Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Membuat Puding Bersama Elvira dan Elvina


__ADS_3

Setelah memeriksa, ternyata tadi adalah polisi yang sedang mengawal ambulans. Itulah mengapa sirine polisi menghilang dengan cepat karena mereka harus buru-buru pergi ke rumah sakit.


Aksa menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena tidak tahu harus bagaimana sekarang. Anto sudah kabur sangat jauh sehingga dia sudah tidak bisa mengejarnya lagi.


"Kalau begitu, hey, bangun." Aksa mengalihkan pandangannya ke arah pria berambut kuning yang pingsan dan membangunkannya dengan menendang pinggangnya.


"Akh!" Pria berambut kuning terbangun karena rasa sakit yang cukup parah di bagian pinggang kanannya.


Namun saat dia melihat wajah Aksa yang menurutnya menyeramkan, dia pingsan lagi. Aksa menghembuskan napas panjang dan membangunkannya lagi dengan beberapa pukulan.


Baru setelah setengah jam pingsan bangun dan seterusnya pria berambut kuning itu tidak pingsan lagi. Aksa menatapnya dan bertanya, "Katakan dengan jujur, siapa yang menyuruh kalian untuk menyerangku?"


"Ma-maafkan aku! Aku tidak akan melakukan hal yang salah lagi!" Pria berambut kuning malah berteriak dengan ketakutan yang membuat Aksa kesal dan meninju wajahnya lagi.


"Katakan!" Aksa menatap pria berambut kuning dengan mata tajam dan dingin.


"Ba-baik! Kevin, Kevin adalah orang yang menyuruh geng banteng putih untuk menyerangmu! Dia mengatakan untuk mematahkan tulangmu agar dikirim ke rumah sakit!" jawab pria berambut kuning dengan nada bergetar.


"Kevin? Biar ku pastikan, apakah Kevin yang kamu maksud adalah anak dari Albar pemilik perusahaan investasi yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat?" tanya Aksa untuk meminta konfirmasi agar tidak salah orang.


Meskipun Aksa sudah tahu siapa Kevin karena hanya orang itu dan Akbar yang bermusuhan dengan Aksa. Namun dia tetap meminta konfirmasi agar semakin jelas.


"Ya! Itu dia!" angguk pria berambut kuning dengan cepat seperti burung pelatuk.


"Baiklah." Aksa berdiri dan menepuk-nepuk debu di pakaiannya. Kemudian dia menaiki motor roda tiga dan pulang ke rumah meninggalkan preman geng banteng putih yang terkapar.


"Sepertinya kami menyinggung orang yang salah," pikir pria berambut kuning sebelum dia pingsan karena ada banyak luka di tubuhnya.


...----------------...


Setelah setengah jam, Aksa kembali ke rumahnya dengan selamat tanpa ada yang mengganggunya lagi. Dia memarkirkan motor roda tiganya di depan garasi karena di dalam sudah ada mobil barunya.


Meskipun garasi rumahnya bisa menampung dua mobil besar, tapi dia malas memasukkan motor roda tiganya karena akan dipakai lagi saat pagi hari.


"Aku pulang." Aksa melepas sepatunya dan berjalan menuju ruang keluarga. Di sana ada Elvira dan Elvina yang sedang menonton televisi.


Aksa membaringkan tubuhnya di sofa empuk dengan nyaman, lalu ia bertanya, "Ke mana Ayah dan Ibu? Tidak biasanya mereka tidak ada di ruang keluarga."

__ADS_1


"Ayah dan Ibu pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu. Mereka tepat baru saja pergi sebelum Kakak pulang ke rumah," jawab Elvira sambil makan camilannya.


"Eh~" Aksa menjawab dengan 'Eh' panjang lalu diam lagi.


Setelah beberapa saat, Aksa berkata lagi, "Apakah kalian ingin puding?" Dia bertanya kepada kedua adiknya yang sedang menonton televisi.


"Puding!?" Elvira dan Elvina memiliki mata yang cerah saat mendengar nama dessert dari mulut Aksa.


"Yah, tidak perlu menjawab pun aku sudah tahu kalian menginginkannya. Ayo buat saja, aku malas keluar untuk membelinya." Aksa berdiri, dia melepas mantelnya dan berjalan menuju dapur diikuti oleh kedua adiknya.


Setelah memakai celemek, Aksa mulai mengeluarkan bahan-bahannya. Dia akan membuat puding karamel yang cukup populer di Jepang karena ada banyak orang yang menjualnya di sana.


Bahan-bahannya adalah telur, susu cair, susu kental manis, vanili, dan gula pasir. Bahannya memang cukup sederhana namun puding yang akan dihasilkan memiliki rasa yang luar biasa.


"Agar cepat selesai, kalian bantu aku untuk membuat karamelnya. Panaskan panaskan beberapa sendok gula sampai berwarna kecoklatan lalu tambahkan air panas secukupnya, jangan sampai terlalu encer," kata Aksa.


"Siap, Bos!" Elvira dan Elvina melakukan hormat militer dan segera melakukan apa yang Aksa minta.


