
Situasi kian memanas karena kalimat yang diucapkan oleh Aksa barusan. Kevin hampir tidak bisa menahan amarahnya setelah mendengarkan kalimat tersebut. Aksa hanya tersenyum dalam diam dan menatap Kevin dengan mata acuh tak acuh.
Herman juga tahu kalau situasinya menjadi semakin memburuk, jadi dia berkata, "Hentikan, jangan melakukan kekerasan apapun di sini. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat."
Aksa membuang senyumnya dan hanya mengangkat bahunya, sedangkan Kevin masih menatap Aksa dengan tatapan mengerikan seolah-olah kedua bola matanya akan keluar.
"Aksa, karena kamu tidak ingin selesai dalam damai, maka kamu ingin melanjutkannya ke pengadilan?" tanya Herman dengan serius kepada Aksa.
"Begitulah," angguk Aksa dengan serius juga menanggapi pertanyaan dari Herman.
Herman mengangguk, ia mengalihkan pandangannya ke arah salah satu petugas polisi wanita di sudut ruangan yang sedang berdiri sambil memegangi tablet di kedua tangannya.
Petugas polisi wanita berjalan menghampiri Herman dan membisikan sesuatu di telinganya dengan suara rendah agar yang lainnya tidak bisa mendengar apa yang dia bisikkan.
"Baiklah. Kalau begitu, kita akan menyelesaikan masalah ini di pengadilan. Beritahu aku kapan kalian berdua memiliki waktu luang?" Herman menatap Aksa dan Kevin secara bergantian.
"Hari ini sampai tanggal 16, atau setelah tanggal 17. Aku mempunyai urusan yang cukup sibuk saat itu," jawab Aksa setelah berpikir sejenak.
"Kapanpun." Kevin mendengus dan menjawab pertanyaan Herman dengan jawaban singkat.
Herman mengangguk dan berkata, "Karena orang tua Kevin sedang ada di Jakarta, kita akan pergi ke pengadilan setelah tanggal 17. Apakah ada di antara kalian yang keberatan?"
Aksa dan Kevin menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala tanda bahwa mereka berdua sama sekali tidak keberatan dengan keputusan dari Herman.
Setelah itu, Herman membubarkan mereka. Aksa keluar dari kantor polisi dan pergi menuju gudang di dekat Sajaya Farm menggunakan motor roda tiganya untuk mengangkut produk-produk peternakan.
Sementara itu, Kevin ditahan sampai waktu pengadilan tiba. Itu karena polisi takut kalau Kevin akan melakukan sesuatu yang ilegal lagi, jadi mereka memutuskan untuk menahan Kevin sementara.
--- {Seteka tanggal 17, ya. Baiklah, semoga saja kepolisian akan melakukan siaran langsung juga sehingga aku bisa menontonnya.}
--- {Sama, aku penasaran dengan hukuman apa yang akan diberikan hakim kepada Kevin yang telah melakukan banyak kejahatan.}
__ADS_1
--- {Mari kita bersabar, semoga saja hakim tidak memberi keringanan kepada Kevin karena beberapa waktu lalu ada seorang penjahat yang diberikan diskon hukuman.}
Orang-orang yang sedang menonton siaran langsung mengetik banyak komentar. Hampir semua penonton menantikan hukuman apa yang akan dijalani oleh Kevin.
Mereka sudah kecewa dengan kasus beberapa waktu lalu yang memberikan diskon hukuman kepada pelaku kejahatan yang membuat mereka menjadi tidak percaya dengan hukum yang ada di negara ini.
...----------------...
Di gedung pencakar langit yang ada di Jakarta, di lantai 21 yang merupakan kantor perusahaan investasi Albar. Di dalam kantornya, Akbar sedang berusaha untuk menenangkan dirinya.
Bisa dilihat juga kalau ada ponsel yang hancur di dekatnya. Itu karena beberapa detik yang lalu Albar menerima telepon dari Kepolisian Kabupaten Banyumas kalau putranya sedang ditahan di sana.
"Bukankah aku sudah menyuruhnya untuk menggunakan semua kekuatan untuk menyelesaikan masalah ini? Sialan, situasi perusahaan sedang tidak baik namun dia malah menambah masalah!" teriak Albar dengan sangat keras yang bisa dilihat betapa marahnya dia sekarang.
Meskipun begitu, Albar sedikit lega karena tidak ada video mengenai dirinya dan Salsa yang beredar di internet. Dia tidak tahu kenapa tapi dia merasa bersyukur, jika tidak, posisinya akan anjlok sekarang.
Albar segera menelepon koneksinya dengan ponsel lain untuk meminta bantuan. Dia bukan meminta bantuan untuk Kevin, tapi untuk perusahan investasinya yang sedang diambang kebangkrutan.
