
"Ah, akhirnya selesai juga." Aksa merenggangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk.
Aksa sudah menyelesaikan laporan di kantor polisi. Ia tidak ingin membuat masalah ini sampai ke jalur hukum, jadi ia menyelesaikan masalah dengan cara damai.
Orang tua dan wali para anak geng juga dipanggil karena mereka sudah berbuat masalah di Sajaya Farm yang mana tempat itu sedang diperhatikan oleh pemerintah kabupaten.
Meskipun tidak diberi sanksi sebagai hukum, tapi ada sesuatu yang lebih mengerikan yaitu sanksi sosial yang membuat mereka dikucilkan oleh masyarakat.
Saat Aksa keluar dari kantor polisi, ia melihat sesosok yang akrab. Sosok itu kebetulan juga menoleh ke arah Aksa dan melambai-lambaikan tangannya.
"Sarah! Mengapa kamu ada di sini?" tanya Aksa.
Sarah melirik Aksa lalu berkata, "Yah, aku hanya penasaran. Apakah tidak boleh?"
Aksa tersenyum dan merasa hangat di hatinya, ia tahu kalau Sarah benar-benar mengkhawatirkan dirinya karena mata seseorang tidak bisa berbohong.
Sarah pergi ke sini menggunakan motor salah satu karyawan karena terlalu repot membawa mobil dan juga jaraknya tidak terlalu jauh.
Setelah itu, Aksa mengendarai motornya dan Sarah duduk di belakangnya. Karena tidak terbiasanya menggunakan motor, Sarah memegang bagian belakang motor agar tidak jatuh.
"Pegang saja pinggangku, agak bahaya memegang bagian belakang motor," kata Aksa yang tahu Sarah sedikit takut.
"Yah, kalau begitu permisi." Sarah memegangi pinggang Aksa dengan kedua tangannya.
Namun saat motor sudah jalan, Aksa tidak melihat kalau ada kerikil sehingga ia tiba-tiba membelokkan motornya yang membuat Sarah terkejut dan memeluk Aksa dengan erat karena ia mengira akan jatuh.
Aksa tertegun sejenak lalu tersenyum. Ia tidak memberitahu Sarah kalau mereka baik-baik saja karena perasaan dipeluk oleh seorang wanita cantik sungguh nyaman.
Sarah juga menyadarinya setelah beberapa saat, namun ia tidak melepaskan pelukannya karena entah mengapa perasaan di hatinya menolak untuk melepaskan pelukan.
"Apa yang sedang terjadi denganku? Mengapa aku tidak melepaskan pelukanku?" Sarah berpikir banyak hal karena ia belum pernah memiliki hubungan dekat dengan seorang pria setelah dewasa.
Bahkan saat remaja, Sarah hanya memiliki hubungan teman dengan pria lain dan tidak pernah sekalipun ia menyukai seorang pria karena dulu baginya cinta adalah sesuatu yang menghambat.
Mereka berdua sampai di Sajaya Farm dengan cepat, Sarah segera melepaskan pelukannya dan lari karena terlalu malu untuk melihat wajah Aksa.
Aksa hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memanggil Galih dan bertanya mengenai situasi setelah ia pergi ke kantor polisi tadi.
"Bagaimana mengatakannya, semua orang malah menjadi lebih bersemangat, Bos. Mungkin karena melihat Bos mengalahkan banyak orang sekaligus, haha." Galih tertawa kecil.
"Kamu bisa saja, tapi syukurlah tidak terjadi masalah tambahan." Aksa tersenyum dan mengangguk lega.
Setelah itu Aksa berpatroli sambil mengamati pada pengunjung yang sedang bersenang-senang. Beberapa pengunjung yang mengenal Aksa menyapanya dan Aksa juga tersenyum membalas sapaan mereka.
"Meskipun ada masalah, tapi ini bagus karena reputasi Sajaya Farm melambung tinggi," pikir Aksa.
__ADS_1
Memang, setelah orang-orang mengunggah video Aksa mengalahkan para anak geng, orang-orang menjadi tertarik dengan Sajaya Farm dan ada beberapa yang langsung memesan tiket menuju Kabupaten Banyumas.
...----------------...
Hari ketiga event telah selesai dan hari ini adalah hari terakhir dalam tahun ini. Karena besok mulai tanggal 28 Desember sampai tanggal 1 Januari Sajaya Farm akan tutup.
Para karyawan juga ada beberapa yang tinggal di asrama karena jarak rumah mereka yang cukup jauh. Asrama juga memisahkan bagian pria dan wanita agar tidak timbul kesalahpahaman.
"Kita pergi sekarang?" tanya Aksa kepada Sarah di depannya.
"Ya." Sarah melirik Aksa dan mengangguk.
Mereka akan pergi ke perusahaan real estate untuk membeli rumah pilihan Elvina yang terletak di pusat kota. Mereka berdua masuk ke dalam mobil milik Sarah dan segera menuju perusahaan real estate.
Setelah beberapa menit mengemudi, mereka sampai di perusahaan real estate. Namun saat Sarah keluar dari mobil dan melihat perusahaannya, dia tertegun.
Aksa melihat ekspresi Sarah dan segera bertanya, "Ada apa? Apakah ada sesuatu mengenai perusahaan real estate ini?"
