
"Nah, anak-anak, produk-produk peternakan di Sajaya Farm sangat enak! Paman sudah meminta chef untuk membuatkannya. Kalian ingin susu sapi atau susu kambing?" tanya Aksa kepada anak-anak.
Mereka sedang berada di lantai dua, tempat ini sudah disewa oleh Sekolah Dasar Sunshine agar anak-anak bisa mendapatkan kenyamanan yang lebih baik saat mereka makan.
Meskipun sedikit berlebihan karena menyewa satu lantai hanya untuk 40 orang. Tapi siapa yang menjual Sekolah Dasar Sunshine kaya raya? Meskipun sedikit terdiam, Aksa tetap senang dengan hal ini.
Setelah Aksa menawarkan susu kepada anak-anak, mereka segera menjawab susu apa yang mereka inginkan. Tidak semua anak menyukai kedua susu tersebut, mereka lebih menyukai salah satunya.
Aksa tersenyum dan mengangguk, ia segera memanggil karyawan untuk membawakannya susu sapi dan susu kambing yang sudah dipersiapkan sedari awal.
Setelah beberapa saat, beberapa karyawan naik ke lantai dua sambil membawa nampan. Susu-susu itu bukan dalam wadah botol seperti biasa, tapi berupa gelas karton bergambar hewan ternak.
Semua itu dipersiapkan agar anak-anak bisa minum dengan aman. Karena botol kacanya yang lumayan besar dan berat, anak-anak akan kesulitan untuk memeganginya saat ingin minum.
"Silakan diminum terlebih dahulu sambil menunggu makanannya sampai. Jika kesulitan, kalian bisa meminta bantuan guru kalian, ya," kata Aksa sambil tersenyum.
Anak-anak mengangguk dan mengambil gelas karton yang diisi susu. Mereka meminumnya dengan lahap karena rasanya yang sangat enak, lebih enak daripada susu yang pernah mereka minum.
"Paman! Susu sapinya sangat enak! Bahkan susu yang dibeli oleh ibuku kalah enak, apakah Paman mempunyai rahasia khusus!?"
"Susu kambingnya juga enak! Aku akan memberitahu ayahku saat pulang untuk selalu membeli susu kambing di sini."
"Wah, Paman, apakah ini susu asli? Ibuku berkata kalau susu asli lebih enak dibandingkan dengan susu bubuk atau susu kental yang ada dalam kemasan."
Anak-anak langsung mengajukan banyak pertanyaan kepada Aksa. Anak kecil memang memiliki rasa penasaran yang tinggi, Aksa juga tidak terburu-buru dan menjawab semua pertanyaan satu per satu.
"Lalu yang terakhir, benar. Semua produk peternakan di Sajaya Farm ini asli tanpa tambahan apapun lagi. Jadi selain rasanya yang enak, kalian bisa tahu kalau susu yang kalian minum sangat segar!" kata Aksa dengan nada bangga.
Pada saat ini, beberapa karyawan naik ke lantai dua sambil membawa nampan yang berbeda. Di atas nampan terdapat piring dan mangkuk yang pastinya adalah makanan sudah siap.
Aksa berdiri dan membantu karyawannya untuk menaruh makanan-makanan tersebut ke atas semua meja. Kemudian setelah selesai, para karyawan membungkukkan badan sebelum pergi.
"Anak-anak, apakah kalian bisa makan dengan mandiri?" tanya Aksa dengan nada riang agar anak-anak juga terpengaruh menjadi riang juga.
__ADS_1
"Bisa!" Anak-anak mengangguk dengan semangat dan menjawab Aksa dengan kompak.
Aksa dan para guru mengangguk, namun para guru juga tidak berani ceroboh. Mereka juga membantu anak-anak untuk makan atau mengambilkan makanan ke piring anak-anak.
Anak kecil tentu saja memiliki tangan yang pendek, jadi mereka tidak akan bisa menjangkau makanan yang jauh dari mereka dan harus dibantu oleh orang dewasa yang merupakan wali atau penanggung jawab.
Bahan makanan yang dihidangkan berupa produk-produk peternakan asli. Ada telur ayam, daging ayam, daging sapi, dan daging ikan. Kemudian hanya ditambah bumbu-bumbu pelengkap.
Itu agar makanannya masih terasa segar dan ada rasa keasliannya, bukan rasa campur-campur. Bahkan anak-anak dan para guru yang merasakannya menjadi ketagihan.
"Nak Aksa, di komentar medis sosial ada banyak pengunjung yang memuji produk-produk peternakan Sajaya Farm. Tapi saya tidak menyangka kalau akan seenak ini," kata Sari dengan suara terkejut.
"Terima kasih atas pujiannya. Kami memang sangat memperhatikan produk-produk peternakan agar pengunjung bisa menikmatinya," angguk Aksa sambil tersenyum.
