Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Chapter 8 : Sakit


__ADS_3

WELCOME BACK READERS!!❤️❤️


Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️


...•••••...


••••


"Eghh--, ,".


Lenguh seorang gadis cantik merasa terganggu oleh cahaya matahari yang masuk ke celah gorden.


Pelukannya kian mengerat menelusup ke dada bidang pemuda yang ia peluk. Indra penciumannya menghirup aroma familiar. Bukan wangi Arga, pikir Retha.


Perlahan matanya terbuka lalu mendongakkan kepalanya ke atas menatap wajah pemuda yang sedang ia peluk.


"Abang El".


Marvel yang memang sudah terbangun sedari tadi tersenyum hangat menatap gadis kesayangannya.


"Morning princess".


Serasa tak percaya. Retha memeluk tubuh Marvel dengan sangat erat tidak mau melepaskan pelukan itu sedikitpun. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisan yang kian mengeras.


"Loh kok nangis?". Marvel mengangkat pipi Retha mengusap pipinya yang basah.


"Abang, hiks, ,hiks ,, re-tha -- huaaaa". Tangisan Retha tambah kencang.


Marvel yang gemas tertawa kecil sambil mengelus kepala adik bungsunya agar lebih tenang.


"Cup cup cup udah jangan nangis, Abang baik baik aja".


"Ini Abang kan? Retha gak mimpi kan?". Retha mendongakkan kembali kepalanya menatap Marvel dengan mata merah.


"Menurut kamu? Hantu gitu".


Bibir Retha mengerucut dengan gemes.


Cup


Cup


Dengan gemes Marvel mencium pipi Retha membuat si empunya tersenyum menyembunyikan wajahnya di dada bidang marvel yang terbalut kaos tipis.


"Sekarang bangun, makan lalu minum obat dulu".


"Nanti dulu bang".


"Ets, Retha mau Daddy turun tangan mendengar Retha sakit? Mending sama Abang atau Daddy?". Marvel memberi pilihan karena kalau sama daddynya akan dipaksa pergi ke rumah sakit walau hanya demam ringan.


Tentu saja Retha tidak mau, ia sangat anti masuk ke rumah sakit. Bukan apa apa, tapi karena Retha sangat benci jarum suntik.


"Sama Abang". Jawab retha cepat membuat marvel tersenyum mengusap rambut Retha.


......


Hari ini Arga berangkat sendiri ke sekolah karena Retha sedang sakit menggunakan motor sport.



Alasannya karena markas BS ke sekolah menempuh perjalanan jauh. Maka dari itu agar cepat sampai Arga memilih menggunakan motor.

__ADS_1


Sesampainya di palkiran sekolah bersamaan dengan Rey CS yang datang juga menggunakan motor sport kian melirik ke arah Arga tanpa terkecuali.


"Loh kok sendiri, ayang gue mana?". Gumam Roby dimana jarak mereka lumayan jauh.


Baru mau mendekati Arga. Namun pemuda itu keburu masuk ke dalam sekolah.


Di kelas XI MIPA 1


Roby dan Galih berjalan masuk ke kelasnya berniat menanyakan Retha tapi orang yang dituju tidak ada di dalam kelas.


"Kemana kulkas 1000 pintu pergi?". Ucap Roby menatap sekeliling ruangan.


Galih yang ada disampingnya mengangkat bahu acuh berjalan ke tempat duduknya. Dia juga penasaran tapi tidak kepo seperti Roby.


Beralih ke tempat Arga, pemuda itu tidak langsung ke kelas melainkan pergi ke roftop yang jarang didatangi oleh siswa cempaka. Bisa dilihat dari kotornya lantai roftop.


Lalu tangannya terulur mengambil handphone dan mengetuk pesan untuk seseorang.


Arga berniat memilih diam di roftop menghiraukan Rey CS yang terus mencari keberadaannya sedari tadi.


Cuma Roby dan dirga yang nyari Arga sebenarnya.


Pusing dengan kelakukan para sahabatnya yang terus debat, Rey memutuskan untuk pergi ke lapangan terlebih dahulu.


Tanpa mengganti baju dan peregangan terlebih dahulu. Rey mulai memainkan bola basket dengan beberapa tehnik yang dia bisa.


Sampai gak sengaja matanya menatap seseorang yang sedang duduk di pembatas roftop dengan santai tanpa ada rasa takut.


