
"Aksa, ini kenalanku, Didit." Bayu berkata kepada Aksa yang sedang menunggu kedatangan mereka di depan pintu gerbang kandang sapi.
Aksa mengangguk, dia menoleh ke arah Didit dan berkata, "Halo, Pak Didit. Saya, Aksa, pemilik Sajaya Farm yang membutuhkan bantuan Anda."
Aksa tidak mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan karena tadi dia menyentuh kepala sapi yang diperkirakan terkena penyakit antraks.
Didit si dokter hewan yang melihat hal itu juga mengangguk menunjukkan pengertiannya. Dia tahu kalau penyakit yang menyerang para sapi belum diketahui, lebih baik bermain aman saja.
"Halo, Pak Aksa. Bisakah kita langsung mulai?" tanya Didit dengan serius sambil memakai masker wajah dan sarung tangan dokter.
"Ya, mari masuk." Aksa mengangguk, dia segera membukakan pintu kandang sapi. Kemudian dia dan Didit masuk ke dalamnya sedangkan yang lain tetap diluar.
Didit segera mengeluarkan alat-alat pemeriksaan dari tasnya, kemudian dia segera memeriksa para sapi yang sedang terbaring dengan lemas di atas tumpukan jerami satu per satu.
Tapi saat para sapi melihat ada orang tidak dikenal membawa alat-alat yang aneh, mereka berteriak dan mencoba untuk memberontak meskipun tubuh mereka sedang lemas.
"Kalian, tenanglah." Aksa yang melihat hal itu segera mendekati sapi yang akan diperiksa dan mencoba untuk menenangkan mereka. Para sapi yang melihat kehadiran Aksa menjadi tenang dan bersikap kooperatif untuk diperiksa oleh Didit.
Didit segera melakukan pemeriksaan dengan cepat namun tepat. Aksa kagum dengan efisiensi tindakan Didit, yang melambangkan kalau Didit adalah seorang profesional sejati.
"Pak Aksa, kondisi fisik tubuh para sapi ini sama seperti penyakit antraks. Tapi kita tidak bisa mendiagnosis kalau ini adalah penyakit antraks." Didit melepas maskernya dan berkata dengan serius.
"Ya, saya juga tahu, kita perlu melakukan pemeriksaan laboratorium dan tes PCR." Aksa menghela napas panjang karena proses itu sangat panjang.
Untuk pemeriksaan laboratorium, sampel darah, jaringan, atau sekresi hewan yang sakit dapat diambil dan dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi bakteri Bacillus anthracis yang menyebabkan antraks.
Untuk Tes PCR atau Polymerase Chain Reaction adalah metode yang sering digunakan untuk mendeteksi DNA dari Bacillus anthracis dalam sampel.
"Tidak ada pilihan lain." Didit menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak ada cara lain selain dua hal yang Aksa sebutkan.
Aksa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. Dia berkata, "Pak Didit, bisakah Anda memeriksa semua hewan yang ada di sini? Atau saya perlu memanggil dokter lain?"
__ADS_1
"Saya sendiri sudah cukup, tapi akan sangat lama. Jadi panggil dokter hewan lain saja, tapi biarkan saya yang memanggil mereka, kebetulan teman-teman saya tidak ada pekerjaan," jawab Didit.
"Baik, maaf merepotkan." Aksa mengangguk, dia membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf.
"Ini sudah seharusnya." Didit tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia sedikit senang karena bisa melihat kalau Aksa sangat peduli dengan hewan-hewan ternaknya.
Aksa mengeluarkan ponselnya dan segera mengirimkan pesan di grup chat Sajaya Farm untuk memerintahkan para karyawan agar mengumpulkan semua hewan ternak ke dalam kandang.
Kemudian dia keluar dari kandang dan melihat kalau para pengunjung sedang diperiksa oleh beberapa orang dengan jas panjang berwarna putih dan orang dengan seragam yang sama.
"Aksa, mereka adalah dokter dan perawat yang aku panggil dari Rumah Sakit Swasta Wilaga. Karena aku tahu kalau kamu dan Pak Roni berteman, jadi kemungkinan besar mereka akan segera mengirim tenaga medis ke sini," kata Bayu.
Mereka berdua berdiri dengan jarak yang cukup jauh karena Aksa baru saja keluar dari dalam kandang sapi dan takut akan menularkan virus jika dekat-dekat dengan seseorang.
