
Kata-kata formal sudah selesai dan sekarang waktunya bagi para pengusaha untuk membaur dan mencari koneksi. Namun Aksa tetap diam di tempatnya karena ia tidak menemukan orang yang perlu.
Memang ada banyak pengusaha sukses di sini, namun mereka memiliki bisnis yang tidak ada kaitannya dengan peternakan ataupun mengenai lingkungan.
Kebanyakan dari mereka adalah bisnis makanan dan minuman, infrastruktur, media, dan lain sebagainya yang tidak diperlukan oleh Sajaya Farm.
Makanan dan minuman sudah disediakan oleh peternakan game, infrastruktur ada Dito dan perusahaannya, dan untuk media adalah temannya, Ivan yang bekerja di perusahaan iklan.
Sementara itu, Sarah sedang bersama dengan orang tuanya. Mereka sedang berbincang-bincang dengan Kevin dan keluarganya meskipun Sarah sama sekali tidak berbicara dan hanya duduk diam.
Aksa yang bosan sedang minum minuman yang sudah disediakan sambil melihat-lihat orang di sekitar. Kemudian di sudut matanya, ia melihat seroang pria paruh baya dengan penampilan lesu sedang duduk di dekatnya.
Ia tidak terlalu peduli dengan pria tersebut, namun karena rasa penasaran yang tinggi, ia dengan iseng menggunakan fungsi deteksi kualitas karyawan kepada pria tersebut.
Kemudian betapa terkejutnya Aksa karena kualitas pria tersebut adalah S sama seperti Sarah. Di dalam hatinya, Aksa sangat bersemangat, namun wajahnya tetap tenang seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Aksa berdiri dan berjalan menghampiri pria tersebut, melihat ada pelayan yang sedang membawa minuman, ia mengambil dua gelas dan melanjutkan langkahnya ke arah meja pria tersebut.
"Permisif, apakah Anda ingin minum sesuatu?" Aksa bertanya dengan nada sopan dan menunjukkan senyum tulus kepada pria tersebut.
Rofiq yang sedang depresi menundukkan kepalanya dan tidak ikut bersosialisasi dengan para pengusaha lain. Ia hanya diam di tempat duduknya sambil menunggu waktu acara perayaan selesai.
Namun tiba-tiba suara seorag pria mengganggu lamunannya, ia mendongak dan melihat wajah seorang anak muda yang menunjukkan senyum cerah sampai membuatnya silau.
Ia melihat wajah Aksa dan mencoba mencari di dalam ingatannya. Namun setelah beberapa saat, ia tidak bisa menemukan wajah Aksa di dalam ingatannya yang berarti mereka berdua tidak pernah bertemu.
Rofiq pun bertanya dengan nada curiga, "Maaf jika tidak sopan, tapi kamu siapa, anak muda? Kita berdua tidak saling mengenal, aku juga belum pernah melihat wajahmu."
Aksa yang tetap memasang senyum cerah pun menjawab, "Namaku Aksa Wijaya, aku adalah pemilik tempat wisata peternakan yang bernama Sajaya Farm. Bolehkah aku bertanya siapa nama Anda?"
Meskipun Rofiq tidak mengetahui siapa Aksa, tapi melihatnya berkata dengan nada sopan membuat depresinya sedikit mereda. Ia menyuruh Aksa untuk duduk dan mengatakan namanya.
__ADS_1
"Ini adalah kartu namaku." Rofiq menyerahkan kartu nama miliknya kepada Aksa.
"Ah, maafkan aku karena tidak sopan. Ini adalah kartu namaku." Sambil menerima kartu nama milik Rofiq, Aksa meminta maaf karena lupa memberikan kartu nama, lalu ia menyerahkan kartu nama miliknya kepada Rofiq.
Aksa sudah lama membuat kartu nama, namun tidak pernah ia gunakan karena tidak pernah bertemu dengan seseorang yang penting yang perlu diberikan kartu nama.
"Ternyata orang ini adalah pemilik perusahaan kayu, tapi aku tidak mengenal nama perusahaannya. Aku rasa depresi yang dia rasakan saat ini berkaitan dengan perusahaannya," pikir Aksa.
"Anak muda ini tidak biasa, sudah memiliki bisnis di usianya yang masih muda dan bisa hadir di acara perayaan ini sebagai pebisnis, bukan orang yang dibawa oleh orang tuanya," batin Rofiq.
Setelah saling memperkenalkan diri dan saling memberikan kartu nama, mereka berdua berbincang-bincang mengenai topik yang ringan karena mereka berdua baru bertemu.
Setelah beberapa saat, Aksa yang sudah penasaran tidak bisa menahannya lagi. "Pak Rofiq, bisakah aku tahu mengapa Anda terlihat depresi tadi? Mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu?"
"Wajahku terlihat jelas, ya? Yah, ini juga bukan rahasia lagi di kalangan pebisnis. Perusahaan milikku bangkrut karena aku bersaing dengan anak perusahaan besar," jelas Rofiq dengan nada sedih.
