Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Harus Kehilangan


__ADS_3

"Katakan Mas! butiran airmata masih terus menetes.


"Aku adalah Goergie Vandeles, suamimu yang sebenarnya."


"Apa....?? Lupi begitu syok mendengar pengakuan suaminya, ia memegangi dadanya yang berdenyut pedih.


"Sayang kau tidak apa-apa? Harlan ingin memeluk tubuh istrinya, Namun, Lupita mendorongnya.


"Apa kau ingin terus berada disini? ucap Wiliam geram, dengan nada rendah penuh penekanan pada Inez. Inez baru menyadari kalau Lupi juga syok mengetahui suaminya seorang pemilik perusahaan asing.


"Lupi, maaf menganggu. Aku tunggu diluar ya?" Inez tak enak hati, tanpa menunggu jawaban dari Lupita ia keluar dari kamar itu, diikuti Wiliam seraya menutup pintu.


Dada Lupita begitu sesak, tangisannya semakin dalam. Rasanya sangat sakit di bohongi begitu besar oleh suaminya akan statusnya.


"Aku tidak pernah menyangka bekerja di perusahaan suamiku sendiri! Hiks.. "Mas sudah mempermainkan hidup aku!" memori ingatan kembali lagi. Bagaimana pertama kali bertemu dengan Harlan disaat bajunya terkena cipratan genangan air hujan. Harlan mengaku seorang kurir, untuk menutupi identitasnya. Bahkan dialah yang membawanya masuk bekerja di perusahaan Vandeles dengan alasan temannya kenal orang dalam.


"Sayang... Maafkan Mas, tidak ada niat sedikitpun mempermainkan mu apalagi menyakiti mu." ucap Harlan merasa bersalah, dengan mata berkaca-kaca.


"Mengapa bodohnya aku selama ini! semua pemberian mu adalah barang-barang mahal, dan ponsel harga puluhan juta. jalan-jalan ke Bali dengan alasan bos mu yang memberikan semua fasilitas mewah! aku percaya begitu saja karena kau terus meyakinkannya aku!"


"Sayang! kau jangan seperti ini, ingat kondisi mu sedang tidak sehat." Harlan terus memberi ketenangan dan mengusap lembut pundak istrinya.


"Kau tega Mas lakukan ini padaku! bahkan aku sedang mengandung anak mu! Lupita mengusap lembut perutnya yang masih datar di barengi ringisan dari bibir tipisnya.


Harlan tidak berani berterus terang kalau janin itu sudah tidak ada. Ia takut istrinya akan kecewa. Airmata Harlan lolos begitu saja, ia merasa bersalah bila teringat kandungan istrinya telah ke guguran. Harlan beranjak dari duduknya dan berjalan kearah jendela. Ia tak sanggup lagi melihat kesedihan istrinya.


Pintu ruangan terbuka, masuk seorang Dokter dan suster untuk periksa keadaan Lupita. Dengan cepat Lupi mengusap sisa airmatanya.


"Selamat siang Tuan Vandeles." ucap Sang Dokter menganggukkan kepala memberi hormat pada Harlan. kini pandangannya beralih ke Lupita.


"Siang Nyonya Vandeles." sapa Dokter ramah.


Lupita tercengang, kini ia sudah berubah menjadi nyonya Vandeles. Pemilik perusahaan Permata dan Berlian di Belanda.


"Kenalkan saya Dokter Dewi yang akan menangani Nyonya Vandeles."


"Maaf Dok, Jangan panggil saya Nyonya Vandeles, rasanya nama itu tak pantas di sematkan pada diriku! tolak Lupi "Panggil saja Lupita."


"Baiklah Bu Lupita, ada keluhan apa saja, sekarang?"

__ADS_1


"Perut saya terasa sangat perih dan ngilu Dok, ada apa dengan kandungan saya ya Dok!


"Itu pasca sisa kuret, karena kandungan ibu lupita bermasalah."


