Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Panggilan dari Sarah yang sedang Sakit Demam


__ADS_3

Pagi harinya, di hotel tempat para mahasiswa Universitas Indonesia menginap. Saat ini mereka sedang bersantai, ada juga yang keluar untuk lari pagi karena hari ini adalah hari bebas sebelum kembali ke Jakarta besok.


Nita, yang sepanjang hari memikirkan Aksa yang telah membantunya ingat kalau Rina mengenal Aksa. Jadi ia pergi bertanya kepada teman-temannya apakah mereka melihat Rina.


Salah satu temannya mengatakan kalau Rina ada di longue hotel. Setelah mendengar hal tersebut, Nita segera pergi ke longue hotel dan melihat kalau Rina sedang duduk di kursi pijat menikmati pijatan.


"Itu, permisi, Rina," sapa Nita dengan sopan karena mereka berdua tidak saling mengenal satu sama lain karena berbeda jurusan.


Rina yang sedang menikmati pijatan membuka matanya saat mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, ia melihat seorang gadis yang tidak ia kenal berdiri di sampingnya.


"Ya, siapa kamu?" tanya Rina dengan sopan.


"Aku Nita dari jurusan tata busana, kamu mengenal pemilik Sajaya Farm bukan? Bolehkah aku meminta nomor ponselnya?" tanya Nita dengan sopan.


Rina sedikit terkejut karena ada seorang gadis yang meminta nomor ponsel kakak iparnya. Tapi ia berpikir meskipun Aksa dan Sarah dekat, mereka berdua tidak berpacaran, jadi Rina memberikan nomor ponsel Aksa.


Nita mencatat nomor ponsel Aksa di ponselnya, ia berterima kasih kepada Rina kemudian duduk di kursi yang disediakan di longue. Kemudian ia segera mengirimkan pesan ke nomor ponsel Aksa.


...----------------...


Aksa selesai mengangkut produk-produk peternakan ke dalam motor roda tiganya. Saat ia naik dan akan menyalakan mesin, ponselnya berdering. Ia melihat kalau ada nomor asing yang mengirimkan pesan.


"Halo, aku Nita dari jurusan tata busana yang kamu bantu kemarin, apakah kamu ingat aku?"


Aksa membaca pesannya dan berpikir kalau dirinya memang membantu seorang gadis cantik yang kelelahan karena terlalu banyak orang yang mengambil foto dirinya kemarin.


Meskipun Aksa tidak tahu mengapa dia mengirim pesan, ia tetap membalasnya. "Halo, aku Aksa. Ya, aku masih ingat kamu. Ngomong-ngomong, ada apa ya?"


Aksa berniat untuk menyimpan ponselnya tapi ia tidak menyangka kalau Nita membalas pesannya dalam hitungan detik bahkan ia belum sempat mematikan ponselnya.


"Syukurlah kalau kamu ingat aku. Tidak apa-apa, hanya saja apakah kamu memiliki waktu luang hari ini? Aku ingin mentraktirmu makan sebagai ucapan terima kasih karena telah membantuku."


Aksa tidak perlu berpikir panjang, ia segera mengetik pesan, "Kurasa aku harus minta maaf karena aku harus bekerja dan tidak memiliki waktu luang untuk melakukan sesuatu nanti."


Setelah mengetuk tombol kirim, Aksa segera menyimpan ponselnya dan menyalakan mesin motor roda tiga. Ia segera melaju ke Sajaya Farm karena terlambat beberapa menit.


...----------------...


Di sisi lain, Nita yang melihat Aksa menolak ajakannya memiliki ekspresi cemas karena dia hanya punya waktu luang hari ini dan besok semua mahasiswa akan kembali ke Jakarta.


"Bahkan di hari minggu kamu harus pergi bekerja? Lalu bagaimana jika aku mengajakmu makan malam? Seharusnya kamu sudah pulang kerja bukan?"


