
"Alvan, nanti kamu langsung pergi ke Sajaya Farm saja, karyawanku sudah mengetahui wajahmu," kata Aksa yang berniat pergi ke gudang untuk mengangkut produk-produk peternakan.
"Ah, baik!" angguk Alvan yang sedang menonton televisi.
Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya karena Alvan sudah menonton televisi padahal hari masih pagi. Aksa menaiki motor roda tiganya yang ada di garasi dan segera pergi menuju gudang.
Garasi rumah barunya cukup luas, di dalam garasi bisa menampung dua mobil dan di luar garasi juga ada atapnya jadi jika ditotal bisa menampung empat mobil. Namun saat ini kosong karena hanya ada satu motor milik orang tuanya dan motor roda tiga miliknya.
Aksa mengangkut produk-produk peternakan seperti biasa, ia juga membawa beberapa daging untuk dibagikan kepada karyawan. Ia akan meminta indra dan yang lain untuk dimasak sebagai sarapan mereka.
Sekarang hampir semua karyawan Sajaya Farm menginap di asrama. Alasannya adalah karena lingkungan di sana sangat sejuk dan menyegarkan. Lalu agar mereka tidak terlambat bekerja.
Mereka juga diberitahu kalau Sajaya Farm akan membuka villa dan kamar yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk menginap. Itulah mengapa mereka memutuskan untuk menginap di asrama.
Persis setelah jam sarapan, Alvan datang ke Sajaya Farm bersama Rina. Mereka berdua sangat terkejut dengan pemandangan di depan mereka. Meskipun sudah pernah melihatnya di media sosial, tapi melihatnya langsung memiliki perasaan yang berbeda.
"Rina, bukankah jurusanmu dan jurusan tata busana sedang merencanakan suatu proyek? Mengapa tidak menggunakan tempat ini?" kata Alvan kepada pacarnya.
Rina adalah jurusan fotografi, jurusnya dan jurusan tata busana sedang mengadakan kerja sama. Tata busana akan menampilkan kostum atau pakaian yang mereka buat dan fotografi akan memotret mereka.
"Ide bagus, aku akan membicarakan ini dengan dosen nanti." Mata Rina menjadi cerah mendengar saran yang diberikan oleh Alvan karena itu benar-benar bagus.
"Ayo berkeliling." Alvan memegang tangan Rina, mereka berdua lalu berjalan ke berbagai area bahkan menyewa perahu bersama sambil berfoto-foto.
Rina memposting foto yang ia ambil ke akun media sosialnya tanpa diedit karena pemandangan sudah cantik. Lalu sesaat setelah selesai memposting, tiba-tiba muncul banyak notifikasi bahwa ada orang yang meninggalkan komentar.
"Rina!! Di mana tempat itu? Apakah kamu pergi bersama Alvan?"
"Wah, airnya jernih sekali bahkan aku bisa melihat dasar sungai dan ikan-ikan yang sedang berenang. Tolong beritahu aku di mana ini!!"
"Bukannya kamu pergi ke kota tempat Alvan tinggal? Apakah di sana ada wisata yang bagus?"
Rina tentu saja senang dengan komentar-komentar tersebut karena mereka semua penasaran dan menangkan lokasi tepat Rina mengambil foto. Ia juga tidak pelit dan segera memberitahu mereka lokasinya.
__ADS_1
Mereka terkejut dan tidak menyangka kalau ada tempat yang indah di tempat Alvan namun mereka paham karena Sajaya Farm memang baru buka dan beritanya belum sampai ke luar provinsi.
...----------------...
Siang harinya, sebuah mobil berhenti di area parkir. Bayu dan Satria turun dari mobil dan memandangi pintu masuk Sajaya Farm yang penuh dengan orang-orang yang antusias.
"Pak Bayu, sepertinya Sajaya Farm banyak diminati," kata Satria sambil tersenyum melihat situasi di pintu masuk Sajaya Farm.
"Syukurlah jika itu benar. Ayo masuk, kita belum pernah ke sini karena ada banyak sekali pekerjaan yang menumpuk." Bayu menghembuskan napas panjang dan mengeluh kalau atasan memberikan dirinya banyak tugas.
"Hahaha, ayo Pak!" Satria tertawa dan mereka berdua ikut mengantre untuk membeli tiket masuk.
Bayu dan Satria bisa melihat kalau petugas penjual tiket sangat mahir dan sangat cepat. Lalu ada penjaga keamanan di sebelah mereka yang mengamati pengunjung dan siap siaga jika terjadi sesuatu.
Setelah mereka membeli tiket, mereka segera masuk dan seperti biasa lautan bunga matahari membuat mata orang yang melihatnya menjadi cerah. Tapi Bayu dan Satria lebih memperhatikan tupai dan kelinci yang ada di sana.
"Pak Bayu, sepertinya tupai dan kelinci di sana tidak takut dengan manusia? Malahan mereka berinisiatif untuk mendekati mereka," kata Satria dengan nada terkejut.
Bayu mengangguk karena ia juga melihat hal tersebut. Ia juga melihat banyak pengunjung yang memberi mereka makan dan mengambil foto dengan bebas.
