
"Oh sial, apa aku akan kena serang?" Aksa mengencangkan otot-ototnya dan bersiap untuk melawan kambing tersebut.
Pada saat Sarah dan semua karyawan yang ada di sana berteriak dengan suara khawatir, Aksa tetap tenang karena dia yakin bisa mengalahkan kambing tersebut meskipun ukuran tubuhnya memang besar.
Tapi, apa yang tidak diharapkan oleh semua orang adalah kambing tersebut tidak menyerang Aksa melainkan berhenti di depannya secara tiba-tiba lalu menatap Aksa dengan mata penasaran.
"Ah?" Aksa, Sarah, dan semua karyawan di sana tertegun karena ternyata kambing tersebut tidak menyerang Aksa melainkan hanya berdiri diam di depannya.
"Mbee." Kambing bertubuh besar bersuara, dia berjalan mengitari Aksa sambil mengendus-endus nya dengan penasaran seperti seekor anjing.
"Mengapa malah bersikap seperti anjing?" Aksa memiliki tanda tanya yang besar di atas kepalanya, tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
Karena melihat kalau tidak ada rasa permusuhan dari kambing tersebut, Aksa memberanikan diri untuk menyentuh bulunya. Jadi dia menggerakkan tangan kanannya secara perlahan-lahan dan menyentuh bulu kambing tersebut.
"Mbee?" Kambing itu menghindari tangan Aksa karena berpikir Aksa akan berbuat macam-macam. Tapi instingnya mengatakan kalau Aksa adalah orang baik, jadi dia tidak menghindar untuk yang kedua kalinya.
"Ah, mungkin ini karena auraku yang bisa berteman dengan hewan-hewan liar," pikir Aksa yang mengingat kristal sihir yang pernah dia telan sebelumnya.
Dan karena kambing tersebut tidak menghindar lagi, Aksa menyentuh dan mengelus-elus bulunya dengan pelan. Dia bisa merasakan kalau bulu kambing tersebut sedikit kasar daripada kambing ternak Sajaya Farm.
Itu mungkin karena kambing ini dan kawanannya merupakan kambing yang hidup di alam liar dan tidak ada pengawasan atau perawatan dari manusia yang membuat bulu mereka cukup kasar.
"Semuanya, situasi di sini sudah aman, tidak perlu waspada. Mereka hanya penasaran dengan manusia di sekitar sini karena sudah lama tidak melihat manusia," kata Aksa lewat alat komunikasi di telinganya.
Sarah dan semua karyawan menghela napas lega karena kambing-kambing itu tidak memiliki niat untuk mengganggu. Sarah turun dari kuda dan berjalan menghampiri Aksa.
Kambing yang sedang dielus-elus oleh Aksa menatap Sarah dengan penasaran. Dia segera berjalan menuju Sarah dan meminta untuk mengelus-elus bulunya.
"Bawa wortel dan sayuran untuk makanan kambing ke sini, kita perlu membiarkan kambing-kambing di sini terlebih dahulu dan mengurusnya setelah event selesai." Aksa segera memberi perintah kepada semua karyawannya.
__ADS_1
"Baik, Bos!" Semua karyawan Aksa menjawab dengan serempak.
Aksa tersenyum dan mengangguk, dia mengelus-elus bulu kambing itu dan segera pergi dengan Sarah untuk melakukan tugasnya sebagai pengawas event perburuan.
£££
Sementara itu di sisi Dika dan kedua adik Aksa. Mereka bertiga sedang beristirahat sekarang di bawah naungan pohon yang rindang sambil mengobrol dengan santai.
Tapi pada saat ini, semak-semak di dekat mereka bergerak-gerak. Kemudian muncul satu kelinci berwarna putih yang terlihat lucu dengan kaki kanan bagian belakang yang memiliki warna merah yang mencolok.
"Kaki kelinci itu terluka!" Elvina terkejut, dia segera berdiri dan hendak menyelamatkan kelinci itu.
Tapi pada saat ini, Dika dengan cepat mengambil senjata paintball di sampingnya dan menembak beberapa peluru paintball ke arah kelinci putih yang sedang terluka.
"Ah!?" Elvina terkejut dengan apa yang dia lihat. Kelinci putih yang kakinya sedang terluka menjadi tidak bisa bergerak karena terkena tembakan peluru paintball dari Dika.
