
Roni dan Gia sudah masuk ke dalam Sajaya Farm, mereka sedang duduk menunggu di dekat gerbang sambil melihat orang lalu lalang.
"Kakek, apakah Gia bisa Menunggangi kuda poni itu?" tanya Gia dengan suara gugup karena dia belum pernah menunggang kuda.
"Cucu Kakek pasti bisa, nanti juga ada Paman Aksa yang akan mengajarimu." Roni berkata sambil mengelus-elus kepala Gia.
"Um! Gia pasti bisa!" Gia menganggukkan kepalanya, kegugupannya juga sudah menghilang setelah mendengar perkataan Roni.
Pada saat ini, suara tapak kuda terdengar dari jauh. Roni dan Gia menoleh ke arah sumber suara, kemudian Gia melebarkan matanya dan raut wajahnya juga menunjukkan kegembiraan.
"Kuda poni!" teriak Gia dengan penuh semangat saat melihat ada kuda poni yang sedang berjalan menghampirinya.
"Oh, Aksa!" Roni menyapa Aksa yang sedang menunggang kuda.
"Siang Pak Roni, hai Gia!" Aksa turun dari kuda lalu menyapa Roni dan Gia sambil tersenyum.
"Halo Paman!" Gia menyapa Aksa dengan suara riang yang membuat hati Aksa meleleh.
Gia melompat dari kursi dan berlari menghampiri kuda poni di sebelah Ace. Kuda poni itu memiliki warna buku putih keemasan yang sangat indah apalagi dibalut dengan sinar matahari.
Kuda poni itu menatap makhluk kecil dengan mata penasaran. Dua pasang mata saling memandang satu sama lain yang membuat Aksa dan Roni tersenyum melihat tindakan mereka berdua.
"Gia, itu adalah kuda poni yang kamu mau. Apakah kamu menyukainya?" Aksa berjongkok di sebelah Gia dan berkata dengan nada lembut.
"Gia suka!" Gia mengangguk dengan cepat, matanya juga sudah berbinar-binar saat melihat kuda poni di depannya.
Aksa tersenyum melihat reaksi Gia, dia berdiri dan berbalik ke arah Roni. Dia hanya membawa satu kuda untuk Gia, jadi dia bertanya kepada Roni apakah ingin dipanggilkan Galih atau bagaimana.
Namun Roni menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kalau dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Jadi Roni meminta tolong kepada Aksa untuk menjaga Gia, setidaknya sampai siang hari setelah makan.
__ADS_1
Aksa mengangguk dan menerima permintaan Roni dengan senang hati. Dia tidak punya pekerjaan lain dan bersama Gia juga rasanya sangat menyenangkan.
Setelah itu, Roni segera pergi ke Rumah Sakit Swasta Wilaga menggunakan mobilnya. Sementara itu Aksa melihat Gia dan kuda poni yang sudah akrab satu sama lain.
"Gia, sudah waktunya untuk berkuda, ayo kenakan pakaian keselamatan terlebih dahulu." Aksa mengambil peralatan yang dia bawa dan mengambil pakaian keselamatan untuk anak kecil.
"Baik, Paman!" Gia mengangguk dan segera memakai pakaian keselamatan dengan patuh dan dibantu oleh Aksa agar lebih aman lagi.
Karena Gia masih kecil, ada perlengkapan tambahan yaitu pelindung siku dan lutut. Jadi, jika Gia jatuh dari kuda, setidaknya luka yang ditimbulkan bisa diminimalisir.
"Sudah siap, ayo naik." Aksa membiarkan Gia naik sendiri, kemudian saat melihat kalau Gia tidak bisa, dia segera membantunya.
Gia sangat senang karena akhirnya dia bisa Menunggangi kuda poni yang diidamkan. Namun dia tidak terlalu bersemangat karena tahu kalau Aksa masih ada yang perlu dikatakan.
"Gia, jangan terburu-buru dalam menunggangi kuda. Kamu hanya perlu santai dan rileks, kemudian kendalikan kuda dengan tali itu," kata Aksa.
