
Segera setelah itu, Jay memberitahu Aksa lewat pesan kalau Hotel Lunar telah mengirimkan uang untuk membeli material bangunan ke perusahaannya Dito dan mengirim bukti transfernya juga.
Dito juga sudah memberitahu Aksa kalau Hotel Lunar telah mengirim uang. Sekarang Aksa bisa tenang karena uang untuk pembangunan sudah lunas.
Sekarang, Aksa sedang memikirkan hal lain setelah kejadian penyakit antraks terjadi. Dia harus memikirkan sesuatu terhadap tempat pembuangan limbah.
"Tempat pembuangan limbah sudah memenuhi standar, tapi aku harus melakukan sesuatu agar penyakit antraks dan penyakit lain tidak muncul," pikir Aksa sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.
[Host, kenapa tidak membuat pupuk kandang saja? Bukankah pupuk kandang itu berasal dari kotoran hewan juga?]
"Ide yang bagus, tapi untuk apa? Maksudku, kita tidak menanam apapun selain pohon agar Sajaya Farm menjadi rimbun," tanya Aksa terkait alasannya.
[Apakah Host bodoh? Tentu saja Sistem tahu hal itu. Jadi kenapa tidak Host jual saja pupuk tersebut? Sajaya Farm jadi mempunyai penghasilan tambahan.]
Sistem berkata dengan suara yang terlihat kesal karena memiliki host yang bodoh. Aksa hanya tersenyum canggung karena dia memang tidak memikirkan sampai sana.
"Maaf, aku memang bodoh. Kalau begitu aku harus membuat rencana lain terkait masalah limbah ini." Aksa mengangguk dengan serius.
Ada beberapa macam limbah yang dihasilkan oleh peternakan. Pertama adalah limbah padat seperti kotoran hewan, jerami, sisa pakan, dan sampah lainnya yang dihasilkan oleh hewan ternak.
Kedua adalah limbah cair seperti air kotor yang mengandung urine, kotoran, dan zat-zat lain yang dapat mencemari air tanah dan sungai jika tidak dikelola dengan baik.
Ketiga adalah gas metana, gas dari pencernaan hewan ruminansia seperti sapi dan domba. Gas ini merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.
Selain itu masih ada limbah organik seperti sisa-sisa makanan hewan yang tidak dihabiskan dan limbah medis seperti sisa dari pemakaian obat-obatan medis saat perawatan hewan.
"Limbah cair dan gas metana tidak bisa digunakan untuk apapun, jadi aku biarkan saja seperti biasa. Lalu untuk limbah padat, aku perlu untuk membuat pupuk kandang," pikir Aksa.
[Host bisa membeli kotoran hewan di toko game.]
__ADS_1
"Sialan, jangan ganggu aku. Untuk apa aku membuat pupuk organik jika bahan-bahannya saja harus beli!?" Aksa memutar matanya dan tidak menanggapi candaan Sistem.
[Bercanda. Host perlu orang yang ahli atau setidaknya mengerti untuk membuat pupuk. Kita tidak bisa menyuruh karyawan Sajaya Farm untuk melakukan hal ini.]
"Ya, kamu benar. Kurasa kita harus merekrut beberapa orang untuk mengurusi pembuatan pupuk kandang ini." Aksa mengangguk setuju dengan perkataan Sistem.
Karyawan Sajaya Farm juga bekerja di bidangnya masing-masing, mereka tidak bisa langsung dipindahkan ke pekerjaan yang berbeda apalagi tidak ada kaitannya dengan pekerjaan sebelumnya.
Jika memaksa, maka pembuatan pupuk juga akan berakhir dengan kegagalan dan malah akan menimbulkan rugi. Apalagi waktu yang telah digunakan juga terbuang sia-sia.
Jadi, Aksa segera keluar dari kantornya dan pergi ke pasar bakat. Seperti biasa, dia akan turun tangan jika menyangkut perekrutan pekerja karena dia bisa mendeteksi kualitas dari calon karyawan.
Setelah sampai di pasar bakat, Aksa langsung mengaktifkan mata pendeteksi dan segera melihat apakah ada calon karyawan yang berkualitas tinggi.