"Apa yang Paman lakukan!" Elvira memeluk kelinci putih itu dan berteriak dengan keras kepada Dika dengan air mata yang keluar.
"Maaf, tapi poin lebih printing. Kita bisa mengobati kelinci itu nanti setelah kita dapat poin." Dika menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara tenang.
"Tapi kelincinya sedang terluka parah dan sekarang dia tidak bisa bergerak karena terkena tembakan dari Paman!" teriak Elvira yang sudah mengeluarkan banyak air mata.
Dika mengerutkan keningnya, dia lalu berkata, "Sudah kukatakan kalau kita bisa mengobati kelinci itu nanti setelah dapat poin, lagipula kelinci itu juga tidak mati."
Terjadi perdebatan antara Elvina dan Dika, mereka berdua sama-sama tidak mau kalah dan tetap berpikir kalau pemikiran mereka adalah yang benar.
Elvira yang melihat situasi semakin memanas tidak tahu harus bagaimana karena di satu sisi ada Dika yang baik hati dan di sisi lain adalah Elvina yang merupakan adik kembarnya.
"Berhenti!!" Jadi Elvira berteriak dengan keras melerai Elvina dan Dika agar tidak terjadi pertengkaran di antara mereka berdua.
__ADS_1
Elvina dan Dika berhenti berdebat, tapi mereka memalingkan wajah mereka dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Elvira melihat mereka berdua dengan tatapan tidak berdaya, lalu dia membantu adiknya untuk mengobati kelinci yang terluka.
Tentu saja adegan ini dilihat oleh kamera drone yang mengikuti mereka bertiga. Semua penonton yang melihatnya menjadi terkejut karena ada pertengkaran internal.
--- {Mereka bertengkar? Bagaimana jika mereka tidak bisa berburu bersama karena hal ini?}
--- {Pertengkaran internal ya, aku suka ini. Mereka harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu sebelum melakukan perburuan lagi.}
Banyak penonton yang semakin tertarik dengan pertengkaran yang terjadi antara Elvina dan Dika karena mereka merasa kalau event perburuannya terlalu lancar sehingga membuat mereka bosan.
Tim pengamat yang melihat hal itu juga segera menghubungi Aksa. "Bos, adik Bos, Elvina, sedang bertengkar dengan orang yang bernama Dika yang pernah Bos selamatkan kemarin."
"Mereka bertengkar? Biarkan saja, jangan ikut campur." Meskipun Aksa terkejut dengan perkataan dari tim pengamat, dia tetap tenang dan sama sekali tidak marah.
"Tapi Bos, mereka berdua adalah adik Bos." Tim pengamat bingung dengan perkataan Aksa yang membiarkan mereka saja.
"Mereka sedang dalam fase menuju dewasa, tentunya harus bisa menyelesaikan masalah yang ada dengan mengandalkan diri sendiri," kata Aksa yang membuat tim pengamat tertegun karena itu memang keputusan yang bijak.
"Jadi begitu, maafkan saya Bos." Tim pengamat meminta maaf karena tidak peka.
"Santai, tapi laporkan jika pertengkaran mereka semakin hebat, aku juga tidak mau ada masalah lagi," kata Aksa dengan serius.
"Siap, Bos!" Tim pengamat mengangguk dengan sungguh-sungguh.
"Aksa, ternyata Elvira dan Elvina membentuk tim dengan Dika," kata Sarah yang tidak menyangka hal itu terjadi.
"Ya, daripada masalah pertengkaran, aku lebih terkejut kalau mereka berdua membentuk tim dengan Dika." Aksa menganggukkan kepalanya karena dia sama terkejutnya dengan Sarah.
Tapi keputusan Aksa untuk tidak ikut campur memang sudah benar karena Elvira dan Elvina butuh waktu agar mereka bisa menyelesaikan masalah dengan mengandalkan diri sendiri
__ADS_1
Karena selama ini jika ada masalah bagi ketiga adiknya, Aksa lah yang membantu mereka sehingga dia takut kalau mereka malah akan bergantung kepadanya.
"Yah, semoga mereka bisa, tidak, mereka pasti bisa," pikir Aksa sambil tersenyum tipis.