
"Apakah ada sesuatu yang penting sehingga Pak Eddy yang sibuk datang ke Sajaya Farm?" tanya Aksa dengan nada ramah namun dalam kata-katanya mengandung kecurigaan.
Eddy bukalah orang yang bodoh, tentu saja dia bisa merasakan kecurigaan dalam kata-kata Aksa..Namun dia tidak marah ataupun kesal karena tahu apa yang dia lakukan.
"Sebagai pebisnis veteran yang mengenal Albar dan perusahaannya tidak menyarankan untuk menghadapi mereka. Kelas kalian sangat berbeda bagaikan langit dan bumi." Eddy berkata dengan nada serius.
"Itulah yang akan aku katakan jika tidak mengenalmu. Meskipun aku tidak menyarankan, tapi aku bisa membantu. Apakah kamu membutuhkan bantuan untuk menghadapi mereka?" tanya Eddy.
Aksa terkejut karena ia kira Eddy akan menyuruhnya untuk menyerah saja karena yang ia hadapi adalah perusahaan kelas atas yang terkenal di ibukota. Namun ternyata Eddy malah bersedia untuk membantu dirinya menghadapi mereka.
"Aku berterima kasih jika Anda ingin membantuku, tapi, apakah ada sesuatu yang perlu aku lakukan untuk Anda?" Aksa tentu saja tahu kalau tidak ada makan siang gratis di dunia ini.
Eddy tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak ada. Aku bukan membantumu tapi membantu Sajaya Farm. Aku sudah jatuh cinta dengan produk peternakan di sini dan tidak bisa memalingkan wajahku ke tempat lain."
"Yah, meskipun aku ada sedikit keinginan. Karena aku terlibat dalam ini, maka bisakah aku mendapatkan keuntungan dari Albar dan perusahaannya?"
Aksa tertawa bahagia dan berkata, "Hahaha, tentu saja! Bukannya sombong, tapi aku tidak membutuhkan kekayaan mereka. Yang aku butuhkan adalah popularitas agar Sajaya Farm terkenal."
"Selamat bekerja sama." Eddy menyeringai dan mengulurkan tangan kanannya.
"Ya, selamat bekerja sama." Aksa mengangguk dan berjabat tangan dengan Eddy.
Aksa tidak langsung membahas mengenai masalah ini, ia memanggil Indra untuk membuatkan dua cangkir teh herbal untuk Eddy dan Dewi, dan satu cangkir kopi untuk dirinya sendiri.
"Aksa, teh ini sangat enak! Aku merasa kalau rasa lelah di tubuhku tersapu dan digantikan oleh ketenangan yang sangat damai," kata Dewi dengan sangat terkejut.
Biasanya Dewi dengan sahabatnya pergi ke restoran atau tempat lain untuk minum teh pagi atau teh sore. Bisa dikatakan kalau dia sudah ahli dalam penilaian teh biasa atau teh herbal.
Namun belum pernah ada teh yang seenak teh herbal dari Aksa bahkan efeknya langsung terasa sesaat setelah air teh masuk ke dalam tenggorokan.
Aksa tertawa dan berkata, "Hahaha, teh herbal ini sangat sulit untuk di dapatkan. Aku membutuhkan banyak usaha untuk mendapatkan sedikit teh herbal, karena memang teh ini sangatlah ajaib."
Tentu saja Aksa tidak akan mengatakan kalau dia mempunyai 10 kilogram teh herbal.Jika tidak, maka dia akan dimintai oleh Eddy dan Dewi, bahkan mungkin akan ada orang lain yang meminta.
Barang dengan kualitas terbaik harus dijaga, semakin sedikit jumlahnya maka semakin berharga barang tersebut karena ada permintaan namun tidak ada stok.
__ADS_1
Meskipun begitu, Aksa tidak berniat untuk menjual teh herbal ini meskipun bisa mendapatkan banyak sekali uang. Ia akan menggunakan teh herbal ini untuk menjamu pelanggan kelas atas atau sesuatu yang mirip.
"Pantas saja rasa dan efeknya sangat menakjubkan. Tidak heran karena itu sangat sulit untuk didapatkan," kata Dewi sambil menghembuskan napas panjang.
"Hm, ada harga ada kualitas," angguk Eddy yang setuju dengan perkataan istrinya.
"Ngomong-ngomong, Aksa, aku tidak bisa membantumu secara terang-terangan. Aku hanya bisa membantu dalam bayang-bayang, mohon maafkan aku," kata Eddy dengan nada tak berdaya.
"Jangan mengalahkan diri sendiri, Pak. Aku tahu kalau dunia bisnis itu rumit, jadi bantuan dalam bayang-bayang juga sudah sangat membantu, jadi seharusnya aku yang meminta maaf karena merepotkan," kata Aksa dengan cepat.
Eddy tertawa dan berkata, "Hahaha, baiklah kalau begitu. Mari kita bekerja sama dengan sungguh-sungguh."
Setelah itu Eddy dan Dewi memutuskan untuk berkeliling sebentar sebelum kembali ke perusahaan mereka. Sementara itu Aksa sedang menyusun daftar kegiatan event balap sampan.
