Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
Menginap


__ADS_3

"Ya sudah kita menginap disini, besok pagi kita pulang ke rumah."


"Iya Mas, sudah lama juga kita tidak menginap di rumah ini."


"Ya sudah ayo kita tidur, Mas sudah mengantuk." Harlan memeluk tubuh istrinya, dan mereka tidur saling berhadapan.


Suara jam alarm berbunyi nyaring di Indra pendengaran Lupita, ia mengerjabkan matanya, dan melihat tangan kekar suaminya bertumpu diatas perutnya. Dengan pelan Lupi memindahkan tangan suaminya. Ia beranjak dari ranjang untuk menunaikan ibadah subuh. suara penggorengan terdengar hingga depan pintu kamar.


"Nez! sedang masak apa? pagi-pagi sudah ribut di dapur."


"Iya lagi perang sama perabotan." Inez terkekeh "Cepat mandi, aku buatkan nasi goreng."


"Iya aku mau sholat dulu, baru sarapan."


"Gimana, sudah lebih tenang sekarang?


"Tenang maksudmu?"


"Bukannya kau sedang ribut dengan suamimu ya?"


"Ribut sih nggaklah, hanya ada salah paham sedikit, tapi sudah clear kok masalahnya."


"Syukurlah kalau kau bisa menyelesaikannya, jangan sampai ada orang ketiga yang menunggangi hubungan kalian berdua."


Lupita tersenyum "InsyaAllah aku bisa mengatasinya."


"Semalam aku sempat terkejut dengan kedatangan Tuhan George. Hampir tak percaya ia mau datang dan menginap disini. Padahal dia seorang CEO tapi mau tidur dirumah sederhana ini."


"Mas Harlan pernah tinggal dirumah ini beberapa bulan, akupun sempat syok setelah mengetahui kalau Suamiku itu seorang CEO."


"Kau sangat beruntung Lupi, mendapatkan suami sekelas Tuan Giorgino. Yang kulihat dia sangat menyayangimu."


"Jodoh itu Rahasia ilahi, aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang muslim, di barengi ikhtiar, selanjutnya itu urusan Allah. Siapa tahu saja jodohmu pria bule seperti William! kita tidak tahu kedepannya bukan?"


Mata Inez mendelik tajam "Ish! kau ini? main jodoh-jodohin ajah. Wiliam bukan type ku. Pria angkuh seperti dia tidak pantas di cintai!"


"Beneran nih udah nggak suka? ledek Lupi


"Sorry aku sudah move on. Nanti siang aku ada janjian dengan teman sekolah SMA ku dulu."


"Mau kencan ya? wah Wiliam pasti patah hati donk!" kekeh Lupita.


"Sudah sana mandi terus sholat, ini udah jam lima lewat sepuluh menit." Inez mendorong tubuh Lupita masuk kedalam kamar mandi.


Nasi goreng sudah tersedia di atas meja makan, aromanya membuat cacing dalam perut ikut berontak.


"Mas bangun, sholat dulu." Lupi duduk di sisi ranjang dan mengecup keningnya. Saat akan mengangkat wajahnya tangan Harlan sudah lebih dulu menarik kembali dan berakhir di bibirnya. Lupi memukul-mukul dada bidang suaminya agar terlepas.


"Puas Mas! gerutu Lupi mengusap bibirnya dengan punggung tangan.


"Kiss morning honey." Pria tampan itu terkekeh.


"Cepat Mas mandi terus sholat, sudah hampir jam setengah enam."


"Mandi bareng yuk? Harlan tersenyum nakal.

__ADS_1


"Astaga Mas! Apa kata Inez nanti? kelakuan mu bikin malu Mas, masa ngajak mandi bareng di rumah ku. Lagian aku juga sudah mandi kok! guru Lupita, bibirnya komat-kamit tak jelas. Yang tentu saja tidak di mengerti suaminya.


"kamu komat-kamit baca mantra apa yank? Harlan menautkan kedua alisnya, tangan jahilnya menarik gemes hidung Lupita "Nggak ada salahnya kita mandi bareng donk, kita kan suami-istri."


"Tolong tanganmu di kondisikan Mas! protes Lupita. "Tapi harus lihat tempat juga kali mas? Iya kalau di mansion kamar mandinya di dalam kamar kita. kalau di rumahku, kan diluar kamar. pasti ketahuan inez, kasihan donk kalau inez lihat! Lupita mencabik.


Harlan terkekeh "Kalau begitu kita rombak rumah ini, kita buat kamar mandi didalam satu-satu. Oke..."


"Sudah sana mandi! Lupita menaruh handuk di lehernya dan mendorong tubuh kekar itu keluar kamar.


"Wah, wangi nasi goreng." ucap Harlan di sela langkahnya menuju kamar mandi.


"Pagi tuan! Inez membungkuk saat ia berjalan berpapasan dengan Harlan.


"Kalau di luar kantor jangan formal, Nggak perlu hormat seperti itu nez."


"Ta-pi tuan kan Bos saya, sepertinya tidak sopan kalau saya tidak hormat."


