
"Ba-ik Tuan, aku pasti akan merahasiakan nya, sesuai perintah Tuan, tapi...." Wiliam berhenti sejenak
"Tapi apa, Will?"
"Bagaimana kalau sampai tuan Alfonso mengetahui pernikahan Tuan? Nona Lupita pasti akan mendapatkan masalah."
Harlan menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar. "Aku akan berusaha untuk menutupinya. Paman jangan sampai tahu dulu, bila perusahaan batu Permata dan Berlian sudah paman serahkan padaku, baru aku akan mengatakannya dan menikahi Lupita resmi."
Terdengar suara ketukan dari luar, William mempersilahkan untuk masuk.
"Maaf Tuan, Tuan Haruka dari Jepang. sudah menunggu di ruangan meeting." Sekertaris Alexa berjalan seraya memberikan file pada Wiliam.
"Baik, keluarlah!"
Alexa keluar ruangan dan menutup pintu rapat.
"Sekarang sudah jam 10.30 saatnya kita menemui Tuan Haruka."
"Will, kau suruh office boy Untuk mengantarkan makanan pada istriku, tapi jangan bilang kalau aku yang memberikan. Bilang saja titipan dari Harlan."
"Baik, Tuan!
Mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.10 siang, waktunya jam makan siang untuk karyawan. Lupita masih belum menyelesaika desain gambar yang harus diserahkan pada kepala bidang. Sebagian karyawan sudah meninggalkan ruangan untuk menjalankan sholat Dzuhur dan makan siang.
"Hai...! tiba-tiba seorang karyawan pria menyapa Lupita yang masih berkutat di depan laptop. Lupita mengangkat wajahnya sebentar, dan melempar senyum samar saat pria itu tersenyum padanya. Ia menunduk lagi menatap layar laptop.
"Kenapa kau tidak makan siang? tanyanya seraya berjalan mendekati meja kerja Lupita.
"Lagi tanggung Mas, belum menyelesaikan tugas desain gambarnya."
"Jangan ditunda waktu makan siang Mba, ntar sakit."
Lupita menyungging kan senyum khasnya, masih terus mendesain di laptop.
"Oiya kenalkan, Aku Damar. Baru dua minggu kerja disini." pria itu mengulurkan tangannya.
Lupita menghentikan kegiatannya dan menerima uluran tangan pria itu "Lupita."
Ceklek!
"Maaf apa disini ada yang bernama Mba Lupita? seorang office boy berdiri di depan pintu sambil membawa tote bag ditangannya.
"Iya saya Mas, ada apa ya?
Office boy itu berjalan ke meja kerja Lupita dan memberikan Tote bag. "Ini Mba ada yang mengirim makanan untuk Mba."
Lupita mengeryit "Dari siapa ya Mas?
"Kalau nggak salah dari pak Harlan."
"Ohh.. ya sudah terima kasih kalau begitu."
Office boy itu pamit dan meninggalkan ruangan Lupita. Lupi membuka isi tote bag.
__ADS_1
"Wah, isinya makanan matang, Mas Harlan sangat perhatian padaku." raut wajah Lupita tampak gembira.
"Siapa yang memberikan mu makanan itu?" apakah kekasihmu?" tanya Damar penasaran.
Lupita masih tersenyum "Ayo kita makan bersama, kebetulan aku tidak akan habis makan sendiri."
"Tidak, terima kasih. Aku akan pergi ke kantin sekalian salat dzuhur."
"Aku juga belum salat Dzuhur, nanti kita bareng. sekarang makan dulu, ayolah jangan sungkan kita sudah menjadi teman bukan?"
Damar tidak bisa menolak ajakan Lupita, mereka berdua menikmati makan bersama pemberian Harlan. Selesai makan Lupita menunaikan sholat Dzuhur bersama Damar di sebuah musholla, yang berada di samping kantin khusus karyawan Vandeles.
Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 sore, Lupi mengambil ponsel dalam tasnya dan menunggu balasan dari Harlan.
"Kenapa Mas Harlan belum buka pesanku? terlihat ekspresi kecewa "Masih ceklis satu, aku mau bertanya ia akan pulang atau tidak? kalau pulang aku harus masak malam untuknya."
Karena tidak ada jawaban, Lupita membereskan pekerjaannya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.
*****
JEDAR!
Pintu dibuka kasar. Harlan mendudukkan tubuhnya kasar, melepaskan dasinya yang terasa sesak.
"Jadi bagaimana, Tuan? apakah kita batalkan saja kerjasama dengan Tuan Haruka?!
"Batalkan saja! Dia sudah menghabiskan waktu ku! sekarang sudah hampir jam enam, kita harus jemput Mak ku."
Setelah merapikan berkas-berkas, Harlan dan William meninggalkan kantor.
"Sudah! jawab Wiliam datar.
"Kalau begitu, saya sudah boleh pulang?!
"Silakan!
