Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Titik Terang.


__ADS_3

"Sabar Tuan, tunggu sampai peresmian Bank itu selesai, Anda bisa kembali ke Jakarta."


"Menunggu sampai dua minggu kedepan! Harlan menarik nafas dalam-dalam, terbesit rasa kebencian yang teramat dalam, apa daya ia tidak bisa berontak pada Pamannya, karena melawan Alfonso sama saja membangkang pada Ayahnya. Harlan tidak ingin kecewakan Alfonso yang sudah menyelamatkan nyawanya dan menjaga perusahaan Ayahnya. Tapi bila urusan hati ia tidak ingin Alfonso ikut campur.


"Will, aku perlu istirahat, rasanya sangat penat dan kepalaku pusing."


"Baik Tuan, satu jam sebelum pergi aku akan bangunkan Tuan."


Harlan mengangguk dan masuk kedalam ruangan khusus tempat untuk istirahat.


*Gedung perkantoran*


Sementara di dalam toilet Lupita menangis terisak, menyandarkan punggungnya ke dinding. Seakan terlalu berat beban yang ia hadapi. Lupita berjongkok untuk menahan rasa sakit dihatinya, hinaan dan cibiran terus dia dapatkan dari tempat kerja atau bibi dan sepupunya. Lupita berusaha kuat dan tidak ingin menyerah dengan keadaan.


Pintu toilet terbuka, masuk seorang cleaning servis dan melihat Lupita sedang berjongkok bersandar pada dinding. Melihat ada yang datang Lupita berdiri dan menyalakan air kran, ia membasuh wajahnya.


Setelah perasaannya tenang Lupita keluar dari toilet, ia berjalan melewati lorong pantry untuk menuju ruangannya. Didalam ruangan pantry Lupita mendengar percakapan dua orang cleaning servis yang membahas masalah uang. rasa penasaran membuat Lupita berhenti.


"Kau tau tidak, tiga hari yang lalu saat sedang menyapu, aku melihat seorang Pria sedang mengambil amplop tebal dalam tas seseorang."


"Dirungan mana? tanya temanya yang sedang mencuci kain pel.


"Di ruangan Desain interior."


Lupita yang mendengar obrolan mereka sangat terkejut, ia tidak ingin beranjak dari tempat itu dan masih terus mendengarkan percakapan mereka.


"Kau tau tidak isi amplop itu? tas milik siapa yang Pria itu curi?


"Sepertinya uang, aku lihat amplop coklat itu tebal, aku tidak tau tas siapa yang dicuri?


"Kau lihat wajah pria itu? soalnya aku dengar ada yang kehilangan uang di ruangan Desain."


"Iya aku ingat wajahnya!


"Orang itu tega banget ya, ambil uang yang bukan miliknya."


"Ya begitulah sifat manusia selalu kurang, apalagi kalau berhubungan sama uang."


Lupita mengusap air matanya yang sudah jatuh, ia menghembuskan nafas gusar, satu tangannya memegangi dadanya yang terus berdetak Karena kaget, tiba-tiba dua orang wanita itu keluar dari pantry, ia melihat Lupita sedang berdiri di samping pintu, dua orang cleaning servis itu terperanjat kaget.


"Mba, aku sudah dengar semua percakapan kalian tentang pencurian uang itu." kata Lupita menatap dua wanita di depannya.


"Aku tidak tau apa-apa kak, aku hanya asal bicara tadi." kata wanita yang di nametag nya bernama wati, ia berdusta dan berbicara dengan ketakutan.


"Tidak apa-apa kau tidak usah takut, aku akan menjaga rahasia ini! tapi tolong katakan siapa pria yang mencuri uangku!


"Hah! jadi yang dicuri itu uang kakak? wanita bernama wati itu tercengang.


"Iya! aku kehilangan uang dalam tasku, aku sangat membutuhkan uang itu, bila Mba tau orangnya aku akan lapor pada atasan ku, supaya ia kembalikan uang itu."


"Tidak kak, aku tidak mau bersaksi aku takut di pecat dari sini!


"Kau tidak usah takut, aku akan bertanggung jawab, kau tidak akan dipecat bila bicara kebenaran."


"Tidak kak! aku tidak lihat wajah Pria itu! wanita bernama Wati itu langsung menghindar dan berjalan cepat meninggalkan Lupita.

__ADS_1


"Mba tolong aku Mba! Lupita mengejar nya tapi wanita itu sudah menghilang di balik lorong.


"Dia sudah menghilang, aku akan menemuinya nanti setelah pulang kerja! Lupita pergi menuju ruangan nya.


πŸƒAmsterdamπŸƒ


jam sudah menunjukkan pukul jam enam sore, seperti janji William pada Harlan ia membangunkan tuannya yang sedang terlelap.


"Tuan sudah waktunya kita bersiap!


Mata Harlan terbelalak, ia meregangkan semua ototnya. beranjak dari ranjang dan berjalan kearah jendela."Jam berapa sekarang will?


"Jam enam Tuan, satu jam lagi kita harus ke Hotel Hilton, akan ada pertemuan dengan pejabat kota."


Mendesah kasar "Kalau begitu aku mandi dulu."


"Ini handuk Anda tuan? menyerahkan handuk putih pada Harlan.