Setelah mengirim pesan itu, Nita menunggu selama beberapa menit namun Aksa tidak kunjung membalas. Ia menghela napas kecewa karena mungkin tidak bisa bersama Aksa hari ini.

__ADS_1


Namun satu detik kemudian ia kembali mendapatkan semangatnya dan berpikir kalau bisa memupuk rasa diantara mereka berdua dengan saling berkomunikasi satu sama lain.


"Ayo semangat, jangan menyerah!" pikir Nita yang menyemangati diri sendiri.


Meskipun bukan pertama kalinya bagi Nita untuk menyukai seorang pria, tapi kali ini ia serius untuk mengejar Aksa. Karena dulu ia hanya sebatas menyukai pria namun tidak berpikir untuk menjalin hubungan.


...----------------...


Sementara itu di sisi Aksa, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Nita namun bahkan jika tahu, ia juga tidak terlalu peduli karena prioritas saat ini adalah mempopulerkan Sajaya Farm.


Aksa sudah mendapatkan banyak uang dan sudah bisa membahagiakan keluarganya. Tapi sebagai orang yang memiliki Sistem, bagaimana mungkin ia akan berhenti sampai di sini.


Sistem memberikan Aksa kemungkinan tak terbatas sehingga Aksa harus mengejar target yang lebih tinggi dan memanfaatkan Sistem dengan semaksimal mungkin.


Sajaya Farm buka seperti biasa dan meskipun pengunjungnya tidak sebanyak kemarin, tapi hari ini masih tergolong ramai yang berarti efek kerja sama dengan Universitas Indonesia bekerja.


Seperti biasa Aksa melakukan patroli rutin, namun ia sedang khawatir karena Sarah belum datang padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 pagi. Ia mengirimkan pesan namun belum dibaca oleh Sarah.


"Oh! Penanggung jawab Aksa!" Pengunjung yang mengenal Aksa segera menyapanya.


"Halo!" Aksa menganggukkan kepalanya dan menyapa baik sambil tersenyum ramah kepada pengunjung tersebut.


Sudah banyak pengunjung yang mengenal Aksa sebagai penanggung jawab karena Aksa sering muncul di video di akun media sosial Sajaya Farm. Popularitasnya adalah yang kedua setelah Sarah.


Bahkan ada beberapa gadis yang mengirim pesan ke akun Sajaya Farm untuk menanyakan informasi Aksa dan tentu saja Aksa menolak dengan halus agar tidak menyakiti mereka.


Istirahat makan siang sudah selesai namun Sarah belum kunjung membaca pesan yang Aksa kirim. Aksa bahkan mencoba menghubunginya namun itu juga tidak diangkat oleh Sarah.


Kemudian setelah beberapa saat, ponsel Aksa berdering dan Sarah yang meneleponnya. Aksa segera mengetuk tombol jawab dan bertanya dengan cepat mengenai keadaan Sarah.


"Sarah, apakah kamu baik-baik saja? Mengapa kamu tidak berangkat? Mengapa kamu tidak membalas pesan?" Aksa mengajukan tiga pertanyaan berturut-turut kepada Sarah.


"Aksa, maafkan aku, tapi aku sedang tidak enak badan dan baru bisa menghubungimu sekarang," kata Sarah dengan suara lirih yang mencerminkan kondisinya.


"Kamu sakit? Apakah kamu perlu bantuan?" tanya Aksa dengan khawatir setelah mengetahui kalau Sarah sedang sakit.


Sisi lain terdiam sebentar sebelum berkata, "...Bisa kamu datang ke rumahku? Jangan salah paham, tapi tidak ada orang di sini."


"Baiklah, aku akan segera ke sana." Setelah menutup telepon, Aksa mencari Galih untuk meminjam motornya karena tidak mungkin pergi dengan motor roda tiga.


Tidak butuh waktu lama untuk pergi ke rumah Sarah, ia melewati rumahnya sendiri dan langsung pergi ke rumah Sarah. Setelah memarkirkan motor, ia segera menekan bel pintu.


