Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Pembalasan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Inez ingin meminta tolong pada suster Santi, tapi ia urungkan dan berfikir kalau suster Santi sudah tidur.


Suara deru mobil terdengar didepan teras, Harlan dan William sudah pulang.


Wajah, tangan dan kaki Luvita sudah di penuhi bentol-bentol, karena malu dilihat Harlan ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Terdengar suara langkah sepatu pantofel yang berjalan semakin mendekat.


JGLEK!


Suara pintu terbuka, Luvi masih meringkuk di atas sofa tertutup selimut tebal, Namun rasa gatal semakin kuat menyerang tubuh Luvi, padahal ia sudah taburi talk tetap saja gatal itu tidak mau hilang.


"Sayang...."


Mata Harlan menyoroti ruangan kamar, ia melihat sosok tubuh tertutup kain selimut meringkuk di sofa. Harlan berjalan semakin mendekat.


"Kau kenapa, apa kau sakit?" Harlan bertanya, namun tidak ada jawaban yang keluar dari bibir istrinya, hanya gerakan-gerakan yang aneh di dalam selimut. Harlan menarik selimut itu, tapi Luvi menahannya dengan memegang kuat selimut itu.


"Luvi, ada apa denganmu?" kenapa kau tidak mau melepaskan selimut ini!"


"Pergi Mas! pergi...!!"


"Tidak Luvi, kamu ini kenapa? kau marah padaku?"


"Mas ku mohon pergilah." terdengar suara helaan nafas panjang dari dalam selimut.


Harlan menautkan kedua alisnya, ia bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah. Tidak ingin bertengkar Harlan menjauh dan melepas pakaian kerjanya. Berjalan dan masuk kedalam kamar mandi.


Melihat Harlan masuk kedalam kamar mandi, Luvita menyibak selimut. Tangannya terus menggaruk-garuk seluruh badannya, Ac di dalam kamar terasa panas. Ia keluar kearah balkon agar udara malam hari bisa meredakan hawa panas dalam tubuhnya. Karena hawa panas tidak juga hilang Luvi terlihat pasrah, ia jatuh terduduk di lantai balkon. Netra nya sudah basah airmata. Ia tidak ingin suaminya tahu keadaannya. Luvi tahu Harlan tidak pernah mencintainya, kekecewaannya semakin dalam.


"Untuk apa aku terus hidup dirumah ini, kalau suamiku saja menyesal menikahi ku! aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, rasa gatal ini sangat menyiksa. Aku akan pergi dari rumah ini dan mengakhiri pernikahan ku, biarlah aku hidup sendiri tanpa ada siapapun di sisiku!"


Saat Luvi ingin beranjak, suara pintu terbuka.


"Luvi kenapa kau berada disini? apa yang kau lakukan di balkon! suara Harlan terdengar khawatir.


"Pergi Mas jangan mendekat!" Luvi berjalan mundur dengan menutupi wajahnya.


"Luvi kenapa sikapmu jadi aneh begini? Harlan mendesah pelan dan terus berjalan mendekat.


"Kalau Mas terus mendekat aku akan melompat dari atas balkon!" teriak Luvi.


"Luvi tenangkan dirimu apa yang sebenarnya terjadi? ayo kita bicarakan baik-baik."


Luvi mentok ke dinding dan terus menggaruk, suasana hatinya semakin kacau dan tidak tenang di saat kondisinya semakin parah, wajah, tangan dan kakinya semakin merah dengan penuh Bentol-bentol. Lampu balkon sedikit remang-remang tidak seterang di dalam kamar. Luvi berjongkok dengan menutupi wajahnya.


Harlan terkejut saat sudah didepan Luvi, ia melihat kedua tangannya memerah dan dipenuhi luka goresan.


"Luvi ini?" menarik kedua tangan istrinya. Harlan terbelalak dengan bola mata membesar "Kenapa wajahmu seperti ini?" menatap lekat wajah Luvita yang tertunduk. Butiran airmatanya terus menetes.


"Kenapa kau menghindar dariku luvi? Kenapa?! Harlan mengguncangkan tubuhnya "Kenapa kau Pendem sendiri penderitaan mu ini? Apa kau salah makan? Luvita menggeleng "Apa kau punya alergi?" ia gelengkan kepala lagi.


