Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Menanam Pohon Untuk Mengurangi Polusi


__ADS_3

Area yang akan ditanami pohon adalah sebuah lahan hijau yang penuh dengan rerumputan liar. Selain itu hanya ada pohon kering dan tumbuhan yang tingginya tidak sampai satu meter.


Anakan pohon yang akan digunakan oleh para pengunjung cukup banyak, karena Aksa memiliki sebuah rencana untuk area ini di masa mendatang.


Anakan pohon itu meliputi pohon ek, pohon palem, pohon cemara, dan pohon pinus. Keempat pohon itu memang sudah biasa digunakan saat melakukan reboisasi atau saat kampanye seperti ini.


"Kita sudah sampai! Sekarang turun dari kendaraan kalian dan mulai ambil anakan pohonnya!" teriak Aksa sambil turun dari kudanya juga.


Para pengunjung segera mengantre untuk mendapatkan anakan pohon. Kebanyakan dari mereka akan mengambil sekitar 20 anakan karena itu cukup untuk satu tas penuh.


Selain anakan pohon, Sajaya Farm juga akan memberikan sekop kecil untuk menggali tanah. Area ini memiliki tanah yang subur sehingga mudah untuk digali. Jika tidak mudah, maka abaikan saja dan cari tempat yang mudah.


"Pengunjung yang ikut serta sangat ramai," kata Sarah kepada Aksa dengan suara yang cukup terkejut.


"Begitulah." Aksa tertawa kecil karena dia juga terkejut tadi.


Pada saat ini, seorang karyawan mendekati Aksa dan berkata, "Bos, ada reporter dari berbagai media yang ingin melakukan siaran langsung di sini. Mereka bertanya apakah diizinkan untuk melakukan hal itu."


"Media? Katakan kepada mereka kalau aku mengizinkannya," kata Aksa sambil menganggukkan kepalanya.


Aksa memang sengaja tidak menyiarkan langsung kampanye ini agar para perusahaan media datang untuk menyiarkan langsung karena saluran mereka lebih luas dibandingkan dengan saluran Sajaya Farm.


"Baik, Bos!" Karyawan itu mengangguk, lalu dia pergi menghampiri pada media.


"Aksa, karena banyak media yang sedang meliput, itu artinya kita akan semakin dikenal," kata Sarah yang mendengar perkataan Aksa kepada karyawan tadi.


"Ya. Karena kampanye ini bertujuan untuk mengatasi polusi udara yang sedang terjadi, mungkin pemerintah juga akan bertindak. Kita juga bisa mendapat banyak reaksi dari orang-orang," angguk Aksa.


"Kurasa Sajaya Farm bisa dikenal oleh seluruh warga Indonesia," kata Sarah sambil tersenyum tipis.


"Mungkin bisa sampai dunia? Hahaha. Ngomong-ngomong, ayo kita ikut menanam pohon juga!" Aksa tertawa kecil, lalu dia pergi untuk ikut serta dalam melakukan penanaman pohon.


"Dunia ya, semoga saja itu terjadi," batin Sarah sambil tersenyum tipis, lalu dia berjalan mengikuti Aksa.

__ADS_1


...----------------...


Sementara itu, di depan Sajaya Farm.


"Kita terlambat ya," kata Aji sambil tersenyum masam.


"Tidak apa-apa, kakak juga tidak terlalu peduli!" kata Elvina kepada Aji.


Aji, Ani, Elvira dan Elvina sebenarnya juga diminta untuk datang ke Sajaya Farm untuk mengikuti kampanye penghijauan lingkungan oleh Aksa, tapi mereka terlambat datang.


Alasannya adalah karena Elvira dan Elvina bangun terlambat dan mereka juga pergi dengan transportasi umum untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi agar polusi udara tidak bertambah.


"Pak Aji?" Pada saat ini, ada seseorang yang memanggil nama Aji. Aji menoleh dan melihat kalau yang memanggilnya adalah Andre, ayah Sarah.


"Oh! Pak Andre!" kata Aji sambil melambaikan tangannya ke arah Andre yang sedang bersama Delia.


Aji dan Andre sudah saling kenal sejak ulang tahun Aksa, terkadang mereka juga memancing bersama saat ada waktu luang atau saat hari libur.


"Pak Aji tidak masuk?" tanya Andre setelah berjalan menghampiri Aji.


Aji tertawa, lalu dia bertanya kepada Andre. "Kami terlambat datang, haha. Pak Andre sendiri bagaimana?"


