Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Kabar Dari Harlan


__ADS_3

Sebuah pintu terbuka.


"Wiliam.... tolong aku! kak Harlan ingin perkosa Aku!" teriak Della melepaskannya dirinya dan menjatuhkannya tubuhnya ke lantai.


Mata Wiliam terbelalak melihat dua orang di depannya. Della menangis meraung-raung di lantai dengan pakaian berantakan, ia hanya memakai bra dan span rok yang sudah robek.


Harlan menggeleng kuat."Tidak will! ini tidak seperti yang kau lihat."


Wiliam berjalan masuk kedalam ruangan dan menaruh lembaran file diatas meja kerja Harlan. Lalu menoleh pada Della yang duduk mematung dengan tatapan kosong.


"Tuan!"


Harlan mengangkat wajahnya dan menautkan kedua alisnya "Ada apa..?"


"Apa yang sudah terjadi pada Nona Della, kenapa Ia hanya diam dan melamun, tidak bergerak sedikit pun dari duduknya."


Harlan menoleh kearah Della dan melihat ketegangan di wajahnya "Mungkin dia syok, tadi aku sudah turunkan jabatan sebagai office girl."


"What!" Wiliam terkejut dan tertawa kecil, sepertinya ia senang dengan keputusan Harlan yang tak main-main.


"Kasihan juga melihat wajah melasnya."


"Kau kasih dia minum, aku takut dia kesurupan disini." ujar Harlan, seraya membuka file yang Wiliam berikan.


Wiliam berjalan mengambil air dalam dispenser dan mendekati Della yang masih melamun.


"Hey! minum dulu." menyodorkan gelas berisi air putih di depan Della, namun ia tidak bergeming. William menggoyang-goyangkan pundaknya. Seketika Della terkejut, sontak ia menepis gelas didepannya, dan gelas yang berisi air jatuh ke bajunya. Della terkejut dan menutup dadanya dengan kedua tangan.


"Apa yang sudah kau lakukan will, jangan melihat kearah ini, aku malu! dimana pakaianku!" pekik Della yang terlihat shock.


William membulatkan matanya "Apa maksudmu? apa yang sudah aku lihat darimu, sungguh wanita aneh!" sungut William


Della yang baru tersadar dari lamunannya menatap dirinya sendiri, dan melihat pakaiannya masih lengkap. Namun hanya basah bekas tersiram air tadi, ia menatap ke arah Harlan yang masih terduduk di kursi Presdirnya dengan tenang, seraya berkutat di depan laptop.


"Apakah tadi aku bermimpi? atau hanya halusinasi dan bayanganku saja. Syukurlah aku tidak melakukan hal bodoh! Della menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan kasar. Terlihat wajahnya malu dan tertekuk karena ia sadar telah berhalusinasi yang hampir merugikan dirinya sendiri.


"Tadi halusinasi apa itu? aku membuka baju dan memeluk kak Harlan? ya Tuhan mau taruh dimana muka ini? untung bukan kenyataan, hanya pikiran kotor dan otak mesumku saja yang terlintas." Della mengusap wajahnya berkali-kali,


"Kalau sudah selesai pulang lah, ini sudah sore." perintah Harlan tanpa menoleh padanya.


"Apa perlu saya antar sampai depan pintu, Nona,?" Wiliam menawarkan diri.


"Cih! mau antar cuma sampai depan pintu!" gerutu Della dalam hati. Ia beranjak dari duduknya dan melangkah keluar pintu tanpa berpamitan pada Harlan.


Harlan menatap kepergian Della sampai hilang dari pandangan "Ma'afkan aku Dell, aku harus tegas padamu. Yang kau kenal dulu adalah Harlan, seorang pria sederhana dan kampungan. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu di masa lalu, tapi sekarang semuanya telah berbeda, aku sudah menikah dan memiliki istri yang mengemaskan, aku tidak ingin ada salah paham, Maaf kalau aku mengorbankan dirimu." bergumam dalam hati dan mendesah kasar.


"Will, gantikan posisi Diana seperti awal, dia pegang Akuntan lagi."


"Baik tuan!"


"Tuan, apa Nona Inez akan bekerja kembali? tanya Wiliam sedikit gugup.


Harlan menatap datar pada Wiliam "Apa yang akan kau lakukan bila Inez bekerja kembali di perusahaan ini?"


"Heum..." Wiliam berpikir sejenak.

__ADS_1


"Apa kau akan mengajaknya berkencan?" tembak Harlan, seraya menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Ap-apa..? Wiliam terbelalak dan gelengkan kepala "Tidak untuk berkencan tuan, tapi saya akan meminta maaf."


"Kau yakin tidak mau berkencan dengan Inez? wanita yang cerdas dan pekerja keras."


"Ma'af tuan, tapi Nona Inez bukan kriteria saya."


Harlan tersenyum seraya gelengkan kepala. "Will, sudah kau siapkan pernikahanku dengan Luvi, sudah lama aku menunggu moment bahagia itu, menjadikan Luvi Istri sah ku!"


"Tentu saja Tuan, minggu depan sudah bisa dilaksanakan. saya sudah menyuruh orang kepercayaan kita untuk mengurus surat-surat ke KUA."


"Bagus Will, aku akan bicarakan berita bahagia ini pada istriku."


______


Tepat pukul Lima sore Della masuk kedalam ruangan dengan ekspresi sedih, ia berlari kearah Mak Isah yang sedang menonton tv.


"Bibi!" Della menangis di pangkuan wanita paruh baya itu.