"Ayo kita ke Dokter, pasti ini sangat gatal dan perih bukan?"


Luvita masih terdiam, hanya terdengar isak dan tangisan yang semakin dalam di keheningan malam. Melihat keadaan istrinya yang dipenuhi luka dan bentoel-bentol, Harlan tak tega, Ia menarik Luvi dalam pelukannya


"Ma'afkan aku sayang, ma'afkan.."


Luvita mendorong tubuh Harlan "Pergi Mas! kau tidak usah pedulikan aku! biarkan aku pergi dari rumah ini!"

__ADS_1


"Apa maksudmu?" kedua alisnya mengkerut "Sudahlah Luvi jangan seperti anak kecil. Ayo kita ke Dokter. Aku tidak mau melihatmu menderita, pasti ini sangat perih."


"Untuk apa Mas perhatian padaku, Kalau menyesal menikah denganku! jujur aku juga malu dan merasa minder ternyata kau seorang CEO! aku tidak pantas mendampingi mu. kau adalah Tuan Goergie pemilik perusahaan Vandeles. Tidak ada lagi yang bisa aku berikan padamu, wanita miskin dan buruk rupa, bahkan berpendidikan rendah"


"Siapa yang mengatakan itu?" aku tidak pernah menyesali menikah denganmu Luvi, bahkan aku sudah menyuruh William untuk mengadakan pernikahan kita secara hukum Negara, tadinya minggu ini, Namun kau masih sakit dan aku juga masih mengurus pekerjaan yang tertunda. Rencana bulan depan kita akan melaksanakan nya."


"Kau yang mengatakan sendiri Mas?"


"Aku?! Harlan menunjuk dirinya "Kapan aku pernah mengatakan itu Luvi?" keningnya mengeryit.


Luvita terus garuk-garuk dan meringis karena banyak nya luka garukan di sekujur tubuh.


"Ini sangat berbahaya." Harlan menarik tangan Luvita dan melihat begitu banyak goresan. Tak peduli istrinya terus menolak dan berontak. Harlan mengangkat tubuh Luvita dan keluar kamar.


"Will!


"William...!"


Teriakkan Harlan bukan hanya membangunkan Wiliam, tapi juga Suster Santi. Mereka berdua keluar dari kamar.


"Ada apa Tuan?


"Will cepat bawa istriku kerumah sakit."


"Ada apa dengan Nyonya? suster Santi sangat terkejut melihat wajah, tangan dan kaki Luvi banyak terdapat goresan luka seperti cakaran tangan bekas garukan.


William mengambil kunci mobil dan berjalan cepat menuju teras.


"Tuan apa saya perlu ikut?" suster Santi bertanya dengan gugup


"Tidak perlu! setelah ini, kau harus jelaskan apa yang sudah terjadi pada istriku!" ucap Harlan sinis, disela ia berjalan menuruni anak tangga.


"Jangan di garuk lagi, lukanya akan semakin parah, pasti ini sangat perih."


"Aku tidak tahan gatal, dan sekujur tubuhku panas." keluh Luvita dengan bibir gemetar.


"Sabar ya, Sebentar lagi kita sampai rumah sakit." Harlan mengusap lembut tangan luvita agar berkurang rasa gatalnya.


"Sayang, kau belum Jawab pertanyaan ku tadi, kau dengar dari siapa kalau aku menyesal menikahi mu? sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu, Namun Harlan tidak ingin kesalahpahaman terus berlarut-larut.


"Aku mendengar sendiri Mas berbicara dengan Tuan Wiliam di ruangan kerja."


"Jangan panggil saya Tuan, Nyonya. Anda Istri bos saya, panggil saja Wiliam." sela nya seraya fokus menyetir.


"Ck." Harlan belang-belang kepala "Kau hanya mendengar sebagian, seharusnya kau Jangan menguping, kenapa tidak langsung masuk kedalam, biar jelas semuanya." Luvita terdiam dengan wajah tertunduk.


Harlan merangkul pundak istrinya dan memeluknya erat "Kau jangan berfikir yang tidak-tidak lagi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Saat aku berada dirumah, aku tetap Harlan suamimu. Tapi bila aku berada di kantor, aku adalah Goergie Vandeles. kau mengerti sekarang?!" menatap bola mata yang masih sembab itu.


