
Siang harinya, Aksa, Sarah, dan Gia makan siang bersama di restoran. Setelah itu, Roni datang untuk menjemput Gia karena dia sedang istirahat dari pekerjaannya.
Sarah kembali ke kantor, sementara itu Aksa tetap di dalam ruangan. Dia menyalakan ponselnya dan menelepon Delia, ibu Sarah, untuk menanyakan beberapa hal.
Panggilan terhubung dengan cepat, suara Delia terdengar dari balik telepon. "Aksa? Ada apa?" Delia bertanya dengan nada penasaran karena Aksa tidak pernah meneleponnya atau Andre.
"Bibi, aku ingin bertanya. Sarah sebentar lagi ulang tahun kan? Apakah dia suka sesuatu seperti pesta atau perayaan semacamnya?" Aksa langsung bertanya apa yang dia ingin tanyakan.
"Oh? Kamu tahu ulang tahun Sarah? Aku cukup terkejut." Delia terkejut karena Aksa tahu ulang tahu Sarah, padahal seperti yang dia tahu mengenai putrinya kalau Sarah tidak pernah memberitahu tanggal ulang tahunnya.
"Haha, begitulah." Aksa hanya tertawa kecil. Dia tahu tanggal ulang tahun Sarah dari resume pekerjaan yang dikirimkan saat mendaftar kerja.
"Hm, kembali ke pertanyaan. Sarah tidak terlalu suka dengan pesta, tapi jika hanya perayaan sederhana, dia menyukainya. Yang penting, yang datang adalah orang-orang terdekatnya," jawab Delia atas pertanyaan Aksa.
"Perayaan sederhana ya." Aksa menyentuh dagunya dan berpikir sejenak saat mendengar jawaban Delia.
"Apakah kamu ingin merayakan ulang tahun Sarah?" tanya Delia dengan suara tertarik.
"Ya, aku ingin merayakannya," angguk Sarah.
Delia berpikir sejenak sebelum berkata, "Kalau begitu kita bahas ini nanti, aku masih bekerja."
"Baiklah, nanti tolong telepon aku saja, Bibi." Aksa mengangguk dan segera mengakhiri panggilan karena Delia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Aksa belum pernah merayakan ulang tahun seseorang, bahkan dia sendiri tidak pernah dirayakan. Paling-paling hanyalah ucapan sederhana dan Ani membuat banyak hidangan.
Oleh karena itu dia sedikit bingung dengan apa yang harus dipersiapkan. Dia hanya bisa mengingat saat dirinya pergi ke ulang tahun temannya saat masih SMA.
Tidak bisa memikirkan apa yang harus dipersiapkan, Aksa memutuskan untuk bertanya pada orang tuanya nanti. Sekarang dia berdiri dan keluar dari Sajaya Farm sambil meminjam motor milik Galih.
__ADS_1
Aksa akan mencari toko tanaman yang menjual tanaman-tanaman yang unik atas permintaan dari Aji. Sambil mencari, Aksa juga menikmati hembusan angin yang sejuk.
Setelah setengah jam mencari, Aksa menemukan ada toko tanaman yang sangat indah. Di depannya dihiasi dengan bahan tanaman hijau dan juga bunga-bunga dengan berbagai warna.
Aksa memarkirkan motor di area parkir, kemudian dia masuk ke dalam toko tanaman. Bagian dalam toko juga lebih indah dari bagian luar.
"Selamat datang, ingin membeli tanaman? Bertanya tentang tanaman? Atau melihat-lihat tanaman?" Seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar menyambut kedatangan Aksa
Aksa mengedipkan matanya karena tidak menyangka kalau orang yang akan menyambutnya adalah seorang paman bertubuh besar, bukan wanita cantik atau semacamnya.
"Aku ingin membeli tanaman unik untuk orang tuaku. Mereka bosan dengan tanaman yang biasanya." Meskipun sedikit heran, Aksa tetap menjawab pertanyaan dari paman bertubuh besar
"Oh? Anak yang berbakti. Namaku Hasan, pemilik toko tanaman ini." Paman bertubuh besar memperkenalkan dirinya yang ternyata adalah pemilik toko tanaman yang membuat Aksa terkejut lagi.