Aksa mengambil wadah dari rak bawah, dia memasukkan beberapa telur ayam ke dalamnya dan dia aduk. Susu cair dan susu kental manisnya dipanaskan di panci selama beberapa saat.


Kemudian susu yang sudah dipanaskan dicampur dengan telur yang sudah diaduk sedikit demi sedikit. Tidak lupa dicampurkan dengan vanili secukupnya agar baunya harum.


"Kerja bagus, tuangkan ke dalam ramekin. Kalian tahu ramekin bukan?" tanya Aksa dengan ragu.


"Tentu saja kami tahu! Ramekin itu wadah kecil yang biasanya digunakan untuk makanan!" teriak Elvina dengan bangga.


Aksa tersenyum dan mengangguk, lalu ia berkata, "Bagus, lalu tunggu apa lagi? Segera lakukan."


Elvira dan Elvina menuangkan karamel cair yang sudah siap ke dalam beberapa ramekin karena mereka membuat karamelnya cukup banyak.


Bagian Aksa juga sudah selesai, setelah disaring dua kali, Aksa menunagkam adonan puding ke dalam semua ramekin dengan lambat agar karamel di bawahnya tidak tercampur dengan adonan puding.


"Masukkan ke dalam panci, kita perlu mengukusnya," pinta Aksa kepada kedua adiknya.


Elvira dan Elvina mengangguk, mereka menyiapkan panci besar yang sudah diisi dengan air. Kemudian mereka letakan di atas kompor dengan api besar agar airnya panas terlebih dahulu.


"Kakak, sudah," kata Elvira kepada Aksa.

__ADS_1


"Ah, iya." Aksa mengangguk, dia menaruh kain basar di dasar kukusan. Kemudian dia menaruh semua ramekin yang berisi adonan puding ke dalam.


"Mari tunggu 30 menit," kata Aksa setelah menutup panci.


"Ay ay!" kata Elvira dan Elvina yang tidak sabar sampai pudingnya matang.


Mereka bertiga kembali ke ruang keluarga untuk menonton acara televisi. Kesukaan Elvira dan Elvina adalah acara komedi luar negeri karena bisa mengasah Bahasa Inggris mereka.


Aksa tidak memiliki acara favorit karena dia jarang menonton televisi setelah masuk SMP. Karena saat itu mereka hanya mempunyai satu televisi usang yang digunakan oleh iyah dan ibunya.


Bahkan saat teman-temannya berbicara tentang film atau acara televisi yang sedang populer, Aksa tidak ikut berbaur dan hanya diam sambil mendengarkan karena dia tidak tahu apa-apa.


Tidak sampai 15 menit kemudian, kedua orang tua mereka kembali sambil membawa beberapa tas di tangan mereka. Sudah menjadi kebiasaan untuk membawa tas pribadi saat berbelanja karena mereka ingin mengurangi penggunaan kantung plastik.


"Ayah! Ibu!" Elvira dan Elvina membantu mereka membawa barang belanjaan. Aksa juga ingin membantu tapi kedua adiknya sudah membawa semua tas belanjanya.


Aji duduk bersama Aksa sambil berbincang-bincang sementara Ani dan dua adik Aksa membereskan barang belanjaan dan menaruhnya di tempatnya.


"Hm? Kalian sedang memasak apa?" tanya Ani yang melihat panci besar dengan uap yang keluar dari celah tutup panci.


"Kami sedang mengukus puding! Kakak yang membuatnya tadi! Kami berdua membantunya," jawab Elvina.


"Oh!" Ani menganggukkan kepalanya dan melanjutkan beberes barang belanjaan.


15 menit berlalu dalam sekejap, Aksa berjalan menuju dapur dengan dua pengikut kembarnya. Dia membuat tutup panci dan mengambil ramekin dengan capitan besar karena itu sangat panas.


Elvira dan Elvina membantu Aksa mengeluarkan puding karamel dari ramekin ke piring kecil dengan cara menggunakan pisau untuk di pinggir puding agar tidak menempel dan tidak sulit untuk dikeluarkan.


"Sudah selesai!" teriak Elvira dan Elvina dengan gembira.


"Bawa ke ruang keluarga, biarkan Ayah dan Ibu mencobanya juga," kata Aksa yang sudah menyendok puding karamel miliknya.


Satu keluarga kemudian memakan puding karamel bersama sambil menonton televisi. Mereka sangat harmonis dan berbincang-bincang dengan canda tawa.


Setelah itu, Ani dan Aji segera mempersiapkan makan malam. Aksa ingin membantu tapi dihentikan oleh mereka dengan alasan kalau Aksa sudah bekerja seharian dan sudah lelah.


"Baiklah." Aksa tersenyum tulus dan merasa hatinya menghangat karena perhatian ayah dan ibunya.

__ADS_1


Kemudian satu keluarga makan malam bersama di ruang makan, seperti biasa Elvina dan Aksa berebut makanan sementara Elvira memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil makanan yang ia mau.


Aji dan Ani hanya tertawa dan tidak menghentikan pertengkaran mereka karena sudah biasa dan karena dengan ini, suasana makan malam juga menjadi lebih hangat.


__ADS_2