
"Kakak!" Elvira dan Elvina berlari menghampiri Alvan yang baru sampai di rumah.
"Wah, Vira, Vina, kalian lebih cantik daripada saat terakhir aku lihat." Alvan mengelus-elus kepala kedua adiknya itu.
"Kamu sudah pulang, Nak." Ani tersenyum melihat kepulangan putranya.
"Ibu, Ayah." Alvan tersenyum dan memeluk kedua orang tuanya.
Setelah itu Alvan segera memperkenalkan pacarnya kepada keluarganya. Aji dan Ani sangat senang dengan hal itu karena Rina juga merupakan gadis yang cantik.
Jika saat ini Aksa masih menganggur dan keluarga masih berhutang, Aji dan Ani mungkin akan ragu-ragu karena takut kalau Alvan tidak bisa membahagiakan Rina dan malah berakhir menyedihkan.
Tapi berkat Aksa yang membawa perubahan besar dalam keluarga, sekarang mereka tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi dan bisa fokus terhadap kebahagiaan keluarga.
Lalu Alvan dan Rina makan karena di kereta mereka hanya makan siang sederhana dan tidak terlalu nafsu karena perjalanan yang cukup lama membuat mereka pusing.
Aksa tidak ikut mengobrol bersama karena ia tidak tahu harus mengobrol apa dan masih ada Sarah di belakangnya. Jadi, Aksa mengajak Sarah untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kamarmu sangat sederhana," kata Sarah sambil melihat-lihat kamar Aksa.
Memang, kamar Aksa hanya berupa lemari pakaian, tempat tidur, dan meja belajar. Tidak ada furnitur atau hiasan lain di dinding yang membuat kamar terasa kosong.
"Yah, aku tidak ada uang saat itu. Sekarang, karena aku sudah membeli rumah baru, untuk apa menghias kamar ini bukan?" kata Aksa sambil tersenyum.
Sarah diam sejenak, ia ingin mengatakan sesuatu namun ragu-ragu. Aksa yang melihat hal itu segera meminta Sarah untuk jangan sungkan mengatakan apapun.
"Aksa, bagaimana tipe wanita kesukaanmu?" Sarah bertanya dengan suara lirih karena dia sangat malu dengan pertanyaan yang diajukan.
Jelas, Aksa sangat terkejut dengan pertanyaan Sarah. Ia tahu kalau Sarah adalah wanita yang dingin dan tidak menyangka Sarah akan menanyakan hal tersebut dengan wajah memerah.
"Hahaha, mungkin kamu tidak tahu. Tapi pria itu sangat sederhana, wanita tidak dikenal yang lewat pun bisa disukai." Aksa tertawa lalu menjawab.
Setelah jeda, ia melanjutkan, "Aku juga sama, tidak ada tipe spesifik untuk pasanganku. Selama mereka memiliki sifat positif dan tanggung jawab."
"Begitu." Sarah mengangguk dan tidak bertanya lagi.
Karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Aksa memutuskan untuk bercerita mengenai masa mudanya yang konyol yang membuat Sarah tertawa bahagia.
Lalu saat malam tiba, Elvina memanggil Aksa dan Sarah untuk turun dan makan malam bersama. Setelah itu Aksa mengantar Sarah pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Kamu bawa saja mobilku. Aku masih ada mobil milik orang tuaku," kata Sarah.
Aksa mengangguk dan tersenyum, lalu ia berkata, "Baiklah, aku akan membawanya terlebih dahulu. Selamat malam."
Sarah juga tersenyum indah dan berkata, "Ya, selamat malam."
Melihat Sarah masuk ke dalam rumahnya, Aksa masuk ke dalam mobil dan pulang. Setelah itu satu keluarga berbincang-bincang sebentar sebelum tidur.
Alvan sedang tidur di kamar Aksa karena kamarnya digunakan oleh Rina. Melihat Alvan tidur dengan nyenyak, Aksa tersenyum dan masuk ke dalam peternakan game untuk memeriksa seperti biasa lalu ia tidur.
...----------------...
"Ayah, Ibu, lihat ini." Aksa menunjukkan dokumen pembelian rumah kepada kedua orang tuanya.
Setelah sarapan adik-adiknya mengobrol sambil menonton televisi di ruang tamu sementara Aksa menunjukkan dokumen kepada orang tuanya yang sedang mengupas apel di ruang makan.
"Apa ini?" Aji mengambil dan membacanya, lalu setelah membaca isi dari diketahui tersebut ia tertegun.
"Hm? Mengapa kamu diam saja?" Ani melihat kalau suaminya menjadi diam. Ia penasaran dengan dokumen tersebut yang membuat suaminya menjadi seperti itu.
Setelah beberapa saat, tangan Ani yang memegang dokumen gemetar. Ia melihat ke arah Aksa lalu ke arah dokumen bolak-balik seolah-olah ia tidak mempercayai apa yang ia lihat.
Aksa tersenyum dan mengangguk dengan serius. "Ya. Ini adalah hadiah tahun baru dariku untuk kita sekeluarga."
