
Lisa datang ke kantor Aksa bersama timnya. Aksa juga tidak bertele-tele dan langsung memberi tugas kepada mereka untuk merekam video pemberitahuan kalau ada area dan produk baru.
Seperti sebelumnya, video langsung diedit dengan cepat setelah merekam. Tepat pukul 8 pagi saat Sajaya Farm buka, ponsel orang-orang yang mengikuti akun Sajaya Farm berbunyi.
Mereka mengklik dengan rasa penasaran karena jarang-jarang Sajaya Farm mengunggah video dan biasanya itu berupa video pemberitahuan mengenai sesuatu yang penting.
Kemudian saat mereka mengklik video yang diunggah oleh Sajaya Farm, Lisa muncul di dalam video dengan senyum indahnya yang membuat para pria terpesona.
"Halo teman-teman, Lisa di sini! Lisa ingin memberitahu kalau Sajaya Farm telah membuka area baru, dan apa area barunya? Itu adalah area hewan ternak sapi potong dan ayam potong!"
"Teman-teman bisa berinteraksi dengan mereka secara gratis dan seperti yang teman-teman tahu kalau hewan-hewan di Sajaya Farm sangat ramah!"
"Lalu teman-teman pasti bisa menebak produk barunya, benar! Itu adalah daging sapi dan daging ayam! Seperti biasa produk peternakan Sajaya Farm itu lebih enak dibandingkan dengan yang ada di pasaran."
"Teman-teman yang penasaran bisa langsung berkunjung ke Sajaya Farm! Kebetulan saat video ini diunggah, Sajaya Farm juga baru buka! Lalu, sampai jumpa dilain waktu!"
Seperti yang diharapkan oleh Aksa, orang-orang memang agak jenuh dengan produk peternakan Sajaya Farm dan saat mendengar ada area dan produk baru, mereka menjadi bersemangat.
Namun seperti biasanya, ada dua tipe orang yang setelah melihat video pemberitahuan. Pertama adalah orang yang mendengarkan informasi yang diberikan oleh Lisa dan yang kedua adalah orang yang melihat kecantikan Lisa.
Tapi tidak peduli apa perbedaannya, kedua tipe orang tersebut tetap pergi ke Sajaya Farm. Meskipun hari ini bukanlah hari libur, masih banyak orang yang datang ke Sajaya Farm.
Namun ini masih pagi dan bisa dipastikan akan lebih ramai lagi saat siang hari. Aksa yang melihat banyak pengunjung yang masuk menjadi gembira.
...----------------...
Dua mobil mewah muncul di depan Sajaya Farm, Galih yang melihat hal tersebut langsung mengarahkan mereka ke area parkir khusus untuk tamu penting karena ia tahu orang yang mengemudikan mobil mewah pasti orang kaya.
Galih sudah diberitahu oleh Aksa untuk berhati-hati jika ada mobil mewah yang datang. Galih bahkan membuat sebuah tanda yang bertuliskan 'jangan sentuh, mobil mahal' agar orang bisa berhati-hati.
Empat orang turun dari dua mobil tersebut, Galih melihat mereka dan mengenali salah satu dari keempat wanita karena ia pernah melihatnya beberapa hari yang lalu. Wanita tersebut adalah Dewi, istri Eddy.
Dewi melihat Galih dan bertanya dengan ragu-ragu, "Kalau tidak salah, namamu Galih bukan?"
"Benar, Bu. Nama saya Galih." Galih mengangguk dan berkata dengan nada hormat dan sopan karena ia tahu identitas wanita di depannya.
__ADS_1
"Ternyata benar. Apakah Aksa ada di sana?" tanya Dewi.
Galih mengangguk dan bertanya, "Bos ada, apakah perlu saya panggil, Bu?"
Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu. Aku akan berbicara dengan Aksa nanti, sampai jumpa."
Dewi dan ketiga wanita lain yang merupakan sahabatnya segera mengantre untuk membeli tiket. Meskipun mereka orang kaya, mereka bersikap dengan masuk akal dan tidak menggunakan identitas untuk menyerobot antrean.
"Dewi, jadi ini Sajaya Farm yang kamu katakan saat itu?" tanya wanita berkacamata yang bernama Indah.
"Ya, tempat ini cocok ingin bersantai. Apalagi produk-produk peternakan di sini sangat enak! Dengan harga diriku, aku berani jamin kalau kalian tidak akan kecewa," jawab Dewi dengan semangat.
"Yah, jangan seperti itu. Kami percaya padamu, dan aku hanya bertanya untuk memastikan," balas Indah sambil tersenyum.