Setelah menunggu beberapa menit, pintu terbuka dan terlihatlah Sarah yang sedang memakai piyama dan masker. Namun ia bisa melihat wajah Sarah yang merah karena sakit.

__ADS_1


"Sarah! Apakah kamu baik-baik saja!?" Aksa segera menanyakan kondisi Sarah yang sepertinya sangat lemas.


"...Masuk." Sarah membuka pintu dengan susah payah dan mempersilakan Aksa untuk masuk.


Setelah itu Sarah meminta Aksa untuk mengikuti dirinya ke kamar dan setelah sampai di kamar, Sarah langsung terkapar di atas ranjangnya.


"Bagaimana bisa kamu sakit?" tanya Aksa dengan khawatir.


"Aku tidak memakai selimut dan tidak sadar kalau AC masih menyala," jawab Sarah dengan lemah.


"Aku pinjam dapurnya ya untuk membuat sesuatu," kata Aksa yang pergi setelah mendapat anggukan kepala dari Sarah.


Bahan-bahan di dapur rumah Sarah sangat lengkap, Aksa menggunakan telur ayam kualitas C untuk membuat sup telur karena itu cukup mudah dan telur ayam kualitas C bisa menghilangkan rasa lelah.


Tidak butuh waktu lama untuk memasak sup telur, Aksa kembali ke kamar Sarah di lantai dua sambil membawa nampan berisi mangkuk sup telurnya.


"Sarah, makan dulu." Aksa membangunkan Sarah yang ternyata tertidur.


Sarah membuka matanya dan sedikit bersandar di ujung ranjang, ia tidak mengatakan apapun dan hanya membuka mulutnya untuk menerima suapan Aksa.


Aksa tersenyum dan mengambil sup telur dengan sendok, karena masih panas, ia meniupnya sebentar agar menjadi hangat sebelum menyuapi Sarah.


"Bagaimana? Apakah tubuhmu menghangat?" tanya Aksa dengan lembut setelah menyuapi beberapa sendok sup telur.


Sarah mengangguk pelan dan berkata, "Terima kasih, Aksa. Aku lapar namun tidak ada orang di sini, aku juga tidak bisa menunggu terlalu lama untuk memesan makanan secara online."


"Saat aku bangun, kepalaku sangat pusing dan tubuhku sangat lemas. Saat itulah aku mendengar nada dering ponsel dan melihat kalau kamu yang meneleponku."


"Aku tidak menjawab karena aku perlu mengumpulkan tenaga untuk bergerak. Dan aku sangat bersyukur karena kamu bisa datang ke sini."


Sarah mengatakan banyak hal dengan lemas dan matanya juga mengeluarkan air mata. Aksa belum pernah melihat penampilan Sarah yang lemah seperti ini.


Lalu Aksa melihat Sarah diam dan hanya membuka mulutnya, tentu saja Aksa paham, ia mengambil sup telur dengan sendok dan menyuapi Sarah setelah meniupnya agar hangat.


"Ambilkan aku pakaian ganti," kata Sarah yang memejamkan matanya.


Aksa melihat kalau Sarah memiliki banyak sekali keringat di tubuhnya, ia berdiri dan sebelum membuka lemari pakaian Sarah, ia mengucapkan kata 'permisi' terlebih dahulu.


Aksa mengambil pakaian lengan panjang secara acak, kemudian ia menutup pintu lemari dan berjalan mendekati Sarah.


"Sarah, ini pakaiannya, aku akan pergi ke kamar mandi untuk membawa handuk dan air hangat terlebih dahulu," kata Aksa yang pergi ke kamar mandi di dalam kamar Sarah.


Kebetulan ada ember kecil di sudut kamar mandi, ia mengisinya dengan air hangat dan mengambil handuk di rak handuk, lalu ia kembali ke sisi Sarah.

__ADS_1


Sarah membuka matanya dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan, "Aksa, bantu aku melepas pakaianku."


__ADS_2