipun pada awalnya mereka tidak berhasil mengenai kelinci-kelinci tersebut, tapi pada akhirnya mereka berhasil.
Itu karena peluru yang mereka tembakkan sangatlah banyak sehingga kelinci-kelinci tidak punya ruang untuk menghindar. Bahkan jika mereka kabur, masih ada beberapa peluru paintball yang mengikuti.
Dan meskipun peluru paintball yang dimiliki oleh peserta habis, mereka bisa mengisi ulang di beberapa titik yang sudah disediakan. Tapi tempat itu tidak diberitahu oleh Aksa.
__ADS_1
Alasannya adalah agar para peserta tidak boros peluru dan harus mencari tempat pengisian ulang peluru dengan sendirinya.
"Bagus! Kita berhasil mendapat 15 poin!" kata Dika dengan puas.
"Hore!!" Elvira dan Elvina juga berteriak dengan gembira karena mereka berhasil mendapat banyak poin di awal.
"15 poin sudah didapatkan, ayo lanjut," kata Dika sambil tersenyum.
"Baik!" jawab Elvira dan Elvina sambil melakukan hormat militer.
...----------------...
Sementara itu, di sisi Aksa. Dia sedang sendirian sekarang karena Sarah sedang bersama tim pengawas untuk memeriksa area lain.
Pada saat dia sedang melakukan patroli dengan santai, alat komunikasi di telinganya berbunyi dan terdengar suara dari karyawannya. "Bos, ada masalah dari area luar."
Aksa menyipitkan matanya, area luar yang dikatakan oleh karyawannya adalah area yang belum diperiksa oleh Aksa karena seluruh area Sajaya Farm sangatlah luas.
Jadi Aksa bertanya, "Katakan apa masalahnya, aku langsung sedang menuju ke sana sekarang juga."
"Ada beberapa kambing yang masih belum diidentifikasi muncul dari area luar. Mereka tidak melukai diapain, tapi keberadaan mereka cukup mengganggu para peserta yang sedang berburu," jelas karyawannya.
"Beberapa kambing? Seharusnya bukan masalah besar, mengapa kamu tidak segera menyelesaikannya?" tanya Aksa sambil mengerutkan keningnya.
Karena dia berpikir kalau itu hanyalah beberapa kambing saja, jadi si karyawan bisa melaporkan masalah ini sedang diselesaikan tanpa harus membuat Aksa khawatir..
"Kami juga ingin, Bos. Tapi masalahnya semua kambingnya tidak merespon. Jadi yang bisa kamu lakukan adalah dengan cara paksa, dan itu butuh instruksi lanjutan dari Bos," kata karyawannya.
"Hm, kambing yang aneh. Baiklah, jaga area sekitar sana, aku segera sampai." Aksa menjadi serius, dia segera menyuruh Ace untuk mempercepat larinya.
__ADS_1
Tapi dia juga berpikir dengan cepat tentang kambing-kambing itu. Karena tidak ada peternak kambing atau orang yang memelihara kambing di sekitar Sajaya Farm.
Area di sekitar Sajaya Farm adalah hotel, restoran, kafe, dan lainnya, tidak ada pemukiman warga di dekat ini. Hal inilah yang membuat Aksa bingung sekaligus penasaran.