...----------------...
Sementara itu, di dekat sekolah Elvira dan Elvina.
Kelas 11 IPS 1 sedang berkegiatan di luar sekolah, tepatnya di taman. Mereka di sana karena ada pelajaran seni budaya yang bertugas untuk menggambar objek di lingkungan sekitar.
Si kakak Elvira sedang menggambar bunga dengan latar belakang langit biru sedangkan adiknya Elvina sedang menggambar pohon yang dihuni oleh keluarga tupai.
Mereka berdua mengambil inspirasi dari Sajaya Farm di mana Elvira membayangkan taman bunga matahari dan Elvina membayangkan pohon di taman bunga yang merupakan rumah tupai.
"Vira, temani aku ke toilet." Elvina ingin buah air kecil dan meminta Elvira untuk menemaninya ke toilet umum yang ada di taman.
"Ayo. Teman-teman, kami ke toilet terkenal dahulu." Elvira mengangguk dan berkata kepada teman-temannya.
Elvina masuk ke dalam toilet sementara Elvira menunggu di luar pintu, saat Elvina sudah selesai dan keluar dari sana, tiba-tiba ada beberapa orang pria yang mendekati mereka berdua.
Elvira dan Elvina tidak menyadari kehadiran beberapa pria tersebut karena mereka berdua sedang berbicara dengan riang. Lalu, setelah beberapa langkah, dua orang pria menempatkan kain yang sudah diberi obat tidur ke mulut dan hidung mereka berdua.
"Um!!!" Elvira dan Elvina panik karena tiba-tiba ada seseorang yang ingin membuat mereka pingsan.
Mereka berdua memberontak bahkan memukul-mukul pria di belakang mereka dengan siku. Namun semua pria memiliki tubuh yang kekar dan sedangan Elvira dan Elvina tidak mempan.
__ADS_1
"Ayo pergi." Pria yang mengenakan jaket kulit hitam berkata kepada pria yang lain.
Setelah Elvira dan Elvina pingsan, mereka berdua dibawa oleh pria-pria tersebut ke dalam mobil. Setelah beberapa saat, mobil tersebut melaju dan menghilang dari pandangan.
...----------------...
"Ke mana Elvira dan Elvina? Sudah setengah jam tapi mereka belum kembali. Apakah ada yang melihatnya?" Guru seni budaya bertanya kepada siswa-siswinya tentang Elvira dan Elvina yang tidak kunjung kembali.
Namun teman-teman Elvira dan Elvina juga bingung. Mereka juga khawatir karena kedua adik Aksa itu belum kembali dan sudah mencarinya ke sekitar.
"Anak laki-laki ikuti guru ke toilet!" Guru seni budaya berkata kepada beberapa murid laki-laki dan mereka berlari menuju toilet umum di taman.
Mereka melihat kalau Tiya toilet terbuka dan tidak ada orang di dalamnya. Mereka segera mencari ke seluruh taman dan masih tidak menemukan keberadaan Elvira dan Elvina.
"Kalian semua, ayo kembali ke sekolah terlebih dahulu. Guru akan melaporkan kejadian ini kepada polisi." Guru seni budaya berkata kepada para siswa dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi polisi.
Namun Guru seni budaya menjadi marah karena polisi mengatakan kalau mereka bisa mengirimkan personil jika Elvira dan Elvina sudah hilang selama 2 kali 24 jam atau 48 jam.
Memikirkan hal tersebut, Guru seni budaya pergi ke kantor untuk menemui wali kelas 11 IPS 1 dan meminta nomor telepon Aksa karena ia akan menelepon Aksa langsung daripada menyerahkan masalah ini ke polisi.
...----------------...
Di Sajaya Farm, kantor Aksa.
"Halo?" tanya Aksa dengan bingung karena ada nomor tidak dikenal meneleponnya.
"Aksa! Saya Guru seni budaya Elvira dan Elvina, mereka berdua menghilang saat pergi ke toilet setengah jam yang lalu saat kami sedang ada di taman karena tugas seni budaya!" teriak Guru seni budaya dengan cemas.
"Apa!?" Aksa berdiri dari kursinya tiba-tiba sampai kursinya jatuh.
Aksa mengabaikan hal tersebut dan segera menanyakan apa yang sedang terjadi. Guru seni budaya menjadi tenang dan mengatakan semua kejadian yang ia tahu kepada Aksa dengan jujur.
"Baik, terima kasih, Pak." Aksa berterima kasih kepada Guru seni budaya lalu menutup telepon.
Aksa segera menghubungi Lisa dan timnya dan meminta mereka untuk merekam video pencarian Elvira dan Elvina. Jika ada yang menemukannya, maka orang tersebut akan mendapat hadiah.
__ADS_1
"Apakah ini perbuatan Kevin!? Sialan!!!" Aksa berteriak dengan sangat keras bahkan Sarah yang ada di kantornya bisa mendengar teriakan Aksa yang mengandung kemarahan yang luar biasa.