
"Aksa! Apa yang sedang terjadi!?" Sarah masuk ke dalam kantor Aksa dan bertanya dengan nada cemas karena teriakan Aksa mengandung kemarahan yang luar biasa.
"Guru Elvira dan Elvina mengatakan kalau mereka berdua menghilang pada saat pelajaran berlangsung di taman, aku menduga kalau ini adalah perbuatan Kevin," jawab Aksa dengan wajah muram.
"Tidak mungkin bukan!? Apakah Kevin ini terlalu bodoh!?" Sarah sedikit tidak percaya kalau ini adalah perbuatan Kevin karena baru kemarin dia membuat masala dan jika sekarang melakukan sesuatu yang buruk, maka dia akan dicurigai.
"Apapun itu, aku akan pergi dulu." Aksa mengambil mantelnya dan segera keluar. Dia meminjam motor Galih dan pergi ke SMA kedua adiknya.
"Jika Kevin benar-benar yang melakukan ini, dia sudah melakukan sesuatu yang berbahaya," pikir Sarah saat melihat kepergian Aksa yang tergesa-gesa.
...----------------...
Aksa sampai di sekolah kedua adiknya dan segera pergi ke ruang guru untuk menemui wali kelas Elvira dan Elvina. Saat ia akan masuk, seorang guru yang mengenal Aksa mengatakan kalau Aksa diminta untuk datang ke ruang kepala sekolah.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Aksa pergi ke ruang kepala sekolah setelah berterima kasih kepada guru yang memberitahu dirinya. Ia tahu di mana letak ruangannya karena pernah mengunjungi ruang kepala sekolah sebelumnya.
"Permisi, ini Aksa." Aksa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, kemudian ia mengetuk pintu dengan pelan.
"Masuk." Terdengar suara wanita dari dalam ruangan yang mempersilakan Aksa untuk masuk ke dalam.
Aksa membuka pintu dan melihat kalau ada tiga orang yang sedang berada di dalam ruangan. Wanita paruh baya yang merupakan kepala sekolah, dua pria paruh baya yang merupakan wali kelas serta guru seni budaya.
"Nak Aksa, duduklah." Kepala sekolah meminta Aksa untuk duduk.
Setelah Aksa duduk, mereka langsung membicarakan mengenai hilangnya Elvira dan Elvina. Guru seni budaya adalah yang paling mudah karena polisi tidak bisa mengirimkan personil.
"Apakah tidak ada kamera pengawas di taman itu" tanya Aksa dengan ragu-ragu.
Kepala sekolah menghela napas dan berkata, "Sama sekali tidak ada. Meskipun itu adalah taman yang bagus dengan fasilitas yang lengkap, tapi di sana sama sekali tidak disediakan kamera pengawas."
"Para guru sekalian, aku memiliki masalah dengan seorang pria kemarin malam. Aku rasa, perbuatan ini disebabkan oleh pria itu dan agar tidak ketahuan, mungkin saja dia sudah menyuap polisi," kata Aksa dengan nada serius.
"Nak Aksa, apakah kamu yakin? Masalahnya kita tidak boleh berburuk sangka kepada seseorang," tanya Kepala Sekolah dengan hati-hati.
__ADS_1
Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak ada alasan mengapa penculik menculik kedua adikku. Meskipun mereka berdua cantik, tapi tidak ada yang tahu situasi keluarga mereka."
"Tidak diragukan lagi kalau ini adalah perbuatan musuhku. Jadi, menghubungi polisi juga tidak ada gunanya kecuali kalau kita memiliki koneksi dengan pimpinan polisi yang terkenal kejujurannya."
"Para guru sekalian, tolong jangan menyebarkan berita kalau kedua adikku diculik. Itu akan membuat kesadaran gaduh dan para siswa akan menjadi panik."
Kepala sekolah dan yang lain menganggukkan kepala mereka karena tahu keseringan masalah ini. Seperti yang dikatakan oleh Aksa, para siswa akan panik setelah mendengar ada penculikan.
Setelah berbicara sebentar, Aksa pamit undur diri. Dia pergi ke taman dekat sekolah yang sebelumnya ditempati oleh kelas kedua adiknya untuk pelajaran seni budaya mengenai menggambar objek.
"Sistem, apakah kamu memiliki sebuah barang untuk menemukan kedua adikku di toko game?" Aksa bertanya kepada Sistem di dalam hatinya.
[Sayang sekali, tidak ada barang seperti itu. Tapi Sistem mempunyai saran yang mungkin bisa digunakan karena keberhasilannya cukup tinggi.]
Aksa mengangkat alisnya dan bertanya dengan nada penasaran, "Kalau begitu tolong beritahu aku. Saran yang diberikan olehmu pasti akan sangat berguna."
[Terima kasih atas pujiannya. Apakah Host melihat anjing di depan sana? Berikan carian spiritual kepada anjing tersebut dan suruh dia untuk mengendus bau Elvira dan Elvina.]
Aksa melebarkan matanya karena tidak menyangka kala Sistem akan memberi saran yang sangat berguna. Aksa berjalan menghampiri anjing tersebut dan memberikannya daging ayam.
