
"Ada apa Metha!
"Paman, bagaimana dengan nasibku? Georgie pergi meninggalkan ku, kenapa ia pergi ke Indonesia?"
"Kau tenang saja Metha, aku pastikan Georgie akan kembali lagi ke Nagara ini."
Margaret tersenyum lebar "Terima kasih Paman, secepatnya nikahkan aku dengan Georgie, aku tidak ingin jauh darinya."
"Tentu saja, secepatnya kalian akan segera aku nikahkan, Ayahmu adalah rekan bisnis ku."
"Terima kasih Paman! tersenyum puas.
"Metha, nanti malam kau harus menghadiri pesta Tuan Antonio untuk melangsungkan kelancaran bisnis yang sedang kita bangun. Bank swasta yang kau dan Georgie jalani akan segera di buka."
"Tentu saja Paman, aku pasti akan datang."
"Baik Paman tunggu jam tujuh malam."
"Oke paman aku pulang dulu"
"Hati hati dijalan Metha!"
Margaretha keluar dari ruangan Alfonso berjalan menuju mobilnya.
******
Sementara di Jakarta, Pagi itu Lupita sudah bersiap untuk berangkat bekerja, ia melihat Paman nya sedang duduk di kursi makan dengan wajah murung.
"Paman!
"Lupita, kau mau berangkat kerja?"
"Iya paman." menatap wajah imron yang terlihat sedih kenapa "Paman terlihat murung ada apa?
"Tidak apa-apa Lupi, ayo makan dulu sebelum berangkat."
"Paman katakanlah, mungkin aku bisa bantu."
"Aku baru tau dari mu klau bibi mu punya masalah dengan juragan karyo itu, hampir setiap hari anak buahnya datang ke warung dan marah marah minta uang tiga puluh juta yang sudah diambil oleh bibi mu."
"Ya Allah, benarkah paman?"
"Paman bisakah utang itu bisa dicicil, hari ini aku gajian, Alhamdulillah paman gajih ku lumayan besar sebagai pegawai magang."
"Tidak usah Lupi, gajih itu hasil jerih payah mu, kau tidak perlu repot-repot membayarkannya, itu adalah kesalahan Surti yang selalu ingin hidup enak tanpa memikirkan resikonya."
"Paman bernegosiasi lah pada anak buah juragan itu, gajih ku lima juta, aku akan memberikan paman tiga juta untuk membayar utang bibi."
"Tidak Lupi! paman tidak ingin menambah beban mu, Paman dan bibi mu sudah menumpang di rumahmu bertahun tahun, paman akan berusaha mencari...
"Mencari dimana Pak! hidup kita sudah miskin jangan sok nolak pemberian Lupi, lagipula Lupi memang harus memberikan kita uang! karena selama ini kita yang sudah mengurus nya!"
"Diam kau Bu!!! kau selalu bikin masalah! buat apa ibu ambil uang dari juragan rentenir itu dengan tujuan menjual Lupita! Imron begitu emosi dan menunjuk wajah Surti yang berdiri dengan tatapan sinis.
"Heh' Pak! emang uang dari bapak yang cuma ngandelin warung kopi cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari hari, sekarang apa apa mahal, bapak pikir dong ibu juga banting tulang kesana kemari cari pinjaman untuk menutupi kekurangan kita!"
"Itu karena ibu tidak pernah bersyukur!
"Kau saja yang tidak becus jadi seorang suami! hidupku selalu menderita dari dulu! teriakan Surti terus menyulut amarah Imron suaminya.
"Kau Bu! keterlaluan kau!
__ADS_1
"Aaahhkkkk... tiba-tiba Imron memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Paman! Lupita menghampiri imron dan memegangi tubuhnya yang hampir sempoyongan "Paman kenapa?!
"Kau jangan sok cari perhatian Lupi! kau selalu saja menjelekkan aku dan Lolita di depan pamanmu supaya Imron membenci istri dan anaknya kan!
"Bibi! ini bukan waktunya berdebat atau saling menyalahkan! lihat Paman sedang kesakitan, apa bibi tidak melihat tubuh Paman keluar keringat dingin! Lupita begitu kesal melihat kelakuan bibinya yang tidak pernah peduli pada pamannya.
"Ayo paman aku antar ke kamar, lebih baik Paman istirahat saja tidak perlu buka warung dulu hari ini." Lupita memapah Imron masuk kedalam kamar.
"Paman tidak usah khawatir ya, biar aku saja yang membayar hutang itu, aku berangkat kerja dulu." ujar Lupita mencium tangan Imron.
"Hati hati dijalan Lupi."
Lupita tersenyum dan melangkah keluar kamar.
