
Hari pertama dan kedua event berlangsung dengan lancar. Tidak ada masalah yang terjadi, namun ada hal yang sedikit untuk yaitu ada orang kaya yang ingin membeli paket hadiah luar biasa dari seorang pengunjung.
Pengunjung yang mendapatkan paket hadiah luar biasa juga setuju untuk menjualnya, katanya, dia sedang kekurangan uang dan tawaran yang diberikan oleh orang kaya tersebut lumayan banyak.
Karena kejadian itu ada beberapa orang kaya lain yang melakukan tindakan yang sama yaitu membeli paket hadiah dari tangan pengunjung yang berhasil mendapatkannya.
...----------------...
Tanggal 27 Bulan Desember, hari ketiga event sedang berlangsung.
Seperti biasa tidak ada masalah yang terjadi. Namun saat ini, ada sekelompok pria yang berpenampilan mencolok muncul di Sajaya Farm.
Mereka itu seperti anak geng karena mengenakan jaket kulit berwarna hitam, tindik dan tato, rambut yang acak-acakan, dan lain sebagainya yang sedikit meresahkan pengunjung lain.
Namun Aksa juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak membuat masalah. Jika Aksa mengusir mereka, reputasi Sajaya Farm akan ternodai karena mengusir orang-orang tak bersalah.
"Galih, kamu dan anak buahmu awasi mereka. Jika mereka berbuat sesuatu, langsung hubungi aku." Aksa menugaskan Galih untuk mengawasi para anak geng.
"Baik, Bos." Galih mengangguk lalu mulai mengawasi mereka dengan beberapa anak buahnya.
"Semoga saja tidak ada masalah. Aku tidak terlalu peduli mereka melakukan apa asalkan jangan menyakiti pengunjung lain karena masalah tersebut akan sangat panjang," pikir Aksa.
Memang, jika para anak geng melanggar peraturan atau merusak fasilitas, semua itu masih bisa diselesaikan dengan membangun ulang dan paling-paling hanya mengeluarkan beberapa uang.
Namun jika mereka menyakiti pengunjung, maka masalah ini akan selesai sesuai dengan keinginan orang yang disakiti.
Jika orang yang disakiti tidak ambil hati, maka masalah akan cepat selesai. Namun jika orang yang disakiti tidak terima, maka masalah akan selesai sangat lama.
Itulah mengapa Aksa sedikit khawatir mengenai para anak geng dan menyuruh Galih serta penjaga keamanan lain untuk menguasai para anak geng.
...----------------...
"Asep, bisakah kita mengambil uang di sini? Bukankah ada banyak sekali penjaga keamanan?" anak geng berambut merah bertanya kepada anak geng berambut hitam di depan yang bernama Asep.
"Harto, sudah berapa kali kukatakan ikuti saja perintahku." Asep berkata dengan nada kesal.
Harto dan anak geng lainnya diam. Mereka adalah geng kecil-kecilan yang biasanya bertingkah di pasar dan Asep adalah pemimpin geng mereka.
Karena akhir-akhir ini mereka kekurangan uang, mereka mulai mencari target baru dan kebetulan sekali berita Sajaya Farm muncul di ponsel Asep.
Asep kepikiran ide yang menarik yaitu datang ke Sajaya Farm dan meminta pemiliknya untuk menyerahkan biaya keamanan kepada Asep dan gengnya.
Para anak geng sampai di area pusat, mereka masuk ke dalam restoran dan melihat ada seorang gadis cantik. Biasanya target awal mereka adalah seorang perempuan karena mereka lemah lembut dan target yang empuk.
Tapi mungkin, kali ini mereka salah target karena perempuan yang mereka incar adalah Sarah yang sedang menata laporan keuangan di laptopnya.
"Hey, gadis cantik, bisakah kakak ini duduk denganmu?" Asep berkata dengan nada menggoda.
Sarah melirik Asep dan teman-temannya lalu kembali menatap laptop. Reaksi Sarah membuat Asep kesal dan langsung duduk di seberang Sarah.
Harto dan anak geng lain duduk di meja sebelah mereka dan mengamati orang-orang di sekitar. Mereka memperingatkan orang-orang agar jangan memanggil penjaga keamanan.
