
"Aksa, akhirnya kamu meneleponku," kata Bayu setelah panggilan terhubung.
"Aku minta maaf Pak Bayu. Bagusan ada pasien PTSD yang melakukan terapi kuda," kata Aksa sambil meminta maaf kepada Bayu.
"Yah, santai saja. Kamu ada di Sajaya Farm sekarang? Kalau iya, aku mau ke sana," tanya Bayu kepada Azam.
"Ya, aku sedang ada di Sajaya Farm. Bapak langsung ke sini saja, nanti aku meminta Galih untuk membawa Bapak ke kantorku," jawab Aksa.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang," balas Bayu, lalu dia menutup telepon.
Aksa segera meminta Galih untuk membawa Bayu kalau sudah datang. Sementara itu dia pergi ke kantornya untuk melakukan pekerjaannya di sana.
Setela setengah jam kemudian, pintu kantor Aksa diketuk dan terdengar suara Galih dari luar. Aksa mempersilakannya untuk masuk karena dia tahu kalau Galih sudah membawa Bayu ke sini.
"Permisi," kata Galih sambil membuka pintu setelah diizinkan untuk masuk. Di belakangnya juga ada Bayu yang masuk setelah pintu dibuka. Kemudian Galih menutup pintu lagi.
"Pak Bayu, silakan duduk dulu," kata Aksa yang mempersilakan Bayu untuk duduk. Dia juga berdiri dari kursi kerjanya dan duduk di sofa, di seberang Bayu.
Sebelum memulai pembicaraan, Aksa menyeduh teh herbal hangat untuk Bayu dari teko. Aksa selalu mempunyai stok teh herbal di kantornya untuk diseduh jika ada tamu yang datang.
"Oh, teh herbal. Terima kasih." Bayu gembira karena dia tahu efek teh herbal ini, karena Aksa pernah memberikannya. Dia segera mengambil cangkir dan menyeruput teh herbal itu.
Aksa juga mengambil cangkir di depannya yang berisi teh herbal yang sudah diseduh. Meskipun hari sudah siang, tapi meminum teh herbal dari peternakan game sangat enak, karena bisa menenangkan diri.
"Ah, mau berapapun aku minum teh herbal ini, rasanya sangat enak, kelelahanku juga langsung hilang," kata Bayu yang memiliki raut wajah bahagia.
"Lalu, apa yang ingin dibicarakan oleh Bapak?" tanya Aksa. Dia penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh Bayu sampai harus datang ke Sajaya Farm.
Jika tidak bisa dibicarakan di telepon, maka pembicaraan ini akan berubah menjadi serius. Dan karena Bayu datang ke Sajaya Farm, itu artinya pembicaraan ini ada kaitannya dengan Sajaya Farm.
__ADS_1
"Aksa. Kamu tahu sendiri kalau Kabupaten Banyumas sedang naik daun karena Sajaya Farm. Jadi kami ingin bekerja sama dengan Sajaya Farm," kata Bayu dengan serius.
Aksa mengangkat alisnya karena topik pembicaraan ini cukup dalam. Jadi dia bertanya, "Kerja sama? Apa maksud Bapak?"
"Begini. Sajaya Farm membuat Banyumas dapat banyak untung. Tapi tetap saja, kalau Sajaya Farm pergi, Banyumas juga rugi besar. Jadi, pemerintah memutuskan untuk bekerja sama, bukan bergantung pada Sajaya Farm," ungkap Bayu.
Kemudian Bayu menjelaskan kalau pemerintah ingin membuka sebuah area makanan dan minuman di dekat alun-alun. Nantinya, bahan-bahan untuk makanan dan minuman di sana akan dipasok oleh Sajaya Farm.
Jika area ini dibuka, maka akan ada banyak orang yang datang. Selain karena orang suka makan dan jajan, bahan bakunya juga berasal dari Sajaya Farm yang sudah terkenal.
Jadi, pemerintah tidak lagi bergantung pada Sajaya Farm untuk memajukan Kabupaten Banyumas. Mereka memutuskan untuk bekerja sama, agar Kabupaten Banyumas juga punya sumber pendapatannya sendiri.
Aksa tersenyum saat mendengar penjelasan Bayu. Itu artinya pemerintah sudah memutuskan untuk mandiri. Sebagai warga Banyumas, Aksa tentu saja sangat bahagia.
