
Luvita membekap mulutnya tak percaya, cairan bening kebahagiaan menetes kembali. "Benarkah Mas? apakah itu tidak berlebihan. Aku tidak ingin di tuduh wanita materialistis."
"Sayang, Mas yang lebih tahu siapa dirimu, jangan pernah pedulikan omongan siapapun termasuk Emak ya?" mencubit hidung mancung istrinya. Luvita tersenyum. Sebuah ciuman hangat Harlan sematkan di bibir istrinya.
Didalam peraduan yang hangat, sepasang suami-istri masih tertidur pulas tanpa sehelai benangpun, hanya terbungkus selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Suara alarm bunyi bertalu-talu. Sang pemilik mata hazel terbagun dengan malas, ia memutar bola mata coklatnya dan menatap lembut wanita di sampingnya yang meringkuk dalam dekapan hangat sang Arjuna. Harlan mencium lembut kening istrinya dan kedua matanya. Ada binar bahagia dalam hidupnya, kini ia tidak akan pernah sendiri lagi menjalani hari-harinya. Ada bidadari surga yang selalu menemaninya dan berharap tak akan pernah berpisah.
Sekarang prioritas Harlan adalah mencarti kebahagiaan bersama istrinya sampai menua. Dan impiannya memiliki anak-anak yang lucu-lucu dan menggemaskan.
Luvita menggeliat saat sebuah tangan kekar mengusap pipi halusnya.
"Mas! mata Luvi terbelalak sempurna. sebuah senyuman hangat terukir di bibir tipis Harlan.
"Ayo kita mandi bareng. Hari ini mas ada brifing di kantor, akan ada pelelangan tender di PT Sentosa."
Luvita tersenyum terbit, ia begitu bahagia saat membuka mata, ada senyuman di wajah tampan suaminya. Luvi mengangguk ajakan suaminya dan tak ada penolakan untuk dirinya. Kini ia memberikan segalanya untuk suaminya yang sangat ia cintai, agar sang Arjuna tidak berpaling darinya, karena banyak Pelakor di luar sana yang pintar menggoda.
Harlan mengangkat tubuh istrinya dan berakhir di dalam bahtub. Setengah jam kemudian mereka menyudahi aktivitasnya. Luvita mengancingkan satu persatu kemeja suaminya, selesai Harlan memakai celana panjang, Luvi mengalungkan dasi yang tersemat di lehernya.
"Tunggu sampai hari Senin kita menikah di KUA dan pindah ke Villa Nusa indah."
"Berarti empat hari lagi kita masih tinggal di sini. Lalu bagaimana bila ibu tahu kita akan pindah ke kompleks perumahan elit. Aku takut ibu cemburu dan menahan mu pergi."
"Biar itu akan jadi urusan Mas, kau tenang saja tidak usah pikirkan ya. selamat Mas berada di kantor lebih baik menghindar dari Mak dan Della, bicara seperlunya saja bila ditanya. Mas tidak ingin lagi mendengar ada keributan diantara Kalian."
"Iya Mas! tapi... aku jenuh, kapan aku kembali bekerja di kantor."
"Tidak sayang. kau dirumah saja, sekarang tugasmu adalah seorang istri mengurus suamimu. Kalau kau jenuh pergilah ke Mall kau bisa belanja apa saja untuk memenuhi ruangan di rumah baru kita."
Wajah Luvita berbinar cerah, Aku boleh jalan-jalan ke Mall? Apa belum ada perabotan rumah baru kita."
"Ada sebagian, belum semuanya mas isi. kau bisa melihatnya ke sana, Mas akan meminta kuncinya pada Wiliam. Sebenarnya Mas ingin memberikan villa itu di hari ulang tahunmu, tapi itu lebih cepat dari yang Mas pikirkan."
"Apa harus menunggu empat bulan lagi, bila kau ingin memberikannya di hari ulangtahun ku, Mas? Luvi mengerucut bibir sebal.
"Tidak sayang, untuk apa menunggu sampai empat bulan. Mas sudah janji villa itu untuk mahar kita nikah besok."
Luvita tersenyum tulus "Terima kasih Mas." Luvi masuk kedalam pelukan suaminya.
"Ya sudah kita turun, kau ajak saja pak Basir untuk menemani mu belanja."
Luvi mengurai pelukan dan mengangguk. Mereka berdua turun dan berjalan ke meja makan. Disana sudah duduk Mak isah dan Della dengan wajah masam. Luvita pura-pura tidak melihat kearah mereka, ia fokus mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.
"Pagi Mak?" sapa Harlan sopan. Mak Isah hanya mengangguk kecil sambil terus memasukkan nasi kedua mulutnya.
__ADS_1
"Kak! apa tidak ada kesempatan aku untuk di posisi semula."
"Mas makan dulu." Luvi menaruh piring di depan suaminya.
Harlan mendesah kasar "Harus berapakali aku bilang padamu, Della!" posisi situ sudah ada orang yang lebih ahli di bidangnya."
Della mencabik dan beranjak dari duduknya.
Selesai Harlan sarapan. Luvi mengantarnya sampai teras "Dengarkan pesan Mas tadi, jangan berdebat dengan Mak dan Della, menghindar saja."
