
*Dor Dor Dor
Suara tembakan senjata paintball terdengar, kemudian kambing kecil yang berlari ke arah Elvina terjatuh dan terguling-guling di tanah.
Kedua pengawas terkejut, tapi mereka segera tenang dan langsung mengamankan kambing itu dengan cara mengikatnya dengan tali yang dibawa oleh mereka.
"Mbee!!" Kambing kecil itu bersuara dengan keras dan mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan tali kedua pengawas.
"Paman!" Elvira berteriak dengan terkejut karena dia melihat kalau Dika langsung mengambil senjata paintball dan menembak beberapa peluru ke arah kambing kecil.
"Ya." Dika meletakan senjata paintball nya kembali dan menganggukkan kepalanya kepada Elvira.
Elvira juga mengangguk, dia segera pergi ke adiknya yang masih membeku karena terkejut, dia langsung memeluk Elvina untuk menenangkannya.
"Ah, Kakak." Elvina bisa merasa pelukan hangat yang penuh dengan kasih sayang dari Elvira, dia juga segera membalas pelukannya.
Mereka berdua berpelukan selama beberapa saat, lalu Elvira berkata, "Kamu sudah tenang?"
"Um." Elvina mengangguk kecil, dia memang sudah tenang setelah dipeluk oleh Elvira barusan.
"Baguslah kalau begitu, sekarang kamu harus mengucapkan terima kasih kepada Paman Dika," kata Elvira sambil mengelus-elus punggung Elvina.
"Aku tahu." Elvina bukanlah orang yang tidak masuk akal, dia tahu kalau tadi Dika bertindak dengan cepat untuk menyelamatkannya.
Jika tidak, mungkin saja kambing kecil itu akan menabrak kuda Elvina dan akan membuatnya jatuh. Hal tersebut akan membuat Elvina terluka entah itu luka ringan atau berat.
Jadi, setelah memberikan kelinci putih kepada tim pengawas, Elvina segera menghampiri Dika yang sedang melihat sekeliling bersama dengan Elvira yang mengikuti di belakangnya.
"Paman." Elvina memanggil Dika dengan suara pelan.
"Hm?" Dika menoleh ke arah Elvina dan menunggunya untuk berbicara.
"Um, terima kasih karena telah menyelamatkanku bagusan. Lalu, aku minta maaf karena aku sudah bersikap egois beberapa waktu lalu," kata Elvina yang tidak berani menatap mata Dika karena merasa bersalah.
Dika tertegun dengan permintaan maaf dari Elvina, kemudian dia merasa sangat malu karena dia adalah orang yang dewasa di sini tapi malah tidak meminta maaf duluan dan kalah dari seorang gadis remaja.
__ADS_1
Dika menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Sama-sama. Aku juga minta maaf karena mementingkan poin daripada keselamatan kelinci itu. Sekarang, kita berbaikan?"
Elvina yang memalingkan wajahnya langsung menoleh ke arah Dika dengan mata berbinar-binar, lalu dia berkata, "Ya! Kita sekarang sudah berbaikan!"
Dika tersenyum saat melihat Elvina kembali ke sifat aslinya yang periang. Sungguh sepi selama beberapa saat karena hanya Elvira yang berbicara mencoba untuk mencairkan suasana yang canggung.
Sebenarnya, mereka berdua tidak ada yang salah jika dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Elvina dan Dika mempunyai pandangannya masing-masing.
Elvina menggunakan emosionalnya, karena hal itu dia tidak peduli dengan poin yang didapatkan dan lebih memilih untuk merawat kelinci putih yang sedang terluka di bagian kakinya.
Sedangkan Dika menggunakan logikanya, dia lebih memilih mengedepankan poin karena berpikir kalau kelinci itu bisa diobati nanti setelah dia mendapatkan poin.
Jika hanya melihat dari satu sudut pandang saja, maka orang akan berpikir kalau sudut pandang orang lain adalah salah. Tapi jika sudah melihat dari berbagai sudut pandang, maka tidak akan ada yang salah.
Dan, Elvira juga berani meminta maaf kepada Dika meskipun tidak ada yang salah di antara mereka berdua. Hal itu membuat Dika juga meminta maaf kepadanya dan sekarang mereka berdua sudah berbaikan.
"Bagus! Akhirnya kalian berdua berbaikan, aku sudah lelah berbicara seorang diri tanpa ada yang membalas!" Elvira berteriak dengan tidak puas dan dibalas dengan tawa oleh Elvina dan Dika.