"Ada cukup banyak calon karyawan kualitas B, tapi mereka tidak mengerti soal pupuk. Bisa dikatakan kalau tidak ada yang mengerti di sini." Aksa duduk sambil memegangi kepalanya yang pusing.
Jadi, Aksa sedang pusing harus bagaimana lagi. Dia akan mencari calon karyawan dengan kualitas C sebagai pilihan terakhir jika tidak ada yang tau soal pupuk lagi.
Tapi pada saat ini, sekelompok orang tua masuk ke pasar bakat. Mereka tidak langsung mencari perusahaan tetapi duduk di dekat Aksa terlebih dahulu.
"Pak Jono, bagaimana ini? Lahan pertanian kita sudah diambil alih, sekarang kita tidak punya pekerjaan lagi." Seroang pria tua berkacamata kotak berkata dengan nada sedih kepada pria beruban.
Jono si pria tua beruban menghela napas dan berkata, "Mau bagaimana lagi, kita harus cari perusahaan atau toko yang mau merekrut kita."
"Tapi memangnya ada yang mau merekrut orang-orang tua seperti kita?" Pria tua berkacamata kotak berkata lagi dengan nada frustasi.
"Coba saja, semoga ada yang mau merekrut kita." Jono hanya bisa menghela napas panjang.
"Benar kata Pak Jono, ada yang mau merekrut kalian." Sebuah suara pria terdengar di telinga sekelompok orang tua.
__ADS_1
Itu adalah Aksa, dia mendengar pembicaraan Jono dan yang lainnya. Matanya menjadi cerah saat mendengar ada kata lahan pertanian, karena itu artinya mereka mengetahui masalah pupuk.
"Siapa kamu, anak muda?" Jono bertanya karena dia tidak mengenal Aksa, bahkan melihatnya saja juga tidak pernah.
"Aksa Wijaya, seorang pemilik tempat wisata. Pak Jono dan yang lain, apakah kalian tahu cara membuat pupuk kandang?" Aksa memperkenalkan diri secara singkat kemudian dia bertanya.
"Pupuk kandang? Maksudmu yang dari kotoran hewan? Itu dengan mudah, kami adalah ahlinya." Jono berkata yang dilanjutkan dengan anggukan kepala oleh yang lain.
"Bagus. Aku sedang ingin merekrut orang-orang yang mengerti soal pupuk, apakah Pak Jono dan yang lain tertarik dengan tawaranku?" Aksa tersenyum dengan lebar karena ada orang yang mengerti soal pupuk.
"Kalau boleh tahu, kamu ini pemilik tempat wisata apa?" Jono tidak langsung menerima tawaran Aksa melainkan bertanya terlebih dahulu.
Aksa mengangguk dengan puas karena Jono bertanya, itu artinya Jono bukanlah orang yang termakan oleh keuntungan dan kesenangan.
"Sajaya Farm, kalian pasti pernah mendengar nama tempat wisata ini." Aksa mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Jono.
"Sajaya Farm!?" Jono dan yang lain terkejut. Mereka juga tahu tentang tempat wisata peternakan yang sangat terkenal di Kabupaten Banyumas yaitu Sajaya Farm.
Aksa tersenyum karena sudah mengharapkan bagaimana reaksi Jono dan yang lain saat mendengar kalau dia adalah pemilik Sajaya Farm..
Jono dan yang lain memang tidak menyangka, karena Aksa masih sangat muda dan tidak banyak anak muda yang melakukan bisnis apalagi sampai sesukses itu.
Karena kebanyakan anak muda zaman sekarang mungkin masih kuliah atau sedang belajar atau juga sedang magang di perusahaan tertentu.
"Bagaimana? Apakah Pak Jono dan yang lain menerima tawaranku?" Aksa tersenyum dengan santai karena sudah tahu keputusan Jono seperti apa.
"Kami setuju." Jono dan yang lain mengangguk dengan serius karena mereka membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga.
Dan sekarang ada orang baik hati seperti Aksa yang menawarkan mereka pekerjaan. Apalagi pekerjaannya adalah sesuatu yang mereka kuasai.
__ADS_1