"Iya Mas!"
"Will...!
"Ya Tuan!"
"Berikan kunci Villa pada istriku, kau kontek penjaga Villa untuk menyambut istriku, hari ini Luvi mau kesana."
"Baik Tuan! memberikan kunci Villa itu pada luvita.
"Terima kasih, will!" tersenyum tipis.
"Sama-sama Nyonya."
Di dalam kamar Luvi sudah berganti pakaian, ia bersiap-siap ingin jalan Ke Mall membeli semua perabot yang ia suka untuk di rumah barunya.
"Ahh! aku lupa bertanya pada Inez, apa dia tepati janji akan datang ke kantor Vandeles."
Luvita mengambil ponsel dan mulai menghubungi kontak Inez.
"Hallo Nez!
"Hey, vit. tumben pagi-pagi udah telpon, awas nanti suamimu cemburu lagi, di kira telponan sama cowok."
"Tenang saja nez, Mas Harlan sudah berangkat baru saja. Ohya aku mau tanya, apa kamu jadi hari ini pergi ke perusahaan Vandeles."
"Jadi donk, Aku tidak mau mengecewakan sahabatku. Sekarang aku sedang naik taksi. kebetulan motorku lagi di servis. Mungkin sore nanti aku mau ngambilnya."
"Oke, good luck! dan hari-harimu menyenangkan."
"Aamiin... Maksih ya vita!"
Telpon terputus bersama ketukan pintu di luar pintu. Luvi membuka pintu.
__ADS_1
"Maaf Nyah, mau menaruh pakaian tuan yang sudah selesai di gosok."
"Oiya, taruh saja di sana Mbak, nanti saya bereskan."
ART itu menaruh pakaian diatas ranjang dan pamit keluar kamar. Sebelum berangkat Luvi membereskan pakaian suaminya kedalam lemari, dan jas kerja ke lemari gantung. Karena terburu-buru pakaian yang ia pegang terjatuh ke lantai. Luvi menyusunya kembali satu persatu baju untuk di tumpuk, tak sengaja di dalam lipatan kaos ia melihat beberapa lembar foto Harlan dengan seorang wanita cantik. Tiba-tiba hati Luvi berdenyut pedih. ia menatap lekat satu persatu foto-foto itu.
"Siapa wanita cantik ini? dan foto ini, ia sedang mengandung? Luvita membekap mulutnya, hatinya begitu sakit, tak terasa airmatanya jatuh ke pipinya "Apakah Mas Harlan sudah pernah menikah? tapi kenapa ia tak jujur padaku kalau sudah pernah menikah dan memiliki anak."
Rasa penasaran terus bergelayut dalam hatinya. Luvi membalik foto itu dan ada sebuah tulisan tangan.
["Nadine! kau adalah wanita pertama yang hadir mengisi relung hatiku yang kosong. Mencintai mu adalah anugrah terindah dalam hidupku. Selamanya aku akan terus mencintaimu, walau ragamu tak bersama ku, Namun, cintaku tak akan pudar walau usang di makan waktu."]
"Hiks... hiks.. "Wanita ini bernama Nadine. jadi kau menikahi ku hanya pelampiasan mu saja Mas, kau tak benar-benar tulus mencintai ku! ada wanita lain yang sudah mengisi hatimu!"
Tangan luvita gemetar saat membalikkan foto suaminya dan wanita itu sedang tertawa di sebuah air terjun.
[Aku akan terus menunggumu sampai kapanpun, walau rambut ini akan memutih aku tetap menanti mu. Datanglah kepadaku bila kau tidak bahagia hidup bersamanya.]
Tangisan Luvita semakin dalam "Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini! suamiku mencintai wanita bernama Nadine bahkan rela menunggu nya sampai tua?" Luvita meremas dadanya yang semakin nyeri.
"Ini di tulis pada tahun 2017, berarti sudah lima tahun yang lalu, saat usia mas Harlan 25 tahun." Luvita terus merenung "Kenapa foto masa lalu Mas Harlan ada di tumpukan baju ini? apakah ada orang yang sengaja menaruhnya? atau Mas Harlan lupa menyimpannya? mustahil kalau suamiku sengaja menaruhnya agar aku bisa tahu masa lalunya "
Luvi menatap lekat foto Nadine "Parasnya sangat cantik, wajahnya begitu lembut dan mendekati sempurna. Pantas Mas Harlan begitu memuja sosok wanita ini." pujinya jujur.
Dada Luvi serasa sesak "Aku akan tanya nanti malam. lalu...? bagaimana bila mas Harlan masih mencintai wanita bernama Nadine? apa gunanya aku berada di sisinya. Hidup bersama suami yang masih mencintai wanita lain sangat menyakitkan. Raganya bersamaku, tapi hatinya pada wanita masa lalunya."
"Tidak! aku tidak boleh terpengaruh dengan foto-foto ini, sebelum mendapatkan penjelasan dari mas Harlan."
Dengan tubuh lemas dan perasan nyeri, Luvi menyusun pakaian itu kedalam lemari, dan menaruh Foto-foto itu didalam laci.
💜💜
@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:
💜Like
💜Vote
💜Gift
💜Komen
@Bersambung
__ADS_1