Suamiku Seorang CEO

Suamiku Seorang CEO
CHAPTER 17 : Basket


__ADS_3

WELCOME BACK READERS!!❤️❤️


Tolong kasih jejak kalian setelah membaca!! HAPPY READING ❤️


...•••••...


SMA CEMPAKA.


Jam pulang sudah berlangsung beberapa menit yang lalu. Tapi keadaan sekolah masih sangat ramai. Lebih tepatnya di area lapangan basket outdoor.


Setiap ekskul basket pasti banyak siswa lain yang menonton sekedar melihat most wasted sekolah.


Semua orang di buat kaget oleh lima gadis yang ikut berjejer di lapangan.


"Baiklah, untuk team basket cewek bisa melihat permainan team cowok lebih dulu untuk mengetahui teknik dalam permainan basket".


"Pak, kenapa kita gak tanding sama mereka". Seru Retha tanpa berpikir.


"Gak mungkin lah ayang, kita sudah profesional". Sahut Roby yang masuk team inti.


Tatapan Retha menatap Roby sangat tajam. Belum melihat kemampuan seseorang tapi sudah meremehkan.


Lalu pandangan Retha berlatih kepada Liza dan Lea. Dia yakin dengan kemampuan dua gadis itu walaupun jarang tanding bersama tapi Retha tahu kemampuan mereka.


Untuk dua lainnya, dia akan melihat saat bertanding nanti.


"Pak, saya mau menantang mereka untuk bermain". Tantang retha penuh keyakinan. "Tanpa Rey sama Arga". Lanjutnya.


"Walaupun tanpa Rey gue yakin kita bakal menang". Ucap Dirga sombong yang diangguki oleh Roby.


Bibir Retha terangkat sinis. Lalu menatap sang pelatih yang diam.


"Bapak izinkan, tapi ingat untuk team cowok. Kalah atau menang jangan berbesar kepala karena lawan kalian cewek. Kemampuan cewek dan cowok berbeda". Ucap pelatih sedikit menjelaskan.


Team cowok dengan galih sebagai leader bersiap memilih pemimpin. Sedangkan Retha di pinggir lapangan sedang memberi semangat untuk teamnya karena bermain secara mendadak.


"Gue yakin dengan kemampuan kalian. Untuk hasil kita lihat di akhir".


Keempat gadis dihadapan Retha mengangguk paham. Lalu gak lama kepalanya merasakan elussan lembut.


"Ck, posesif bener lo. Dasar kutub Utara". Sindir Liza jengah melihat si kembar.


"Jangan terlalu memaksakan". Pesan Arga lalu berjalan ke pinggir lapangan.


Arga tahu gimana Retha saat menginginkan sesuatu. Gadis itu akan gigih melakukannya tanpa mengingat kondisi tubuhnya yang akan terkuras habis.


Baru juga mendudukkan pantatnya di bangku penonton. Dengan cepat Arga berlari kembali ke arah Retha yang sudah mengangkat kedua tangan ingin melajukan sesuatu.


Tangan Retha terhenti saat lengannya dicekal Arga. "Jongkok". Titah Arga lalu memberi isyarat kepada Liza untuk membantu.


Retha yang paham langsung berjongkok dan mengikat rambutnya yang tergerai menjadi kuncir kuda.

__ADS_1


Kedua kakaknya sangatlah posesif mengenai adik perempuan kesayangan mereka. Kejadian ini juga bukanlah hal pertama buat Retha. Mungkin karena lupa jadi Retha mengabaikan orang-orang yang ada di lapangan.


"Masih sama, gak ada yang berubah". Gumam Liza menggelengkan kepalanya melihat punggung Arga yang kian menjauh.


"My ice gue". Ucap Retha sombong.


"Iya iya, kakak gue akan seperti itu puas lo". Ucap Liza ngegas.


"Derita lo".


Setalah mengatakan itu, Retha berjalan ke arah lapangan dimana pertandingan akan segera dimulai.


Saat ini team cewek sudah menggunakan kaos rompi basket milik team cowok untuk membalut seragam sekolah. Alasannya karena mereka belum memiliki seragam basket.


Prittt!!


Pertandingan dimulai dengan semua orang bersorak antusias.


Lama kelamaan skor kian bertambah saling mengejar. Arga yang ada di sisi lapangan terus memperbaiki Retha yang sangat semangat untuk menang.


Prittt!!


Peluit tanda babak pertama selesai dengan skor beda tipis membuat para pemain mendekat ke sisi lapangan.


Ekor mata Arga melihat Rey berjalan membawa minuman ke arah team cewek. Sepertinya mulai terang terangan, pikir Arga.


Perlahan Arga juga berjalan mendekati saudara kembarnya yang sedang duduk di pinggir lapangan. Ia membiarkan Rey berbuat sesuatu hati.