"Apa maksud Dokter? tanya Lupita dengan jantung berdebar. Harlan yang sejak tadi diam, berjalan mendekat, ia takut Lupita syok lagi dan tidak terima kenyataan.


"Apakah ibu Lupita tidak tahu? kalau kandungan ibu guguran? dan untuk membersihkan sisa janin yang tertinggal, kami kuret biar tidak jadi infeksi atau kangker."


"Deg! bagai disambar petir siang hari. Nafas Lupita tiba-tiba tersengal dan tak beraturan, wajahnya yang sudah sembab oleh airmata, menetes kembali.


"TIDAK.....!!! Anakku....! kenapa kalian tega mengambilnya dari ku! teriak Lupita histeris, ia menangis meraung-raung dengan tubuh gemetar. Harlan yang sudah paham akan terjadi ledakan pada Lupita, memeluk erat tubuh istrinya.


"Sayang, sabar...' kita harus ikhlas dan menerima semuanya."


"Aku tidak mau, aku hanya ingin Anakku!! hiks....


"Tuan, kondisi Nyonya belum stabil. Apa boleh saya beri suntikan, untuk ketenangannya."


"Tidak perlu Dokter! aku sendiri yang akan menenangkannya. Lebih baik Dokter keluarlah, bila di perlukan pasti saya panggil kembali.


'Ba-ik Tuan. kalau sudah agak tenang, tolong berikan obat vitamin dan antibiotik ini pada Bu Lupita. Untuk mengurangi rasa nyeri di perutnya." Harlan mengangguk pelan. Dokter dan dua perawat itu keluar dari ruangan Lupita.


Tubuh Lupita terguncang, masih dengan isak tangisannya. "Kenapa kau pergi tinggalkan ibu Nak.. ibu tidak rela kehilanganmu...!" butiran bening terus berjatuhan, nafasnya tersengal. Lupita terus meracau ia belum sepenuhnya ikhlas dan menerima semuanya.


Lama menangis, akhirnya Lupita bisa sedikit tenang. Harlan mengurai pelukannya "Minum obat dulu ya, biar bekas luka diperut mu cepat sembuh." ucap Harlan lembut, seraya merapikan anak rambut Lupita yang menutupi sebagian wajahnya.


Lupita hanya terdiam, sorot mata teduhnya menggambarkan guratan kesedihan yang mendalam. Harlan mengambil Lima butir obat diatas nakas dan memberikan pada Lupita dengan segelas air putih.


Setelah menelan lima butir obat, ia meneguk habis air putih itu. Harlan membaringkan tubuh istrinya dengan menaruh dua bantal untuk kepalanya. Suara dering telepon berbunyi nyaring. Harlan merogoh ponsel dalam saku celananya. Tertera nama Della di layar ponsel.


"Sayang, Mas keluar dulu ya. Mas akan suruh inez untuk menemani mu."


Lupi tetap diam, tidak ada satu katapun yang terlontar dari bibirnya. Harlan merasa, diamnya Lupita karena masih syok dengan dua kejadian secara bersamaan. Kehilangan anaknya dan terungkap jati dirinya.


Sementara diluar ruangan, Inez masih duduk di kursi ruang tunggu, sesekali ia melirik wajah dingin Wiliam yang terlihat tegas namun tampan.


"Cihh! sejak tadi aku di cuekin, bertanya pun tidak di jawab. Dasar kulkas! celetuk Inez. William yang duduk agak jauh dari Inez, menoleh dengan sorot mata tajam. Di tatap seperti itu, Inez jadi salah tingkah.


"Muehehehe... piss ahh! Inez mengangkat dua jarinya, seraya terkekeh.

__ADS_1


"Duh, Lupi masih lama nggak sih! tapi hebat juga dia bisa mendapatkan CEO setampan Tuan Georgie, ketemu dimana mereka? aku jadi penasaran. Tapi kenapa juga Lupita tidak tahu suaminya seorang CEO, dan lucunya ia bekerja di kantor suaminya sendiri? begitu banyak pertanyaan dalam benak Inez. Inez bergumam gumam kecil dan masih terdengar dengan Wiliam.