Ujar Wiliam, sambil berlalu mengejar ketinggalan tuan nya.
"Tuan Vandeles begitu angkuh dan sombong. jangankan mau berbicara dengan ku, menatap saja tidak mau, padahal aku sudah tampil cantik dan berbalut baju seksi." gerutu Alexa, dan berjalan pergi menuju lift.
Sudah hampir jam setengah tujuh, Mas Harlan belum juga membalas pesanku. Sudahlah lebih baik aku naik angkot saja."
"Haii... Mba Lupi, kau masih disini? tegur seorang pria, berhentikan motornya di depan Lupita. Lupita mengeryit menatap pria yang kepalanya tertutup helm. karena melihat Lupita bingung, ia melepas helm nya.
"Damar?!
"Ayok aku antar pulang?
"Tidak usah, aku biasa naik angkot."
"Nggak apa-apa, ini juga sudah mau hujan."
"Terima kasih Damar. Itu angkotnya sudah lewat, sudah ya?" buru-buru Lupita masuk kedalam mobil angkot yang berhenti didepan nya.
Satu jam setengah perjalanan Lupita sampai depan gang. Setelah membayar angkot, ia tidak masuk gang rumahnya, tapi belanja sayuran dulu yang berada di pinggir jalan.
__ADS_1
Pintu sudah dibuka. ia merebahkan sejenak tubuhnya diatas sofa. "Aku tetap harus masak, bukankah tadi Mas Harlan bilang akan pulang? Lupi beranjak dari duduknya dan mulai memasak tumis kangkung dan ikan mas rica-rica. Selesai memasak ia memasak air untuk mandi.
*****
Mobil Harlan sudah berhenti di pelataran rumah. Wiliam membukakan pintu untuk Harlan, ia mengangkat ibu asuhnya menuju kamar, dan membaringkan diatas kasur.
"Harlan..."
"Iya Mak,
"kau jangan pergi kemana-mana, besok pagi kau jemput Della di terminal, tadi bibi mu telpon, Della mau jagain Mak disini, untuk mengurus Mak yang sudah tua."
"Iya Mak, besok aku akan menyuruh supir untuk menjemput Della."
"Tidak, harus kau yang menjemputnya. Mak sudah sangat rindu ingin bertemu Della, anak adik Mak. Sudah hampir lima tahun Mak berpisah dengan mereka, Pasti Della semakin cantik." Mak Isah tersenyum lebar.
"Ya sudah Mak, aku mau ke kamar dulu, mau mandi dan ganti baju."
Harlan pergi meninggalkan kamar Mak Isah, menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
"Malam, Tuan? saya sudah menyiapkan air hangat buat Tuan mandi." ujar seorang ART.
Harlan mengangguk dan masuk kedalam kamar. Melepas semua pakaiannya, lalu berendam didalam bahtub. menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam. Tiba-tiba Harlan membelalakkan matanya, ia teringat janji pada istrinya. Dengan cepat ia selesaikan mandi.
Harlan menoleh pada jam yang menggantung "Setengah sebelas?! Ya Tuhan, bagaimana bisa aku melupakan istriku." Harlan yang hanya berbalut handuk di pinggang, mengambil ponsel satunya, ponsel khusus penyamaran.
"Pantas saja ponsel ku lowbet!" ia mengecas ponselnya, dan mengaktifkan ponsel, banyak pesan dan panggilan masuk dari Lupita. Harlan membaca pesannya satu persatu.
"Lupita ma'afkan aku? Harlan merasa bersalah. "Kalau aku pergi, Emak pasti melarang ku." Aaaccchh... Mendesah kasar. "Tapi aku sudah berjanji akan pulang malam ini? apa yang harus aku lakukan? Harlan berpikir sejenak "Tidak! aku harus pulang malam ini, Lupita adalah istriku, ia sudah menjadi tanggung jawabku."
Selesai memakai kaos berkerah dipadu celana jeans, Harlan berjalan kearah kamar Wiliam. Pintu terbuka setelah Harlan mengetuknya.
"Ada apa Tuan?
"Aku harus pulang kerumah istriku, tolong kau jaga Emak."
"Bukankah ibu asuh tidak mengizinkan Tuan pergi lagi."
"Kau harus bisa rahasiakan, besok pagi aku akan kembali."
"Baiklah, aku akan menjaga ibu asuh, secepatnya besok pagi pulang, sebelum ibu asuh tahu."
"Oke, aku berangkat."
Harlan berjalan menuruni anak tangga menuju kamar ibu angkatnya. Setelah melihat Mak Isah tertidur pulas, Harlan berjalan kearah teras. Membawa motor metik menuju rumah Lupita.
🌸
🌸
🌸
@Bersambung......
Kini Novel "TUAN JENDERAL CINTAI AKU" sudah Up lagi, kisah yang tak kalah seruu... yuk ikuti kisahnya.
__ADS_1