
"Jadi namamu Aksa ya," kata Ahmad sambil tersenyum lebar.
Aksa duduk dalam diam, bukan karena dia mengabaikan perkataan Ahmad, tapi karena dia gugup. Karena orang yang duduk di seberangnya merupakan Bupati Kabupaten Banyumas.
Kembali ke beberapa saat sebelumnya, saat Aksa terkejut dengan identitas orang gang ingin bertemu dengannya, Roni menjelaskan alasan mengapa Ahmad ingin bertemu dengan Aksa.
Dia langsung paham dengan apa yang terjadi, intinya adalah Vincent yang sedang depresi sedikit pulih setelah meminum susu coklat yang ia buat dari bubuk coklat dan susu sapi.
Itu wajar saja karena efek dari bubuk coklat adalah mengurangi depresi +2, yang artinya adalah orang yang meminumnya tidak menjadi depresi lagi, atau setidaknya pulih sedikit dari depresinya.
Kembali ke waktu sekarang, Ahmad mengatakan banyak hal mengenai kondisi Vincent yang sebenarnya kepada Aksa agar dia paham maksud tujuannya.
"Halo, Pak Ahmad. Nama saya Aksa Wijaya." Aksa menundukkan kepalanya untuk memperkenalkan dirinya kepada Amad.
"Aksa, karena situasinya menyangkut putraku, aku akan berterus terang. Maukah kamu menjadi chef pribadi Vincent? Aku akan membayar mahal." Ahmad menawarkan Aksa suatu tawaran yang mengejutkan.
Bahkan Roni terkejut dengan tawaran itu karena sangat menggiurkan. Selain gaji yang besar, bisa menjadi chef pribadi anak dari seorang bupati adalah sesuatu yang terhormat.
Aksa akan menjadi orang terpandang saat menerima tawaran ini karena bekerja di keluarga bupati, apalagi pekerjaan ini disediakan khusus untuk Vincent.
"Maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, saya harus menolak tawaran dari Anda." Aksa menundukkan kepalanya lagi untuk menolak tawaran dari Ahmad yang menggiurkan itu.
Roni, Ahmad, dan Diah sangat terkejut karena Aksa langsung menolak tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Tapi mereka tidak marah, pasti ada alasan mengapa Aksa menolaknya.
Jadi, Ahmad dengan penasaran bertanya, "Alasan apa yang membuatmu menolak tawaran seorang bupati? Apakah kamu perlu gaji yang lebih besar?"
Aksa tersenyum sopan dan menjawab, "Tentu saja bukan, saya bukan orang yang serakah akan uang. Saja adalah pemilik tempat wisata peternakan yang bernama Sajaya Farm."
"Saya tidak bisa meninggalkan Sajaya Farm untuk bekerja sebagai chef pribadi anak Bapak. Itu adalah tempat wisata yang saya kembangkan sendiri dengan melalui banyak proses."
"Lagipula, tujuan saya adalah menjadikan Sajaya Farm sebagai tempat wisata peternakan yang terkenal setingkat dengan Raja Ampat atau Pulau Komodo."
Perkataan Aksa membuat mereka bertiga lebih terkejut lagi karena dia bisa menolak tawaran Ahmad dengan kepala dingin, bukan semata-mata menolak untuk kesopanan.
__ADS_1
Ahmad menjadi tertarik dengan Sajaya Farm yang dikatakan oleh Aksa. Karena menurutnya, Aksa adalah pria muda yang hebat, pastinya Sajaya Farm juga memiliki sesuatu yang menarik.
"Jika itu keputusanmu, maka tidak apa-apa. Tapi, apakah kamu mempunyai cara untuk menyembuhkan depresi Vincent?" Ahmad bertanya dengan ekspresi dan suara yang sangat serius.
"Ada, itu adalah bubuk coklat yang saya miliki. Rasanya sangat enak, apalagi efeknya yang bisa membuat orang lebih tenang dari depresinya," jawab Aksa dengan serius juga.
Ahmad dan Diah memiliki mata yang berbinar-binar saat mendengar jawaban Aksa yang mempunyai sesuatu untuk menyembuhkan depresi Vincent.
Ahmad menenangkan dirinya dan bertanya kepada Aksa. "Bisakah aku membelinya darimu?"
Aksa tersenyum cerah dan berkata, "Jika Bapak mau, saya bisa memberikannya. Lagipula, ini untuk kesembuhan putra Bapak."
Ahmad juga tersenyum karena tahu kalau tidak ada makan siang gratis di dunia ini. Dia bertanya, "Baiklah, langsung katakan saja apa yang kamu butuhkan."
"Terima kasih, saya hanya ingin meminta Bapak mempromosikan Sajaya Farm. Seorang bupati mempromosikan tempat wisata, pasti efeknya akan luar biasa," kata Aksa sambil tersenyum licik.
"Hm? Itu mudah, aku setuju." Ahmad langsung setuju karena itu merupakan persyaratan yang sangat mudah baginya.