Luvita mengangguk pelan. Harlan mencium kening istrinya.


Mobil berhenti didepan lobby. Harlan mengangkat istrinya masuk kedalam rumah sakit dan menidurkan diatas banker perawat membawa keruangan UGD, Dokter lyas sudah masuk kedalam UGD karena Wiliam sudah mengabari sebelumnya.


Setengah jam kemudian, Dokter Ilyas keluar ruangan dan berbicara pada Harlan.


"Apa yang sudah terjadi pada istriku?"


"Nyonya seperti meminum obat mengandung calameson yang sering digunakan untuk peradangan pada kulit. Meson bisa digunakan sebagai antiinflamasi. Bila di gunakan dengan dosis tinggi dan berlebihan, akan mengakibatkan peradangan pada kulit dan menimbulkan panas didalam. Bila kelamaan tidak ditangani, obat itu bisa menjadi racun."


"Hah?" Harlan tercengang. "Untuk apa istriku minum obat itu?" lalu bagaimana kondisinya sekarang."

__ADS_1


"Aku sudah menyuntik untuk menghilangkan gatal dan menetralisir obat yang sudah Nyonya minum."


Harlan mendesah kasar "Terima kasih Dok."


"Nyonya harus dirawat selama tiga hari, kami akan pindahkan ke ruangan rawat inap."


"Baiklah! lakukan yang terbaik untuk istriku."


Luvita sudah di pindahkan ke ruangan VIP. Saat Harlan masuk kedalam ruangan, Luvi masih tertidur pulas. Ia berjalan mendekat dan menatap nanar wajah istrinya.


"Kenapa kau harus lakukan itu, Luvi? minum obat yang bisa mengakibatkan kerusakan pada kulit." mengusap pucuk rambutnya "Kenapa kau berfikir kalau aku menyesal menikahi mu, Aku tidak akan pernah berpaling, aku sangat mencintaimu." mencium kening istrinya.


"Mas! mata Luvi terbuka


"Kau sudah bangun? Harlan tersenyum "Apa masih gatal?


"Masih sedikit, tidak merangsang seperti tadi gatalnya."


"Mas..."


"Iya sayang..."


"Ma'afkan aku sudah salah paham padamu."


Harlan tersenyum "Mulai sekarang, kalau ada masalah kau harus tanya padaku, jangan di pendam sendiri." mengusap lembut pipinya yang masih merah dan kasar karena bentol itu belum hilang.


Lupita mengangguk seraya tersenyum tipis.


"Sayang, kenapa kau nekad minum obat Calameson dengan dosis tinggi, itu akan merusak kulitmu. kau jangan pernah lakukan itu lagi."


"Apa obat?" Luvi tercengang dan mengingat sebelum ia mengalami gatal-gatal dan suhu badannya panas.


"Sebelum aku gatal-gatal, Della datang dan memberikan aku susu. Tidak biasanya dia bersikap baik dan minta maaf." Luvi terus membatin "Bila ini adalah perbuatan Della, sepertinya aku tidak akan tinggal diam. Aku harus buat perhitungan dengannya. Sekarang aku baru menyadari besarnya cinta Mas Harlan padaku, aku akan berlindung pada suamiku"


"Hey! kenapa kau bengong?" apa yang sedang kau pikirkan."


"Mas, aku tidak pernah minum obat apapun? tapi aneh kenapa aku bisa gatal-gatal ya?


"Kau yakin?!


Luvita mengangguk.


"Bila kau tidak minum obat, apa ada yang sengaja menaruhnya? kalau begitu akan aku selidiki."


"Bila benar pelakunya Della, Mas Harlan pasti akan langsung menjebloskan ke penjara. Tapi aku tidak yakin Della akan di penjara. Ibu mas Harlan pasti tidak akan setuju dan membela keponakannya. Aku akan mencari keadilan dengan caraku sendiri. Jalan satu-satunya aku akan membalas perbuatan Della, agar ia tidak terus meremehkan ku!" hatinya terus bergumam.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Bab nya lebih panjang, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift


๐Ÿ’œKomen


@Bersambung........

__ADS_1


.


__ADS_2