Sistem Game Peternakan

Sistem Game Peternakan
Kevin yang Mengejek Aksa di Acara Perayaan


__ADS_3

"Namamu Kevin kan?" tanya Aksa dengan senyum lebar namun matanya sangat dingin karena dia sangat membenci Kevin di dalam hatinya.


Dengan kedua matanya, ia bisa melihat kalau ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua. Itulah mengapa Aksa tetap berkata dengan nada sopan dan memasang senyum di wajahnya.


Karena sekarang adalah acara yang dihadiri oleh banyak orang berpengaruh, tidak baik jika berbuat kekacauan di sini yang malah akan merugikan diri sendir.


"Yo, ternyata kamu mengenali diriku," kata Kevin yang berpura-pura terkejut mendengar Aksa mengetahui namanya.


"Apakah kamu memerlukan sesuatu?" tanya Aksa dengan sopan karena dia tidak ingin membuat masalah di acara perayaan hari jadi Kabupaten Banyumas sekarang.


"Yah, tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, pergilah dari kehidupan Sarah dan jangan pernah masuk ke dalam kehidupannya," kata Kevin dengan anda mengancam.


Kevin sengaja mengeraskan suaranya agar orang-orang di sekitar tahu kalau Sarah adalah wanitanya. Melihat identitas ayahnya, Kevin merasa kalau dirinya seperti berada di atas awan.


"Pergi dari kehidupannya? Kevin, apakah kamu memiliki kesalahpahaman di sini? Kamu dan Sarah bukankah sepasang kekasih, semua orang juga bisa melihat kalau Sarah tidak menyukaimu," kata Aksa dengan blak-blakan.


Aksa tidak suka membuat masalah apalagi terlibat di dalamnya. Namun melihat Kevin dengan arogan mengancam dirinya membuat Aksa hampir kehilangan kesabarannya.


"Hah!? Kamu berani bicara seperti itu!? Apakah kamu tahu siapa ayahku!?" teriak Kevin dengan nada geram karena Aksa berani berbicara dengan kasar kepadanya.


"Ayahmu adalah pemilik perusahaan investasi yang terkenal di Jakarta, tapi, apakah seseorang yang memiliki status setinggi itu memiliki anak yang tidak berguna?" ejek Aksa dengan santai.


Orang-orang di sekitar terkejut mendengar Aksa berani mengejek Kevin padahal orang tua Kevin ada di sini dan sedang melihat tindakan mereka berdua.


Sarah yang melihat hal ini ingin membantu Aksa namun tangannya ditarik oleh ibunya. Delia menyuruh Sarah untuk tetap diam, bukan karena dia kejam, tapi dia situasi saat ini cukup rumit.


Di satu sisi ada Kevin, anak dari rekan kerja Indra yang memiliki status tinggi. Di sisi lain ada Aksa, seorang pemuda mencapai status yang sekarang dengan tubuhnya sendiri.


Kevin dan Aksa juga memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga Sarah, itulah mengapa Delia tidak ingin membantu karena akan menimbulkan kesalahpahaman dan menciptakan masalah baru.

__ADS_1


"Hahaha, aku tidak berguna? Lalu apa, ayahku adalah pemilik perusahaan investasi yang terkenal sedangkan ayahmu hanyalah mantan buruh pabrik yang miskin." Kevin tertawa dengan liar.


Kesabaran Aksa mulai menipis, tidak apa-apa jika Kevin mengatakan sesuatu tentang dirinya, tapi ia tidak bisa berdiam diri jika Kevin mengatakan sesuatu tentang keluarganya.


"Setidaknya akulah yang meningkatkan status keluargaku dengan tanganku sendiri. Bukankah perusahaan investasi ayahmu didirikan oleh kakekmu dan disukseskan oleh ayahmu? Apa yang kamu banggakan dari dirimu?" tanya Aksa dengan tenang.


Mendengar perkataan Aksa, orang-orang di sekitar juga saling berbisik-bisik. Mereka merasa kalau apa yang Aksa katakan masuk akal dan Kevin tidak memiliki hak untuk mengejek Aksa.


Kevin menjadi muram saat mendengar orang-orang di sekitar berbisik-bisik membicarakannya. Ia menatap Aksa dengan tatapan garang dan emosinya sudah memuncak.


"Haha, lalu apa? Orang miskin tetaplah miskin. Kamu tidak akan pernah melampaui keluargaku, kamu sudah ditakdirkan untuk menjadi miskin," teriak Kevin dengan keras.