Dewi mengajak sahabatnya datang ke Sajaya Farm karena ia melihat video pemberitahuan di akun Sajaya Farm. Ia yang pernah mencoba daging ayam di sini langsung menghubungi sahabatnya.
Giliran mereka untuk membeli tiket, lalu mereka masuk ke dalam Sajaya Farm. Dewi sudah melihatnya namun ketiga sahabatnya terpukau dengan lautan bunga matahari dan tupai yang berinteraksi dengan pengunjung lain.
"Tupai! Apakah mereka dibebaskan?" tanya Indah.
"Kelinci? Di mana?" tanya seorang wanita dengan rambut pendek yang bernama Citra.
"Nanti kamu bisa menemuinya. Oh benar putrimu menyukai kelinci bukan?" Dewi teringat kalau putri Citra menyukai kelinci.
Meskipun mereka sahabat, usia mereka berbeda-beda. Dewi adalah uang paling tua dengan umur 40 tahun lebih dan Citra adalah uang paling muda yang baru berumur awal 30an.
Dewi memang sudah mempunyai cucu namun itu karena anaknya menikah saat masih sangat muda. Jika menurut usia rata-rata, maka wanita seusianya masih belum memiliki cucu.
"Ya, aku akan mengajak putriku nanti," angguk Citra.
Mereka berempat kemudian mengunjungi area lain, setelah itu mereka memesan ruangan pribadi di lantai dua restoran dan memesan hidangan dari daging sapi dan daging ayam yang baru ditambahkan hari ini.
...----------------...
Di kantor Aksa.
__ADS_1
Aksa sedang menelepon Galih saat ini dan Galih memberitahu Aksa sesuatu. "Hm? Benarkah? Oh, baiklah. Terima kasih."
"Ada apa?" tanya Sarah yang penasaran.
Dua orang ini bisanya memang tidak ada pekerjaan. Meskipun Sarah bekerja sebagai pengelola keuangan, ia bisa menyelesaikan semua urusannya dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu mereka berdua selalu bersama saat tidak ada kegiatan.
"Ah, Bu Dewi datang ke Sajaya Farm bersama tiga wanita lain yang sepertinya adalah teman-temannya," jawab Aksa dengan nada santai.
Sarah mengangguk dan bertanya lagi. "Bibi Dewi datang? Apakah kamu tidak menyambutnya?"
"Yah, tadi Galih berkata kalau Bu Dewi akan berbicara denganku nanti. Itu artinya Bu Dewi akan meneleponku, jadi aku tidak perlu menyambutnya sekarang," jawab Aksa sambil mengangkat bahunya.
"Baiklah." Sarah juga tidak terlalu peduli.
Mereka berdua sedang bermain catur saat ini, Aksa membawa catur milik ayahnya yang sudah tidak digunakan ke kantor untuk mengisi waktu luang.
Agak aneh memang untuk anak muda bermain catur karena zaman sekarang semua anak muda bermain gadget dan jarang ada anak muda yang bermain sesuatu selain gadget kecuali olahraga sepakbola, basket, atau yang lain.
"Checkmate." Aksa berkata dengan nada bangga sambil melihat Sarah yang lemas di seberangnya.
"Sekali lagi!" Sarah merasa tidak terima dengan kekalahannya dan meminta untuk bertanding catur sekali lagi.
"Hahaha, ayo!" Aksa tentu saja menerima tantangan Sarah dengan percaya diri.
Namun di tengah jalan, ponsel Sarah berdering dan ternyata Dewi yang menelepon. Sarah segera menjawab telepon dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aksa, Bibi Dewi bertanya apakah kamu memiliki waktu luang sekarang karena ia ingin berbicara denganmu," kata Sarah setelah menaruh ponselnya.
"Baiklah. Tapi mengapa dia tidak meneleponku langsung?" tanya Aksa dengan heran mengapa Dewi malah menelepon Sarah.
Sarah menatap Aksa dengan tatapan kosong dan berkata, "Itu karena Bibi Dewi tidak memiliki nomor ponselmu. Apakah kamu tidak tahu?"
Aksa tersadar dan tertawa canggung. "Aku lupa. Aku ingat kalau hanya Pak Eddy yang meminta nomor ponselku dan Bu Dewi tidak."
Setelah itu Aksa dan Sarah segera pergi ke ruangan pribadi yang dipesan oleh Dewi dan sahabatnya. Sarah juga ikut karena Dewi juga meminta dirinya ikut.
__ADS_1