Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Nita yang langsung Jatuh Cinta dengan Aksa


__ADS_3

Pukul 12 siang, sudah waktunya untuk istirahat. Para pengunjung menghentikan aktivitas mereka dan pergi ke restoran untuk memesan makan siang.


Aksa sudah mengosongkan lantai dua restoran untuk para mahasiswa Universitas Indonesia. Para pelayan juga langsung membuat makanan dan menghidangkannya.


"Nah, sekarang, silakan dinikmati!" kata Aksa sambil tersenyum.


Makanan sebanyak ini tentu saja tidak gratis, namun karena Aksa juga mendapatkan banyak keuntungan, ia memberikan diskon kepada mereka sebagai tanda persahabatan.


Para dosen juga senang karena Aksa sangat baik dan tidak mengincar keuntungan secara membabi buta. Jadi mereka bisa makan dengan gembira tanpa mengkhawatirkan biayanya.


"Ya!!" Para mahasiswa berteriak sebelum makan.


"Apa ini!? Apakah hanya aku saja yang merasakan kalau makanan yang aku makan sangat lezat!?"


"Hei, bukan hanya kamu saja. Daging ayam yang aku makan ini sangat lezat!! Bahkan lebih lezat dibandingkan dengan restoran di dekat universitas!!"


"Jangan hanya makan dagingnya saja, coba telurnya juga! Apakah yang menghasilkan telur ini adalah ayam dewa?"


Aksa tersenyum lebar melihat reaksi berlebihan pada mahasiswa. Sayang sekali dia tidak bisa menghidangkan susu sapi sekarang karena tidak bagus minum susu setelah makan daging.


Tapi Aksa berencana akan memberi mereka susu saat sore hari nanti. Aksa percaya kalau setelah mereka meminum susu, mereka akan memberitahu teman-teman mereka yang lain.


Dengan ini Sajaya Farm akan mendapatkan keuntungan yang sangat banyak sekaligus menjalin persahabatan dengan para mahasiswa dari jurusan fotografi dan tata busana.


"Rina, apa cita-citamu?" tanya Aksa kepada Rina yang duduk di sebelah kirinya.


Cita-cita Alvan adalah bekerja di salah satu perusahaan terbaik agar dia mendapatkan gaji yang besar. Aksa tidak memiliki cita-cita, itulah mengapa ia bertanya kepada Rina.


"Cita-cita ya, sebenarnya aku ingin berkeliling dunia dan mengambil foto pemandangan di sana. Nantinya, aku akan membagikan foto-foto tersebut di akun media sosialku," jawab Rina setelah berpikir sejenak.


"Ah, seperti influencer. Itu ide bagus, tapi jika begitu bukankah kamu dan Alvan akan sering berpisah? Lagipula dia akan bekerja perusahaan dan waktu luangnya hanya di akhir pekan," kata Aksa.


"Ya, aku tahu. Itulah mengapa aku memiliki tujuan lain yaitu menjadi fotografer pernikahan. Aku ingin mengambil foto orang yang menikah yang mana pernikahan adalah momen sakral dan momen yang membahagiakan," jelas Rina.


"Oh! Ide yang bagus. Kalau begitu jika aku menikah nanti, aku akan menghubungimu untuk mengambil foto pernikahanku," kata Aksa dengan bercanda.

__ADS_1


Rina mengangguk dan berkata, "Baiklah, nanti aku akan mengambil foto Kakak ipar dan Kak Sarah."


Aksa yang sedang minum air hampir tersedak saat mendengar perkataan Rina yang tiba-tiba. Sarah juga mencoba menahan rasa malunya karena ia juga mendengar perkataan Rina.


Aksa melihat ke arah Rina yang memiliki wajah polos dan ia tahu kalau Rina mengatakannya bukan dengan sengaja melainkan memang karena itu yang ia pikirkan.


Lalu, Aksa dan Sarah tidak mengatakan apapun selanjutnya dan makan dengan suasana yang sedikit canggung. Beruntung Elvira dan Elvina mencairkan suasana yang menghilangkan suasana canggung tersebut.


...----------------...


Istirahat makan siang sudah selesai, mereka semua kembali ke area dekat taman bunga dan tidak menyangka kalau sudah ada banyak pengunjung yang menunggu kedatangan mereka di sana.


Nita, yang masih lelah karena ada banyak orang yang mengambil foto menjadi bersemangat lagi karena melihat kalau dirinya ternyata ditunggu oleh banyak orang yang membuatnya senang.


Ada juga beberapa orang yang baru pernah ke sini mencoba untuk mengambil foto Aksa dan Sarah karena mereka berdua tampan dan cantik. Namun Aksa dan Sarah sama sama menolaknya.


Pertama, Aksa tidak berniat untuk mengekspos dirinya sebagai pemilik Sajaya Farm secara terang-terangan. Jika hanya sedikit orang mungkin tidak apa-apa, tapi jika banyak orang dia tidak mau.