"Jadi begitu, aku paham sekarang. Tanpa pikir panjang, aku menerima kerja sama ini," kata Aksa sambil tersenyum yang membuat Bayu bahagia karena Aksa menerima kerja sama ini
"Terima kasih, Aksa!!" Bayu berterima kasih kepada Aksa dengan sangat tulus. Dia juga menginginkan Banyumas mempunyai sumber pendapatan lain.
Dia tidak bercanda. Kalau Sajaya Farm mengirim bahan-bahan berkualitas tinggi, maka pendapatan Sajaya Farm bisa menurun. Aksa tidak mau hal itu terjadi, jadi dia memutuskan untuk membuat batasan.
"Aku tahu ini. Lagipula target dari area makanan dan minuman ini adalah semua orang dari semua kalangan. Kami tidak memerlukan bahan berkualitas tinggi, sesuai standar saja sudah cukup," angguk Bayu yang menunjukkan pengertiannya.
Aksa tersenyum cerah, lalu dia bertanya kepada Bayu, "Terima kasih karena telah setuju. Apa Bapak sudah membuat kontraknya?"
"Tentu saja sudah. Aku sudah mempersiapkan semuanya, meskipun tidak yakin kalau kerja sama ini akan berhasil, hahaha," balas Bayu sambil tertawa kecil.
Bayu membuka resleting tasnya, lalu dia mengeluarkan sebuah amplop map dari dalam tas. Kemudian dia mengambil dua buah kertas yang isinya sama, yaitu sebuah kontrak kerja sama.
"Aksa, silakan dilihat dulu. Kalau ada yang tidak cocok, kita bisa menggantinya setelah didiskusikan," kata Bayu sambil memberikan salah satu kertas kontrak kepada Aksa.
__ADS_1
"Ya." Aksa mengangguk, dia mengambil kertas kontrak itu dan melihatnya dengan seksama. Dia sudah tahu tentang pembuatan kontrak kerja, jadi dia tidak perlu meminta bantuan dari pengacara atau yang lain.
Bayu menyeruput teh herbalnya lagi sambil melihat-lihat isi kantor Aksa. Kemudian dia melihat kalau ada seekor iguana yang sedang menatapnya. Bayu segera mengalihkan pandangannya karena dia merasa sedikit takut.
Namun apa yang tidak diketahui oleh Bayu adalah Tetsu sedang penasaran. Tetsu hanya memiliki penampilan yang garang, tapi berkebalikan dengan sifatnya. Jadi wajar saja kalau Bayu sedikit takut.
"Hiss." Tetsu menjulurkan lidahnya dan mengeluarkan suara mendesis.
"Tetsu? Ada apa?" Aksa menoleh ke arah Tetsu dan bertanya kepadanya. Tapi Tetsu tetap mendesis yang membuat Aksa bingung.
Tapi kemudian Aksa melihat kalau Tetsu sedang melihat Bayu. Jadi dia berdiri, membuka kandang Tetsu, dan mengeluarkannya. Aksa segera menaruh tetsu di atas meja, lalu dia lanjut membaca kontrak.
Tetsu menggerakkan keempat kakinya untuk berjalan ke arah Bayu yang sudah takut. Bayu mengeluarkan banyak keringat karena bulu kuduknya berdiri saat melihat Tetsu.
"Aksa, tolong aku!" teriak Bayu yang pada akhirnya dia menyerah dan meminta tolong kepada Aksa.
"Tetsu, diamlah, jangan ganggu Pak Bayu," kata Aksa tanpa mengalihkan pandangannya.
Tetsu kemudian diam, tapi dia masih menatap Bayu. Meskipun Tetsu sudah diam, Bayu masih tidak berani bergerak dari tempat duduknya.
Setelah beberapa menit, Aksa meletakkan kertas kontrak di atas meja dan berkata, "Pak Bayu, aku sudah membacanya. Tidak ada yang salah dalam kontaknya, ayo tanda tangan."
"Baiklah." Bayu mengangguk dengan cepat.
"Tetsu, ambilkan aku pena di atas mejaku," kata Aksa kepada Tetsu.
Tetsu tidak menjawab, karena iguana memang tidak mengeluarkan suara kecuali mendesis. Tetsu segera pergi ke atas meja kerja Aksa dan mengambil pena di sana dengan mulutnya.
Kemudian Tetsu melompat dari meja kerja dan segera pergi ke Aksa. Aksa membuka telapak tangannya, Tetsu lalu membuka mulutnya dan membiarkan pena di mulutnya terjatuh ke telapak tangan Aksa.
__ADS_1
"Bagus." Aksa mengelus-elus kepala Tetsu. Dia kemudian menandatangani kontrak kerja sama dengan pemerintah Kabupaten Banyumas.