Jika dalam situasi normal, anak yang berusia empat tahun tidak akan dibiarkan naik kuda seorang diri. Tapi kuda yang ada di sini adalah hasil dari peternakan game, sehingga sangat aman dan terjamin keselamatannya.
"Gia paham." Gia mengangguk dengan serius tanda bahwa dia sudah paham dengan penjelasan Aksa.
"Bagus." Aksa mengangguk dengan puas karena Gia itu pintar dan langsung paham dengan sekali penjelasan.
Aksa naik ke atas punggung Ace, kemudian mereka berdua mulai berkuda. Mereka berjalan dengan lambat karena Gia perlu membiasakan diri untuk merasakan bagaimana rasanya menunggangi seekor kuda.
Kuda poni itu juga tidak terlihat tidak sabaran, dia juga senang karena ada manusia yang menungganginya apalagi itu adalah manusia yang kecil dan imut.
Mereka tidak berkeliling Sajaya Farm, tapi pergi menuju area kuda karena di sana lebih aman bagi Gia untuk belajar dan membiasakan diri menunggangi seekor kuda.
Dan di sana, Aksa melihat kalau Sarah sedang duduk di area istirahat sambil melihat-lihat pengunjung yang sedang menunggangi kuda dengan ekspresi bahagia di wajah mereka.
__ADS_1
Jadi, Aksa menghampiri Sarah dan berkata, "Sarah! Ayo ikut berkuda!"
Sarah menoleh ke arah Aksa dan membalas, "Aku mau, tapi tidak ada kuda yang tersedia. Semuanya sudah bersama dengan pengunjung."
Aksa tersenyum dan berkata, "Kalau begitu bersamaku saja!"
Sarah tertegun dengan perkataan Aksa, dia melihat ke arah Aksa yang sedang menunggangi kuda morgan dengan sangat keren. Sarah jadi tergoda, dan pada akhirnya ia menerima ajakan Aksa.
Jadi, Sarah memakai pakaian keselamatan, kemudian naik ke atas punggung Ace bersama Aksa. Dia duduk di depan sementara Aksa duduk di belakang.
Kuda bisa membawa dua orang sekaligus, asalkan bukan untuk pacuan kuda, hanya untuk berjalan atau berlari biasa. Jika tidak, kuda akan cepat kelelahan dan otot-ototnya juga menjadi sakit.
"Woah, Paman dengan Kakak Sarah!" Gia dengan kuda poninya mendekati Aksa dan berkata dengan nada polosnya.
Sarah tersenyum lembut. Meskipun dia tidak mengenal Keluarga Wilaga, tapi dia sudah beberapa kali mengobrol dengan Roni dan juga Gia. Itulah mengapa dia akrab dengan Gia.
"Gia, apakah kamu bisa menunggangi kudanya dengan baik?" tanya Sarah dengan nada lembut.
"Gia bisa!" Gia mengangguk dengan bangga. Kuda poninya juga bersuara seolah-olah mendukung perkataan Gia.
Mereka berbicara sebentar, kemudian mulai berkeliling area kuda dengan santai. Di tengah perjalanan, Gia berpisah dari Aksa karena sepertinya dia menemuka teman sebaya di sana.
Jadi hanya ada Aksa dan Sarah yang tersisa. Mereka sama sekali tidak mengeluarkan suara karena sudah nyaman dengan suasananya.
Aksa yang duduk di belakang juga bisa mencium aroma harum shampo dari rambut panjang Sarah yang terkena hembusan angin.
Sarah tidak menyadari hal itu karena dia terlalu fokus dengan merasakan hembusan angin sejuk sambil melihat pemandangan sekitar.
"Sebentar lagi Sarah ulang tahun, aku harus menyiapkan kejutan untuknya," pikir Aksa yang ingat kalau sebentar lagi Sarah akan berulang tahun.
__ADS_1
Aksa sudah kepikiran untuk membuat pesta, namun Sarah adalah wanita yang sudah dewasa. Jadi Aks ragu apakah Sarah akan menyukai pesta yang akan dia buat itu.
"Hm, mari kita tanya orang tua Sarah saja, mereka berdua pasti lebih tahu tentang Sarah daripada aku," pikir Aksa sambil menganggukkan kepalanya.