Namun Ahmad sedikit terkejut karena Aksa meminta sesuatu terkait Sajaya Farm, bukan untuk diri sendiri, dan permintaan ini sangat sederhana, bukan permintaan yang berlebihan.
Roni yang dari tadi tidak berbicara terdiam dengan situasi di depannya. Dia tidak tahu harus berkata apa karena melihat seorang pria muda bisa membuat kesepakatan dengan seorang bupati.
Hanya Aksa yang bisa melakukan hal ini, orang lain harus melewati proses yang ketat jika ingin bekerja sama dengan bupati dan kerja samanya juga bukan sembarang kerja sama bisnis.
"Sepertinya aku mengenal seseorang yang namanya akan terkenal di masa depan nanti," pikir Roni sambil mengelus-elus janggutnya.
...----------------...
Acara perjamuan berlangsung dengan cepat, pada pukul 11 malam, pada tamu mulai meninggalkan mansion satu per satu, dan setengah jam kemudian, semua tamu sudah pulang.
Aksa sedang ada di dapur untuk membereskan barang-barangnya bersama Indra dan yang lain. Namun hanya mereka yang ada di dapur karena restoran atau toko lain memutuskan untuk beres-beres besok pagi.
Roni memang sudah mengizinkan untuk pulang terlebih dahulu dan bisa beres-beres esok hari. Tapi, Aksa tidak ingin pekerjaannya menumpuk, jadi dia langsung beres-beres sekarang.
__ADS_1
"Pak Indra, Bapak dan yang lainnya pulang saja. Aku sudah menyewa supir untuk mengirim barang-barang ini ke Sajaya Farm, lagipula, sekarang memang sudah larut malam." Aksa berkata sambil melihat jam tangannya.
"Baiklah kalau begitu, kami pulang terlebih dahulu Bos." Indra mengangguk dengan lemas karena dia memang sudah kelelahan.
Setelah Indra dan yang lain pergi, Aksa menunggu supir yang dia sewa datang. Setelah beberapa saat, sang supir sewaan datang, Aksa dan dia langsung pergi ke Sajaya Farm.
Aksa tidak pamit kepada Roni ataupun yang lain karena mereka sudah beristirahat. Tini juga sedang melakukan pekerjaannya, jadi Aksa hanya pamit dengan cara mengirimkan pesan.
Dalam waktu 15 menit, mobil pickup sampai di Sajaya Farm. Aksa membayar supir sewaan, meminta penjaga keamanan untuk menurunkan barang-barangnya besok pagi saja, lalu kembali ke rumah dengan motor roda tiganya.
Aksa melewati jalan yang cukup sepi karena dia sedang kelelahan dan juga mengantuk, dia takut terjadi sesuatu jika dia lewat jalan yang ramai.
"Hari yang melelahkan, tapi itu sepadan jika melihat keuntungannya. Aku berhasil membuat kesepakatan dengan bupati, dengan cara ini Sajaya Farm akan melambung tinggi," pikir Aksa.
Namun pada saat ini, ada mobil off-road yang melaju dengan kencang di persimpangan di depannya. Aksa tidak tahu karena mobil tersebut tidak menyalakan lampu depan.
Aksa hanya mengira kalau suara mobil itu dari rumah seseorang, itulah mengapa Aksa tidak melihat-lihat saat melewati persimpangan di depan yang membuatnya celaka.
Kedua kendaraan bertemu di titik simpang, mobil off-road yang ukurannya lebih besar menabrak motor roda tiga yang dikendarai oleh Aksa dan membuat suara yang sangat keras karena kecepatannya yang cukup tinggi.
"Apa-apaan!?" Aksa terkejut melihat mobil yang datang dari arah kirinya, dia ingin menghindar namun apa daya jarak antara mereka sangat dekat dan sudah terlambat untuk menghindarinya.
Dan kemudian, motor roda tiga yang dikendarai Aksa terguling-guling dan berhenti saat menabrak pagar pekarangan, sementara mobil off-road itu hanya terguncang sedikit, lalu pergi.
Aksa yang terpental juga terguling-guling di atas aspal yang tidak rata, dia berhenti saat tubuhnya menabrak pohon besar di dekat pekarangan.
"Sialan!" Aksa tidak bisa mengeluarkan suaranya saat ini dan hanya bisa mengumpat di dalam hatinya.
Meskipun fisiknya sudah ditingkatkan, tapi dia ditabrak oleh mobil off-road yang kekuatannya tidak masuk akal karena kecepatannya yang cukup tinggi.
Justru Aksa beruntung karena dia tidak langsung tertabrak mobil, melainkan hanya terpental karena mobil off-road nya menabrak motor roda tiganya.
Kesadaran Aksa berangsur-angsur memburuk, dia ingin mengeluarkan ponselnya untuk menelepon polisi tapi tidak bisa karena tangannya sangat sakit.
__ADS_1
kemudian, setelah beberapa menit, Aksa yang sudah pasrah dan hanya bisa menatap bintang di langit kehilangan kesadarannya.