Namun saat koneksinya mengetahui kalau Akbar meminta bantuan mereka untuk perusahan investasinya, mereka langsung menutup telepon tanpa mengucapakan sepatah katapun.
Bukan salah mereka untuk menolak untuk membantu. Pertemanan di dalam dunia bisnis memang seperti itu, semua orang akan membantu jika ada keuntungan bagi mereka.
"Dasar sialan! Tidak ada yang mau membantuku! Padahal dulu mereka selalu menjilat saat bertemu denganku!" teriak Albar dengan sangat marah sampai menghancurkan barang-barang di atas meja.
Para karyawan yang melewati kantor Albar menjadi ketakutan saat mendengar berbagai suara barang pernah dari dalam kantor.
"Kurasa aku harus mengundurkan diri." Itu adalah pikiran semua karyawan yang tahu situasi perusahaan investasi tempat mereka bekerja sekarang.
...----------------...
Di Sajaya Farm, Aksa sedang berbicara dengan Dito dan Bayu di kantornya saat ini. Dia sudah memanggil mereka berdua saat keluar dari kantor polisi tadi.
__ADS_1
"Apakah ada sesuatu, Pak Aksa?" tanya Bayu dengan penasaran karena Aksa jarang sekali memanggilnya kecuali ada sesuatu yang penting.
"Ya. Aku ingin membuat empat fasilitas baru. Kelas memasak, jalan bersepeda, area berkemah, dan area fotografi. Aku memerlukan saran dari kalian berdua untuk hal itu," jelas Aksa dengan singkat.
Dito mengelus dagunya dan bertanya, "Hm, empat fasilitas. Apakah Anda ingin membangun dengan skala besar atau skala kecil?"
Aksa tersenyum dan menjawab, "Tidak kedua-duanya, tapi skala sedang. Itu adalah fasilitas tambahan sehingga tidak perlu membuatnya terlalu besar. Namun juga sedikit merepotkan jika membuatnya dengan skala kecil."
Dito mengangguk dengan serius sambil mencatat sesuatu di buku catatan kecil yang selalu dia bawa jika ada urusan pekerjaan atau sedang membahas sesuatu.
"Nantinya, keempat fasilitas itu akan ditempatkan di mana?" tanya Bayu setelah mendengar penjelasan Aksa.
"Kelas memasak akan ada di dekat area BBQ. Jalan bersepeda mencakup seluruh area Sajaya Farm yang terbuka. Area berkemah dan fotografi sedikit jauh dari area sungai di mana di sana merupakan hutan kecil," jawab Aksa.
Dito dan Bayu mengangguk dengan penjelasan Aksa yang sudah dipikirkan secara matang. Mereka tidak keberatan dengan rencana itu dan memberikan beberapa saran kecil kepada Aksa.
Jadi, setelah didiskusikan, mereka sepakat untuk membuat empat fasilitas yang disebutkan oleh Aksa tadi. Bayu juga segera menghubungi atasannya untuk memberitahu hal tersebut.
Untuk kelas memasak, Aksa akan merekrut instruktur memasak dan ahli gizi agar pengunjung yang mencoba kelas memasak ini terpuaskan dan bisa dibimbing dengan lancar.
Untuk kelas memasak, Aksa juga bekerjasama dengan Bayu untuk menyediakan sepeda yang bisa disewa oleh pengunjung dengan harga yang cukup murah karena pemerintah terlibat.
Di area berkemah juga akan disediakan peralatan kemah dan kayu bakar yang bisa disewa atau dibeli oleh pengunjung. Area fotografi tidak ditambahkan apapun, hanya area yang cocok dan nyaman.
"Jujur saja, meskipun ini adalah fasilitas tambahan, tapi bisa mendapatkan banyak pengunjung. Mereka juga akan merasa puas karena Sajaya Farm menghadirkan banyak fasilitas," kata Bayu dengan nada kagum.
Dito mengangguk dan berkata, "Pak Bayu benar, apalagi fasilitas yang akan dibuat cocok untuk bersantai yang dilakukan oleh keluarga, teman, atau pasangan."
"Aku juga berpikir seperti itu, meskipun tidak besar, tapi setidaknya bisa membuat fasilitas yang ada di Sajaya Farm beragam," angguk Aksa dengan senyum di wajahnya.
Aksa sangat gembira dengan hal ini dan berterima kasih kepada Sistem yang telah memberinya empat saran yang sangat berguna untuk Sajaya Farm dalam aspek apapun.
__ADS_1
"Terima kasih, Sistem," batin Aksa.
[Sama-sama, Host.]