Aji yang tidak bisa menahan keterkejutannya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan sedangkan Ani langsung menangis bahagia karena ia tidak bisa menahan emosi yang meluap-luap.
"Ayah! Ibu! Ada apa?" Alvan melihat kalau kedua orang tuanya bersikap aneh.
Elvira dan Elvina juga menoleh, namun mereka melihat dokumen yang ada di tangan Ani. Mereka berdua saling memandang dan tersenyum bahagia, mereka tentu saja tahu apa isi dokumen tersebut.
Aji tidak menjawab, ia mengambil dokumen dari tangan Ani dan menyerahkannya kepada Alvan. Alvan membaca dokumen tersebut bersama Rina dan sama seperti kedua orang tuanya, Alvan tidak bisa menahan keterkejutannya.
"Kakak, apakah ini serius!?" tanya Alvan dengan nada tidak percaya.
Aksa memutar matanya dan menjawab, "Tentu saja. Untuk apa aku berbohong tentang sesuatu seperti ini?"
Alvan yang tidak bisa menahan keterkejutannya memeluk Rina yang ada di sampingnya. Rina yang terkejut dengan tindakan Alvan menjadi malu karena yang lain melihat ke arah mereka.
Aksa melihat kalau kedua orang tuanya berpelukan, Alvan dengan Rina, dan Elvira dan Elvina juga saling berpelukan. Lalu Aksa melihat ke dirinya sendiri dan terdiam, ia tidak bisa berkata-kata dengan situasi yang terjadi.
__ADS_1
"Kemasi barang-barang kalian, kita pindah hari ini," kata Aksa sambil berjalan menuju kamarnya.
"Tapi kita tidak mempunyai waktu untuk memindahkan barang-barang rumah jika pindah hari ini," kata Alvan yang melihat ada banyak sekali barang.
"Tidak diperlukan. Di rumah baru sudah lengkap, dan barang-barang di sini juga sudah tidak berguna. Bawa saja pakaian dan barang pribadi kalian," jawab Aksa tanpa menoleh ke belakang.
Setelah mendengar perkataan Aksa, mereka semua segera membereskan barang-barang dan pakaian. Alvan sedikit terdiam karena tadi malam ia sudah memasukkan pakaiannya ke dalam lemari dan sekarang ia harus mengemasnya lagi.
Aksa sudah mengemas pakaian miliknya, ia mengambil koper dan turun ke bawah. Kemudian ia memesan transportasi online karena hanya ada satu mobil milik Sarah sedangkan keluarganya berjumlah tujuh termasuk Rina.
Aksa memasukan koper ke dalam bagasi mobil, setelah itu kedua adik kembarnya juga turun karena mereka sudah mengemas pakaian mereka dari awal.
Setelah beberapa saat, mereka semua sudah mengemas pakaian mereka. Lalu kebetulan mobil pesanan juga sudah datang, Aksa dan kedua adik kembarnya menggunakan mobil milik Sarah dan yang lain menggunakan mobil online.
"Sarah, keluargaku akan pindah sekarang. Apakah kamu ingin datang?" Aksa menelepon Sarah sebelum berangkat.
"Hari ini? Tentu, aku juga tidak ada pekerjaan." Sarah menerima ajakan Aksa.
"Baiklah, kamu sudah tahu alamat rumahku kan? Aku akan menunggumu di sana," kata Aksa.
Sarah memutar matanya dan membalas, "Apa yang kamu katakan? Seharusnya aku yang menunggu kalian di sana."
Aksa berpikir dan memang, Sarah lebih dekat dibandingkan dengan dirinya. "Benar juga, kalau begitu tolong tunggu beberapa saat ya, tidak akan lama."
"Ya." Setelah itu Sarah menutup telepon.
Aksa menyimpan ponselnya kembali dan menyalakan mobil, setelah itu ia mengemudikan mobil menuju rumah baru mereka dan mobil online yang Aksa pesan mengikuti di belakangnya.
"Rumah baru!!" teriak Elvira dan Elvina.
"Berteriak tapi jangan banyak bergerak!" tegur Aksa namun itu tidak berguna karena kedua adik kembarnya sudah terlalu bersemangat untuk pindah ke rumah baru.
...----------------...
"Hm, aku harus memakai pakaian apa?" Sarah sedang memilih pakaian yang jumlahnya ada banyak sekali di lemarinya.
Meskipun Sarah sudah bertemu dengan keluarga Aksa kemarin, tapi ia tetap ingin tampil dengan bagus di depan orang tua Aksa. Entah mengapa Sarah menjadi semakin bersikap seperti pacar Aksa.
"Hm, ini saja." Sarah memilih pakaian yang sederhana namun cocok untuk waktu-waktu santai.
__ADS_1
Setelah berpakaian dan dandan sederhana, Sarah menggunakan mobil orang tuanya menuju rumah baru Aksa dan menunggu kedatangan Aksa dan keluarganya.