Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Menyiapkan Kejutan di Ulang Tahun Sarah


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Sarah sedang berulang tahun. Sarah sendiri sedang bekerja di Sajaya Farm karena ini adalah Hari Senin yang merupakan waktu kerja.


Sementara itu Aksa sedang berada di rumah Sarah bersama Delia dan seorang wanita yang merupakan asisten rumah tangga di Rumah Sarah.


Mereka bertiga sedang mendekorasi halaman belakang rumah yang sangat luas, lebih luas dari halaman belakang rumah milik Aksa.


Untuk kue ulang tahunnya, Aksa sudah membuatnya tadi malam dan sedang di simpan di dalam kulkas. Untuk hidangan lain, rencananya Aksa akan membuatnya saat mendekati waktu sore.


Delia menghabiskan pagi harinya mendekorasi halaman dengan balon warna-warni dan pita yang menari-nari ditiup angin sepoi-sepoi yang menyejukkan karena kemarin juga hujan kecil.


"Aksa, bisakah kamu membuat bunga dari kertas berkilau ini?" tanya Delia sambil menunjukkan gulungan kertas berkilau yang berwarna perak.


"Aku tidak tahu, karena belum pernah mencobanya." Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata dengan jujur.


"Kalau begitu akan aku ajarkan." Delia memutuskan untuk mengajari Aksa bagaimana caranya membuat bunga dari kertas berkilau itu.


Delia mengambil gunting di atas meja dan mulai menggunting kertas sesuai dengan ukurannya. Kemudian dia mulai merangkainya di stik kayu menggunakan lem kertas.


"Bagaimana?" Delia bertanya kepada Aksa yang dari tadi diam karena fokus melihatnya membuat rangkaian bunga dari kertas.


"Aku paham, akan aku coba." Aksa mengangguk dan mulai mencoba membuat rangkaian bunga sesuai dengan apa yang dia lihat barusan.


Delia mengangguk dan mengamati tindakan Aksa. Tapi, betapa terkejutnya dia saat Aksa membuat rangkaian bunga dari kertas dengan sangat sempurna bahkan tanpa kesalahan satupun.


Padahal dia kira Aksa akan kesulitan dan akan gagal selama beberapa kali, kemudian akan bertanya kepada dirinya untuk menunjukkan cara membuat rangkaian bunga lagi.


Sebenarnya ada alasannya, itu karena keahlian memasak Aksa yang didapatkan dari Sistem. Seorang chef yang ahli harus bisa mengontrol kedua tangannya dengan sangat baik.


Jika seorang chef tidak bisa mengontrol tangannya, dia tidak akan bisa membuat hidangan dengan baik karena pastinya akan selalu ada masala dalam proses pembuatannya.


"Yah, Aksa, aku tidak menyangka kamu bisa membuatnya dengan sempurna. Kalau begitu aku serahkan tugas ini padamu," kata Delia setelah menerima kenyataan.

__ADS_1


"Ya." Aksa mengangguk dan terus membuat rangkaian bunga dari kertas.


Sementara itu, Delia dan asisten rumah tangga melakukan tugas menggembungkan balon dengan alat khusus. Ada berbagai macam bentuk balon, mulai dari yang biasa, bintang, huruf, dan bahkan ada unicorn.


Balon unicorn tidak dipilih oleh Aksa, tapi Elvira dan Elvina. Mereka berpikir kalau unicorn itu lucu dan memutuskan untuk membelinya.


Di akhir persiapan, Aksa memasang lampu-lampunya. Karena tidak ada dinding, Aksa memasang tiang dan menaruh lampunya di sana agar bisa menerangi seluruh halaman.


Tidak hanya di tiang saja, Aksa juga menaruh lampunya di atas pohon, tanaman, meja, dan tempat lainnya yang bisa ditaruh lampu asalkan tidak mengganggu jalannya perayaan.


"Bibi, semua persiapan sudah dilakukan. Aku pulang dulu untuk membuat hidangan lain," kata Aksa kepada Delia yang sedang menaruh bunga-bunga buatan Aksa.


"Ah, ya. Terima kasih atas usahamu," angguk Delia.


Aksa mengangguk, dia kemudian masuk ke mobilnya dan kembali ke rumah. Dia beristirahat sebentar dengan menonton acara televisi siang, kemudian dia mulai membuat hidangan.


