Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Tentang Event Baru dan Geng Banteng Putih


__ADS_3

Keesokan harinya, Dimas datang ke Sajaya Farm setelah pulang sekolah bersama dengan teman-temannya. Hari ini dia akan mentraktir teman-temannya karena tadi dia mendapat nilai bagus.


"Meskipun dekat, aku tidak pernah pergi ke Sajaya Farm. Apakah apa yang kamu katakan memang benar, Dimas?" tanya salah satu temannya.


"Tentu saja, bagaimana bisa aku bohong? Lagipula, mana mungkin aku mentraktir kalian sesuatu yang tidak bagus," jawab Dimas dengan santai.


Teman-temannya mengangguk, mereka tahu kalau Dimas berasal dari keluarga kaya. Tidak mungkin dia akan membawa mereka ke sebuah tempat yang jelek apalagi sampai mentraktir mereka.


"Sudahlah, ayo mengantre." Dimas pergi ke loket tiket diikuti oleh teman-temannya.


Setelah beberapa menit mengantre, giliran mereka untuk membeli tiket. Dimas mengeluarkan kartu atm-nya untuk membayar. Setelah itu mereka masuk ke dalam Sajaya Farm setelah melakukan pengecekan tiket.


"Jadi ini, Sajaya Farm!" Teman-teman Dimas kagum dengan taman bunga yang ada di dekat pintu masuk.


"Heh, ini masih biasa. Kalian akan lebih terpukau lagi saat melihat taman bunga matahari di siang hari karena langit sedang cerah dan ada awan-awan juga," kata Dimas.


Mereka baru saja pulang sekolah sehingga perut mereka cukup lapar. Dimas langsung membawa teman-temannya ke restoran dan menyewa ruangan pribadi di lantai dua agar lebih nyaman.


"Oh? Ada menu baru?" Dimas sedikit terkejut karena ada beberapa minuman dan dessert di menu restoran.


Tanpa pikir panjang, Dimas segera memesan menu baru tersebut karena dia penasaran dengan rasanya. Dia tahu kalau hampir seluruh hidangan di sini dibuat dari produk peternakan.


Itulah mengapa dia menantikan bagaimana rasanya menu baru ini. Teman-temannya juga memesan menu sesuai yang mereka inginkan, mereka tidak segembira Dimas karena belum pernah ke Sajaya Farm.


"Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah mengerjakan tugas matematika Hari Senin kemarin?" tanya Dimas dengan penasaran.


"Ah? Aku lupa kalau ada tugas matematika! Apakah kamu sudah? Jika sudah, bolehkah aku melihatnya? Hehe." Seorang remaja laki-laki berkata dengan nada canggung karena dia belum mengerjakan tugas.


"Hmph, dasar. Nanti kamu lihat saja punyaku, tapi traktir aku jajan besok," kata seorang remaja perempuan di sebelahnya.


Mereka berbincang-bincang mengenai kegiatan sekolah hari ini, kemudian setelah beberapa saat, pintu ruangan diketuk dan pelayan masuk sambil membawa troli makanan.

__ADS_1


Makanan dan minuman sudah ditaruh di atas meja, pelayan pergi setelah membungkukkan badannya. Dimas DNS teman-temannya juga mengambil sendok dan garpu bersiap untuk makan.


Mereka tidak memesan makanan yang mengenyangkan karena nanti jadi tidak bisa makan malam. Mereka memesan hidangan yang cukup ringan untuk mengisi perut sejenak.


Dimas memesan ayam crispy dengan bumbu pedas karena dia suka daging ayam. Dia memegang garpu untuk mengambil ayam yang sudah dipotong kecil-kecil, lalu memasukannya ke dalam mulut.


"Um!?" Dimas dan teman-temannya terkejut karena rasa makanan yang dimakan sangat enak bahkan sampai tidak tahu harus mengatakan apa.


"Ini pecah di dalam mulut! Dengan daging ayam yang segar, bumbu yang pas, dan kulitnya yang crispy membuat makanan ini sangat enak! Apalagi dengan sambal mentah yang menambah rasa!" batin Dimas yang ketagihan.


Karena rasanya sangat enak, mereka sampai tidak berbicara dan hanya fokus memakan makanan yang ada di depan mereka dengan lahap.


Setelah menghabiskan makanannya, mereka segera menatap minuman yang dipesan. Dimas memesan milkshake rasa pisang, dia mengambil gelas dan meminumnya dengan sedotan.


