
Diah adalah yang pertama pulih dari keterkejutannya, dua segera menghampiri pelayan tadi dan mengambil segelas susu coklat hangat dari atas nampan, kemudian kembali ke mejanya secepat kilat.
"Terima kasih, Ibu!" Vincent berterima kasih kepada Diah, kemudian dia meminum susu coklat yang dibawa Diah dengan sekali teguk.
Ahmad juga pulih dari keterkejutannya, dia dan Diah menatap putra mereka dengan seksama karena tadi Vincent menunjukkan emosi gembira yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Vincent memang sudah beberapa kali mengalami depresi seperti ini, dia tidak pernah menunjukkan emosi seperti itu. Untuk pulih, Vincent harus menjalani terapi yang memakan waktu sangat lama.
Itulah mengapa Ahmad dan Diah merasa sangat terkejut, mereka berharap kalau emosi yang ditunjukkan oleh Vincent tadi adalah tanda baik yang bisa membuatnya pulih dari depresi.
"Ah, jadi begitu." Roni mengangguk, dia paham dengan situasi di depannya karena dia adalah orang yang mengetahui dan merawat kondisi Vincent.
"Ibu, bisakah besok aku meminum susu coklat ini lagi?" Vincent menatap Diah dengan mata penuh harap yang membuat Diah semakin terkejut.
"Ah, tentu saja bisa, bagaimana mungkin Ibu tidak mengizinkannya?" Diah memiliki mata yang berlinang, dia menjawab sambil mengelus-elus kepala putranya.
Ahmad segera menoleh ke arah Roni dan bertanya, "Pak Roni, bisakah aku tahu siapa yang membuat susu coklat hangat itu?"
Roni tersenyum sambil mengelus-elus janggutnya. "Tentu saja. Sama seperti yang tadi, aku tahu siapa yang membuat minuman ini. Tapi, ayo kita pergi ke dapur untuk mengonfirmasi."
"Tentu, ayo." Ahmad mengangguk setuju dengan perkataan Roni.
Mereka berdua berdiri dan segera pergi ke dapur, Diah tetap di tempat untuk mencoba berbicara dengan Vincent untuk melihat seberapa jauh Vincent pulih dari depresinya.
...----------------...
"Tini, bisakah kamu bertanya kepada orang-orang di dapur mengenai siapa yang membuat susu coklat panas?" Roni menghampiri Tini yang sedang memberi koordinasi kepada pelayan.
"Ah, Pak Roni. Tentu, saya akan bertanya sekarang." Tini mengangguk, dia segera bertanya kepada orang-orang yang ada di dapur.
"Hm? Susu coklat? Tidak, restoran kami tidak membuat minuman apapun. Hanya makanan berupa bakso dan makanan kuah lainnya."
"Tidak, kami ini toko dessert. Kami hanya menyediakan kue dan makanan penutup lainnya, tidak menyediakan minuman."
"Oh, aku tahu. Bisakah Anda melihat ke arah sana, kalau tidak salah mereka adalah tim chef dari Sajaya Farm. Tapi yang membuat susu coklat tidak ada di sana."
__ADS_1
Tini akhirnya mendapatkan jawaban siapa yang membuat susu coklat setelah bertanya kepada beberapa orang di dapur. Dia segera berjalan menghampiri area memasak Sajaya Farm.
"Permisi, apakah tim memasak Sajaya Farm membuat minuman berupa susu coklat?' tanya Tini dengan sopan karena Roni yang memintanya untuk mencari tahu.
"Hm? Ah, iya. Tapi bukan kami yang membuatnya, melainkan bos kami." Indra menjawab meskipun bingung mengapa Tini mengajukan pertanyaan itu kepada mereka.
"Bos? Kalau boleh tahu, siapa bos kalian?" tanya Tini dengan hati-hati karena yang membuatnya adalah bos Sajaya Farm.
Namun setelah beberapa detik, Tini tersadar karena dia tahu siapa bos Sajaya Farm. Itu karena dia sudah diberitahu oleh Roni dan dia juga sudah bertemu dengan orangnya tadi pagi.
"Maaf, tidak jadi, saya sudah tahu siapa bos Sajaya Farm." Tini berkata dengan senyum canggung yang dibalas anggukan kepala oleh Indra.
Setelah mendapatkan jawaban siapa yang membuat susu coklat, Tini kembali ke tempat Roni dan Ahmad dan memberitahu mereka.
Roni mengelus-elus janggutnya dan berkata sambil tertawa. "Sudah aku duga kalau dia yang membuatnya, hohoho."
"Pak Roni, apakah Anda mengenal orang ini? Bisakah aku bertemu dengannya?" tanya Ahmad dengan penuh harap karena baginya, orang yang membuat susu coklat itu adalah penyelamat putranya.