"Hey, hey, bukankah kamu ini cukup sombong untuk seukuran wanita?" Asep menepuk meja dengan sangat keras.
__ADS_1
Namun tetap saja Sarah tidak bereaksi apapun dan terus menatap laptopnya yang membuat kemarahan Asep memuncak.
...----------------...
"Bos, para anak geng ini akan membuat keributan dan salah satu dari mereka sedang mengganggu Sarah. Tolong segera ke restoran, Bos." Galih langsung menghubungi Aksa.
"Segera." Aksa membalas secara singkat lalu berlari ke arah restoran.
...----------------...
"Wanita, sepertinya kamu memiliki harga diri yang tinggi ya. Bagaimana ekspresi wajahmu saat aku akan menghancurkan harga dirimu itu!?" Asep berdiri dengan tiba-tiba sampai membuat kursinya jatuh.
Ia berjalan ke arah Sarah langkah demi langkah. Wajahnya juga menunjukkan seringai yang menjijikan. Orang-orang disekitar yang melihat hal itu ingin menelepon penjaga keamanan namun Harto dan yang lain menatap mereka dengan tajam.
Asep mengulurkan tangannya berniat untuk menyentuh Sarah. Saat Asep berpikir kalau Sarah diam karena ketakutan, tiba-tiba ada tangan lain yang memegang tangannya.
"Pak, apakah Bapak tahu kalau pelecehan seksual akan dihukum berat." Pemilik tangan itu tentu saja Aksa.
Berkat fisik yang sudah ditingkatkan, kecepatan lari Aksa sangat cepat dan dalam sekejap mata ia sudah sampai di restoran dan kebetulan melihat Asep yang mengulurkan tangannya berniat menyentuh Sarah.
"Siapa kamu!?" Asep berteriak dengan marah dan menarik kembali tangannya namun genggaman Aksa terlalu kuat sampai ia tidak bisa menarik tangannya.
"Saya adalah penanggung jawab Sajaya Farm. Saya mohon Bapak jangan melakukan sesuatu yang jahat kepada karyawan Sajaya Farm." Aksa memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Meskipun mulutnya tersenyum, mata Aksa sangat dingin saat melihat Asep. Ia menatap Asep dengan tatapan tajam yang membuat Asep merinding.
"Penanggung jawab, aku hanya ingin berkenalan dengan wanita ini, benarkan? Teman-teman!" Asep berteriak.
"Itu benar!" Harto dan anak geng lainnya menjawab.
Aksa tetap bergeming, ia tidak melepaskan tangan Asep dan hanya menatapnya dengan tatapan dingin yang membuat Asep harus menarik tangannya secara paksa.
Lalu tiba-tiba Aksa melepaskan genggamannya yang membuat Asep tersungkur ke belakang. Harto dan anak geng lainnya berdiri dan menatap Aksa dengan tatapan bermusuhan.
"Asep, kamu tidak apa-apa?" Harto membantu Asep berdiri dan bertanya kepadanya.
"Sialan, tunggu apa lagi! Serang pria itu untukku!" Asep berteriak dengan marah.
Anak geng yang lain segera berlari sambil mengangkat tangan mereka bertujuan untuk memukul Aksa. Sarah yang dari tadi diam tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir.
"Aksa! Hati-hati!" Sarah berteriak dengan suara khawatir.
Orang-orang di sekitar juga mengangkat ponsel mereka untuk merekam. Tujuan mereka baik, mereka berencana untuk menunjukkan rekaman ini saat penjaga keamanan atau polisi datang.
Galih dan anak buahnya terkejut dan segera berlari ke arah Aksa. Namun mereka sudah terlambat, para anak geng sudah berada di dekat Aksa.
Aksa tetap bergeming, ia sama sekali tidak bergerak. Malahan di dalam hatinya ia sangat senang, bukan karena Aksa gila tapi jika anak geng yang menyerang terlebih dahulu, maka mereka yang salah.
Jadi, Aksa menghadapi pukulan salah satu anak geng dengan siap. Kepalan tangan orang itu tepat berada di samping wajannya dan mengenai pipi kanannya.
Namun, yang membuat semua orang tercengang adalah Aksa yang sama sekali tidak bergerak bahkan setelah menerima pukulan di wajahnya.