"Sama, kami juga. Aku harus pergi ke perusahaan terkenal dahulu untuk tanda tangan dokumen, jadinya kami tidak bisa datang tepat waktu," kata Andre yang tertawa juga.


Ani dan Delia juga berbincang-bincang dengan hangat. Kemudian, mereka semua memasuki Sajaya Farm. Kebetulan Galih ada di sana, jadi dia bisa mengenali keluarga Aksa dan Sarah.


"Pak, Bu, mari gunakan bus saja agar lebih cepat ke lokasi," kata Galih dengan ramah kepada mereka. Tentu saja, dia juga tidak akan menagih tiket kepada mereka.


"Oh, maaf merepotkan." Aji mengangguk dan berterima kasih kepada Galih karena mereka terlambat dan pastinya akan lebih terlambat lagi jika berjalan kaki ke lokasi penanaman pohon.


Mereka naik ke dalam bus mini milik Sajaya Farm, dan Galih sendiri yang mengendarainya. Kemudian setelah sampai di lokasi, mereka turun dari mobil dan bergabung dengan pengunjung lain.


"Kakak! Kak Sarah!" Elvira dan Elvina berteriak memanggil Aksa dan Sarah yang sedang memandu para pengunjung agar bisa menanam anakan pohon dengan cara yang benar.

__ADS_1


"Vira! Vina!" Sarah berjalan menghampiri mereka dan segera memeluk mereka dengan erat. Elvira dan Elvina juga tersenyum dan membalas pelukan Sarah.


Sementara itu Aksa hanya tersenyum dan menyapa kedua adiknya dengan mengangkat tangannya. Kemudian dia melanjutkan memandu pengunjung lain.


"Kak Sarah, ayo kita tanam pohon!" kata Elvira kepada Sarah dengan penuh semangat.


"Ayo." Sarah tersenyum. Dia mengapa Andre dan Delia terlebih dahulu sebelum mengajak Elvira dan Elvina untuk mengambil anakan pohon.


Setelah mengambil beberapa anakan pohon, mereka bertiga segera pergi ke tempat yang masih kosong. Sekop di tangan mereka digunakan untuk menggali tanah sampai kedalaman tertentu.


Baru setelah digali tanyanya, Sarah memasukkan anakan pohon ke dalam lubang galian. Setelah itu, Sara menutup celah tanah yang terbuka dengan tanah bekas galian barusan.


Elvira dan Elvina yang melihat Sarah menjadi ingin mencobanya. Jadi, mereka berdua juga melakukan hal yang sama seperti Sarah. Menggali tanah, memasukkan anakan pohon, dan menutup celah tanah.


"Kak Sarah, pohon ini akan tumbuh berapa lama?" tanya Elvina dengan penasaran kepada Sarah. Elvira juga penasaran, dia menoleh ke arah Sarah.


"Um, pohon yang kita tanam itu pohon pinus. Pohon pinus butuh waktu 15 tahun untuk tumbuh dewasa sampai tinggi," kata Sarah setelah berpikir sejenak.


"Eh!? 15 tahun!?" Elvira dan Elvina melebarkan mata mereka karena terkejut.


"Ya, itu benar." Aksa muncul di belakang kedua adiknya, lalu dia berkata sambil mengelus-elus kepala Elvira dan Elvina.


"Ah! Kakak!" Elvira dan Elvina mengusir tangan Aksa dari kepala mereka.


"Pohon pinus adalah kelompok tumbuhan yang termasuk dalam genus Pinus. Waktu yang diperlukan untuk tumbuh juga tergantung berbagai faktor, seperti spesies pinus, kondisi lingkungan, dan perawatan," jelas Aksa sambil berjongkok di sebelah mereka.


"Lalu apa gunanya kita melakukan penanaman ini? Bukankah tujuannya untuk mengurangi polusi udara?" Elvina bertanya sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


"Itu hanya untuk simbolis. Menanam pohon tidak akan bisa mengatasi polusi udara yang terjadi pada saat itu juga, tapi bisa diatasi pada saat masa depan saat pohon itu tumbuh," kata Sarah kepada Elvina.


"Dengarkan Sarah. Untuk polusi udara yang sekarang, kita memang mengandalkan pohon yang sudah ada, tapi kita juga perlu membantunya dengan cara mengurangi pemakaian kendaraan pribadi." Aksa menambah penjelasan dari Sarah.


Tapi yang tidak mereka sadari adalah di belakang mereka sedang ada orang yang memegang kamera dan kameranya sedang menyoroti Aksa, Sarah, serta Elvira dan Elvina.

__ADS_1


__ADS_2