Saat anjing tersebut menjulurkan lidahnya untuk meminta makan lagi, Aksa membekukan botol cairan spiritual dan memberikan satu tetes cairan spiritual ke dalam mulut anjing tersebut.
Sama seperti kejadian Simba, anjing ini terdiam sebentar sebelum menggonggong dengan penuh semangat. Aksa bisa melihat sedikit kecerdasan di dalam mata anjing tersebut.
"Mulai sekarang, namamu adalah Zoe. Aku adalah pemilik barumu." Aksa mengulurkan tangannya untuk mengelus-elus kepala anjing itu.
Setelah diperiksa, ternyata Zoe adalah anjing ras Golden Retriever dengan bulu yang cukup lembut meskipun kotor karena selalu hidup di tempat yang tidak bersih.
"Guk!" Zoe menggonggong dengan senang karena dia mempunyai pemilik yang baik hati karena memberikan dirinya daging ayam yang sangat enak.
"Aku ingin membersihkan dirimu, tapi sebelum itu aku mempunyai tugas. Rasakan aroma benda ini dan lacak keberadaan pemiliknya," kata Aksa sambil mengeluarkan dompet milik Elvira dan Elvina.
Zoe segera melakukan permintaan Aksa, setelah mengendus-endus, Zoe segera berlari ke suatu arah. Aksa juga berlari di belakang Zoe, satu anjing dan satu manusia saling berlari.
__ADS_1
...----------------...
Sementara itu di pinggiran kabupaten, di sebuah pabrik terbengkalai yang penampilan sudah sangat tua dengan banyak sekali tumbuhan liar yang tumbuh di luar dan di dalam pabrik.
Di dalam pabrik, di sebuah ruangan yang luas, terdapat beberapa orang pria yang sedang bermain kartu. Mereka sungguh santai meskipun apa yang mereka lakukan adalah hal ilegal.
Mengapa ilegal? Itu karena ada dua gadis dengan kondisi tubuh diikat dengan tali dan mulut mereka ditutup dengan lakban. Mereka berdua adalah Elvira dan Elvina yang diculik tadi pagi.
"Bos, mengapa kita menculik dua gadis itu? Bukankah perintah yang kita terima adalah untuk mengacaukan Sajaya Farm?" tanya salah satu pria botak kepada pria yang duduk di kursi tengah.
"Dasar bodoh! Tidak ada gunanya kalau kita mengacau di Sajaya Farm langsung, kita akan ketahuan dan dipanggil polisi. Itulah mengapa kita harus memakai cara yang berbeda." Pria yang duduk di kursi tengah menjawab.
"Lalu, apakah kita bisa bersenang-senang dengan kedua gadis itu?" Pria lainnya bertanya dengan senyum menjijikan.
"Hilangkan pikiran itu, ini adalah perintah dari Kevin anak perusahaan besar. Jika kita melakukan kesalahan sekecil apapun, kita akan berakhir." Bos penculik menatap pria yang bertanya dengan tatapan dingin.
Mereka adalah orang yang jahat, namun jika dilihat lebih dekat, hanya bos penculik yang memiliki otak. Pria lainnya hanyalah anjing setia yang sama sekali tidak bisa berpikir dengan jelas.
Kecuali bos penculik, sisanya adalah pria bodoh yang hanya bisa mengandalkan kekerasan. Oleh karena itu tubuh mereka semua sangat kekar dan terlihat menyeramkan.
Elvira dan Elvina tidak memberontak lagi, meskipun mereka takut, mereka tetap tenang. Mereka berdua saling memandang dengan terkejut karena ada nama yang tidak mereka kenal.
Tentu saja mereka tidak mengenal Kevin karena Sarah tidak pernah bercerita. Elvira dan Elvina berpikir siapa itu Kevin namun mereka tidak bisa menemukan jawabannya.
Saat para penculik bermain kartu dengan gembira, mereka tidak menyadari ada dua sosok yang sedang mengintip mereka dari balik dinding. Salah satu sosok juga sedang memegang ponsel untuk merekam kegiatan mereka.
Dua sosok tersebut adalah Aksa dan Zoe, mereka sampai ke pabrik dengan cepat karena berlari tanpa berhenti. Penciuman Zoe sangatlah bagus apalagi setelah memiliki kecerdasan tambahan, ia menjadi semakin hebat.
Dan meskipun Aksa sangat marah, ia tetap tenang dan merekam tindakan para penculik agar bisa dijadikan bukti. Setelah itu ia sedikit bimbang apakah akan menelepon polisi atau tidak.
Setelah berpikir sebentar, ia memutuskan untuk memanggil polisi. Jadi ia sedikit menjauh dan langsung menghubungi polisi dengan suara rendah agar tidak ketahuan.
Namun saat Aksa sudah selesai menelepon, ia melihat salah satu penculik berjalan ke arah kedua adiknya. Pria itu menatap Elvira dan Elvina dengan tatapan menjijikan dan kedua tangannya berada di udara mencoba untuk menyentuh mereka berdua.
__ADS_1
Aksa melebarkan matanya saat melihat hal itu, ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi dan langsung bergegas masuk ke dalam pabrik.