
Malam hari, setelah keluarga lima orang makan malam, Aksa memanggil kedua orang tuanya karena ia akan membahas sesuatu yang serius.
Aji dan Ani yang melihat ekspresi serius Aksa saling memandang, mereka berpikir kalau ada sesuatu yang mengkhawatirkan dan mereka juga berpikir kalau ini terkait dengan bisnis yang Aksa lakukan.
Elvira dan Elvina berada di tangga, mereka menjulurkan kepalanya dari balik tembok untuk mengamati dan mendengarkan pembicaraan kakaknya dan kedua orang tua.
"Ayah, Ibu. Berapa hutang yang dimiliki oleh keluarga?" Aksa langsung mengajukan pertanyaan yang ia inginkan tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Nak, ada apa? Jika kamu butuh uang, ibu masih memiliki tabungan di sini." Ani berkata dengan nada khawatir karena ia berpikir kalau bisnis Aksa gagal.
"Ya, bicarakan saja kepada kami. Tidak apa-apa jika itu gagal, anggap saja itu pelajaran," angguk Aji.
"Ah? Apa maksud Ayah dan Ibu?" Aksa tercengang karena ia belum berbicara namun kedua orang tuanya malah berpikir kalau bisnisnya gagal.
Bahkan Elvira dan Elvina yang sedang menguping mencoba untuk tidak tertawa karena mereka tahu Aksa ingin membahas apa dengan kedua orang tuanya.
"Tidak? Bukankah bisnismu gagal?" tanya Ani dengan nada curiga.
Aksa merentangkan tangannya dan berkata dengan nada tak berdaya, "Tentu saja tidak, Bu. Aku ingin membicarakan sesuatu yang lain dan ini adalah sesuatu yang membahagiakan."
Aji dan Ani menghela napas lega dan menepuk dada mereka setelah mendengar kalau bisnis Aksa tidak gagal dan dia ingin membicarakan sesuatu yang membahagiakan.
"Jadi, Ayah, Ibu, berapa hutang kita?" tanya Aksa lagi.
Ani berdiri dan pergi ke kamarnya, lalu saat ia kembali, ia membawa sebuah buku panjang dan menyerahkannya kepada Aksa.
Aksa tahu kalau itu adalah buku yang mencatat hutang-hutang keluarga, ia mengambil buku itu dan membukanya. Lalu ia tercengang dengan jumlah hutang yang dimiliki oleh keluarga mereka.
Karena total hutang keluarga mereka adalah 20 juta dan Aksa tercengang karena tidak mungkin ada orang yang akan meminjamkan uang begitu banyak kepada keluarganya yang miskin yang tidak memiliki jaminan.
"Ayah, Ibu, bagaimana bisa hutang kita ada banyak? Maksudku, bukankah kita tidak memiliki jaminan untuk berhutang banyak uang?" tanya Aksa dengan nada bingung.
Namun sebelum kedua orang tuan Aksa menjawab, Aksa menyadari sesuatu. "Jangan bilang, jaminannya adalah rumah ini?"
Aji dan Ani mengangguk dengan berat. Mereka juga tahu kalau keluarga mereka tidak memiliki sesuatu yang berharga sebagai jaminan kecuali rumah mereka.
"Ya, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang hanya rumah ini yang berharga." Aksa mengeluarkan ponselnya dan mentransfer uang sebesar 30 juta ke rekening ayahnya.
Aji mendengar suara notifikasi ponsel, ia menyalakan ponselnya dan melihat kalau ada notifikasi dari bank kalau ada orang yang mentransfer uang yang sangat banyak
"Apa!?" Aji berteriak dengan keras yang membuat Ani menatapnya dengan marah.
__ADS_1
Lalu setelah Aji memperlihatkan notifikasi dari bank di ponselnya kepada Ani, reaksi Ani bahkan lebih keras dibandingkan dengan Aji.
"Nak, dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini!? Kamu tidak melakukan sesuatu yang ilegal bukan?" Ani segera bertanya kepada Aksa dengan nada cemas karena mengira kalau putranya melakukan sesuatu yang ilegal.
Aji juga mengangguk dan bertanya kepada Aksa, "Nak, apakah organ dalam tubuhmu masih lengkap? Tidak ada yang kurang bukan?"
Aksa merasa hangat di hatinya mendengar pertanyaan dari ibunya namun ia tidak bisa berkata-kata dengan pertanyaan konyol dari ayahnya yang mengira kalau ia menjual organ dalam dengan harga mahal.
Kemudian Aksa segera menjelaskan kalau dirinya mendapatkan uang sebanyak itu dari menjual ikan arwana super red sebelumnya dengan harga 35 juta rupiah.
Orang tua Aksa terkejut setengah mati karena harga satu ikan bisa semahal itu. Mereka berdua adalah orang yang sudah tua, jadi wajar saja bila mereka tidak mengetahui hal-hal seperti itu.
Aksa juga mengetahui kalau hutang keluarga digunakan untuk biaya kuliah Alvan, biaya sekolah Elvira dan Elvina, dan hutang pembayaran motor.
Keluarga mereka memiliki satu motor dan itu digunakan oleh orang tua Aksa untuk pergi bekerja. Aksa dan adik-adiknya biasa menggunakan sepeda sebagai transportasi.
Dan karena sekarang hutang sudah diselesaikan, kedua orang tua Aksa mulai bertanya kepada dirinya kapan ia akan menikah dan Aksa hanya bisa terdiam karena usianya masih tergolong muda namun sudah ditanyai tentang pernikahan.
...----------------...
"Pak Aksa, silakan tanda tangan di dokumen ini." Bayu menyerahkan sebuah dokumen kepada Aksa.