Kedua, Sarah tidak suka mengambil foto bahkan bisa dikatakan kalau dirinya ini anti kamera. Kecuali kalau berfoto bersama Aksa.


"Ya, ini menyenangkan. Aku biasanya bekerja di kantor dan selalu menatap layar komputer. Suasana kantor juga sangat monoton dan membosankan," angguk Sarah yang sependapat dengan Aksa.


Aksa tersenyum dan berkata, "Mereka hebat. Orang-orang yang benar-benar menikmati apa yang mereka lakukan adalah orang yang hebat."


Aksa benar, di masyarakat yang selalu menjaga wajah, kebanyakan orang selalu gengsi. Banyak manusia yang memiliki banyak wajah, mereka akan mengganti wajah sesuai dengan situasi yang terjadi.


Banyak orang yang melakukan kebohongan agar bisa berbaur dengan teman-temannya. Mereka terpaksa melakukan hal tersebut, jika tidak, mereka akan dijauhi atau bahkan dikucilkan.


Kebohongan memang bukanlah hal yang baik, tapi terkadang kebohongan juga diperlukan untuk formalitas. Kita tidak bisa mengatakan apa yang ada dipikiran kita saat melihat seseorang.


Misalnya, ada orang yang bertanya apakah dirinya cantik dan kita merasa kalau dia tidak cantik. Tentu saja kita tidak bisa mengatakan hal tersebut karena akan dianggap sebagai orang yang kasar dan tidak tahu sopan santun.


"Aku setuju denganmu, Aksa. Orang-orang yang menunjukkan jati diri mereka tanpa menyembunyikan apapun adalah orang yang sangat hebat," angguk Sarah dengan sungguh-sungguh.


"Benar. Tapi! Kita sekarang sedang berada di situasi yang membahagiakan, jangan bicarakan sesuatu yang memiliki makna sangat dalam ini, hahaha!" Aksa tertawa kecil.

__ADS_1


Sarah memutar matanya dan berkata kepada Aksa, "Kamu yang memulainya."


Saat berbicara, Aksa melihat ada antrean yang cukup panjang. Ia melihat kalau mereka mengantre untuk mengambil foto salah satu wanita dari jurusan tata busana.


Aksa bisa melihat kalau wanita tersebut sangat kelelahan meskipun dia memiliki senyum di wajahnya. Tapi Aksa tahu kalau senyum tersebut adalah sebuah senyuman yang dipaksakan.


Ia berdiri dan menghampiri wanita tersebut, ia meminta maaf sebentar dan berbicara dengan wanita tersebut.


"Halo, kamu tampak kelelahan, apakah kamu membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan ini?" tanya Aksa dengan sopan.


Nita yang kelelahan melihat ada pria tampan yang berjalan menghampirinya, kemudian ia mendengar kalau pria ini akan membantu dirinya dan dia segera menganggukkan kepalanya.


Aksa mengangguk setelah melihat balasan dari Nita. Ia pergi ke ujung antrean dan saat melihat ada orang yang berbuat untuk mengantre, Aksa menghentikannya.


"Maaf, Kak. Antrean cukup sampai di sini karena kondisi wanita di sana sudah kelelahan dan akan buruk jika ini terus berlanjut," kata Aksa dengan sopan.


"Eh, benarkah? Kalau begitu maafkan aku." Pria itu melihat ke arah Nita dan benar saja Nita memiliki wajah kelelahan.


"Tidak apa-apa, Kakak bisa mengambil foto orang lain karena ada banyak mahasiswa tata busana yang memakai pakaian indah," kata Aksa sambil tersenyum.


Pria itu tertawa dan berkata, "Hahaha, benar juga. Kalau begitu aku akan pergi untuk mengambil foto orang lain, sampai jumpa."


Tidak butuh waktu lama untuk antrean memendek dan semua orang sudah selesai mengambil foto Nita. Nita yang kelelahan menghela napas lega dan menganggap Aksa seorang pahlawan.


"Terima kasih banyak, Kak." Nita tahu kalau pria di depannya lebih tua dari dirinya.


"Sama-sama, kalau begitu aku akan pergi." Aksa mengangguk dan berjalan pergi sebelum Nita sempat bereaksi.


Nita berniat untuk meminta nomor ponsel Aksa namun ia melihat kalau Aksa berjalan dengan cepat dan ia tidak memiliki tenaga untuk mengejarnya.


Teman Nita berjalan menghampiri Nita dan menepuk pundaknya karena Nita melihat ke suatu arah sampai terdiam.


"Hei, ada apa?" tanya teman Nita.


"Kurasa, aku sedang jatuh cinta." Nita berkata dengan waja tersipu.

__ADS_1


"Apa!?" teman Nita berteriak karena sangat terkejut.


__ADS_2