Rencananya, Aksa akan membuat cupcake, cookies, brownies, es krim, dan salad buah untuk dihidangkan saat perayaan ulang tahun Sarah.


...----------------...


Sore harinya, sudah waktunya bagi Sarah untuk pulang ke rumah. Tapi sebelum itu, Aksa sudah bersiap terlebih dahulu, dia akan pura-pura kalau ban motor roda tiganya bocor.


"Sarah, bolehkah aku menumpang? Ban motorku bocor." Aksa berkata dengan ekspresi tidak berdaya yang sangat nyata seolah-olah ban motor roda tiganya benar-benar bocor.


"Eh? Tentu." Sarah tidak merasa ada yang salah dari nada bicara atau raut wajah Aksa. Jadi dia menganggap dan memberikan kunci mobilnya kepada Aksa.


Mereka berdua keluar dari Sajaya Farm lalu memasuki mobil milik Sarah. Setelah memasang sabuk pengaman, Aksa langsung menginjak pedal gas.


Aksa sudah mendapatkan kabar kalau semua orang yang diundang sudah berada di rumah Sarah. Jadi tugasnya sekarang hanyalah untuk kembali ke sana dan mempersiapkan diri.


Aksa juga belum mengucapkan selamat ulang tahun kepada Sarah, yang lain juga sama. Sarah juga terlihat tidak peduli dengan hal ini, dia masih bersikap seperti biasa.

__ADS_1


"Aksa, kenapa malah ke rumahku?" tanya Sarah dengan bingung karena rumah mereka beda arah dari gerbang perumahan namun Aksa malah pergi ke jalan menuju rumahnya.


"Haha, sesekali aku main ke rumahmu, apakah tidak boleh?" Aksa hanya tertawa dan mengatakan penjelasan yang asal-asalan.


Sarah menatap Aksa dengan mata curiga, tapi dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Jadi dia mengangguk dan memperbolehkan Aksa untuk main ke rumahnya.


Aksa terakhir pergi ke rumahnya adalah saat dia sedang sakit dan itu sudah lumayan lama. Jadi Sarah merasa kalau Aksa memang ingin main ke rumahnya, tanpa ada alasan lain.


Tapi sayang sekali pikiran Sarah salah. Aksa sudah pergi kerumahnya beberapa kali selama tiga hari ini. Aksa ke sana karena untuk melakukan pemeriksaan dan berdiskusi dengan Delia dan juga Andre.


Mereka pun sampai di rumah Sarah. Setelah Aksa memarkirkan mobil Sarah di depan garasi, mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Um? Apakah tidak ada orang?" Sarah mengangkat alisnya karena seluruh rumah gelap gulita. Padahal biasanya ada ibunya di jam segini yang sedang memasak atau menonton televisi.


Sarah menekan saklar lampu untuk menyalakan lampu ruangan. Kemudian Sarah meminta Aksa untuk duduk di sofa sementara dia hendak pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Aksa tersenyum, dia pura-pura terkejut dan berkata dengan suara keras. "Sarah! Apakah rumah ini berhantu!? Barusan aku melihat ada sosok hitam di pintu itu!"


Aksa berakting seperti orang yang sedang ketakutan, namun sebenarnya dia ingin muntah karena aktingnya terlalu menjijikan baginya.


Sarah menghentikan langkahnya dan mengerutkan kening saat mendengar perkataan Aksa. Dia menoleh ke ke arah pintu yang ditunjuk oleh Aksa dan itu adalah pintu menuju halaman belakang.


Pintu itu adalah pintu dengan jendela, tapi pada saat ini pintu itu tidak menunjukkan pemandangan di luar, melainkan hanya menunjukkan warna hitam.


"Ada apa?" Sarah bertanya-tanya apa itu, dia mengambil langkah dan berjalan ke arah pintu menuju halaman belakang.


Di belakangnya ada Aksa yang tersenyum, dia mengambil konfeti di balik meja dan bersiap untuk menggunakannya. Kemudian dia melihat kalau Sarah memegang kenop pintu dan hendak membukanya.


Kemudian pada saat Sarah membuka pintu, dia melihat sebuah pemandangan yang membuatnya terkejut. Kemudian terdengar teriakan dari banyak orang.


"Selamat ulang tahun!"

__ADS_1


__ADS_2