"Yah, ini perusahaan orang tuaku," jawab Sarah dengan nada kaku.
Sekarang giliran Aksa yang tertegun. "Kamu serius? Orang tuamu adalah pemilik perusahaan real estate terkenal ini?"
Sarah melirik Aksa. "Apa gunanya aku berbohong kepadamu?"
Awal mulanya dimulai oleh Kakek Sarah, ia memulai sebuah perusahaan real estate dari nol. Kemudian saat kesehatannya mulai menurun, Ayah Sarah menggantikannya sebagai pemimpin.
Saat kepemimpinan Kakek Sarah, perusaahan tidak terlalu terkenal dan hanya beroperasi di Kabupaten Banyumas. Namun saa kepemimpinan Ayah Sarah, perusaahan menjadi terkenal dan mulai melakukan ekspansi.
Bisa dikatakan kalau Kakek Sarah adalah orang yang membangun fondasi perusahaan dengan kokoh dan Ayah Sarah adalah orang yang mensukseskan perusahaan real estate mereka.
"Aku tidak terlalu tertarik dengan perusahaan keluargaku. Ayahku selalu bekerja lembur saat aku masih kecil yang membuat kesanku terhadap perusaahan ini kurang menyenangkan," kata Sarah.
"Apakah kita harus pergi ke perusahaan lain?" tanya Aksa dengan khawatir.
Sarah tersenyum tipis dan berkata, "Apa yang kamu katakan. Pergi ke perusahaan lain berarti kamu harus mengganti rumah yang kamu inginkan."
"Benar juga." Aksa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena tidak sadar.
"Baiklah, ayo masuk." Sarah memegang tangan Aksa dan menariknya ke dalam bangunan.
"Selamat datang, eh Nona!?" Wanita resepsionis terkejut melihat Sarah datang.
"Abaikan aku, temanku ingin membeli rumah di sini." Sarah menunjuk ke Aksa yang ada di sampingnya.
Resepsionis mengangguk lalu memanggil pramuniaga untuk membimbing Aksa dan menjelaskan mengenai rumah-rumah yang dijual di sini.
__ADS_1
"Ah tidak perlu. Aku sudah tahu harus membeli yang mana, aku di sini ingin langsung membeli saja," kata Aksa.
"Baiklah. Tolong ikuti saya ke sana." Pramuniaga menuntun Aksa ke arah meja dan kursi yang sudah disediakan.
Mereka berbicara secara singkat karena Aksa sudah mempunyai pilihannya. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, Aksa memutuskan untuk membeli rumah tersebut.
"Tolong tunggu sebentar, saya akan mengambil dokumen-dokumennya." Pramuniaga pergi untuk mengambil dokumen.
"Aksa, apakah kamu tahu? Rumah yang kamu beli satu area dengan rumah milikku," kata Sarah yang duduk di sebelah Aksa.
Aksa tidak terlalu terkejut karena keterkejutannya sudah tidak berlaku untuk Sarah. Sekarang Aksa tahu kalau keluarga Sarah sangat kaya dan tidak akan terkejut lagi kalau tiba-tiba Sarah mengatakan kalau rumahnya berada di area itu.
"Rumahmu di area paling pusat?" tanya Aksa.
Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak juga, pertengahan. Itu karena semua rumah di area yang paling pusat sudah penuh dan tidak ada yang kosong."
"Kalau begitu kita akan menjadi tetangga selanjutnya," kata Aksa sambil tersenyum.
Sarah tersenyum dan mengangguk, "Ya, aku menantikannya."
Pramuniaga kembali sambil membawa dokumen, setelah Aksa memeriksanya ia langsung menggunakan kartu pembelian dan menggesek mesin atm seperti kartu kredit pada umumnya.
Cara menggunakan kartu pembelian memang seperti itu, sama seperti menggunakan kartu kredit. Dan setelah beberapa saat, kartu pembelian menghilang yang berarti sukses digunakan.
Setelah pramuniaga memeriksa kalau pembayaran sudah masuk, ia meminta Aksa untuk menandatangani dokumen. Setelah itu, ia menunjukkan senyum profesional karena Aksa berhasil membeli salah satu rumah paling mahal.
"Selamat," kata Sarah dengan nada tulus.
"Terima kasih." Aksa juga memiliki senyum di wajahnya.
Mereka berdua langsung meninggalkan bangunan dan kembali ke Sajaya Farm karena motor roda tiga Aksa masih berada di sana.
"Terima kasih, Sarah." Aksa berterima kasih karena Sarah bersedia untuk menemani dirinya pergi ke perusahaan real estate.
"Sama-sama. Lalu, apakah besok kamu ada waktu?" tanya Sarah.
Aksa mengangguk dan berkata, "Ya, aku tidak ada urusan. Ada apa?"
"Kalau begitu aku akan menjemputmu besok pagi. Orang tuaku akan pergi ke Jakarta besok pagi, temani aku besok," jawab Sarah dengan wajah memerah.
"Tentu, hubungi aku jika kamu sudah berangkat ke rumahku." Aksa tersenyum dan tahu apa maksud dari perkataan Sarah.
"Baiklah, sampai jumpa besok." Sarah masuk ke dalam mobil dan pergi.
"Ya, sampai jumpa." Aksa juga menaiki motor roda tiganya dan pulang.
__ADS_1