Kemudian mereka mengunjungi area hewan ternak dan area sungai. Reaksi mereka sangat terkejut melihat hewan-hewan ternak yang patuh dan bersahabat serta ada banyak ikan yang ukurannya lebih besar daripada ukuran normal.
"Aku rasa sudah saatnya untuk menghubungi Aksa." Bayu mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi nomor Aksa.
"Oh halo, Pak Bayu!" Aksa menjawab telepon dari Bayu dalam hitungan detik saja karena ia memang tidak ada pekerjaan.
"Halo Pak Aksa, kami sedang ada di Sajaya Farm. Apakah Pak Aksa sedang luang? Saya ingin membicarakan beberapa hal." Bayu langsung mengatakan intinya.
"Tentu. Apakah kalian sudah makan siang? Jika belum, bagaimana jika kita bertemu di restoran?" kata Aksa.
"Kebetulan kami belum makan siang, Pak," balas Bayu dengan sopan.
"Baiklah, kalian pergi ke restoran dan katakan kepada pelayan di sana. Aku akan pergi ke dapur untuk memesan makanan, kebetulan ada produk baru di Sajaya Farm," kata Aksa sebelum menutup telepon.
__ADS_1
Bayu dan Satria berjalan menuju restoran dan memberitahu pelayan di sana. Si pelayan mengangguk dan segera menuntun mereka ke ruangan pribadi di lantai dua.
Sementara itu Aksa mengambil daging sapi dan membawanya ke dapur. Ia menyerahkan daging tersebut kepada Indra dan memintanya untuk memasak suatu hidangan.
Aksa lalu pergi menuju ruangan pribadi tempat Bayu dan Satria berada. Setelah berbasa-basi sebentar, Bayu mulai mengatakan niat mereka mengunjungi Sajaya Farm hari ini.
"Pak Aksa, atasan kami bertanya apakah Pak Aksa akan menggunakan seluruh tanah untuk wisata peternakan?" tanya Bayu dengan serius.
"Hm? Aku tidak tahu tapi kemungkinan besar iya. Memangnya ada apa? Apakah atasan ingin melakukan sesuatu?" tanya Aksa dengan ragu.
"Tidak ada. Kami hanya ingin memberi saran kepada Sajaya Farm. Selain itu, pemerintah juga akan mempromosikan Sajaya Farm agar orang-orang di luar provinsi mengetahuinya," jawab Bayu.
Aksa menyentuh dagunya dan berpikir sebentar sebelum menjawab. "Saran ya, baiklah, aku akan mendengarkan saran kalian."
Bayu mengangguk dan memberi Aksa saran. Pertama adalah transportasi, karena tanah di Sajaya Farm sangat luas, tidak memungkinkan pengunjung untuk berjalan kaki dari satu area ke area lain.
Penyediaan transportasi harus dilakukan secepat mungkin. Transportasi yang dimaksud berupa bus besar dan nanti ada halte kecil tempat pemberhentian bus. Masalah apakah akan dikenai biaya, tentu saja tidak.
Saran kedua, membangun area kelas atas. Seperti namanya, area ini hanya bisa dimasuki oleh orang-orang kelas atas yang memiliki banyak uang, status tinggi, atau kehormatan tertentu.
Saran ketiga, menjual produk peternakan secara terpisah. Kebanyakan orang mengincar produk peternakan dibandingkan dengan Sajaya Farm itu sendiri jadi pemerintah memberi saran untuk menjual produk peternakan secara terpisah.
Aksa memiliki senyum tipis di wajahnya. Ia mendengarkan saran yang dikatakan oleh Bayu tanpa menyela yang mana saran tersebut adalah ide-ide yang dihasilkan dari rapat pada atasan Bayu.
"Bagaimana, Pak Aksa?" tanya Bayu dengan penuh harap.
Sejujurnya, Bayu berpikir kalau ketiga saran tersebut adalah ide yang brilian karena bisa menghasilkan banyak uang. Kabupaten Banyumas juga akan mengalami peningkatan yang mana bisa menarik banyak orang lagi.
Bayu berpikir kalau Aksa tidak akan melakukan ketiga saran tersebut karena para atasan sudah berdiskusi dengan waktu yang lama sebelum mencapai hasil yang pasti berupa tiga saran tersebut.
Namin, Bayu yang sedang berpikir seperti itu melihat kalau senyum di wajah Aksa menghilang digantikan oleh wajah datar dan mata yang acuh tak acuh.
"Pak Bayu, tanpa mengurangi rasa hormat, apakah pada atasan berdiskusi dengan serius sebelum menghasilkan tiga saran tersebut?" tanya Aksa dengan nada datar.
__ADS_1
Meskipun Bayu bingung mengapa Aksa mengajukan pertanyaan seperti itu dan mengapa wajah Aksa datar, ia tetap mengangguk dengan pasti.
"Apakah kalian bodoh?" Aksa mengatakan sesuatu yang membuat Bayu dan Satria sangat terkejut sampai mereka berdua berdiri sebagai tiba-tiba.