
Keesokan paginya, saat Aksa sedang dalam perjalanan menuju Sajaya Farm setelah pergi dari gudang untuk mengangkut produk-produk peternakan, ada beberapa motor yang mengikutinya.
Aksa tentu saja menyadari hal tersebut karena sepertinya motor-motor itu sengaja menampakkan diri. Aksa memperlambat motor roda tiganya dan akan parkir ke area yang agak sepi.
Namun tiba-tiba saja salah satu motor mendekati Aksa, seseorang yang duduk di jok belakang mengangkat tangan kanannya yang memegang besi panjang dan melemparkannya ke arah Aksa.
"Sialan! Kamu mau bermain bahaya seperti ini!?" umpat Aksa yang langsung menghentikan motor roda tiganya.
Karena sudah melihat arah lemparannya, Aksa berhasil menghindari besi panjang itu. Aksa mengambil besi panjang itu dan melempar balik ke arah pemotor tadi.
"Rasakan lemparan ku ini! Lemparan tangan dewa!" Aksa malah mengatakan nama teknik lemparannya yang bisa terlihat dengan jelas kalau itu asal-asalan, bukan sesuatu yang serius.
Besi panjang yang Aksa lempar tepat mengenai helm orang yang melempar sebelumnya sampai terjatuh dari motor. Aksa segera berlari menghampirinya, memegang salah satu kaki orang itu, dan menyeretnya.
"Kamu mau menyerang seseorang tapi saat jatuh kamu tidak bisa membalas!? Hah! Dasar lemah, bagaimana bisa kamu memiliki keberanian seperti itu padahal kamu lemah!?" Aksa bertubi-tubi memukul helm orang itu sampai pecah.
Dia melepaskan helm dan membuangnya, kemudian terlihat wajah seorang pria jelek karena ada banyak sekali bintik hitam di wajahnya. Aksa menatapnya sebentar sebelum memukulnya.
"Dasar! Kamu sudah jelek tapi masih melakukan sesuatu yang jelek juga!?" Aksa memukul wajah pria itu secara terus-menerus.
Orang-orang yang mengendarai motor tadi turun dan segera menghampiri Aksa sambil membawa besi panjang. Aksa tidak panik, dia memegang kerah pakaian pria yang sudah pingsan untuk menjadikannya perisai.
"Ha! Apakah kalian takut!? Kalian takut kepadaku atau kepada wajah pria ini? Hahaha!" Aksa malah tertawa terbahak-bahak dan tidak menganggap situasi sekarang serius.
Semua pemotor tertegun dan saling memandang satu sama lain. Mereka bahkan sampai terheran-heran dan berpikir siapa yang jadi penjahatnya sekarang, mereka atau Aksa.
Memanfaatkan saat mereka tertegun, Aksa melempar pria di tangannya dan segera bergerak dengan cepat untuk menjatuhkan semua pemotor sampai tidak bisa bergerak.
"Siapa yang menyuruh kalian? Kevin? Albar? Atau siapa!?" Aksa menginjak kaki kanan seorang pria dan bertanya dengan nada dingin sambil memelototinya.
"A-ampuni kami. Ka-kami disuruh oleh Pak Kevin untuk mematahkan tulangmu. Tolong lepaskan kami! Kami janji kalau kami tidak akan mengganggumu lagi!" teriak pria tersebut dengan suara kesakitan.
"Sialan, Kevin lagi. Apakah dia tidak kapok terus-terusan merasakan kekalahan? Atau apakah dia masokis?" Aksa merasa kalau bulu kuduknya merinding saat memikirkan hal tersebut.
Setelah membuat semua pria yang ada di tanah pingsan, Aksa menaiki motor roda tiganya dan pergi ke Sajaya Farm. Aksa tidak menelepon polisi karena dia juga akan dikenai sanksi.
__ADS_1
Mereka juga tidak mungkin akan menelepon polisi, jika iya maka mereka akan diberi sanksi yang lebih berat. Sekarang Aksa sedang memikirkan balasan apa yang harus diberikan kepada Kevin.
"Ck, aku tidak punya bahan hitam Kevin, aku hanya punya bahan hitam Albar. Sepertinya aku harus menyebarkan video folder bahagia lagi. Kevin, karena tindakan mu inilah yang membuat ayahmu stress, hahaha!" pikir Aksa.
Jika Albar mengetahui hal ini, bisa dipastikan kalau dia akan mengajar Kevin karena telah membuat stress nya bertambah banyak.
...----------------...
Beberapa jam kemudian, di ruang VIP restoran tertentu. Kevin sedang makan di sini bersama beberapa wanita, dia adalah orang yang menyukai uang, alkohol, dan wanita.
Meskipun dia menyukai Sarah, sifatnya tidak berubah. Saat ini dia bahkan masih bermain dengan wanita lain, apa jadinya jika Kevin dan Sarah bersama? Pastinya akan terjadi kekacauan.
Tentu, meskipun Kevin menyukai Sarah, itu bukan karena hatinya yang berkata begitu. Dia menyukai Sarah hanya karena penampilannya yang cantik dan mempesona, dia ingin menjadikan Sarah miliknya.