"Ya." Aksa mengambil pena dan menandatangani dokumen itu.
Setelah menandatangani dokumen, Aksa segera memberitahu rencana pembangunan tempat wisata peternakan dan menjelaskan area-area yang akan dibangun.
"Taman bunga? Itu ide yang bagus. Pengunjung akan tertarik dengan penampilan bunga saat masuk dari gerbang masuk," angguk Bayu yang menyetujui rencana Aksa untuk membangun taman bunga.
Mungkin kurang tepat jika taman bunga karena apa yang ingin Aksa buat adalah lautan bunga seluas 2 hektare atau setara dengan 2 km².
Aksa juga sudah memutuskan kalau ia akan menanam bunga matahari karena bunga itu cocok dengan nuansa peternakan.
Setelah itu Aksa dan Bayu pergi ke lahan kosong milik Aksa bersama dengan beberapa orang dari biro pariwisata untuk mensurvei lokasi karena mereka akan langsung memulai pembangunan.
...----------------...
"Pak Aksa, Bisakah Anda melihat desain pembangunan ini?" Seorang pria paruh baya menghampiri Aksa dan menyerahkan sebuah kertas desain.
Pria paruh baya itu bernama Dito, ia adalah orang dari perusahaan konstruksi yang diperkenalkan oleh Bayu dan dipekerjakan oleh Aksa untuk membantu mendesain dan membangun infrastruktur di sini.
"Baiklah, biarkan saya melihatnya dulu." Aksa mengangguk dan mulai melihat desain pembangunan.
__ADS_1
Karena ia akan membangun tempat wisata peternakan, maka desainnya tidak boleh yang modern dan harus benar-benar melambangkan sebuah peternakan. Oleh karena itu Aksa meminta kepada Bayu untuk diperkenalkan kepada seorang ahli desain.
Aksa melihat desain yang dibuat oleh Dito dengan tatapan penuh minat karena desain Dito sangatlah bagus. Desainnya berciri khas Indonesia dan tidak terlalu modern namun tidak terlalu tradisional juga.
Desainnya juga di dominasi dengan kayu, dan hanya menggunakan beton serta semen sebagai pondasi saja. Jadi pengunjung bisa merasakan kalau peternakan ini sangatlah bagus.
"Pak Dito, desain Anda sangatlah hebat. Langsung saja bangun sesuai dengan desain Anda." Aksa puas dengan desain Dito dan langsung mengaplikasikannya.
Dito tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih, Pak. Baiklah, saya akan langsung berkoordinasi dengan tim saya."
Setelah menyelesaikan semua urusan, Aksa kembali ke rumah untuk beristirahat. Namun sebelum itu, ia masuk ke dalam peternakan game untuk mengambil telur ayam dan susu murni.
Ayam Aksa kini sudah mencapai 100 ekor dan sapi perahnya juga sudah ada 20 ekor berkat poin miliknya yang sudah sangat banyak.
Namun level Aksa masih tetap di level tiga, dan tidak ada perubahan lain. Selama waktu luang, Aksa juga mencoba untuk memancing di kolam keberuntungan namun yang ia dapatkan hanyalah ikan biasa tanpa atribut tambahan.
"Sistem, bisakah tumbuhan di tanam di sini?" tanya Aksa kepada Sistem.
Aksa berencana untuk menanam bunga matahari di sini agar bunga matahari bisa memiliki atribut yang pasti akan menguntungkan untuk tempat wisata peternakannya.
Namun, saat Aksa berharap kalau ia bisa menanam bunga matahari di peternakan game, sistem memberikan jawaban yang membuat Aksa kecewa.
[Tidak.]
"Yah, wajar saja karena ini adalah peternakan. Tapi Sistem, bisakah aku membawa tupai dan hewan kecil lainnya ke sini? Kau tahu bukan kalau di lautan bunga aku akan melepaskan beberapa hewan kecil," kata Aksa.
[Bisa. Selama ini adalah hewan dan bukan tumbuhan, maka bisa di bawa ke dalam peternakan game dan menghasilkan atribut.]
Aksa tersenyum gembira karena ia berhasil. Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, Aksa keluar dari peternakan game dan menyalakan komputernya untuk membeli hewan-hewan kecil.
Aksa berencana untuk membeli banyak tupai dan hewan kecil lainnya lalu memasukan mereka semua ke dalam peternakan game untuk berkembang biak karena hewan yang masuk tidak akan mendapatkan atribut namun hewan yang lahir bisa.
Sistem juga menjelaskan hewan dari dunia nyata yang dimasukkan ke dalam peternakan game sedikit berbeda dengan hewan yang dibeli di toko sistem.
Itu artinya hewan dari dunia nyata bisa mati di sana dan juga bisa berkembang biak. Lalu bagaimana bisa Aksa akan memberi mereka makan? Karena laju waktu yang berbeda.
Itu mudah, Sistem menjelaskan kalau Aksa bisa membeli mesin pakan otomatis untuk hewan-hewannya. Jadi Aksa hanya tinggal memasukkan makanan ke dalam mesin dan mesin itu akan mengeluarkan makanan sesuai dengan waktu yang telah diatur.
Aksa sangat berterima kasih kepada Sistem dewa ini karena segala urusannya dipermudah oleh Sistem. Meskipun Aksa terkadang tidak bisa berkata-kata karena Sistem ini sedikit menyebalkan.
Tupai adalah salah satu hewan eksotis yang bisa dipelihara di rumah. Jadi Aksa bisa membeli tupai di situs penjualan hewan resmi dan setelah membayar uang muka, diperkirakan akan datang dua hari lagi karena Aksa menggunakan pengiriman super cepat.
__ADS_1
"Sekarang, mari kita tunggu sampai pembangunan selesai," pikir Aksa.