"Arga". Batin Rey mengingat jaket yang pemuda itu pakai tadi pagi.


......


Kantin sekolah


Jujur, Rey juga penasaran tapi apalah daya dia bukan siapa siapanya Retha.


"Eh bangsat, kalau Lo penasaran tungguin noh 1000 kulkas di palkiran. Pusing gue dengar bacot lo gak diem dari tadi". Ucap Reza sudah mulai kesal dengan Roby.


"Gue-- mmmp".


Mulut Roby tertutup oleh keripik kentang yang Galih masukan untuk membungkam mulut Roby yang gak bisa diam.


"Emang lo pada gak penasaran kenapa Retha gak masuk sekolah". Sahut Dirga diangguki Roby dengan mulut penuh makanan.


"Penasaran sih iya tapi gak goblok kaya kalian berdua". Jawab Reza ngegas.


"Woy, Lo kenapa bengong?".


Rey mengalihkan pandangan menatap para sahabatnya yang ikut menyusul ke lapangan. Lalu pandangannya kembali ke roftop, tapi Arga sudah tidak ada.


"Lo liat apaan sih". Seru Roby menatap ke arah pandang Rey.


"Lupain, cepet latihan gue ada urusan".


Rey CS dan anggota lain mulai latihan basket. Kebetulan sekolah dibubarkan lebih awal tapi jadwal latihan tidak berubah sama sekali.


Satu jam lebih berlatih.


Roby yang lumayan lelah memilih duduk di samping lapangan sambil scrol media sosial. Namun tiba-tiba matanya membulat sempurna melihat sesuatu.


"WHAT!!".

__ADS_1


Semua orang yang ada di lapangan menatap ke satu arah dimana Roby terdiam menatap layar ponsel.


"Ayang gue sakit".


Bugh


Satu pukulan mendarat di kepala membuat si empunya merintih kesakitan. "Ayang gue sakit". Rintih Roby.


"Jyjyk sumpah". Dirga bergidik ngeri melihat wajah Roby saat ini.


"Gue gak bohong, tahu ah gue balik".


Dengan merajuk Roby meninggalkan lapangan. Sebenernya bukan itu, dia hanya akting. Mengenai pergi lebih dulu karena Roby ada urusan penting makanya dia pergi dulu. Sebelum beralih juga pemuda itu sudah meminta izin lebih dulu kepada Rey.


.....


Retha yang sedang sakit hanya bisa berbaring di kamar yang ada di markas tanpa bisa pergi kemana mana.


Abangnya menolak padahal gadis itu sangat bosan dan ingin menghirup udara segar.


Jadilah Retha memilih untuk menghubungi Arga. Baru beberapa dering panggilan sudah terhubung dan terdengar suara motor bersautan.


"Lo dimana? Kok banyak suara motor?".


"Balik".


"Baru juga jam 10". Retha menatap jam yang ada di layar ponsel.


"Free, makanya cepet balik. Ada apa?". Tanya Arga tahu jika Retha menelpon ada sesuatu.


"Arga~~~!!". Rengek Retha terdengar suara helaan nafas di sebrang.


"Why?".


"Gue bosan, pengen jalan jalan". Ucap Retha penuh permohonan. Kalau ada di depan Arga mungkin sudah memperlihatkan jurus andalan.


"Mau apa nanti gue beliin". Tawar Arga.


"Gue pengen beli sendiri".


"Gue beliin atau gak sama sekali". Ucap Arga tidak bisa dibantah.


"Ok". Pasrah Retha daripada tidak dibelikan. "Gue pengen batagor, chicken, ice cream--, , ".


"No ice cream". Potong Arga. "Gak ada bantahan".


"Bakso sama mie ayam. Dah itu aja". Lanjut Retha menyebutkan apa yang dia mau. Tapi sebenernya masih ada lagi sih, tapi Retha yakin Arga gak akan beli.


"Bakso ok, mie no".


PIP*


Panggilan sudah dimatikan secara sepihak oleh Arga. Retha hanya bisa pasrah dengan apa yang akan Arga bawa. Saat sakit dia memang tidak boleh sembarangan makan tapi tidak di larang sepenuhnya.


Daripada Retha merajuk. Itu juga asal Retha makan buah, sayur dan makanan bergizi lainnya. Jadi setengah setengah.


...•••••...



TBC

__ADS_1


Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰


__ADS_2