"Tentu, biar saya telepon sebentar." Roni mengeluarkan ponselnya dan langsung menelepon Aksa. Tapi setelah menunggu beberapa saat, Aksa tidak menjawab teleponnya.
"Mau bagaimana lagi, yang penting itu adalah kenalan Pak Roni sehingga kita bisa menemuinya dengan mudah. Untuk sekarang mari kita kembali ke aula utama," kata Ahmad setelah menghela napas lega.
"Tentu," angguk Roni.
Mereka berdua kembali ke aula utama, kembali ke meja mereka. Di sana, Vincent menjadi lebih ceria lagi meskipun belum pulih sepenuhnya, tapi perkembangan ini sangat cepat yang membuat Ahmad dan Diah sangat bahagia.
"Suamiku, bagaimana? Apakah kamu sudah bertemu dengan pembuat susu coklatnya?" tanya Diah saat melihat Roni dan Ahmad kembali dari dapur.
Ahmad menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Belum, pembuatnya tidak ada di dapur. Kata Pak Roni, dia ada di aula utama, jadi mungkin kita bisa melihatnya nanti."
"Baiklah kalau begitu," angguk Diah.
Ahmad dan Diah berbincang-bincang dengan putra mereka agar tidak kembali ke kondisi depresi. Untuk Roni, dia sudah pergi karena harus menyapa tamu-tamu penting lainnya.
...----------------...
__ADS_1
Sementara itu orang yang sedang dicari oleh Roni dan Ahmad sedang makan di meja sudut aula. Aksa belum makan karena terlalu sibuk melakukan pekerjaannya tadi.
Acara perjamuan ini memiliki hidangan yang sudah dihidangkan di meja pada tamu dan juga hidangan dengan sistem prasmanan agar tamu bisa mengambil seusai keinginan.
Karena Aksa bukanlah tamu undangan, dia tidak memiliki meja khusus dan hanya bisa makan hidangan yang ada di prasmanan. Meskipun begitu, dia sangat menikmati hidangannya.
"Dengan rasa seenak ini, aku tidak bisa membayangkan betapa harga yang dipatok," pikir Aksa sambil memakan paha ayam goreng.
Sejujurnya, setelah Aksa mempunyai Sistem Game Peternakan, dia tidak pernah pergi ke restoran manapun entah itu sendirian, bersama teman, atau bersama keluarganya.
Itu karena rasa produk-produk peternakan sudah lebih enak dibandingkan hidangan yang ada di restoran. Bukan hanya rasanya, tapi ada beberapa produk peternakan yang memiliki efek tambahan.
Keluarganya juga sudah ketagihan produk peternakan, sekarang mereka memakan produk peternakan kualitas C setiap hari dan meninggalkan produk peternakan kualitas D.
"Sekarang, haruskah aku mencari relasi?" Aksa membereskan piring agar bisa diambil oleh pelayan nanti dengan mudah, kemudian dia berdiri dan melihat ke sekeliling.
Waktu makan malam sudah lewat sehingga sekarang para tamu yang hadir sedang berbincang-bincang dengan teman atau keluarga yang mereka bawa.
Aksa hanya tahu identitas beberapa orang terkenal yang biasanya muncul di televisi atau berita. Namun dia tidak mengincar mereka karena perbedaan status yang sangat jauh.
Itulah mengapa Aksa hanya mengincar orang kaya seperti pebisnis atau investor karena lebih mudah dan karena mereka memiliki lebih banyak uang yang bisa digunakan daripada orang dengan status tinggi.
Namun pada saat Aksa akan melakukan aksinya, pundak kanannya ditepuk oleh seseorang. Aksa yang terkejut menoleh ke arah belakang dan ternyata itu adalah Roni yang menepuk pundaknya.
"Pak Roni! Anda mengagetkanku saja." Aksa menepuk-nepuk dadanya karena dia memang terkejut dengan kemunculan Roni yang tiba-tiba.
"Hahaha, Aksa, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Ayo ikuti aku ke sana." Roni berkata sebelum berjalan menuju meja Ahmad dan Diah.
"Seseorang? Tapi Pak, aku juga sedang mencari orang kaya agar mereka menjadi pelanggan Sajaya Farm," kata Aksa sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Hoho, identitas orang yang ingin bertemu denganmu tidak biasa, apakah kamu yakin ingin melewatkannya?" tanya Roni sambil tertawa kecil.
"Jika Pak Roni berkata seperti itu, pastinya identitas orang itu sangat penting. Lalu, bolehkah aku tahu apa identitas orang yang ingin bertemu denganku?" tanya Aksa dengan penasaran.
"Tentu saja, dia adalah Bupati Kabupaten Banyumas," jawab Roni sambil mengelus-elus janggutnya.
__ADS_1
"Apa!?" Aksa melebarkan matanya karena sangat terkejut dengan jawaban yang Roni berikan.