Tiga puluh menit kemudian William memberikan setelan tuxedo pada Harlan selesai ia keluar dari kamar mandi. Pria tampan berkharisma itu berpenampilan sangat keren dan menarik malam itu, sepatu kulit hitam menambah daya tarik seorang Harlan. ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya di ikuti Wiliam.


Mobil berjalan meninggalkan perkantoran menuju Hotel Hilton. Amsterdam kota yang sangat indah, banyak tempat wisata di negara yang di juluki kincir angin itu, udara malam itu sangat dingin karena memiliki empat musim yaitu musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur. Kebetulan hari itu adalah musim semi dimana bunga bunga sedang bermekaran.


"Tuan, apakah anda tidak ingin mengambil bunga Edelweis? saat ini adalah musim semi.'


"Aku tidak ada waktu untuk memetik nya."


"Banyak sekali orang orang yang berburu bunga Edelweis, apalagi di musim semi ini!


"Kalau ada waktu aku ingin memetiknya di puncak gunung." Harlan tersenyum tipis.


"Aku sangat setuju bila Tuan ingin memetiknya, karena bunga Edelweis di juluki bunga keabadian, sangat cocok untuk yang memiliki kekasih."


"Will!


"Saya Tuan!


"Bagaimana kabar Lupita? apakah tidak ada masalah di kantor?


"Tidak ada laporan masalah karyawan dari bagian kepala tenaga kerja, kurasa ia baik baik saja." ujar Wiliam masih sibuk dengan ponselnya.


"Semoga Lupita baik baik saja, aku tidak bisa menghubunginya, sudah pasti ia akan curiga kalau aku menelpon dari area Belanda, karena aku pernah bilang padanya dari kecil tinggal dengan ibu asuhku di pedesaan, Lupita hanya tahu Harlan pria kampung yang sederhana."


"Sabarlah sampai peresmian itu selesai Tuan!


"Dua minggu lagi, sungguh waktu yang sangat lama! apa tidak bisa dipercepat will?"


"Kalau masalah itu Tuan tanyakan saja pada Tuan Alfonso, karena bisnis ini milik paman tuan dan Nona Margaret."


"Ahh! mendengus kasar "Baiklah akan aku bicarakan lagi pada Paman!"


Mobil sudah memasuki perhotelan dan terparkir sempurna di depan llobby hotel.


Harlan dan William masuk kedalam rooms yang sudah disediakan, Margaret berjalan kearah Harlan saat melihat ia sudah di depan pintu.


"Selamat malam Georgie, kau datang tepat waktu." tersenyum sumringah "Mari akan aku kenal kan dengan Clint kita."

__ADS_1


Harlan mengangguk ia mengikuti langkah Margaret. hanya orang-orang penting saja yang hadir dipesta malam itu.


"Georgie perkenalkan ini Tuan Fredrik, ia adalah walikota disini, sahabat Ayahku!


Harlan berjabat tangan dengan Fredrik.


"Fredrik Collins!


"Georgie Vandeles."


"Wah anda Keluarga besar Vandeles?


"Tentu saja, ia keponakan Paman Alfonso." kata Margaret menimpali.


"Jadi kau anak dari Almarhum Jendral Alfredo Vandeles? pria paruh baya itu mengeryitkan dahinya.


Harlan mengangguk cepat "Iya!


"Wah tidak menyangka, anak seorang Alfredo tumbuh menjadi pria tampan dan gagah" puji pria paruh baya itu tertawa kecil.


Acara ramah tamah pun di mulai, mereka sudah duduk bersama di satu meja bundar yang dipenuhi berbagai hidangan diatas meja. Tiga orang pelayan datang membawakan minuman beralkohol dan ditaruh diatas meja.


"Mari kita bersulang! Margaret berdiri sambil mengangkat gelas berisi wine di tangannya. mengajak para tamu untuk ikut berdiri. Mereka yang berada di sana berdiri sambil memegang gelas masing-masing.


"Will! berikan minuman ku!


Wiliam memberikan gelas dan menuangkan air berwarna putih kedalam gelas Harlan. Semua orang menatap heran, karena Harlan membawa gelas dan minuman sendiri yang di pegang Wiliam. seketika senyuman manis Margaret mumudar.


"Mari bersulang! Harlan mengangkat gelas di tangannya dan tersenyum, mereka semua mulai meneguk wine itu.


"Boleh aku bertanya? Margaret begitu penasaran dengan minuman yang Harlan teguk.


"Tentu saja Metha!


"Air apa yang kau minum? tanyanya tanpa basa-basi.


"Ini hanya air putih biasa! tersenyum lebar.


"Apa?!!! semua orang mendelik, mata mereka menatap aneh wajah Harlan yang sedang tersenyum manis.


Satu tangan Harlan di masukkan kedalam saku, dan satunya memegang gelas."Mungkin kedengarannya agak konyol, tapi jujur aku lebih menyukai air putih biasa daripada Alkohol, air putih bagus untuk kesehatan bukan? Harlan masih tersenyum dengan gaya khasnya.


"Hahaha..Nona Margaretha! tertawa jahat. "lihatlah wajahmu begitu kesal dan jengkel, kau tidak akan bisa mengakali Tuan Georgie dengan otak kotor mu! Pria didepan mu tidak mudah di perdaya, ia lebih pintar darimu! gumam William dalam hati, ia menatap benci Margaret dan tersenyum jahat.


'


'


'


'


'


'

__ADS_1


'


Bersambung......πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2