"Tha, minuman buat lo". Rey mengulurkan minuman itu ke hadapan Retha.


Rey melihat tangan dan mendongakkan kepalanya menatap wajahnya. Dia Arga, Arga yang memberikan Retha minuman juga. Tapi ia ingin tahu Retha akan mengambil minuman siapa.


Awalnya Arga akan membiarkan Rey memberikan minuman kepada Retha tapi saat melihat jenis minuman yang pemuda itu bawa membuat Arga mengambil minuman yang sudah ia siapkan di saku belakang.


"Thanks". Retha mengambil air mineral yang ulurkan Arga lalu mengajaknya duduk di bangku penonton.


Rey merasa diacuhkan menatap punggung gadis yang sudah masuk ke dalam hatinya.


"Retha gak suka asam makanya gak ambil minuman lo, so buat gue ya?". Ucap Liza sedikit memberi bocoran lalu mengambil minuman dengan rasa jeruk yang ada ditangan Rey.


Lalu gadis itu melangkah pergi diikuti gadis yang lain.


Rey terpaku mendengar ucapan Liza. Berarti alasan Retha tidak mengambil minumannya karena minuman yang dia kasih agak asam, dan Retha tidak suka asam.


Persetan dengan semua orang yang ada di lapangan. Rey berjalan kembali ke tempat duduknya sambil sedikit tersenyum.


Sedangkan di sisi para sahabatnya merasa iba melihat Rey yang akan berusaha mendekati Retha sebelum mendengar penolakan langsung dari mulut gadis itu.


"Kasian gue sama pa bos, sekali suka malah suka sama cewek orang". Ucap Roby prihatin.


"Heem, dah tahu sakit. Masih aja di perjuangin". Sahut Dirga.

__ADS_1


"Sebelum janur kuning melengkung Pepet terus, gue yakin bos pasti biasa". Ucap Reza nimbrung.


"Bisa apa?".


"Nangis dipojokan". Celetuk Reza lalu di akhiri dengan tawa ngakak ketiga pemuda itu. Sedangkan Galih diam tanpa merespon. Dia sangat salut dengan Rey saat ini tidak lebih tidak kurang.


Setalah jam istirahat pertandingan dilanjutkan masih dengan sambutan yang sangat antusias.


Sampai akhirnya team cowok kalah selisih satu point dengan team cewek. Pertandingan ini membuat pelatih yakin akan kemampuan kelima gadis itu jika didaftarkan pada turnamen basket minggu depan.


Memang setelah turnamen basket cowok selesai tinggallah team cewek. Awalnya sekolah tidak akan mendaftarkan untuk cewek karena tidak ada pemain tapi melihat mereka, pelatih yakin bahwa team sekolahnya akan menang.


"Gimana? Ngaku kalah gak lo". Ucap Retha kepada Robby.


"Iya gue ngaku kalah. Ampun suhu".


"Kukira cupu ternyata suhu". Sahut Dirga yang tadi ikut meremehkan.


"Latihan sekarang cukup sampai disini. Kalian bisa bubar, pulang ke rumah masing-masing". Ucap pelatih lalu meninggalkan lapangan.


Arga memberikan handuk kecil ntah dapat dari mana untuk mengelap keringat yang ada di wajah dan leher Retha.


"Mau langsung pulang?".


Kepala Retha mengangguk dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Tapi kaki gue lemes".


Macam kode yang diberikan membuat Arga memindahkan tasnya ke depan lalu berjongkok membelakangi Retha. Tidak mungkin kan kalau dia menggendong Retha ala koala seperti biasnya.


"Biar gue bawa tas kalian". Liza mengambil alih dua tas yang ada di depan Arga. Tas milik pemuda itu dan milik Retha.


Dengan gembira Retha melompat ke punggung Arga menghiraukan pakaiannya yang basah dengan keringat.


"Thanks za, bye semua. Gue duluan". Ucap Retha melambaikan tangan saat Arga mulai berjalan meninggalkan mereka.


Para pemuda yang ada disana menatap iba bos mereka yang sedang patah hati melihat keuwuwan gadis pujaan hatinya.


"Sabar bos. Belum sebar undangan masih aman buat ditikung". Ucap Dirga mengelus pundak Rey.


"Heem bos, kita dukung 1000 persen". Sahut Roby.


Liza yang mendengar itu mengerutkan keningnya heran. "Jadi, Rey suka sama Retha?". Batin Liza lalu memukul kepalanya pelan.


"Dasar bego". Gumam Liza.


"Kenapa lo, stres?". Ucap Roby melihat kelakuan gadis di sampingnya.


"Lo yang stres".


...•••••...

__ADS_1


TBC


Jangan lupa like dan commentnya kalo kalian suka cerita ini ❤️ See u next part 🥰


__ADS_2