Aksa mengangkat alisnya karena tebakannya benar, ia pun bertanya lagi, "Lalu, apakah Anda sedang membutuhkan bantuan dari para pebisnis yang hadir di acara perayaan ini?"
"Seperti yang diharapkan dari dunia bisnis. Sebuah dunia di mana kepercayaan sulit ditemukan dan orang-orang memandang dirimu berdasarkan keuntungan," batin Aksa.
"Jadi begitu, lalu apakah Anda memiliki rencana untuk kedepannya?" tanya Aksa yang mulai menggiring topik obrolan.
"Rencana? Aku sudah menyerah dengan membangun perusahaan lagi, sekarang aku hanya ingin membawa timku untuk bekerja di tempat yang lebih baik," jawab Rofiq tanpa pikir panjang.
"Kalau boleh tahu, pekerjaan apa yang dilakukan Anda sebelumnya?" Aksa harus tahu keahlian Rofiq sebelum merekrutnya ke Sajaya Farm.
Meskipun Rofiq adalah karyawan dengan kualitas S, tapi jika keahliannya tidak diperlukan oleh Sajaya Farm, maka Aksa akan mempertimbangkannya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Namun, apa yang Rofiq katakan selanjutnya membuat Aksa berseri-seri karena keahliannya sangat berguna untuk Sajaya Farm.
"Keahlianku adalah memahat kayu, sebelumnya aku bekerja sebagai pemahat di perusahaanku sendiri," jawab Rofiq dengan jujur karena itu bukan informasi rahasia.
__ADS_1
Aksa tersenyum lebar dan berkata dengan nada tegas, "Pak Rofiq, bagaimana jika Anda bekerja di Sajaya Farm? Kami menawarkan gaji sesuai dengan keahlian calon karyawan dan memberikan fasilitas terbaik."
"Pak Aksa, harus kuakui kalau itu adalah tawaran yang menarik, tapi sangat disayangkan kalau aku harus menolaknya. Bukan karena aku sombong, tapi karena aku harus membawa timku bersama" Rofiq berkata dengan nada serius.
Rofiq tentu saja tahu kalau Aksa tidak berbohong karena dia adalah pebisnis yang berpengalaman. Namun ia dengan enggan menolak tawaran Aksa karena ia harus membawa timnya.
Dia adalah pemilik perusahaan sekaligus pemimpin tim pemahat kayu sebelumnya. Sekarang, dia dan timnya menganggur dan membutuhkan pekerjaan yang bisa dilakukan bersama.
Aksa mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat pertama, lalu ia menghela napas lega saat mendengar kalimat kedua.
"Pak Rofiq adalah orang yang cakap, jika Anda memiliki keinginan seperti itu, lalu bagaimana jika begini? Kita akan bertemu besok dan Anda dipersilakan untuk membawa tim Anda ke Sajaya Farm," kata Aksa setelah berpikir sejenak.
"Namun meskipun aku membutuhkan Anda, jika tim anda memiliki kualitas kerja yang buruk, maka aku mohon maaf karena tidak bisa menerima kalian," sambungnya dengan hati-hati.
Mata Rofiq berbinar setelah mendengar perkataan Aksa, ia tidak menyangka kalau pemuda di depannya bersedia untuk menerima dirinya beserta timnya tanpa pikir panjang.
"Kalau begitu, aku akan datang ke Sajaya Farm besok pagi dengan timku. Jangan khawatir, aku bisa menjamin kalau timku tidak akan mengecewakanmu," kata Rofiq dengan semangat yang tinggi.
Rofiq tentu saja bahagia karena dia bisa mendapatkan pekerjaan. Meskipun ia tidak tahu Sajaya Farm karena selama ini ia disibukkan dengan urusan perusahaannya yang rumit.
Namun apa yang paling dibutuhkan oleh Rofiq dan timnya saat ini adalah pekerjaan. Apapun pekerjanya asalkan memenuhi standar dan memiliki gaji yang sesuai dengan pekerjaannya.
"Anda dipersilakan untuk datang. Kalau begitu, mari kita bertukar kontak," kata Aksa sambil tersenyum.
Sebenarnya Aksa tidak meragukan tim pemahat kayu Rofiq karena seorang karyawan kualitas S yang menjadi pemimpinnya.
Tapi tentu saja dia tidak bisa menunjukkannya karena itu akan menimbulkan kecurigaan dan memang tidak ada gunanya, dan dengan ini Aksa bisa mendapat kepercayaan Rofiq.
Mereka berdua bertukar kontak dan berbincang-bincang sebentar, kemudian Aksa kembali ke tempat duduknya setelah beberapa saat dan terus melihat-lihat orang di sekitar.
"Yo, Aksa." Terdengar suara pria yang Aksa benci saat ini.
__ADS_1
Aksa yang sedang minum menaruh gelasnya di atas meja dengan tenang. Setelah menghembuskan napas pendek, ia menoleh ke arah sumber suara pria yang memanggil dirinya.