"Aku Aksa. Sepertinya tokomu sangat lengkap, Pak. Aku bisa melihat ada banyak sekali tanaman mau itu diluar atau di dalam toko." Aksa berkata dengan nada kagum karena jarang ada toko seperti ini.
Di belakang toko ada lahan yang cukup luas, di banyak sekali tanaman yang ditanam langsung di tanah. Sementara itu ada juga rumah kaca yang di dalamnya ada tanaman yang ditanam di dalam pot.
Aksa bahkan melihat ada banyak tanaman yang tidak dia ketahui. Dia menjadi semakin kagum dengan Hasan yang bisa membuat toko tanaman menjadi seperti ini.
"Karena ini untuk orang tua, mungkin tanaman ini cocok." Hasan mengambil pot yang ditumbuhi oleh tanaman dengan daun yang memiliki warna mencolok.
Melihat Aksa tidak mengetahui tanaman apa itu, Hasan segera menjelaskannya. Itu adalah begonia rex, spesies tumbuhan yang tergolong ke dalam famili Begoniaceae.
Daunnya besar, asimetris, dan seringkali memiliki pola rumit dan warna cerah. Pola-pola ini dapat mencakup pusaran, garis-garis, bintik-bintik, dan berbagai corak hijau, merah, perak, dan ungu.
Rex Begonia tumbuh subur dalam cahaya terang dan tidak langsung. Mereka harus terlindung dari sinar matahari langsung, karena dapat menghanguskan daunnya yang halus.
"Begonia rex? Nama yang unik, sesuai dengan penampilannya. Baiklah, aku pilih ini." Aksa mengangguk, tanpa pikir panjang dia langsung membeli tanaman begonia rex.
__ADS_1
Hasan gembira karena menemukan pelanggan yang tidak ragu-ragu dalam membeli sesuatu seperti Aksa. Dia segera merekomendasikan beberapa tanaman lain kepada Aksa, siapa tahu Aksa akan membelinya.
Dari banyaknya tanaman yang direkomendasikan oleh Hasan, Aksa memilih beberapa. Contohnya seperti tanaman udara atau Tillandsia, pohon bonsai besar, bunga anggrek, dan yang lain.
"Pak Aksa, di sini aku ingin merekomendasikan sesuatu, apakah Anda tertarik untuk mendengarnya?" Hasan menggosok kedua tangannya dan berkata dengan nada ragu.
"Oh? Katakan saja, Pak." Aksa menjadi tertarik karena Hasan terlihat ragu-ragu.
"Sebenarnya saya memiliki sesuatu yang baru dipikirkan, dan itu adalah terarium. Apakah Pak Aksa ingin membelinya?" tanya Hasan dengan ragu karena dia belum pernah menjual terarium.
"Terarium?" Aksa tersenyum karena mendapat ide bagus
Terarium adalah sebuah replikasi mini tanaman suatu ekosistem yang terdiri dari elemen tanaman, mikroorganisme, dan mineral di dalam sebuah kaca.
Wadah yang digunakannya pun cukup beragam, mulai dari botol kaca, stoples kaca, hingga wadah plastik. Kebanyakan terarium yang mahal ada di wadah kaca seperti akuarium.
Ide yang dipikirkan oleh Aksa adalah membuat terarium raksasa yang akan dipajang di Sajaya Farm. Dia berniat untuk membuat ekosistem mini di dalam terarium tersebut.
"Pak Hasan, saya punya ide yang menarik. Bagaimana jika Pak Hasan membuat kerja sama dengan saya?" Aksa segera mengatakan idenya tentang membuat terarium raksasa.
"!!" Hasan sangat terkejut. Pertama dia terkejut karena Aksa adalah pemilik dari Sajaya Farm, kedua dia terkejut dengan ide Aksa yang benar-benar layak untuk dicoba.
"Tapi Pak, Apakah Anda ingin menyerahkan pekerjaan ini pada saya?" tanya Hasan dengan wajah ragu.
"Tentu saja, siapa lagi?" kata Aksa sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, saya terima pekerjaan ini." Hasan tersenyum dan memutuskan membuat terarium raksasa untuk Sajaya Farm.
"Bagus!" Aksa tersenyum lebar karena dia berhasil mendapatkan sesuatu yang bisa menambahkan pemandangan di Sajaya Farm.
__ADS_1