"Terima kasih banyak, Pak Bayu." Aksa mengucapakan terima kasih dari lubuk hatinya.
Dia lupa meminta seseorang untuk memanggilkan dokter dan perawat karena para pengunjung juga harus melakukan pemeriksaan karena takutnya ada virus yang menular ke tubuh mereka.
"Baik, kamu aman." Dokter tersenyum dan memberitahu Aksa kalau dia tidak terkena penyakit antraks.
"Untunglah." Aksa menghela napas lega, meskipun dia tidak terlalu peduli dengan penyakit antraks karena tubuhnya yang sudah ditingkatkan, tapi dengan itu dia tidak akan bisa bergerak dengan bebas.
Tapi Aksa tidak menyepelekan hal ini, dia segera pergi ke asrama untuk mandi di sana. Kemudian dia memakai pakaian yang bersih, sedangkan pakaiannya langsung ditaruh di dalam kantung.
Sebenarnya Aksa ingin membuang pakaian yang tadi dia pakai, tapi dokter mengatakan kalau dia tidak terkena penyakit antraks, jadi dia memutuskan untuk mencucinya dengan bersih di rumah.
"Aksa, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Sarah bertanya kepada Aksa.
Sekarang Aksa sedang ada di ruangan rapat bersama dengan karyawan inti. Semua karyawan sedang menunggu keputusan Aksa karena mereka belum mengalami kejadian seperti ini.
"Tutup Sajaya selama tiga hari, lakukan isolasi terhadap seluruh hewan ternak. Untuk para karyawan, tetap berada di sekitar asrama, di sana akan ada tenaga medis yang siap siaga," kata Aksa dengan serius.
__ADS_1
Sarah mengangkat tangannya dan berkata, "Tapi, bagaimana kita bisa mengawasi pada hewan ternak jika kita hanya ada di sekitar asrama?
Aksa mengangguk dan berkata, "Pertanyaan yang bagus. Aku akan menyewa pekerja dari luar yang lebih profesional. Jangan protes, itu karena kita perlu dikarantina terlebih dahulu."
"Meskipun dokter sudah mengatakan kalau kita semua tidak terkena penyakit antraks, tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan."
"Jadi, lebih baik kita di asrama terlebih dahulu. Selain itu, hubungi keluarga kalian dan katakan situasi yang sebenarnya."
Para karyawan mengangguk dengan serius, mereka juga tahu kalau masalah yang sedang menimpa Sajaya Farm bukanlah masalah sepele.
Mereka diberitahu kalau para sapi diduga terkena penyakit antraks yang mana bisa menular kepada manusia juga. Itulah mengapa mereka tidak menentang keputusan Aksa.
Selain itu, Aksa juga meminta Lisa dan timnya untuk membuat video pemberitahuan. Sajaya Farm perlu membuat klarifikasi tentang apa yang sedang terjadi.
Dan takut jika para pengunjung protes, Aksa memutuskan untuk mengembalikan setengah biaya tiket masuk kepada mereka yang datang ke Sajaya Farm tapi terganggu karena masalah yang terjadi.
"Baik!" Lisa dan timnya mengangguk. Mereka segera mengambil peralatan dan mulai merekam video pemberitahuan tentang masalah yang terjadi di Sajaya Farm.
Rapat selesai, Aksa sebesar keluar dari ruang rapat dan pergi ke area hewan untuk melihat pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter hewan.
"Sistem, apakah ada solusi di toko game untuk menyelesaikan masalah ini?" Aksa bertanya kepada Sistem di dalam hatinya.
[Meskipun tidak bisa menyelesaikan masalah ini secara langsung, tapi ada yang bisa membantu.]
Sistem memberi jawaban yang diinginkan oleh Aksa. Aksa menghela napas lega, kemudian dia bertanya sesuatu apa yang bisa membantu dalam masalah yang terjadi.
[Tolong periksa saja di dalam toko game, Host akan langsung paham.]
Aksa mengangguk, dia pergi ke toilet di dekat sana dan masuk ke dalam peternakan game, lalu memeriksa toko game.]
"Susu penerjemah?" Aksa mengedipkan matanya karena merasa kalau produk yang ditunjukkan oleh Sistem di toko game ini mirip seperti alat yang ada di animasi kucing biru.
__ADS_1