Tentu saja, itu karena fisik Aksa sudah ditingkatkan sehingga pukulan para anak geng sama sekali tidak berpengaruh.
__ADS_1
"Sialan!! Apa yang kalian lakukan! Serang dia lagi dengan sekuat tenaga!!" teriak Asep yang tambah marah.
"Sudah cukup." Aksa mendorong anak geng di depannya dengan kuat sampai orang itu terhuyung-huyung dan mengenai anak geng lainnya.
Aksa maju dan memukul perut mereka satu per satu dengan cepat dan akurat. Pukulannya sangat kuat sampai membuat mereka meringkuk kesakitan sambil memegangi perut mereka.
Harto, orang kedua di dalam geng maju setelah melihat para anggotanya dikalahkan dengan mudah. Harto mengangkat kaki kanannya berniat untuk menendang perut Aksa.
Aksa melihat tendangan yang dilancarkan oleh Harto dengan mudah. Ia menangkap telapak kaki Harto dan memegangnya di udara.
Aksa menarik kaki Harto yang membuat Harto terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Namun sebelum jatuh, Aksa menggunakan lututnya untuk menyerang perut Harto.
"Apa-apaan kekuatan orang ini!?" itu adalah pikiran Harto sebelum ia tidak sadarkan diri.
Aksa menatap Asep yang sudah ketakutan. Asep merasakan kalau kedua kakinya lemas melihat Aksa mengalahkan semua anggota geng dengan sangat mudah.
Asep terjatuh dan berlutut di depak Aksa. "Aku minta maaf! Aku sungguh minta maaf! Kami tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, jadi tolong lepaskan kami!"
"Galih, ambil tali dan ikat mereka. Sarah, tolong panggil polisi." Aksa langsung memberi perintah.
"Baik!" Galih dan Sarah mengangguk dan segera melakukan apa yang Aksa perintahkan.
"Tidak! Apapun itu asalkan jangan panggil polisi!" Asep berteriak dengan nada penolakan.
"Kamu tidak berhak untuk memilih," kata Aksa dengan dingin.
Galih kembali dengan anak buahnya sambil membawa tali. Mereka segera mengikat semua anggota geng termasuk Asep dengan ikatan yang sangat kuat.
Sarah juga telah memanggil polisi dan diperkirakan polisi akan datang beberapa menit lagi karena kantor polisi cukup dekat dengan Sajaya Farm.
Kemudian, orang-orang di sekitar bertepuk tangan dan memuji Aksa karena telah mengalahkan para anggota geng yang berbuat kekacauan itu.
Aksa tersenyum minta maaf dan berkata, "Semuanya, sepertinya ada masalah lagi di Sajaya Farm. Sama seperti sebelumnya, kami akan memberikan kalian masing-masing satu botol susu sebagai bentuk permintaan maaf."
Setelah jeda, ia menambahkan, "Kalian bebas untuk memilih susu murni atau susu kambing. Nanti ambil saja di area penjualan, akan ada karyawan yang mengurusnya."
"Wah! Terima kasih, Pak!"
"Penanggung jawab Sajaya Farm memang yang terbaik!"
"Benar, aku akan mengundang teman-temanku untuk segera pergi ke Sajaya Farm di lain kesempatan."
Orang-orang bertepuk tangan lebih keras lagi saat mendengar perkataan Aksa dan mereka juga memuji Aksa serta Sajaya Farm dan memanggil teman-teman mereka untuk datang ke sini
Setelah itu, polisi datang dan membawa Asep dan anggota geng lainnya. Aksa juga ikut karena ia harus menulis laporan bersama dengan petugas polisi.
Setelah Aksa pergi, orang-orang segera mengunggah video pertarungan Aksa melawan para anak geng dengan judul yang sedikit dilebih-lebihkan.
"Terkejut! Seorang penanggung jawab Sajaya Farm ternyata ahli bertarung!"
"Berita panas! Seorang penanggung jawab Sajaya Farm memang melawan selusin pria anggota geng dengan mudah!"
"Berita terkini! Seorang pria tampan melakukan sesuatu kepada pria jelek!
__ADS_1
Jika Aksa melihat judul berita tersebut, bisa dipastikan kalau ia akan langsung muntah darah. beruntung Aksa sedang pergi dan tidak melihat judul yang dibuat oleh orang-orang.