"Susu sapinya sangat berasa di lidah, rasa buah pisangnya juga tidak kalah. Manis yang aku rasakan bukanlah manis gula, melainkan manis dari buah pisang," batin Dimas.


Teman-temannya juga begitu, mereka terkejut karena susu sapinya sangat berasa di lidah. Apalagi remaja yang memesan teh telur, perpaduan antara susu sapi dengan telur ayam membuat minuman itu luar biasa.


Dimas memutar matanya dan berkata, "Ya jelas kamu tidak menyesal, kan itu dibeli dengan uangku."


Teman-temannya tertawa saat mendengar perkataan Dimas sedangkan remaja laki-laki tadi sedikit malu karena dia mengatakan sesuatu yang ada di dalam pikirannya.


Setelah selesai makan dan minum, mereka bermain di taman bunga dengan hewan-hewan kecil yang ada di sana. Dimas duduk dengan bosan karena dia sudah pernah melakukan hal itu.


"Aku cukup bosan. Semua hal yang ada di sini sudah aku coba, aku tertarik dengan Sajaya Farm karena produk-produk peternakannya. Andai saja ada kegiatan atau apapun itu yang menarik," batin Dimas yang bosan.


...----------------...


Di dekat Dimas ada Aksa yang sedang mengamati para pengunjung, dia melihat Dimas yang sedang duduk dengan bosan di bangku taman sambil bermain dengan ponselnya.


Aksa tentu saja bisa melihat kebosanan di wajah Dimas. Dia sehads berpikir dengan serius untuk mengadakan event lagi atau membangun fasilitas baru agar pengunjung tidak menjadi bosan.

__ADS_1


"Event atau fasilitas? Aku rasa event karena fasilitas memerlukan lebih banyak waktu pembangunan dan survei lapangan," pikir Aksa dengan cepat.


Setelah berpikir seperti itu, Aksa segera mengirimkan pesan ke grup Sajaya Farm kalau akan ada rapat di sore hari tepatnya setelah pukul empat sore di ruang rapat seperti biasanya.


Semua karyawan termasuk Sarah membalas dengan cepat bahwa mereka akan hadir di dalam rapat nanti. Aksa menyimpan ponselnya dan melanjutkan keliling Sajaya Farm.


"Aku sudah terlalu larut dalam masalah Albar dan Kevin sehingga Sajaya Farm sedikit terabaikan. Untung saja sekarang hampir selesai, jadi aku bisa berpikir dengan jernih," batin Aksa.


...----------------...


Sementara itu di sebuah area yang sepi di pinggiran kabupaten, ada sebuah rumah yang terliha tua namun sekarang ada banyak sekali orang di dalam rumah, bahkan ada wajah yang familiar di sana.


"Hm, membuat pria bernama Aksa ini masuk rumah sakit dalam keadaan parah ya, apakah kamu yakin?" tanya seorang pria kekar dengan luka di wajahnya.


"Tentu saja, jangan sampai ketahuan," angguk seorang pria yang tidak lain adalah Kevin.


Kevin sudah menghubungi kenalannya untuk membalas Aksa, dan orang yang dia temukan adalah sekelompok geng yabg cukup besar dengan reputasi yang sangat buruk karena sering melakukan pencurian atau pencopetan.


Pria dengan bekas luka di wajahnya bernama Anto, dia adalah pemimpin geng yang bernama banteng putih. Banteng dengan sifat yang agresif dan putih yang berarti bebas.


"Baiklah, aku menerima permintaanmu." Anto mengangguk memutuskan untuk menerima permintaan pekerjaan dari Kevin.


"Bagus!" Kevin mengangguk dengan puas.


Dia tidak peduli dengan keselamatan geng banteng putih ini karena mereka adalah sampah masyarakat. Selama diberikan uang yang cukup, mereka akan melakukan apapun yang diperintahkan.


Anto juga tidak peduli karena mereka sudah melakukan banyak hal ilegal. Mereka juga sudah menyuap petugas polisi agar jangan ikut campur dengan urusan mereka. Itulah mengapa geng banteng putih masih bisa berkeliaran dengan bebas.


Kemudian setelah membuat kesepakatan, Kevin meninggalkan tempat itu menggunakan mobilnya. Sedangkan Anto meminta bawahannya untuk mengamati pergerakan Aksa.


Anto adalah orang yang pintar dan tidak ragu-ragu untuk melakukan sesuatu, itulah mengapa dia bisa duduk di kursi pemimpin geng yang di dalamnya ada banyak orang bodoh dan idiot otot.

__ADS_1


__ADS_2