"Ada apa Del!? Mak isah mengkerut kan keningnya "Kenapa kau tiba-tiba pulang sambil menangis."


"Kak Harlan sungguh tega kepadaku Bi.., dia menjatuhkan posisiku sebagai Office girl aku tidak terima bii, harga diriku dijatuhkan begitu rendah!" hiks..hiks.


"kau harus tenang dulu Del, nanti kita bicarakan dengan Harlan, kita tunggu dia pulang."


"Ini semua ulah luvita bii, dia yang sudah mencuci otak kak Harlan untuk menjatuhkan harga diri dan posisi ku! Bibi harus bersikap tegas pada wanita sialan itu!


Luvita yang sedang berada di dapur mendengar percakapan dua wanita itu, Luvi sangat lega suaminya sudah menuruti perintahnya, jadi tidak ada yang perlu ia takutkan lagi menghadapi Della.


"Hey Luvi!" panggil Mak Isah, saat Luvi berjalan kearah anak tangga. Luvi menoleh dan berjalan mendekat. "Ckckck... wanita licik ini mulai mengadu dan bersandiwara kalau dia paling tersakiti, oke Della aku ikuti permainan mu!" batinnya lirih


"Apa benar kalau sudah mencuci otak Harlan untuk menjatuhkan posisi Della di perusahaannya!"


Luvita tersenyum "kalau ibu ingin jelasnya, Jangan tanya pada saya. Tapi tanya Pada suami saya, dia lebih tahu kualitas kerja keponakan ibu seperti apa? Ibu kan tidak tahu kondisi di perusahaan, dan yang lebih tahu itu kak Harlan!"


Mak Isah mendengus kesel.


'kau juga Della, Kapan dewasanya Sih? kalau ada masalah selalu mengadu pada Bibi mu! mana bibi tahu keadaan si kantor."


"Diam kau, berengsek!" awas saja akan aku balas kau!"


Ckckckck... "Seharusnya ibu tahu kelakuan keponakannya, lihat saja kalau bicara kasar pake ancaman. kayak preman pasar saja!" sindir Della dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ceklek!


"Sayang..." suara pintu terbuka, Luvi tersenyum terbit saat suaminya masuk kedalam kamar, ia berjalan mendekat kearah suaminya. Harlan menarik istrinya kedalam pelukan dan mencium keningnya.


"Sayang, Mas membawa kabar gembira untukmu."


"kabar apa itu mas? aku pun ingin memberi kabar yang akan membuat suamiku senang."


"Ohya..? apa itu sayang.."


"Coba Mas dulu yang bicara."

__ADS_1


Harlan mencubit hidung mancung istrinya "Minggu depan kita akan menikah resmi."


"Benarkah..? wajah Luvita berbinar cerah.


"William sudah menyiapkannya di hotel berbintang lima."


Luvita terdiam dan menatap mata teduh suaminya "Mas, bukan aku menolak menikah di sebuah hotel mewah, tapi bila Mas setuju, Aku hanya ingin menikah di KUA. untuk pestanya bisa menyusul nanti. karena aku tidak ingin semua orang di perusahaan Mas tahu, kalau aku menikah dengan seorang presdir, pasti mereka berfikir yang tidak-tidak. Biarkan aku menjadi istri Mas tanpa mereka ketahui agar posisi mas aman."


"Buat apa kau peduli omongan orang, yang menjalankan kita. Tidak usah pedulikan mereka."


"Ya Mas aku mengerti, tapi untuk saat ini aku mohon jangan publikasikan pernikahan kita. Aku tetap istri mas yang sah dimata hukum dan agama."


"Kau serius sayang..?


Luvita mengangguk. Harlan memeluk erat tubuh istrinya "Kau memang wanita istimewa, tidak materialistis dan penuh kesederhanaan, aku sangat mencintaimu."


Dalam hati Harlan setuju, "Apa yang dikatakan Luvi ada benarnya, kalau paman sialan itu tahu aku menikah mewah dengan Luvi, dia pasti akan menganggu! untuk sementara aku ikuti saran istriku, bila keadaan sudah aman, aku janji akan buat pesta meriah."


"Sekarang katakan, kejutan apa yang ingin kau berikan."


"Inez setuju untuk bekerjasama lagi di perusahaan Vandeles. Aku membujuk nya terus." ucap Luvi seraya membuka satu persatu kancing kemeja suaminya


"Benarkah? sudah ku duga ia pasti akan kembali. Thanks honey." mencium bibir istrinya


"Mulai besok Inez akan datang ke perusahaan."


"Kalau begitu suruh Inez menemui Mas, di ruangan kerja ku."


"Baik Mas! kalau begitu kapan aku mulai masuk kerja?


"Kau ingin kerja kembali?


"Iya Mas! aku bosan di rumah terus."


"Tidak bisa! sekarang kau tambah cantik, Mas nggak mau mata laki-laki diluar sana menatap liar padamu."


Pakaian Harlan sudah terlepas, hanya tinggal boxser di bagian intinya. Tiba-tiba Harlan mengangkat tubuh istrinya.


"Aaaaa..." Luvi terkejut "Mas mau ngapain?"


"Mas mau mandi, temenin mas mandi." terlihat seringai licik di bibir tipis suaminya.


"Aku sudah mandi Mas!"


"Tidak ada penolakan untuk suamimu, kalau menolak akan Mas beri hukuman yang lebih berat!" Luvi hanya bisa pasrah saat suaminya membawa masuk kedalam kamar mandi.


๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift

__ADS_1


๐Ÿ’œKomen


@Bersambung........


__ADS_2