"Lupita anak baik dan pekerja keras, tidak seperti Lolita yang hanya menghabiskan uang, semoga Allah selalu melindungi mu Nak." gumam Imron dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
******
Lupita sudah sampai di depan gedung perkantoran, ia berjalan melangkah dengan gontai, pagi itu angin begitu kencang sepertinya akan turun hujan, angin menerbangkan apa saja yang berada di jalanan, rambut panjang Lupita ikut terangkat dan berterbangan kesana kemari, lupita membetulkan rambutnya yang berantakan, hari itu pikirannya sedang kalut melihat pertengkaran paman dan bibinya, apalagi ia melihat pamannya begitu tertekan.
"Aku harus mencari pinjaman uang untuk membantu paman, tapi kemana aku harus cari pinjaman uang?" Lupita terus bertanya pada hati kecilnya.
Sementara sebuah mobil sedan hitam masuk kedalam gedung perkantoran, mobil itu melewati Lupita, di dalam mobil Harlan melihat Lupita sedang berjalan dengan wajah sedih dan tatapan kosong.
"Will..!
"Saya Tuan!
"Ada apa dengan Lupita, kenapa ia berjalan pelan dan tatapan nya kosong."
"Saya kurang tahu Tuan, apa yang sedang Nona Lupita kita pikirkan."
Tiba-tiba sebuah motor melaju dengan cepat saat masuk kedalam gedung, Lupita tidak sadar ada motor di belakang nya.
"Tinn.. tiinnnnnnnn....!
Lupita terkejut dan saat itu seseorang mendorong tubuh Lupita agar tidak tertabrak hingga ia terjatuh diaspal.
"Lupita!
Harlan berseru, ia ingin berlari kearah Lupita tapi Wiliam mencegahnya.
"Tuan! tolong jangan perlihatkan jati diri tuan yang sebenarnya, Tuan adalah Vandeles pemilik perusahaan ini, bagaimana bila semua karyawan melihatnya saat Tuan menolong Lupita di depan kantor anda sendiri."
Harlan terdiam ia menghentikan langkahnya, hanya melihatnya dari kejauhan.
"Kau tidak apa-apa? tanya seorang pendorong tadi. "Maafkan aku mendorong mu begitu keras, hingga kau jatuh ke aspal." mengulurkan tangannya untuk membantu Lupita bangun.
"Tidak apa-apa Mas, terima kasih."
"Tangan dan dengkulmu terluka, kita obatin di dalam saja."
"kau bekerja di sini juga?"
"Iya aku bekerja di perkantoran nya, di bagian pemasaran."
"Ayo kita masuk!
"Tidak usah di pegangi, aku tidak apa-apa bisa jalan sendiri."
__ADS_1
Mereka berdua masuk kedalam perkantoran dan menuju ruangan pengobatan untuk mengobati luka Lupita. Pria itu mengambil kotak P3k.
"Biar aku bantu mengobati lukamu."
"Tidak usah mas, aku bisa obati sendiri, lagi juga ini hanya luka kecil."
"Ya sudah." pria itu tersenyum "Oiya siapa nama mu!
"Lupita!
"Bekerja di bagian apa?
"Arsitek dan desain."
"Wah hebat, berarti kau lulusan sarjana."
"Aku lulusan diploma dan hanya karyawan magang."
"Kenalkan Lupita, namaku Irwansyah, tapi panggil aku saja Irwan." mengulurkan satu tangannya, Lupita menyambut uluran tangan itu.
"Aku sudah selesai di obati, sekarang aku mau masuk kedalam ruangan ku."
"Oke Lupita aku juga mau masuk keruangan ku, kalau kau perlu bantuan datang saja ke devisi pemasaran, berada di lantai sebelas, oke!
"Baiklah Irwan, sekali lagi terima kasih banyak."
Mereka berdua keluar dari ruangan pengobatan.
Sementara di ruangan Presdir, Harlan terlihat panik dan gelisah.
"Will..!
"Saya Tuan!
"Cepat kau panggil Dokter yang biasa nanganin karyawan.
"Sepertinya tidak terlalu parah Tuan, gadis itu hanya jatuh saja, mungkin hanya luka ringan."
"Tapi aku harus menjaga keselamatan karyawan ku!
"Apa wajar memanggil Dokter hanya luka goresan kecil saja Tuan."
"Baiklah kalau begitu kau lihat kondisi lupita, kalau lukanya parah cepat kau panggil Dokter Arman, kalau lecet cepat beri obat obatan untuk lukanya."
William menarik nafas dalam-dalam, ia hanya gerutu dalam hati melihat Ceo nya yang berlebihan terhadap Lupita.
"Baik Tuan, saya akan melihat kondisi Nona Lupita."
"Satu lagi Will, kau cari motor yang hampir menabrak Lupita, dan pecat dia!
"Baik Tuan, saya permisi dulu."
'
'
'
'
'
__ADS_1
'
@Bersambung.....💃💃💃