Aksa menjadi tenang, ia sudah tahu bagaimana kondisi mental Kevin. Kevin adalah orang yang arogan dengan mengandalkan status ayahnya, namun tanpa ayahnya, dia bukanlah apa-apa.


"Mari kita hentikan masalah ini, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita." Setelah mengatakan itu, Aksa berbalik dan berjalan ke arah mejanya.


"Hentikan dia untukku!" teriak Kevin.


Tora percaya diri bisa mengatasi Aksa dengan mudah, namun ekspetasi tidak sesuai dengan realita. Aksa sama sekali tidak bergerak meskipun Tora sudah menariknya dengan sekuat tenaga.


"Monster macam apa dia!?" batin Tora yang mengeluarkan keringat dingin karena takut dengan Aksa yang bergeming.


"Apa yang kamu lakukan!? Cepat bawa dia untukku!" Kevin berteriak dengan marah kepada Tora yang berdiam diri saja di sana.


Melihat hal yang sedang terjadi, orang-orang di sekitar menyalakan kamera ponsel mereka untuk mengambil video karena jarang sekali ada kejadian di acara perayaan seperti ini.


Bagi mereka, kejadian ini adalah untuk bersenang-senang, mereka sama sekali tidak membantu karena bukan urusan mereka dan hanya menonton dari pinggir mencari kesenangan.


Tora yang mendengar raungan bosnya menjadi panik, ia menggunakan otaknya dengan maksimal bagaimana caranya menarik Aksa karena dari tadi dia sama sekali tidak bergerak.

__ADS_1


Tora memutuskan untuk mengambil resiko daripada dimarahi oleh Kevin. Ia menggunakan tangannya yang lain untuk memukul pundak Aksa agar dia bisa bergerak.


Aksa berbalik dan melihat tinju Tora datang ke arahnya, meskipun bisa menghindarinya, ia tetap bergeming dan menerima pukulan Tora di dada kanannya.


Tora terkejut merasakan tangannya sakit karena ia seperti memukul batu yang keras. Ia mendongak dan melihat wajah Aksa yang menunjukkan seringai kejam dan berpikir kalau ini akan gawat.


Dan benar saja, ia melihat Aksa menarik tangan kanannya ke belakang dan menatap dirinya dengan tatapan kejam yang membuat bulu kuduk Tora berdiri.


"Karena kamu yang memukul duluan, jadi aku bisa membela diri bukan?" Aksa langsung memukul perut Tora dengan sangat keras.


"Ugh!" Tora merasakan rasa sakit yang sangat parah di perutnya. Ia bahkan sampai meringkuk seperti udang sambil memegangi perutnya dengan kedua tangan.


Kevin melebarkan matanya dan berteriak, "Apa yang kamu lakukan! Mengapa kamu memukul pegawalku! Hey kalian, lihatlah dia, panggil polisi dan tangkap orang itu!"


Namun, orang-orang di sekitar menatap Kevin dengan tatapan mencela dan menghina. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang mencoba untuk menahan tawanya.


Bahkan Albar dan istrinya memandang putra mereka seperti memandang orang bodoh karena Kevin sama sekali tidak bisa membaca situasi dan dengan terang-terangan menyalahgunakan status Albar.


"Apakah kamu marah? Kamu tidak kompeten." ejek Aksa dengan nada santai yang membuat Kevin tidak bisa menahan amarahnya.


"Diam! Memangnya kamu siapa sampai bisa mengomentariku!?" Kevin meraung dengan sangat keras karena dirinya sudah sangat marah saat ini.


"Apa yang kamu katakan? Dengan seenaknya kamu membicarakan orang lain tapi tidak suka orang lain membicarakanmu? Hanya karena kamu punya mulut bukan berarti dapat mengatakan apapun." Aksa berkata dengan nada dingin.


Orang-orang di sekitar menganggukkan kepala mereka saat mendengar perkataan Aksa. Mereka juga setuju dengan itu karena seseorang harus mengontrol dan menjaga mulut mereka.


Meskipun mereka bukanlah orang yang baik, tapi mereka juga bukan orang yang kejam yang dengan semena-mena mengejek dan menyakiti orang lain dengan perkataan mereka.


"Sialan!!" Kevin yang melihat orang-orang berdiam diri menjadi geram, ia berjalan ke arah Aksa sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Aksa tetap diam dan menatap mata Kevin dengan percaya diri bahkan ia menggunjingkan senyum tipis di wajahnya. Melihat hal ini, Kevin mempercepat langkahnya dan bersiap untuk memukul Aksa.


Namun pada saat ini, seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka berdua dan berteriak, "Kevin, berhenti! Jangan mengambil satu langkah ke depan!"


__ADS_2