"Dari tadi ngoceh sendiri, mulai stres ya?" tiba-tiba Wiliam mengomentari.


"Masih mending aku waras bergumam sendiri, daripada jadi patung pancuran!" sindir Inez.


JEGLEK


Pintu terbuka lebar, Harlan keluar dari ruangan. "Nona Inez, kau bisa temani istriku sebentar. Bantu dia untuk menerima kenyataan, ia sudah agak tenangan tidak seperti tadi."


"Baik Tuan, saya permisi.."


"Lupita...." Inez berjalan mendekat. Menyentuh tangan sahabatnya itu. Mata Lupi lurus kedepan menatap dinding putih didepannya. "Lupi apa kau marah padaku?" ma'afkan aku, malam itu aku sangat gelisah dan mencari kerumahmu, tapi kau tidak ada. Aku semakin khawatir. Semalaman aku fokus mencarimu. Bahkan aku kembali lagi ke kantor, siapa tahu kau masih berada di halte, namun kau tidak ada juga. Tak sengaja motor ku keserempet mobil Tuan Wiliam saat ia ingin memutar mobilnya. Aku terjatuh, ia keluar dari mobil dan malah ngomel. Sempat ia bertanya kenapa masih berkeliaran di kantor. Aku bilang mencari Lupita yang tiba-tiba hilang. Raut wajah Tuan Wiliam pucat dan tegang. ia langsung pergi begitu saja melajukan mobilnya dengan cepat. Kini aku baru tahu kalau Wiliam memberikan info pada Tuan Georgie yang ternyata adalah suamimu."


Lupita terduduk dan menatap wajah sahabatnya yang berkaca-kaca. Ia meraih tubuh Inez dan memeluknya. "Terima kasih Inez, kau sangat berjasa dalam hidupku. kau tempati kanji mu untuk membawa suamiku pulang." hiks...


Inez tersenyum dan memeluk erat tubuh lemah itu. "Menangis lah Lupi, aku siap menjadi sandaran keluh-kesahmu, kau sahabat ku. aku tidak akan membiarkanmu terus sedih. Mereka yang sudah jahat padamu akan membayar semua perbuatannya. Sekarang kau harus bahagia suamimu sudah kembali."


"Anakku telah tiada, hiks... dan aku masih belum bisa memaafkan Mas Harlan, karena kebohongannya teramat menyakitkan. Aku banyak menderita sejak kedua orangtua ku meninggal, tapi kenapa Mas Harlan malah mempermainkan hidupku! Lupita terisak lagi. Inez ikut merasakan kesedihan sahabatnya itu. Butiran kristal sudah berjatuhan.


Mereka mengurai pelukannya. Inez mengusap lembut airmata Lupi yang terus menetes. "Lupi, mungkin suamimu punya alasan kenapa ia harus berbohong padamu?"


"Kebohongan tetap kebohongan! aku masih sakit hati! aku seperti orang bodoh yang tidak punya harga diri sama sekali! Anda kau berada di posisi ku, apakah tidak merasakan sakit? aku sudah memberikan mahkota ku karena dia suamiku. Menikah siri karena di gerebek warga, dan aku harus ikhlas menerima takdir ku. namun, kenapa ia terus bersandiwara dengan mengaku sebagai kurir dan tidak punya kelurga! Aku sangat kecewa, apalagi anak dalam kandungan ku sudah pergi, tidak ada yang bisa diharapkan lagi seperti laki-laki pembohong macam Georgie Vandeles!!


Inez menatap lekat wajah Lupita yang masih terlihat pucat dan sembab.


"Jadi apa keputusan mu..?"


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


@Bab ini lebih panjang ya, Yuk ikuti terus kelanjutannya, Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift


๐Ÿ’œKomen

__ADS_1


@Bersambung........๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ


__ADS_2