Karena sudah berbaikan, mereka akhirnya bisa berbincang-bincang dengan canda tawa lagi. Suasana yang tadinya canggung kembali menjadi harmonis lagi
--- {Tidak ada yang salah di antara mereka berdua, tapi mereka berdua saling meminta maaf, patut ditiru.}
Pada penonton juga gembira karena Elvina dan Dika sudah berbaikan dan kini mereka bisa harmonis lagi. Karena para penonton juga merasa kasihan dengan Elvira yang berbicara seorang diri tanpa ada yang menanggapi.
Kemudian, setelah beberapa saat, mereka bertiga segera melakukan perburuan dan berhasil mendapatkan beberapa poin dari memburu kelinci dan ayam.
Mungkin karena hubungan mereka yang sudah lebih dekat sehingga mereka bisa bekerja sama dengan lebih baik, bahkan mereka sudah tahu perannya masing-masing tanpa harus diberitahu.
Lalu, sore hari pun tiba. Event perburuan kategori kelompok sudah selesai, Aksa segera meminta mereka untuk pulang karena pengumuman pemenang akan dilakukan besok hari saat malam hari.
Dan juga, karena para peserta pasti sudah lelah dengan perburuan hari ini sehingga lebih baik bagi mereka untuk beristirahat saja dan kembali ke Sajaya Farm besok malam.
£££
"Aksa, hari ini cukup berwarna," kata Sarah yang sedang duduk di sebelah Aksa. Mereka sedang duduk di area taman bunga setelah membahas beberapa hal dengan tim lainnya.
__ADS_1
"Berwarna? Apa maksudnya itu?" tanya Aksa yang tidak tahu apa maksud dari perkataan Sarah.
"Yah, maksudku, ada banyak kejadian yang mengejutkan hari ini. Mulai dari kemunculan kambing sampai ke adikmu yang bertengkar dengan Dika," kata Sarah sambil tersenyum.
"Ah, jadi begitu. Yah, kamu memang benar. Untung Elvira dan Elvina bisa mengatasinya dengan cepat." Aksa tersenyum bangga terhadap kedua adiknya.
"Haha, mungkin itu karena mereka selalu mengikutimu?" Sarah tersenyum, dia tahu kalau Aksa adalah pemimpin dari ketiga adiknya.
Alvan, Elvira, dan Elvina selalu mempercayai Aksa tanpa syarat karena mereka benar-benar kagum terhadapnya. Aksa itu bagaikan pahlawan bagi mereka karena bisa melakukan banyak hal.
Apalagi sekarang Aksa bisa membangkitkan keluarga yang tadinya kurang mampu menjadi keluarga kaya berkat Sajaya Farm yang terus-menerus menerima banyak sekali pengunjung.
"Mungkin seperti itu." Aksa tersenyum tipis, lalu dia menatap bulan yang menampakkan dirinya di atas langit yang gelap.
Hari memang sudah malam, karena rapat barusan cukup memakai waktu. Kemudian Aksa dan Sarah memutuskan untuk pulang karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.
"Aku pulang!" Aksa masuk ke dalam rumah, kemudian dia melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu.
"Kakak!" Elvira dan Elvina berjalan menghampiri Aksa sambil tersenyum.
"...Mengapa kalian tersenyum begitu?" Aksa mengedipkan matanya karena merasa ada yang tidak beres.
"Tidak apa-apa, kami hanya bahagia dengan perburuan hari ini!" Elvira dan Elvina tersenyum, kemudian mereka berdua langsung memeluk Aksa.
Aksa semakin bingung karena kedua adiknya tidak pernah bersikap seperti itu. Tapi dia juga tidak peduli dan membalas pelukan mereka.
"Kalian berdua, jangan mengganggu kakak kalian yang baru saja pulang." Ani yang melihat hal itu segera menegur Elvira dan Elvina, tapi dia memiliki senyum di wajahnya.
"Hehe." Elvira dan Elvina melepaskan pelukan merekam Mereka saling memandang dan tertawa bersama yang membuat Aksa tambah bingung.
Sebenarnya, alasan Elvira dan Elvina seperti itu adalah karena mereka tahu kalau perlengkapan berkuda yang mereka pakai berbeda dengan apa yang dipakai oleh peserta lain, Dika yang mengatakan hal tersebut setelah sadar kalau ada yang berbeda.
Hal itu membuat Elvira dan Elvina mengingat Aksa karena hanya dia yang bisa melakukannya. Itulah mengapa mereka berdua bisa menunggangi kuda dengan lancar meskipun masih pemula.
"Aksa, mandi dulu, lalu kita makan malam," kata Ani kepada Aksa, lalu dia kembali ke dapur untuk menyelesaikan masaknya.
__ADS_1
"Ya, Bu." Aksa mengangguk, dia segera ke kamarnya untuk mengambil pakaian dan segera ke kamar mandi untuk mandi.