Makanan yang enak bukan karena ada banyak bumbu yang dicampur di dalamnya, melainkan karena bumbu yang digunakan sedikit namun bisa mencapai rasa yang luar biasa.
Makanan di kebanyakan restoran memiliki terlalu banyak bumbu di dalamnya sehingga rasa asli dari bahan utama tersebut hilang digantikan dengan rasa bumbu-bumbu yang digunakan.
Anak-anak memakan makanan yang ada di atas meja dengan lahap, mereka sangat menikmatinya bahkan tanpa diminta oleh para guru untuk menghabiskan makanan tersebut.
Hal ini membuat para guru tercengang lagi, karena anak kecil adalah pemilih makanan yang keras kepala apalagi anak kecil yang berasal dari keluarga yang kaya lebih keras kepala.
Namun mereka mengangguk paham karena rasa makanannya memang sangat enak, bahkan mereka juga tidak bisa berhenti memasukkan makanan ke dalam mulut mereka.
"Anak-anak, sudah waktunya untuk tidur siang, Paman sudah menyediakan kamar yang nyaman untuk kalian semua. Ayo ikuti Paman!" Aksa berdiri dan berkata.
Memang ada jadwal tidur siang untuk anak-anak, Aksa sudah menyiapkan dua vila yang paling bagus untuk tempat tidur siang karena satu vila terlalu sempit untuk anak-anak.
"Baik!" Anak-anak turun dari kursi dan mengikuti Aksa dengan para guru di belakang mereka.
Mereka keluar dari restoran dan berjalan melewati area sungai. Anak-anak tertarik dengan sungai karena mereka suka bermain air, namun Aksa menghentikan mereka karena harus tidur siang terlebih dahulu.
Di jadwal, pergi ke area sungai akan dilakukan besok harinya saat pagi hari setelah sarapan. Jadi Aksa tidak membiarkan anak-anak pergi ke sungai untuk bermain saat ini.
__ADS_1
Saat memasuki vila, para guru segera mengatur anak-anak untuk berbaring di atas ranjang yang sudah disediakan oleh Aksa. Kemudian pada guru menemani anak-anak agar bisa tidur dengan nyaman.
...----------------...
Di luar vila.
"Nak Aksa, terima kasih banyak untuk hari ini. Saya tidak menyangka kalau anak-anak akan sangat patuh, padahal biasanya kami pada guru kesulitan untuk mengatur mereka," kata Sari sambil menghela napas panjang.
Aksa tertawa kecil dan berkata, "Mungkin karena ini pertama kalinya kami bertemu, jadi anak-anak tidak menunjukkan sifat asli mereka."
Sari tersenyum dan membalas, "Jangan rendah hati, anak-anak patuh karena karismamu yang membuat mereka tenang. Apalagi kamu memperlakukan anak-anak dengan sangat lembut."
Aksa tersenyum dan tidak berkata apa-apa, karena yang Sari katakan memang benar. Dia menyukai anak kecil karena saat melihat mereka, ingatan saat dia masih kecil muncul.
Anak kecil adalah makhluk polos yang harus dilindungi, dengan melihat senyum mereka, kelelahan fisik atau mental akan tersapu dan wajah kita juga akan menunjukkan senyum tanpa disadari.
Setelah berbincang-bincang dengan Sari sebentar, Aksa pergi untuk mengurus beberapa hal. Dia akan kembali lagi saat pukul setengah tiga sore nanti karena saat itu anak-anak sudah bangun.
...----------------...
Pada saat yang bersamaan, para pengunjung Sajaya Farm sedang membahas mengenai anak-anak dari Sekolah Dasar Sunshine yang mengunjungi Sajaya Farm hari ini.
"Ternyata Sajaya Farm menerima tur sekolah? Sepertinya aku harus berbicara dengan guruku terkait ini, aku sudah jenuh dengan kondisi pikiranku karena terlalu banyak belajar."
"Oh, mungkin Sajaya Farm bisa membuat layanan pemandu pribadi sehingga orang atau kelompok bisa menyewa pemandu untuk memandu mereka berkeliling Sajaya Farm."
"Jika ada pemandu, aku mungkin akan ke sana karena aku malas melihat peta, dan yang terpenting adalah aku mempunyai uang, hahaha!"
Aksa mengurus beberapa hal di kantornya, di komputernya juga menampilkan situasi internet saat ini. Dia tersenyum saat melihat ada saran yang diberikan oleh salah satu komentar.
"Membuat layanan pemandu ya. Saat ini ada pemandu tapi itu adalah pemandu umum, bukan pribadi. Mungkin orang kaya atau kelompok akan menyewa pemandu pribadi saat berkunjung," pikir Aksa.
Aksa segera mengirimkan pesan kepada orang yang memberi saran karena itu adalah saran yang sangat bagus. Seperti biasa Aksa akan mengirimkan paket produk peternakan kepada orang yang memberi saran.
__ADS_1