"Mengapa preman-preman yang aku suruh tidak memberi kabar? Mereka tidak gagal, kan?" pikir Kevin sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam.
"Ada apa?" tanya salah satu wanita saat dia melihat ekspresi wajah Kevin sedikit salah.
"Tidak ada apa-apa, hanya memikirkan sesuatu yang sedikit penting." Kevin mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang wanita tersebut.
Kevin menjawab telepon dan meraung dengan keras, "Argh! Siapa sih!"
Namun Kevin tertegun pada saat berikutnya karena orang yang meneleponnya adalah polisi. Dia diberitahu kalau preman-preman yang dia suruh sedang ada di ruang interogasi.
"Apakah terjadi sesuatu?" Wanita lain bertanya kepada Kevin karena wajahnya saat ini sangat suram.
Kevin tidak mengatakan apapun, dia berdiri dan mengambil mantelnya sebelum keluar dari ruang VIP. Para wanita di dalam saling memandang dan bisa melihat kebingungan di mata mereka.
Namun mereka adalah wanita panggilan, tidak memiliki hubungan khusus dengan Kevin sehingga mereka tidak terlalu peduli dengan urusan Kevin dan melanjutkan makan yang masih ada banyak.
Sementara itu, Kevin pergi ke area parkir restoran dan masuk ke dalam mobil mewahnya. Kemudian dengan wajah muram dia berkendara menuju kantor polisi Banyumas.
Namun betapa terkejutnya dia saat sampai di dekat kantor polisi, karena dia melihat ada banyak sekali orang di depan gerbang yang membawa microphone dan kamera besar di pundak mereka.
"Wartawan!? Bagaimana bisa kabar ini meluas dengan cepat padahal baru beberapa menit yang lalu!?" Kevin berpikir dengan liar namun tidak kunjung menemukan jawabannya.
__ADS_1
Karena gerbang kantor polisi penuh dengan orang, Kevin tidak bisa turun. Jadi dia membunyikan klakson mobil agar para wartawan itu memberi jalan kepadanya.
"Itu mobil milik Kevin!" teriak salah satu wartawan yang mengenali pemilik mobil mewah tersebut.
Bukannya memberi jalan agar Kevin bisa masuk ke dalam kantor polisi, para wartawan justru mengerubungi mobil Kevin sambil mengarahkan kamera serta mic kepada Kevin yang masih ada di dalam mobil.
Di lantai dua kantor polisi, ada seorang polisi paruh baya yang melihat ke arah kerumunan wartawan. Dia menggunjingkan senyum di wajahnya saat melihat hal itu terjadi.
Dia adalah Budi, seorang polisi jujur yang sudah muak dengan kelakuan Kevin dan ayahnya. Dialah yang menyebarkan berita buruk Kevin hari ini sehingga para wartawan bisa berkumpul dengan cepat.
"Mungkin hal ini tidak bisa membuat Kevin dijatuhi hukuman berat. Tapi dengan ini reputasinya akan anjlok dan ada kemungkinan besar kalau dia akan dikucilkan oleh masyarakat," pikir Budi si polisi jujur.
Kembali ke depan gerbang kantor polisi, beberapa polisi segera menertibkan para wartawan agar memberikan jalan bagi Kevin untuk masuk ke dalam kantor polisi.
Para wartawan menurut dengan patuh karena yang mereka hadapi adalah polisi. Namun mereka juga tidak sepenuhnya pergi, mereka tetap berada di depan kantor polisi untuk menunggu hasil keputusan.
Karena menunggu itu membosankan, para wartawan segera menghubungi perusaan media tempat mereka bekerja untuk melaporkan kejadian pada hari ini.
"Terkejut! Anak dari Albar si pemilik perusahaan investasi ternama di Jakarta ternyata dipanggil oleh polisi hari ini! Apa yang dia lakukan?"
"Berita panas! Kevin yang terkenal karena ayahnya adalah pemilik perusahaan investasi ternama ternyata melakukan sesuatu yang buruk!"
"Kevin melakukan hal yang buruk! Apakah dengan ini perusahaan investasi milik Albar yang sedang terpuruk akan mengalami kejatuhan?"
Banyak judul berita yang dibesar-besarkan, namun mereka tidak salah karena Kevin memang melakukan sesuatu yang buruk dan hal ini bisa berdampak buruk bagi perusahaan investasi Albar.
...----------------...
Di waktu yang sama, di Sajaya Farm.
Aksa tertawa terbahak-bahak saat melihat banyak berita tentang Kevin yang dipanggil oleh polisi. Sebenarnya tadi dia ingin menyebar video dari folder bahagia, tapi sepertinya sekarang sudah tidak diperlukan.
Barusan dia juga mendapat telepon dari Budi si polisi jujur. Namun ternyata Budi melindunginya karena tahu kalau Aksa memukul preman-preman tersebut untuk membela diri.
Jadi itulah mengapa meskipun preman-preman itu mengatakan kalau Aksa yang memukuli mereka sampai babak-belur, Aksa tidak dipanggil untuk datang ke kantor polisi.
__ADS_1