"Inez, bedakan kalau ketemu suamiku di rumah dan di kantor, anggap mas Harlan kakak mu bila dirumah." Lupita tersenyum, melihat kecanggungan di wajah Inez "Ya sudah Mas sana mandi, baru kita sarapan."


Harian berjalan kearah kamar mandi.


"Astaga, beneran aku gugup bnget Vit." Inez memegangi dadanya "Rasanya nggak nyangka bisa melihat disini, beda banget sikap suamimu saat di kantor, tegas dan dingin. Tapi setelah melihat aslinya, hangat dan ramah."


"Mas Harlan sangat baik dan penyayang, walau dia seorang CEO tapi tidak sombong, dan tak pernah merendahkan orang apalagi menyakitinya.


"Beruntung banget mendapatkan suami seperti tuan Georgie, Sudah tampan, kaya raya, baik hati dan tidak sombong. Kurang apalagi coba?" kalau didunia ini masih ada model kaya suamimu, carikan buat aku satu."


Lupita tertawa kecil "Masih ada stok mirip dengan suamiku."


"Siapa...? tanya Inez penasaran.


"Kasih tahu donk.." Inez penasaran.


"Nggak ahh, katanya bukan tipe kamu? Lupi terkekeh, inez melempar tempe kearah Lupi.


"Eit, Nggak kena!"


"Awas ajah ya buat aku penasaran."


Mereka berdua masih terus bercanda dan saling kejar-kejaran memutari meja makan. Tiba-tiba Harlan lewat dan melihat istri dan karyawan nya begitu bahagia bersendau gurau.


"Ehh Mas.." mereka berhenti melihat kedatangan suaminya. "Inez nakal tuh mas, masa tempe di buang-buang!" adu Lupi pada suaminya, Harlan saya geleng-geleng kepala seraya berjalan kearah kamar.


"Ish beraninya ngadu!" sindir Inez sambil menyapu makanan yang berterbangan akibat ulah mereka.


"Biarin! makanya sana cepet cari laki, biar ada tempat curhat." celoteh Lupi sambil cengengesan.


Selesai dengan aktivitasnya Harlan keluar kamar menuju meja makan.


"Makan dulu Mas." Lupita menaruh satu piring nasi goreng di depan suaminya.


"Hari ini kita mau kemana yank? tanya Harlan seraya memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya.


"Loh, Mas kan mau ke kantor?"

__ADS_1


"Hari ini Mas libur kerja ada Wiliam yang menangani pekerjaan di kantor. kita cari perabotan untuk rumah baru kita ya."


Wajah Lupita berbinar cerah "Benarkah, Mas? senyuman terbit tersinggung di bibirnya


Harlan mengangguk dan mengusap pucuk kepala istrinya.


"Ya ampun sweet banget." celetuk Inez tanpa sadar. Netra Harlan dan Lupita menoleh kearah Inez. Sadar di liatin seperti itu, Inez menundukkan wajahnya malu-malu.


"Nez! hari ini ada meeting. Cliant akan melihat hasil desain mu, nanti kau temani Wiliam untuk menjelaskan perencanaan nya."


"Saya Tuan?" tanya Inez menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kamu! ku rasa kau sanggup kompetisi dengan yang lain."


"Baiklah, bila Tuan percayakan saya, saya akan menjalankan sebaik mungkin dan meyakinkan Cliant."


"Bagus! aku sudah telpon Wiliam kau yang akan menemani meeting pagi ini."


Jantung Inez berdebar cepat, ia terlihat gugup saat harus bertemu dengan Wiliam dan meeting bersama. Namun ia mana bisa protes kalau Tuan nya sudah buat perintah. "Sudah kau berangkat saja. Aku yang akan bereskan perabotan."


"Tapi Lupi..."


"Sudah tidak apa-apa, sana berangkat. Nanti kau diantar Pak Basir yang menunggu di depan gapura. Dan berikan nasi goreng ini buatnya." Lupita menyodorkan kotak makanan.


"Oke kalau begitu, aku berangkat ya, ma'af udah ngerepotin."


"Ish! akulah yang udah ngerepotin." keduanya cipika-cipiki dan Inez melangkah pergi.


Lupita membereskan sisa piring kotor kedapur dan mencucinya. Ia membuatkan kopi hitam kesukaan Harlan.


"Yank!"


"Hemm.."


"Mumpung lagi sepi kita main kuda-kudaan yuk?"


"Hah? kuda-kudaan, maksudnya."


"Alah pura-pura polos, biasa kita lakukan tiap hari" tanpa banyak bicara Harlan mengangkat tubuh istrinya.


"Aaaaa...." Mas bikin kaget ajah sih!


Harlan tergelak dan membawa istrinya kedalam kamar.


"Ahhh...pagi-pagi udah mesum.." protes Lupita dan pasrah mengikuti kemauan suaminya. Kalau si bule sudah meminta tidak ada penolakan darinya.


💜💜


@Jangan lupa untuk terus dukung Bunda dengan cara:


💜Like


💜Vote


💜Gift

__ADS_1


💜Komen


@Bersambung


__ADS_2